
"Kamu gila ya! masa iya aku main rebana," gerutu Arga yang di suruh Rifki untuk memainkan alat musik rebana di depan rumah Adel.
Laila pun ikut bersuara karena tak tega suami tercinta memainkan rebana bagai pengamen jalanan.
"Iya Rif, nggak usah segitunya kali, biasa-biasa aja, kita cuma mau sekedar lamaran, lagian ini malam loh," ujar Laila, mereka sibuk berdiskusi di dalam mobil.
"Gini nih nasib adik tiri," ucap Rifki yang merasa dirinya menyedihkan.
Laila pun tak tega melihat Rifki bersedih, ia merasa berhutang budi pada Rifki yang sudah lelah mencari keberadaan Laila selama tiga bulan.
"Ya udah deh iya..iya..kamu nurut aja nggak pa pa kan sayang," Laila menatap Arga sembari mengelus pipinya.
Melihat Laila yang antusias merayu membujuknya, Arga pun tak bisa menolak lagi, dengan terpaksa ia harus setuju. "Iya..iya.." ucap Arga dengan terpaksa.
"Papa juga ikutan ya!" pinta Rifki.
"Anak ini..kamu durhaka sama orang tua ya, papa ini orang tua loh, masa kamu suruh suruh begituan," keluh pak Rendra yang menolak permintaan Rifki.
Sampailah di depan rumah Adel. Laila dan Arga pun dengan kompak menjadi grup nasyid.
Dum tang tang dum tang..Dum tang tang..Dum tang..
Suara ketukan rebana di tangan Arga dan Laila.
Bu Ranti tersenyum melihat kelucuan anak dan menantunya. "Kalian sangat serasi," ucap Bu Ranti sembari menutup mulutnya yang menahan tawa.
"Wah..kalian sangat pintar memainkan alat musik ini, lanjutkan ya..suara rebana kalian harus mengiringi langkah ku, nanti jika aku memberi kode dengan mengangkat tangan ku maka berhentilah," suruh Rifki.
Arga semakin geram karena Rifki menyuruh nyuruhnya seenaknya. "Kamu mau ribut ya! kamu pikir aku apaan sih, aku ini CEO White Horse, jangan main-main!" tegas Arga menatap tajam Rifki.
"Udah sayang..udah..kan cuma sekali-sekali kita di suruh kayak gini, sabar ya," bujuk Laila menenangkan Arga. Untungnya ada sang istri yang selalu sukses meluluhkan hatinya.
"Huh..kalau bukan karena Laila, aku udah pergi dari sini," gumam Arga menatap Rifki.
"Sayang udah..aku malah senang loh jadi grup nasyid bareng kamu," ucap Laila seraya membujuk Arga.
Arga pun mulai mengalah. Meski ia kesal karena merasa harga dirinya turun saat memainkan rebana di depan rumah orang.
Laila dan Arga melanjutkan memainkan rebana seraya mengiringi langkah Rifki.
__ADS_1
Dung tang tang dung tang ...dung tang tang dung tang...
Adel yang sedang mengobrol dengan sang ibu mendengar suara rebana itu. "Kayaknya di depan rumah deh Bu, siapa ya yang main rebana jam segini," Adel dan ibunya saling tatap tatapan.
"Nggak tau tuh, coba kamu cek," ucap Ibu. Adel pun bergegas mengecek ke luar. Adel membuka pintu dan ternganga melihat Rifki dan pasukannya di depan rumah.
"Assalamualaikum Adel..mohon maaf kami mengganggu, apa boleh kami bertamu," sapa Rifki.
Adel masih tercengang, dengan mulut ternganga ia mengangguk seolah mengiyakan.
Rifki dan rombongan keluarganya pun masuk. Adel menahan tangan Laila. "Ini ada apa La?" tanya Adel.
"Nggak tau tuh, aku cuma anggota Rifki di sini, apalah dayaku yang menuruti kemauan adik ipar," ucap Laila dan menyusul rombongan masuk rumah.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumussalam..eh ada tamu," sambut ibu meski ia tak mengenali wajah yang berdatangan, ibu hanya mengenali wajah Laila.
"Ini teman aku Bu, namanya Rifki," kata Adel yang memperkenalkan Rifki agar ibu tidak bertanya-tanya.
"oh..iya..silahkan duduk," ucap ibu tersenyum ramah. Meski dalam hatinya ia heran dengan segerombolan keluarga yang bertamu ke rumahnya.
Adel pun ternganga mendengar kata-kata mengejutkan itu. Begitupun Laila yang menggaruk kepalanya walau tidak gatal. "Astaghfirullah..belum juga bicara apa apa sebagai pembuka, dia udah langsung bicarain lamaran, bahkan dia belum memperkenalkan diri dan keluarganya," batin Laila.
Begitupun Arga yang geram dengan tingkah bodoh Rifki. Arga menginjak kaki Rifki seraya memberi kode.
"Apaan sih," bisik Rifki.
"Kamu gila ya! belum juga bicara apa-apa udah bahas lamaran, kamu belum memperkenalkan diri kamu dan keluarga," bisik Arga balik.
"Udah tenang aja, ini adalah metode melamar yang aku lihat di google," bisik Rifki.
"Mohon maaf Bu, sebenarnya begini, anak saya ini sangat mencintai putri ibu, jadi kedatangan kami ke sini berniat untuk mengutarakan niat baik anak kami untuk menghalalkan putri ibu," ucap pak Rendra memperjelas.
Ibu Adel pun tak bisa berkata apa-apa karena ini terlalu mengejutkan, "Sebentar ya," ucap ibu Adel seraya menarik putrinya ke belakang.
"Mereka itu siapa sih del?" tanya ibu dengan serius.
"Laki-laki yang tadi Rifki Bu, dan yang di samping Laila itu suaminya, serta papa sama Mama Rifki, "jelas Adel.
__ADS_1
"Pacar kamu?"
"Nggak lah..aku kan nggak pacaran Bu,"
"Terus ..kamu emangnya suka sama laki-laki bernama Rifki itu?"
Adel pun menganggukkan kepalanya seolah mengiyakan.
"Emangnya kamu tau latar belakang keluarganya?" tanya ibu.
"Yang tadi itu papanya, pak Rendra Argantara pemilik asli White horse," ujar Adel.
Ibu terkejut mendengar putrinya menyebutkan nama orang terpandang di kota ini.
"Ya sudah..ibu setuju," ucap Ibu dengan percaya diri. Ayah Adel telah meninggal satu tahun lalu, jadi ia hanya menunggu restu dari sang ibu. Dan kini ibu telah merestuinya.
Adel dan Ibunya kembali ke ruang tamu,
"Jadi bagaimana Bu, Adel? lamaran saya di terima kan?" tanya Rifki yang amat percaya diri.
Arga dan Laila serentak melototi Rifki karena ia sama sekali tak tau aturan berbicara saat lamaran.
"Kalau saya sih hanya mendukung keputusan putri saya, apa pun keputusan dia itulah jawabannya," ucap ibu.
"Kalau kamu butuh waktu untuk istikharah nggak pa pa kok Del, kamu masih punya banyak waktu untuk berpikir," tutur Laila seraya membantu Adel.
"Itu kelamaan, sekarang aja, kamu pasti terima kan Del?" Rifki tampak PD.
Dan lagi-lagi Arga menginjak kakinya, "Kalau bicara itu mikir dulu!" gerutu Arga ke telinga Rifki.
"Nggak perlu La, aku udah sangat yakin dengan jawaban ku, dan jawaban aku, aku menerima lamaran Rifki," ucap Adel dengan serius.
"Tuh kan, apa ku bilang, aku pasti di terima," Rifki tampak bahagia mendengar jawaban Adel tersebut.
"Alhamdulillah.." ucap Bu Ranti dan Laila serentak.
Rifki mengambil rebana di tangan Arga, saking bahagianya ia memainkan rebana di hadapan Adel.
"Astaghfirullah.. laki-laki gila ini bikin malu aja," gerutu Arga dalam hatinya.
__ADS_1