Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
47. Gelas pecah


__ADS_3

Tak lama kemudian Arga tersadar, Bu Ranti membawakan semangkok bubur untuk Arga.


"Makanlah dulu Arga! kamu butuh tenaga untuk melanjutkan mencari Laila, habis makan baru kamu minum obat," tutur Bu Ranti yang duduk di samping Arga.


Rifki dan Adel juga masih berdiri di sana, melihat kondisi Arga yang semakin memprihatinkan.


"Arga, makanlah dulu, justru egois jika kamu tidak mau merawat tubuh mu, apa kamu mau terbaring lemah kayak gini, Arga..itu hanya akan buang buang waktu, kita harus bergerak cepat mencari Laila," tegas Adel menatap Arga.


Arga terkejut melihat Adel berada di sana, Laila sering menceritakan pada Arga, bahwa ia memiliki teman dekat selain almarhumah Linda.


"Maafkan aku, aku berjanji akan mendapatkan Laila kembali," tutur Arga dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Sudahlah, tidak ada lagi waktu untuk saling menyalahkan," ucap Adel.


"Jangan khawatir Arga, sepertinya motif penculikan ini bukan untuk membunuh Laila, tapi mungkin ada niat lain, kalau dia ingin membunuh Laila, dia bisa saja menembak mati secara langsung, tidak perlu repot-repot menculiknya," tutur Rifki memaparkan pemikirannya.


"Sok tau bangat kamu, kamu bisa jamin kalau Laila baik-baik aja? nggak kan, makanya jangan sok tau!" Adel melototi Rifki.


Rifki terkejut dengan nada tinggi Adel.


"Astaghfirullah..kamu jadi perempuan kok nggak ada lembut lembutnya ya, cantik-cantik kok galak gitu sih, pasti pasien kamu pada jantungan kalau dengar suara kamu yang kayak gini," ujar Rifki sembari meletakkan tangan di jantungnya, karena ia benar-benar terkejut mendengar suara keras Adel.


"Sudah sudah..kok jadi pada ribut sih," tegur Bu Ranti .


...*****...


"Aku harus bergerak Bun, kita tidak bisa hanya duduk diam menunggu kabar dari polisi!" tegas Ridwan menatap kedua orangtuanya yang tampak bersedih sepanjang hari.


Sakit bunda semakin bertambah mendengar kabar hilangnya Laila. Begitupun Ayah yang stres sepanjang hari memikirkan putrinya. Tak ada yang bisa dilakukan selain berdoa dan mencari Laila.


"Jika kamu ingin pergi mencari Laila, pergilah! tapi hati-hati ya nak," ucap Ayah menatap Ridwan.


"baik Ayah, ayah dan bunda di rumah saja, doakan aku agar bisa membawa kak Laila kembali," ucap Ridwan kemudian bergegas melangkah mencari kakaknya, meski ia tak tau kemana arah untuk mencari.


Ridwan berjalan di sepanjang pinggiran jalan kota, namun ia sebenarnya juga bingung harus memulai dari mana untuk mencari Laila. Tak ada petunjuk sama sekali.

__ADS_1


Tiba-tiba Ridwan melihat perempuan yang berjalan dengan gamis hitam.


"Kak Laila," panggil Ridwan yang mengira itu laila, namun saat perempuan itu berbalik badan ternyata perempuan tersebut bukanlah Laila yang ia cari.


...*****...


Pak Tejo tengah berjaga di depan, seraya menjalankan tugasnya dengan baik.


Afni tampak keluar lagi dari rumah, Tejo pun buru-buru membuka pagar agar mobil Afni bisa lewat.


"Akhir akhir ini kayaknya nyonya sering bolak balik rumah, ada apa ya," tanya Bi Surti mengagetkan Tejo yang menatap mobil Afni hingga jauh.


"Ngagetin aja kamu Sur,"


"Itu aja kok kaget," cetus Bu Surti.


"Iya, soalnya aku baru nonton film horor, filmnya itu tentang perempuan yang punya gangguan mental gitu, dia suka berbuat semaunya tanpa merasa bersalah, dia seperti terkena gangguan jiwa, kadang dia membunuh orang tanpa alasan yang jelas, tapi dia tampak baik-baik saja di depan khalayak ramai, ih serem banget pokoknya," jelas Tejo yang masih ketagihan nonton horor meskipun ia penakut.


"Psikopat? itu maksud kamu kan?"


"Tejo..Tejo..masih aja kamu suka nonton film horor,"


"Hehe kadang aku bosan Sur, makanya cari cari kesibukan, oh ya, tolong bikinin kopi dong," pinta Tejo.


"Kamu mah suka gitu, kan bisa bikin sendiri di dapur," gerutu Surti.


"Ayolah Sur, kalau aku yang buatin nanti nggak ada yang jaga di sini,"


"Iya deh iya..tunggu ya,"


Bi Surti pun berjalan ke dalam rumah, ia menuju dapur untuk membuat kopi.


Lagi-lagi ia harus melewati kamar Afni.


Bruk..

__ADS_1


Suara jatuhan benda terdengar di telinga Surti. Dan suara itu berasal dari kamar Afni. Surti semakin penasaran apa yang ada di kamar Afni itu.


Mumpung Afni sedang di luar, ia pun memberanikan diri untuk masuk.


Ia membuka pintu, perlahan kakinya melangkah masuk. Suara benturan besi terdengar jelas di telinganya. Tapi kamar itu tampak tidak ada apa-apa.


Tentu saja tidak ada karena suara itu sebenarnya berada dari ruang bawah tanah tepatnya di bawah kamar Afni.


Sementara itu Laila di ruangan bawah tampak menangis tak bersuara. Ia tampak lemah karena tidak makan dari semalam. Roti yang di beri Afni masih tergeletak di lantai.


Laila berusaha membuka penutup mulut nya, meski tangannya di rantai ia masih bisa membuka lem di mulutnya setelah sekian lama ia berusaha.


Laila pun memaksakan diri memakan roti itu untuk bertahan hidup di dalam ruangan menyeramkan tersebut.


Laila ingin mengambil gelas berisi air di meja, dia berusaha meraihnya, namun malah terjatuh dan pecah.


Tadinya bi Surti hampir keluar dari kamar, tapi suara pecahan gelas menghentikan langkah nya. Bulu kuduknya mulai merinding, ia menoleh ke belakang, namun tak ada apa-apa, dan ia menoleh ke lantai tidak ada pecahan apa-apa.


Mulut Surti komat kamit membaca ayat kursi beserta Al-fatihah, dan ia pun berlari keluar kamar Afni.


Buru-buru Surti menemui Tejo sambil membawakan kopi. "Kenapa kamu Surti, kok keringatan gitu?" tanya Tejo sambil mengambil segelas kopi di tangan Tejo.


"Kali ini aku benar-benar yakin kalau rumah ini dipenuhi hal-hal mistis," ucap Surti yang masih ngos-ngosan.


"Kenapa lagi Sur?"


"Aku mendengar suara lagi dari kamar nyonya, aku mencoba masuk, nggak ada apa-apa di sana, terus pas aku mau keluar, tiba-tiba ada pecahan gelas, tapi di kamar itu benar-benar tidak ada apa-apa," jelas bi Surti yang tampak panik.


Tejo pun mulai berpikir keras, ia mengingat ingat kejadian kejadian aneh akhir akhir ini,


"Sur.. sebenarnya beberapa bulan lalu aku juga merasakan hal mengerikan, aku menemukan pisau berdarah di mobil nyonya," bisik Tejo ke telinga Surti.


Surti ternganga menatap Tejo, "Jo, apa kita keluar aja dari sini, aku benar-benar nggak tahan lagi, sumpah deh, lebih baik aku mulung di jalanan dari pada harus berakhir di sini," ujar Bi Surti


"Kamu tenang aja, kan ada aku, ada hansip yang keliling juga, lagi pula kan kamu sendiri udah lihat kalau di dalam nggak ada apa-apa, sayang banget kalau kita keluar, gaji di sini lebih besar daripada gaji saudara ku yang kerja kantoran," jelas Tejo yang kukuh untuk tetap jadi satpam.

__ADS_1


__ADS_2