Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
35. Salah sasaran


__ADS_3

Keesokan hari,


Arga tampak fokus bekerja di ruangannya. Laila sesekali melirik Arga, ia merasa menatap Arga membawa kedamaian di hatinya.


Tiba-tiba Afni datang hingga Laila pun tak berani lagi menatap Arga. Laila berfikir bahwa perempuan yang dicintai Arga adalah Afni.


"Pagi Arga!" sapa Afni sembari duduk di hadapan Arga.


"Pagi," jawab Arga singkat.


Afni menoleh ke arah Laila, "Laila..kamu tolong keluar bentar ya, aku mau bicara sama Arga," suruh Afni.


Laila pun berdiri dan mulai melangkah pergi,


"Laila harus tetap di sini, lagian mau bicara apa sih, kalau mau bicara, bicara aja, nggak pa pa Laila dengar," tegas Arga menghentikan langkah Laila.


Mata Afni mulai melototi Laila, tampak sekali bahwa ia sangat membenci kehadiran Laila.


"Ya udah, aku aja yang pergi," cetus Afni dan meninggalkan ruangan Arga dengan wajah masam.


Tiba-tiba Hp Laila berdering, ia mengangkat telepon itu yang ternyata dari Adel.


"Assalamualaikum, ada apa Del," sapa Laila di telpon.


"Waalaikumussalam,ada kabar duka La,istri Haris meninggal,"


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..iya aku segera ke sana, kamu juga datang ya.."


Laila kematian telpon.


"Ada apa?" tanya Arga yang penasaran dengan pembicaraan Laila di telpon.


"Istri dari teman aku meninggal, aku izin ke sana ya," pinta Laila.


"Oke, tapi saya harus mengantar kamu,"


"Tapi.."


"Udah ayok buruan," ucap Arga memotong pembicaraan Laila.


...----------------...


Sampailah di pemakaman, untungnya Laila tidak telat, ia masih sempat melihat teman SMP nya itu dikebumikan.


Arga berdiri di samping Laila, meski ia tak mengenal siapa yang meninggal. Laila ikut merasa kesedihan Haris yang kehilangan istrinya.

__ADS_1


Haris tampak menangisi kepergian sang istri, meski ia tak mencintai istrinya, namun ia sangat kukuh menjaga istrinya itu.


"Ini yang meninggal siapa sih La," bisik Arga ke telinga Laila.


"Teman SMP aku, dan dia itu istri teman SMA aku," bisik Laila.


***


Di sisi lain tampak Afni sangat kesal, ia sedang berbicara dengan orang suruhannya. "Dengar baik-baik, sekarang juga kalian harus bergerak melukai si gadis bercadar itu, aku tidak mau mendengar kegagalan lagi, kali ini kalian harus berhasil," tegas Afni yang tampak serius.


"Baik bu!" jawab kedua anak buahnya serentak.


Suasana hati Afni di penuhi kebencian pada Laila, sama halnya seperti dulu ia sangat membenci Linda. Afni selalu membenci wanita manapun yang dekat dengan Arga. Tak terkecuali Laila, ia berniat membuat Laila bernasib sama dengan Linda.


"Kali ini kamu mencari bahaya mu sendiri Laila,"batin Afni sambil tertawa-tawa sendiri.


***


Usai dari pemakaman, Arga mencoba mengutarakan perasaannya pada Laila, agar Laila tidak terkejut saat ia melamar Laila nanti.


Arga mengajak Laila ke makam Linda, ia berniat mengutarakan perasaannya di depan makam Linda itu.


"Pak Arga mau ziarah lagi?"


"Aku tidak tau apakah ini namanya ziarah atau yang lainnya, tapi ada hal yang ingin ku sampaikan padamu di tempat ini?" tutur Arga.


Arga mengambil nafas dan hendak mengatakan isi hatinya, "Sebenarnya saya.."


Kalimat Arga terhenti karena tiba tiba ia melihat seorang laki-laki membawa pisau tajam dan hendak menusuk Laila. Arga spontan bergerak cepat melindungi Laila.


Hingga pisau salah sasaran mengenai Arga, si penjahat pun takut dan langsung lari, ia khawatir bos akan memarahi karena ia melukai orang yang salah.


Arga terjatuh ke tanah, bagian perut sebelah kanannya memancarkan darah akibat tusukan.


"Arga.." Laila pun panik, ia tak tau apa yang harus dilakukan, ia menangis menatap Arga yang kesakitan hingga tak sadarkan diri.


"Kenapa kamu lakuin ini Ga? harusnya aku yang tertusuk," jerit Laila.


...****************...


Di rumah sakit,


Bu Ranti tampak menangisi putranya, begitu pun Laila yang tak henti meneteskan air matanya.


"Maafin saya Bu, ini salah saya," ucap Laila berderai air mata.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin ini salahmu, sejak awal kami memang selalu terancam, entah dari arah mana saja datangnya bahaya itu, jadi jangan menyalahkan diri sendiri," tutur Bu Ranti sembari mengelus kepala Laila.


Mata Arga terbuka, ia baru sadar, dan melihat dua wanita yang ia cintai menangisinya.


"Ada apa dengan kalian? kenapa nangis gitu?" tanya Arga menatap Laila dan mama.


"Dasar anak bodoh, masih nanya lagi, kamu itu hampir mati," tegas bunda sembari air matanya tak henti mengalir.


"Aku baik-baik aja, mama jangan sedih gitu," ucap Arga menatap mama.


Kemudian Arga menoleh ke arah Laila, "Jangan nangis," ucapnya.


"Ini salah saya," kata Laila sambil menunduk.


"Bukan, ini hanya musibah," Ujar Arga menatap Laila.


Tak lama kemudian, dokter pun tiba untuk mengecek kondisi Arga.


"Untungnya lukanya tidak dalam, kami sudah menjahit luka pak Arga, tampak sekali bahwa tusukan ini sepertinya salah sasaran, karena lukanya pun hanya seperti goresan pisau saja di bagian perut kanannya," jelas Dokter pada Bu Ranti.


Laila yang mendengar itu pun sedikit lebih lega.


Bu Ranti pergi ke toilet, tinggallah Laila di ruangan itu.


"Kenapa kamu lakuin ini? harusnya kamu nggak perlu melindungi aku, akulah yang seharusnya melindungi kamu," tegas Laila menatap Arga yang tergeletak di ranjang rumah sakit.


Arga tersenyum melihat Laila yang tampak lucu saat mengkhawatirkan dirinya, Arga sangat bersyukur karena Laila baik-baik saja, "Aku senang kamu baik-baik saja, lebih baik aku yang terkena pisau, daripada aku melihatmu dilukai orang lain,"


Mendengar perkataan Arga membuat Laila semakin terbawa perasaan dalam pekerjaannya. Hatinya tersentuh melihat Arga yang rela mengorbankan nyawa untuknya.


Laila pun meluapkan rasa khawatirnya, ia menangis tersedu di hadapan Arga.


"Jangan nangis, kamu nggak perlu khawatir, aku baik-baik saja," ucap Arga pelan.


"Dengan kamu seperti ini, aku malah merasa lebih sakit daripada di tusuk," ujar Laila, karena baginya ini justru akan semakin menyakitkan untuknya. dimana ia semakin dalam perasaannya pada Arga, sementara ia mengira Arga akan menikah dengan perempuan lain.


"Kamu sebegitu khawatirnya? apa kamu menyayangi saya?" tanya Arga, menatap dalam mata Laila.


Laila tak mau menjawab dan langsung keluar dari ruangan.


***


"Apa? Arga menyelamatkan Laila?" Afni tampak marah pada kedua laki-laki suruhannya.


"Maaf Bu, kali ini kami gagal, tapi lain kali kami akan berusaha lagi," ujar salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Dasar bodoh, saya menyuruh kalian menusuk Laila, bukan calon suami saya," gerutu Afni yang tampak panik.


Ia buru-buru mencari tahu keberadaan Arga, ia ingin menjenguk Arga di rumah sakit. Hatinya kacau mendengar pujaan hatinya terluka.


__ADS_2