Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz #2


__ADS_3

Pria di mobil itu adalah Hilman. Seorang putra dari pengusaha Restoran ternama. Dan ia adalah penerus ayahnya untuk mengelola salah satu restoran sang ayah.


Hilman menatap dari mobil perempuan yang memapah seorang nenek itu. Entah mengapa melihat gadis itu hati Hilman sangat tersentuh karena kepeduliannya terhadap sesama. Perempuan berjilbab biru itu tak lain adalah Ainun Anisah. Hilman benar-benar takjub melihat paras cantik Ainun dengan segala kesederhanaannya.


Tak henti Hilman memperhatikan gadis itu, hingga gadis itu pergi.


***


Akhirnya Ainun pun sampai di tempat ia bekerja sebagai pelayan. Karena terlambat terlalu lama Ainun pun lagi-lagi di marahi oleh atasannya.


"Ainun, ini jam berapa? Kamu baru datang jam segini, kamu mau di pecat ya?" ancam Bu Mira yang bertugas mengawasi kinerja pelayan di restoran itu.


Ainun hanya tertunduk,


"Maaf Bu, saya tau saya salah, tapi tadi ada sedikit masalah di jalan," ucap Ainun pelan.


"Saya tidak perduli apa pun kendala kamu,udah sana kamu kerja, kalau lain kali kamu masih terlambat, saya akan pecat kamu" tegas Bu Mira melototi Ainun.


Ainun pun buru-buru melanjutkan pekerjaannya.


Saat itu Hilman ternyata adalah penerus dari Restoran tempat Ainun bekerja. Hilman sedang memantau CCTV di ruangannya. Ia ingin melihat bagaimana kinerja staf nya di restoran itu karena baru hari ini ia pertama ke restoran itu.


Tak sengaja ia melihat gadis yang tadi pagi menolong seorang nenek sedang bekerja melayani pelanggan di restoran itu. "Ini kan gadis yang tadi pagi, Maasyaa Allah, gadis ini luar biasa, dia benar benar pekerja keras, dari tadi dia benar-benar bekerja dengan baik" batin Hilman.


***


Sepulang kerja, Ainun sholat Maghrib di mesjid dekat restoran itu. Usai sholat tak sengaja Ainun bertemu dengan Farhan, laki-laki yang diam-diam ia cintai.


Farhan pun menyapa Ainun di depan mesjid itu. "Eh Ainun, kamu sholat di sini?" Sapa Farhan sambil menatap Ainun.


"Iya kak, baru pulang kerja, soalnya kalau sholat di rumah takutnya nggak sempat," tutur Ainun sambil tersenyum menunduk.


"Ya udah ayok aku antar pulang, aku bawa mobil kok," ajak Farhan yang menawarkan pulang bersama Ainun.


"Nggak usah kak, nanti ngerepotin," ucap Ainun pelan. "Nggak repot kok, lagian kan rumah kita searah, ayok naik," tutur Farhan mempersilahkan Ainun masuk ke dalam mobil.


Ainun pun masuk ke mobil itu.

__ADS_1


Di mobil Ainun tampak deg-degan, karena baru kali ini ia satu mobil dengan Farhan.


"Kamu kerja di mana?" tanya Farhan pada Ainun di mobil.


"Di Restoran dekat sini kak," jawab Ainun.


"Satu-satunya restoran dekat sini kan restoran yang besar itu, wah kamu luar biasa Ainun," puji Farhan yang sebenarnya ingin menyemangati Ainun.


"Iya Alhamdulilah saya masih punya kerjaan, walaupun cuma pelayan biasa," ucap Ainun yang jantungnya berdebar-debar melihat Farhan.


"Kamu benar-benar luar biasa, dengar-dengar kamu itu ikut membantu kuliah kakak kamu, padahal kamu hanya lulus SMA, zaman sekarang kayaknya udah jarang ada perempuan seperti kamu," tutur Farhan memuji Ainun.


"Sudah kewajiban saya untuk membantu kakak saya kak," jawab Ainun.


Tak lama kemudian rumah Ainun pun sampai.


"Makasih ya kak," ucap Ainun yang hatinya amat bahagia.


"Iya sama-sama," jawab Farhan sedang matanya seolah mencari-cari seseorang.


"Iya sama-sama May," jawab Farhan sembari tersenyum menatap Maysa.


Ainun amat bahagia hari ini karena ia bisa semobil dengan laki-laki yang ia kagumi.


Farhan pun Pulang.


Maysa dan Ainun masuk ke rumah. "Kak Farhan baik ya kak," ucap Ainun memulai pembicaraan. "Iya Ainun, dia itu emang baik," jawab Maysa yang memuji temannya tersebut.


***


Malam hari, Ainun mencurahkan kebahagiaannya hari ini di buku diary nya.


"Hari ini aku benar-benar bahagia, bisa bertemu lagi dengannya, meski hanya pengagum rahasia, tapi aku bersyukur bisa bertemu dengannya,"


Ainun tengah tersenyum sambil menulis diary, tiba-tiba ada telpon dari Farhan.


"Halo Assalamualaikum kak," sapa Ainun di telpon dengan hatinya yang berbunga-bunga.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, besok keluarga kamu nggak kemana-mana kan?" tanya Farhan di telpon.


"Iya kak, ibu ada di rumah kok, tapi aku mungkin kerja, kak Maysa juga kerja, tapi kalau malam insyaallah kami semua ada di rumah," jelas Ainun pada Farhan.


"Oh gitu, ya udah deh makasih ya, Assalamualaikum" ucap Farhan mengakhiri telepon. "Waalaikumussalam," jawab Ainun yang penasaran mengapa Farhan tiba-tiba menanyakan itu.


Keesokan malam,,


Farhan pun datang ke rumah Ainun bersama dengan orang tuanya.


Melihat itu Ainun benar-benar deg-degan, karena menatap wajah Farhan yang tampak serius.


Tampak keluarga Farhan sedang mengobrol dengan Ibu dan Maysa. Ainun pun membawakan teh ke ruang tamu kemudian ia duduk di samping Maysa.


"Begini Bu Farah, saya ke sini ingin melamar salah satu putri ibu untuk anak saya," ucap papa Farhan.


Mendengar itu Ainun tiba tiba deg-degan, jantungnya berdebar kencang, "Ya Allah, apa kak Farhan mau melamar aku," batin Ainun yang tersenyum dalam hati.


"Putri saya ada dua pak, kalau boleh tau bapak mau melamar putri saya yang mana?" tanya Bu Farah.


"Saya ingin melamar Maysa Bu," tegas Farhan sambil menunduk.


Mendengar itu bagai petir yang menyambar hati bagi Ainun. Ainun pun terdiam dan menahan kesedihannya."Aku ke belakang dulu ya kak," bisik Ainun ke telinga Maysa.


ia buru-buru ke kamarnya, khawatir orang-orang melihat air matanya.Ainun menangis tersandar di samping jendela kamarnya.


"Ya Allah, tidak adakah sedikit pun kebahagiaan yang tersisa untuk ku, mengapa malah kak Maysa yang dilamar kak Farhan, kenapa kak Maysa punya segalanya, dia punya kasih sayang ibu, dia punya segalanya yang ia inginkan, bahkan aku harus mengorbankan pendidikan ku demi pendidikan kak Maysa hingga ia lulus S2, dan sekarang laki-laki yang aku cinta pun engkau takdirkan pada kakak ku, apakah skenario ku di Lauhul Mahfudz mu memang seperti ini ya Rabb," batin Ainun yang menangis tersedu mengingat apa yang ia rasakan sejak ia masih kecil.


Tak sadar Ainun Anisah telah mengeluh padahal sebelumnya ia tetap mensyukuri segala pemberian Allah padanya.


***


Keesokan pagi, Farhan bertemu sahabatnya di kafe yang tak lain adalah Hilman. Hilman adalah sahabat seperjuangan Farhan dalam meraih karirnya. "Apa kabar bro, gimana rasanya kuliah S2 di luar negeri," sapa Hilman memulai pembicaraan.


"Kabar aku baik, kuliah di Indonesia itu lebih menyenangkan sih," jawab Farhan.


"Oh ya, gimana sama calon makmum idaman kamu itu, dari dulu kamu selalu cerita tentang perempuan itu, sekarang gimana, udah ada perkembangan?" tanya Hilman pada Farhan yang dari dulu selalu menceritakan tentang Perempuan idamannya yang tak lain adalah teman dekatnya sendiri yaitu Maysa.

__ADS_1


__ADS_2