
Pagi hari, Laila tengah sibuk memasak untuk Arga, meski di rumah ada beberapa ART namun tetap saja masakan Laila adalah yang terbaik bagi Arga.
Arga menemui istrinya yang sedang memasak, "Pagi Bu Laila..makin hari makin cantik aja nih," Arga merayu Laila hingga pipinya memerah.
"Pagi pak Arga, pak Arga juga makin tampan ya," ucap Laila membalas rayuan Arga.
"Bisa aja kamu, saya emang tampan sih,"
"HM..mulai nih, oh ya karena kamu merasa tampan, apa kamu akan menikah jika aku telah tiada?"
Ucapan Laila mengagetkan Arga. "Kamu ngomong apaan sih, jangan pernah ucapkan itu lagi, bahkan jika kamu menghilang dari pandangan ku, aku akan gila mencari mu kemana mana," tegas Arga menatap mata Laila.
Laila terharu mendengar jawaban itu, ia merasa menjadi wanita paling beruntung.
...******...
Arga tampak sibuk memeriksa laporan di ruangannya, seperti biasa Laila menemani suaminya yang bekerja. Arga selalu meminta agar Laila selalu bersamanya hingga Laila pun harus menemani Arga bekerja.
"Assalamualaikum.." sapa Afni yang tiba-tiba muncul. Afni tampak girang seolah datang membawa kabar baik.
"Waalaikumussalam," jawab Arga dan Laila serentak.
"Laila, hari ini aku sangat bahagia, perusahaan ayahku di luar negeri berhasil meluncurkan produk baru yang merupakan hasil ide dari aku," tutur Afni yang tampak girang.
Laila ikut senang mendengarnya, "Alhamdulillah, baguslah kalau begitu," ucapnya.
"Karena aku sangat bahagia aku ingin mengajak kamu jalan-jalan lagi, kamu mau kan?" tanya Afni yang tampak berharap.
Laila menatap Arga, "Kalau CEO itu mengizinkan ya nggak masalah sih," ujar Laila.
"Arga! boleh kan?" Afni menatap kearah Arga.
"Iya..tapi hati-hati ya, kalau ada apa-apa hubungi aku," tegas Arga yang memberi izin.
Afni dan Laila pun bergegas pergi.
"Kita jalan jalan kemana?" tanya Laila menatap Afni yang menyetir mobil.
"Kita ke mall aja gimana?"
"Iya boleh," jawab Laila yang hanya mengikuti saran Afni.
"Tapi La, dompet aku ketinggalan di rumah, kita ke rumah aku aja dulu gimana?"
__ADS_1
"Iya deh nggak pa pa, sekalian aku pengen lihat rumah kamu, aku kan belum pernah kamu ajak main ke sana," ujar Laila.
Laila merasa telah menjadi teman baik Afni, dia tidak tau bahwa Afni tak pernah menganggap dirinya sebagai teman. Melainkan musuh yang tersembunyi.
***
Suara gelas jatuh terdengar dari kamar bunda Laila, ayah pun datang karena khawatir terjadi apa apa.
"Bunda kenapa?" tanya Ayah yang menemui bunda di kamar.
"Bunda juga nggak tau kenapa tiba-tiba gelasnya jatuh, mungkin karena gelasnya licin, tapi Yah, kok perasaan bunda nggak enak gitu ya, kayaknya hari ini cuacanya kurang bagus," tutur bunda.
"Memang cuaca di luar agak mendung Bun, bunda istirahat aja, biar ayah yang urusin kerupuk," ujar Ayah. Karena memang bunda kurang enak badan dari semalam.
***
Sampailah di rumah Afni,
"Silahkan duduk dulu Laila," sambut Afni mempersilahkan Laila duduk di ruang tamu.
"Apa kamu sendiri di rumah sebesar ini" tanya Laila.
"Ya mau gimana lagi,"
"Ada tapi hari ini dia lagi izin, katanya anaknya sakit," jawab Afni.
Afni menyeduh teh untuk Laila, "Minum dulu, kamu kan baru pertama kali ke sini, jadi minimal kita ngeteh dulu lah ya," tutur Afni.
Namun teh yang ia beri untuk Laila bukanlah teh biasa, karena teh itu telah tercampur dengan obat tidur dengan dosis yang tinggi.
"Kamu terlahir kaya, tapi sayang sekali sampai sekarang kamu pasti kesepian ya, kenapa kamu nggak nikah aja?" tanya Laila.
Afni tersenyum, "Belum ada jodohnya, nanti pasti aku bakal nikah kok,"
Laila masih memperhatikan suasana rumah Afni, ia menatap isi rumah yang tampak rapi.
"Ayo diminum Laila!"
"Iya, makasih ya," ucap Laila.
Laila meminum teh hangat itu, ia tak tau bahwa ini akan jadi malapetaka untuknya.
Setelah meminum itu, Laila pun tak tahan lagi, ia sangat ngantuk hingga ia tertidur pulas.
__ADS_1
4 Jam kemudian,,
Laila tersadar dari tidurnya, ia menatap sekelilingnya tampak gelap, ia menatap ke sekitarnya. Kemudian melihat kakinya di rantai besi, begitu pun tangannya, sedangkan mulutnya tertutup oleh lem hitam.
"Astaghfirullah..apa aku sedang bermimpi, aku harap aku bangun dari mimpi ini," batin Laila, sedang matanya mulai berkaca-kaca, ia semakin takut di tempat gelap itu.
Laila tak henti menggerakkan kakinya hingga tak sengaja membentur tiang.
"Ternyata sakit! berarti ini bukan mimpi, ya Allah, tempat apa ini aku takut," batin Laila sedang matanya tak henti mengeluarkan air mata.
Bahkan menangis pun ia tak bersuara karena mulut telah di tutupi lem. Lelah ia menangis namun tak ada yang bisa dilakukan.
"Arga..tolong aku!" kata-kata yang selalu terucap di hati Laila. Suasana yang mengerikan membuat ia tak henti memanggil Arga dalam hatinya.
...*******...
Arga sudah menunggu Laila di kantor, ia menatap jarum jam di tangannya, sudah pukul 4 sore namun Laila belum muncul juga.
Tiba-tiba Afni datang dengan wajah panik, "Arga! silahkan bunuh aku aku benar-benar bodoh," ucap Afni berderai air mata.
"Ada apa? kamu kenapa"
"Laila di culik oleh penjahat, aku tidak tau harus berbuat apa lagi, aku yang salah, aku tidak bisa menjaga Laila," jelas Afni dengan air mata kebohongan.
"Apa? tidak mungkin," ucap Arga, sekilas memang terasa tidak masuk akal. Laila adalah perempuan kuat dengan kemampuan bela dirinya yang sangat baik.
"Iya Arga, tadi ada laki-laki yang langsung mengikat Laila dan membawanya pergi," tegas Afni.
melihat wajah Afni yang tampak panik, Arga pun mulai percaya.
Arga pun panik, ia khawatir mimpinya akan menjadi nyata. "Cepat katakan kemana mereka membawa Laila?" Arga tampak emosi.
"Aku nggak tau Arga, kalau aku tau aku pasti akan cari dia," tutur Afni.
Afni tak henti menangis hingga Arga pun berhenti membentaknya.
Hati Arga hancur mendengar istrinya di culik. Arga bergegas menaiki mobilnya. Ia bergerak mencari Laila,meski ia tak tau kemana arah tujuannya mencari.
Air mata tak henti membasahi pipi Arga, sesekali ia berteriak sendiri di mobil. Arga merasa bersalah karena gagal menjaga Laila.
"Sayang kamu dimana, tolong jaga diri kamu, maafkan aku yang bodoh ini, harusnya aku tidak membolehkan kamu pergi tanpa penjaga," ucap Arga yang sedari tadi menyalahkan diri sendiri.
Kini pikiran Arga sedang kacau, ia hanya bisa mencari Laila tanpa arah yang jelas, hingga malam hari, ia berkeliling namun tetap saja tak ada hasil.
__ADS_1
Hujan deras mulai mengguyur kota, tapi Arga tetap berusaha berjuang mencari Laila kemana-mana.