Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
28. Saatnya melupakan


__ADS_3

Tibalah di rumah Arga, ia menemukan mama yang tengah melamun sambil menangis di kamar.


Arga pun berjalan mendekati mama. "Ma, mama kenapa masih sedih? kan Bu Diana udah di penjara, jangan sedih lagi ya, pokoknya aku akan selalu ada buat mama," tutur Arga menenangkan mama.


"Mama masih teringat ingat bagaimana takutnya mama malam itu, mama kira dia akan benar benar membunuh mama, untungnya kalian segera datang, kalau tidak, mungkin mama sudah dihabisi oleh perempuan jahat itu," tutur Bu Ranti sedang matanya berkaca-kaca.


Arga memeluk Bu Ranti, "Udah udah..mama harus lupain kejadian itu, mulai sekarang aku akan fokus menjaga mama," ucap Arga.


Pintu kamar terbuka, Laila tak sengaja menatap Arga dan mamanya yang tampak harmonis. Laila pun tersenyum, "beruntungnya Bu Ranti punya anak yang selalu ada untuknya," batin Laila memperhatikan Arga dan Bu Ranti.


Laila berjalan menuju ruang tamu, tiba-tiba HP nya berdering. Ia mengangkat telepon dari temannya Adel.


"Halo Assalamualaikum Del,"


"Waalaikumussalam, kamu buruan ke sini deh, aku malas banget jagain teman kamu ini, lagi pula bentar lagi aku ada praktek, sumpah! temen kamu ini ngeselin banget," gerutu Adel di telpon.


"Iya..iya..bentar lagi kami ke sana ya," ucap Laila dan mematikan telpon.


***


Di sebuah rumah besar yang tak lain adalah rumah Afni, tampak ia sedang memarahi orang suruhannya.


"Kalian ini nggak becus bangat sih, dulu kan kalian bisa membunuh Linda, kenapa kalian tidak bisa menyerang perempuan bercadar itu?" bentak Afni pada dua orang laki-laki bertubuh besar di hadapannya.


"Maaf bos, tadi saya belum sempat memukulinya, karena pak Arga langsung menyangkal nya, saya langsung kabur, karena takut mereka berteriak memanggil orang banyak," jelas salah seorang dari preman itu.


"Saya tidak perduli, pokoknya kalian harus melukai perempuan bercadar itu, tapi jangan buru-buru membunuhnya, enak aja dia mati sebelum menderita, pokoknya buat dia tersiksa dulu," perintah Afni pada suruhannya.


"Siap Bu!" jawab kedua orang preman serentak.


***


Haris tampak mengobrol dengan istrinya bernama Nisa yang tengah sakit sakitan. Sebenarnya ia menikahi istrinya dikarenakan rasa kasihan.


Di sebuah taman dekat rumahnya, Haris duduk bersama istrinya di bangku taman.


"Kenapa kamu mau menikahi aku? apa hanya berlandaskan rasa kasihan? menurut medis umurku tak lama lagi, kanker ku ini membuat ku tak akan bertahan lama" ujar Nisa sembari matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


Haris tersenyum menatap Nisa, "Itu kan menurut medis, kita tidak tahu bagaimana rencana Allah, jangan berputus asa," tutur Haris.


Nisa adalah anak dari sahabat almarhum ayah Haris, dulu ayah mewasiatkan Haris untuk menikahi Nisa. hingga ia merasa harus menjalankan wasiat ayahnya. Bercampur dengan rasa kasihan pada gadis itu.


Tiba-tiba Nisa pingsan di pangkuan Haris. Haris pun dengan sigap membawa istrinya ke rumah sakit.


***


Di sisi lain Laila bersama Arga dan Bu Ranti tengah berangkat ke rumah sakit. Tampak bu Bu Ranti duduk di tengah tengah Arga dan Laila.


"Laila, saya sangat berterimakasih sama kamu, saya dengar kamu menghajar seluruh anak buah Diana," tutur Bu Ranti.


"Sama-sama Bu, kan itu memang tugas saya, selama saya menjadi bodyguard di keluarga ibu, saya akan berusaha melindungi Bu Ranti dan pak Arga," ujar Laila menatap Bu Ranti.


Bu Ranti tersenyum pada Laila, "kamu memang gadis yang baik," ucap Bu Ranti.


Sampailah di rumah sakit, Laila pun turun lebih dulu,


"Mama kayaknya suka bangat sama Laila," ucap Arga melirik mama sebelum turun dari mobil.


"Dari awal dia itu sangat baik, dan asal kamu tau, Laila adalah perempuan tercantik yang mama temui," jelas mama.


"Mama pernah lihat sekali," kata Mama dan buru-buru keluar dari mobil karena Laila sudah menunggu.


***


Haris sudah bisa masuk ke ruang rawat istrinya. Ia pun berjalan menuju istrinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Kamu harus kuat ya Nis, kamu pasti bisa melawan kanker ini, aku yakin kamu kuat," ucap Haris berderai air mata.


Nisa tampak tak ada harapan, namun Haris selalu menyemangati agar istrinya tetap kuat.


***


Azan Maghrib berkumandang, Laila pun melaksanakan sholat di mushola rumah sakit tersebut. Begitupun Arga yang menunaikan sholat di shaf laki-laki.


Usai sholat Maghrib, tak sengaja arga tertabrak oleh laki-laki yang sedang buru-buru. Laki-laki itu adalah Haris, "Maaf maaf..saya tidak sengaja," ucap Haris menatap Arga.

__ADS_1


"Iya nggak pa pa," jawab Arga.


Haris pun keluar dari mushola itu, tak sengaja ia berpapasan dengan Laila yang juga baru selesai sholat. "Laila, kamu ngapain di sini," sapa Haris menatap Laila.


"Lagi jagain teman, kamu ngapain?" tanya Laila.


"Istri aku lagi di rawat di sini," jawab Haris pelan.


"Astaghfirullah...Nisa sakit?"


"Iya La, aku duluan ya," ucap Haris dan buru-buru pergi ke ruang rawat Nisa.


Sampailah di ruangan, Haris menatap Nisa yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba ia teringat masa-masa SMA ketika ia akrab dengan Laila. Haris yang dari dulu menundukkan pandangannya tidak berani terlalu dekat dengan perempuan termasuk Laila. Haris selalu berusaha menjaga jarak. Namun jauh di lubuk hatinya, ia sangat mencintai Laila.


"Kenapa aku harus bertemu Laila lagi, aku sudah berusaha melupakan dia, tapi kini aku bertemu dia lagi, astaghfirullah..ya Allah jauhkan hatiku dari perkara haram, aku tak ingin memikirkan dia lagi, biarkan aku menjaga istriku dengan baik ya Rabb," batin Haris yang teringat ingat tentang masa lalunya.


***


Arga ternyata melihat Laila yang tadi sempat berbicara dengan laki-laki yang tidak sengaja menabraknya. Arga berjalan ke arah Laila yang sedang duduk di depan ruang rawat Rifki.


"Kamu kenal sama laki-laki tadi?" tanya Arga.


Laila yang sedari tadi melamun terkejut dengan kedatangan Arga.


"Hah? laki-laki yang mana?" tanya Laila.


"Tadi yang di depan musholla,"


"Itu..teman SMA aku," jawab Laila pelan.


Perasaan sakit terkadang masih dirasakan Laila ketika mengingat Haris. "Sudahlah Laila..bangun dari mimpi indah yang dulu kamu inginkan, saatnya untuk fokus menjalani hari-hari dengan baik, melaksanakan tugas dengan baik dan membantu Ridwan agar segera lulus kuliah," batin Laila yang tampak melamun.


"Lagi mikirin apa sih," tanya Arga menatap Laila yang tampak melamun.


Laila tak menjawab pertanyaan Arga.


"Lagi mikirin hutang?" lanjut Arga.

__ADS_1


"Apaan sih, pak bos nggak punya kesibukan lain selain ngurusin saya?"


"Siapa juga yang mau ngurus kamu," cetus Arga sembari melangkah ke dalam ruang rawat Rifki.


__ADS_2