Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
40. Menikah


__ADS_3

"Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku.. sakitnya tuh di sini kau menduakan aku..sakit..sakit.." suara sumbangan lagu dari arah dapur.


Ternyata kabar pernikahan Arga telah sampai ke telinga Lastri, hingga ia pun merasakan patah hati karena ditinggal nikah gebetannya.


"Tumben pagi-pagi udah nyanyi aja,loh..kok mukamu pucat gitu, lagi sakit?"sapa Bu Ranti yang sedang minum di dapur.


Lastri cengar-cengir, "Nggak Bu, saya sehat kok, tapi suasana hati saya lagi kurang baik," tutur Lastri.


"Ya sudah kalau ada masalah kamu selesaikan dulu masalahmu, baru lanjutkan pekerjaanmu," ujar Bu Ranti kemudian pergi.


"Ah sudahlah lagi pula aku dan Laila bersaing secara sportif, aku harus menerima kekalahan ini," batin Lastri sembari melanjutkan pekerjaannya.


...**********...


Beberapa hari kemudian,,


"Sah," ucap para hadirin serentak. Pagi ini akad nikah telah usai dilaksanakan. Kini Laila dan Arga resmi menjadi pasangan suami-istri yang di akui negara dan Agama.


Mata Laila berkaca-kaca melihat Arga di hadapannya dengan status sebagai suaminya. Begitupun Arga yang tampak terharu melihat Laila sebagai istrinya.


Ayah, bunda dan Ridwan ikut bahagia dengan pernikahan Laila yang sampai saat ini berjalan lancar. Begitupun Papa dan mama Arga, meski sampai kini mereka masih perang dingin.


Rifki pun ikut bahagia menatap pernikahan saudaranya, meski ia harus mengubur dalam dalam cintanya pada Laila.


"Cie..yang patah hati," ledek Adel pada Rifki.


"Bisa diam nggak sih, lagi rame nih," bisik Rifki ke telinga Adel.


"Iya..iya.."


Sementara itu tampak Afni di barisan belakang, perasaan sakit dan dendam bercampur aduk di hatinya. Kini ia membiarkan Arga dan Laila melaksanakan pernikahan, namun ia telah merencanakan sesuatu sebagai kejutan pada Laila dan Arga.


***


Di kamar pengantin,


"Arga," panggil Laila.


"Iya,"


"Darimana kamu tau kalau aku inisial L?"

__ADS_1


"Dari adikmu, aku juga penasaran, kenapa kamu nggak bilang dari awal?"


"Karena awalnya aku tidak ingin menikah denganmu, tapi semakin hari, aku merasa bahwa kamu adalah laki-laki yang baik, aku mulai merasakan apa yang dulu Linda rasakan padamu," jelas Laila sembari menatap Arga yang berdiri di hadapannya.


Arga tersenyum menatap Laila, "Apa pun itu aku tetap bersyukur bertemu dengan kamu,"


"Tapi..apa kamu tidak ingin melihat wajah ku?"


Arga tersenyum, tanpa banyak bicara ia perlahan membuka cadar Laila.


Pertama kalinya ia melihat wajah dibalik cadar Laila, matanya berkaca-kaca, rasa haru dan kagum bercampur aduk di hatinya. Untuk kesekian kalinya ia jatuh cinta lagi.


"Aku selalu berprinsip untuk mencintai wanita tanpa memandang fisiknya, tapi kurasa prinsip ku tidak berlaku lagi untukmu, kini aku jatuh cinta lagi karena paras mu diluar ekspektasi ku," ucap Arga menatap haru wajah Laila.


Jantung Laila berdebar tidak karuan, pujian dari suaminya membuat ia semakin malu menatap Arga.


Laila mengangkat wajahnya, menatap mata Arga, "Itulah kenapa aku semakin yakin untuk menikah dengan mu, kamu satu-satunya laki-laki yang tidak tau wajahku tapi berani menikahi ku,"


Tatapan Arga semakin dalam pada Laila,


"Laila, bolehkan aku mencium kening mu?"


"Pertanyaan mu itu sangat lucu, ibaratnya ketika kamu mempunyai sebuah apel, jika kamu ingin,apa kamu akan bertanya pada apel itu, dia boleh di makan atau tidak? tentu tidak kan, karena kamu telah memilikinya,"


"Kamu aja yang nggak sadar kalau aku sebenarnya cerdas,"


Arga mencium kening Laila untuk pertama kalinya.


"Apa sekarang aku masih bisa jadi bodyguard mu?"


"Aku yang jadi bodyguard mu, aku yang harus menjaga mu, bukan sebaliknya, dan aku akan selalu memastikan bahwa tidak akan ada laki-laki yang melihat wajah cantik mu ini, kalau ada yang berani aku yang akan menghukumnya," tegas Arga memeluk sang istri.


...********...


Pagi hari,,


Kini Laila telah tinggal di rumah Arga. Pagi ini ia tampak memasak di dapur bersama Lastri.


Lastri tak seperti biasanya, kini ia tidak banyak bicara.


"Kamu kenapa las?" tanya Laila

__ADS_1


"Selamat ya Laila, kamu akhirnya memenangkan persaingan kita, sekarang kamu yang jadi nyonya di rumah ini, tapi kenapa kamu masih ikut ikutan masak, udah sana! biar aku aja,"


"Persaingan apa sih Las?" tanya Laila yang sedikit bingung.


Laila berpikir sejenak, "Oh iya aku lupa..kamu suka sama Arga kan, aduk maaf ya Las, aku bukannya menikung, tapi ini mungkin sudah ketentuan Allah," kata Laila sembari menggenggam tangan Lastri.


Bagaimana pun juga Laila telah menganggap Lastri sebagai temannya.


"Ah sudahlah jangan di bahas, hatiku semakin perih," ucap Lastri kemudian bergerak pergi.


Arga dan Laila pun sarapan pagi berdua karena bu Ranti sedang berkunjung ke kampung halaman.


"Sayang..mau gimanapun masakan kamu tetap enak aja ya,"


Mendengar perkataan Arga membuat Laila merasa malu.


"Kamu kenapa? emang ada yang salah dengan panggilan sayang," Arga tersenyum melihat wajah malu Laila.


"Nggak..kamu lanjut makan aja deh, jangan banyak bicara, nggak boleh bicara saat makan," tegur Laila.


Arga berdiri dan pindah tempat duduk, kini ia mendekat ke samping Laila.


"Nih cobain pasti enak," ucap Arga sembari menyuapi Laila.


Lastri yang melihat itu tak sadar telah membengkokkan sendok makan di tangannya. Rasa cemburunya tak terkondisikan.


"Andai aku dapat kerjaan lain, pasti aku pergi dari sini secepatnya," batin Lastri.


"Lastri..ayo gabung," ajak Laila.


Mata Arga memberi kode pada Lastri agar ia menolak. Namun Lastri yang sudah kesal tak mengikuti kode dari Arga.


Lastri berjalan ke arah Laila, mengambil posisi di tengah tengah keduanya.


"makasih ya nyonya Laila, akhirnya saya bisa ikut sarapan bareng," ucap Lastri, dalam hatinya ia merasa menang di hadapan Arga karena berhasil menggangu waktu berharga Arga.


"Iya sama-sama...kita bisa makan bareng setiap hari kok, sama bi Siti juga, sama pak Suryo juga, sama satpam di depan juga" tutur Laila menyebutkan satu per satu nama pekerja di rumah Arga.


Arga ternganga, ia tak bisa bayangkan jika nanti ia akan selalu sarapan dengan seluruh pekerja di rumahnya.


"Sa- sayang..kayaknya itu berlebihan deh,"

__ADS_1


Laila menatap suaminya sembari memaparkan senyum manis merayu Arga, "Sayang..apanya yang berlebihan sih, kita harus selalu menerapkan silaturahmi dan kebersamaan bersama orang orang seperti mereka, apa kamu tidak setuju? ya udah nggak pa pa kalau kamu nggak setuju,"


Hati Arga meleleh mendengar kata sayang dari Laila, "I- iya boleh dong, boleh banget, biar kayak keluarga besar gitu kan," ujar Arga seolah bahagia dengan ide dari Laila.


__ADS_2