
Pagi ini, baru saja Ainun keluar dari kamarnya, namun sudah ada pemandangan yang tidak menyenangkan.
Di ruang tamu ada ibu yang sedang mengobrol dengan pak Parto, laki-laki yang akan dijodohkan dengan Ainun.
Wajah Ainun tampak masam menatap Parto. Namun ibu melototi Ainun seolah memberi isyarat agar menghargai kedatangan pak Parto.
"Akhirnya calon istri ku muncul juga," ucap Parto menatap indah wajah Ainun.
"Maaf, tapi aku tak merasa jadi calon istri mu, kamu lebih cocok bersama ibu ku," cetus Ainun dan buru-buru pergi.
Ibu menghentikan langkahnya, "Kamu apa apaan sih Ainun, Parto bela belain datang ke sini, apa kamu nggak hargain dia sama sekali," Ibu menahan tangan Ainun agar tidak pergi.
Kini Ainun tak lagi menahan diri untuk menuruti kemauan sang ibu. "Lebih baik aku tidak menikah Sampai aku tua, dari pada harus menikah dengan laki-laki itu, Bu..aku ini bukan boneka milik ibu, aku juga berhak menentukan jalan hidup ku sendiri," gerutu Ainun dengan pelan tapi tajam.
"Oh..jadi sekarang kamu sudah tumbuh jadi anak yang pembangkang,"
"Terserah ibu mau ngomong apa, tapi aku dengan tegas menolak perjodohan ini," Lanjut Ainun.
Kini Parto telah mendengar semua pembicaraan Ainun dengan ibunya. Parto adalah laki-laki yang picik, ia tak akan tinggal diam, ia akan melakukan segala cara untuk mengubah keputusan Ainun.
"Sebaiknya kamu pikirkan baik baik, ibu mu akan saya laporkan ke polisi jika kamu tidak mau menikah dengan saya, asal kamu tau, hutang ibu mu sudah ratusan juta, kalian tak akan mampu membayarnya," kata kata Parto seakan mengancam Ainun.
Ainun mulai emosi mendengar perkataan Parto yang menekannya. "Saya akan berusaha melunasi hutang ibu," tegas Ainun.
"Mau bayar pake apa Ainun, lebih baik kamu terima saja lamaran Parto, dan semua masalah akan selesai," tegas Ibu.
Ainun pun mulai memikirkan semuanya, air matanya kini menetes, ia tak tau lagi harus mengambil keputusan yang mana, karena bagaimanapun juga ia akan mengkhawatirkan ibunya.
"Baik kalau kamu tidak mau, saya akan menelpon polisi sekarang juga, dan ibu kamu akan di seret ke penjara," Ancam Parto.
Kini Ainun menghela nafas dalam-dalam. Ia meyakinkan dirinya untuk memilih keselamatan sang ibu. Bagaimana pun juga, hanya ibulah satu satunya orang tua bagi Ainun.
"Oke..saya akan turuti kemauan kalian," ucap Ainun pelan. Ini adalah kata kata terakhir dari mulut Ainun, kini ia hanya terdiam meratapi nasibnya.
__ADS_1
Jawaban Ainun itu membuat Ibu dan Parto merasa menang, kini mereka sibuk mengobrol membahas persiapan pernikahan Parto dan Ainun.
Namun tak lama kemudian, Maysa dan suaminya Farhan tiba di rumah. Maysa menatap ke arah Ainun yang duduk melamun di hadapan Parto dan Ibu. Ainun seperti seseorang yang hilang dari kesadarannya. Ia hanya duduk melamun tanpa memperhatikan sekitarnya.
Melihat suasana di hadapannya itu, membuat Maysa faham dengan situasi, bahwa Ainun telah di tekan untuk menyetujui pernikahan ini.
"Hentikan semua rencana konyol kalian, aku yang akan melunasi hutang hutang ibu," Tegas Maysa menerobos masuk ke hadapan Ibu dan Parto.
"Maysa, kamu apa apaan sih, Ainun sudah menyetujui pernikahan ini, jadi jangan merusak suasana ini lagi," tegas Ibu.
"Ainun tidak ingin menikahi laki-laki tua ini, tapi kalianlah yang menekannya, aku tau persis bagaimana adik aku," tegas Maysa menjawab perkataan sang Ibu.
Parto tampak kesal melihat kedatangan Maysa dan suaminya. "Hutang ibu mu ratusan juta, kini totalnya telah mencapai angka 450 juta, apa kamu sanggup?"
Maysa pun meletakkan di meja tas berisi uang yang ia bawa, meski kini jumlahnya baru dua ratus juta.
"Ini uangnya, sisanya akan ku lunasi nanti," cetus Maysa.
"Parto! apa kamu tidak malu dengan usiamu, harusnya kamu memperbanyak ibadah mu," Farhan pun bersuara, ia tak dapat menahan amarahnya lagi.
"Saya tidak mengenal anda, jadi jangan ikut campur," tegas Parto melototi Farhan.
Suasana pun menjadi panas, Ibu, Maysa, Farhan dan Parto tak henti saling berdebat di ruang tamu. Lain halnya dengan Ainun yang sedari tadi terdiam membisu.
"Assalamualaikum," suara kedatangan seseorang dari depan. Farhan membuka kan pintu, matanya terkejut melihat kedatangan Hilman bersama kedua orangtuanya.
"Hilman kamu.."
"Iya aku datang untuk melamar Ainun," tutur Hilman memotong pembicaraan Farhan.
"Tapi suasana nya sedang kacau, kini Maysa dan ibunya sedang ribut, karena Ainun telah di paksa untuk menerima lamaran seorang laki-laki tua," jelas Farhan pada Hilman dan keluarganya.
"Kalau boleh tau kenapa Ainun di paksa begitu?" tanya mama Hilman.
__ADS_1
"Karena Ibunya Ainun punya hutang Tante, jadi satu satunya cara melunasinya adalah dengan menikah, saya dan Maysa telah membawa uang senilai 200 juta tapi ternyata masih kurang," keluh Farhan.
Panjang lebar Farhan menjelaskan semuanya, kini Hilman tak tahan lagi mendengar bahwa gadis yang ia cintai sedang di timpa musibah bertubi-tubi.
Hilman pun menerobos masuk ke dalam rumah.
"Saya akan melunasi semua hutang yang mengatasnamakan Ainun," tegas Hilman yang tiba-tiba muncul di ruang tamu. Semua mata menoleh ke arah Hilman.
Termasuk Ainun yang sedari tadi melamun. Kini matanya menatap Hilman, ia terkejut melihat kedatangan Hilman dan orangtuanya yang tiba-tiba.
"Ini siapa lagi sih, kalian nggak usah ikut campur deh," gerutu Parto semakin kesal.
Hilman menelpon sekretarisnya untuk membawakan uang cash sesuai jumlah hutang Ibu.
"Tunggu sebentar, uangnya akan segera tiba," tegas Hilman.
"Kamu siapa?" tanya Ibu.
"Saya Hilman Bu, kedatangan saya kesini memang untuk menggagalkan rencana pernikahan ini, karena saya ingin melamar Ainun," tegas Hilman dengan sungguh-sungguh.
Ainun masih tak percaya dengan kata kata Hilman tadi. " Bapak bercanda kan?"
"Tidak Ainun, saya serius," tutur Hilman.
"Hilman ini sahabat aku Bu, dia juga CEO tempat Ainun bekerja," jelas Farhan pada Ibu.
Ibu pun mulai memikirkan banyak hal, di satu sisi ibu merasa diuntungkan karena hutangnya akan lunas, tapi di sisi lain ibu tidak senang jika kelak kehidupan Ainun jauh lebih baik dari pada Maysa.
"Apa lagi Bu, ibu nggak punya alasan lagi untuk memaksakan kehendak ibu," tegas Maysa melototi Ibu.
Tak lama kemudian sekretaris Hilman pun datang, membawa tas ransel berisikan uang. Hilman langsung meletakkan tas itu di hadapan Parto.
"Hitunglah jika kamu tidak yakin, yang pasti ini lebih dari jumlah yang kamu inginkan," Tutur Hilman.
__ADS_1