
Pagi itu Laila menyempatkan ke ruang rawat Nisa untuk menjenguknya, karena Laila akan segera pulang dari rumah sakit.
"Assalamualaikum," ucap Laila sembari mengetuk pintu ruang rawat Nisa.
"Waalaikumussalam, masuk!" jawab Haris yang sedang menyuapi Nisa makan.
Laila pun masuk, ia melihat dengan jelas bagaimana perhatikan Haris pada Nisa. Ia harus bahagia untuk Haris dan Nisa, meski hatinya sedikit perih.
"Alhamdulillah, Nisa udah mulai makan," tutur Laila menatap Nisa dengan senyumnya.
"Makasih ya La, kamu udah jenguk aku ke sini," ucap Nisa menatap teman SMP nya itu.
"Iya sama-sama, kamu cepat sembuh ya, lihat tuh, Haris udah khawatir bangat sama kamu," tutur Laila sambil tersenyum.
Nisa pun hanya tersenyum mendengar perkataan Laila.Karena dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya sudah di penghujung usianya, mengingat kanker di tubuhnya yang sudah menyebar.
Tak lama kemudian Laila pun harus pamit, karena Arga dan Bu Ranti mungkin sudah menunggunya.
"Aku pamit dulu Ris, jaga Nisa baik-baik, Assalamualaikum," ucap Laila dan langsung berjalan keluar.
***
Bu Ranti dengan wajah masamnya memasuki ruang rawat Rifki. Rifki yang sedang bersiap-siap untuk pulang terheran menatap wajah Bu Ranti yang tampak kesal.
"Ibu kenapa?" tanya Rifki sembari menatap Bu Ranti.
"Habis ketemu setan," ucap Bu Ranti dengan nada kesal.
"Setan yang mana sih ma, orang aku lihat sendiri kalau mama habis ngobrol sama papa," tutur Arga yang tiba-tiba muncul.
"Bilang sama papa kalian, jangan pernah menemui aku lagi, aku sudah muak dengan wajah laki-laki tua itu," cetus Bu Ranti yang kesalnya bukan main.
"Istighfar ma.." tutur Arga.
"Kamu mau belain papa kamu?"
"Nggak ma..aku selalu di pihak mama, ih mama kok sensi bangat sih," kata Arga yang duduk di Sofa.
Rifki hanya terdiam, ia tak berani ikut campur karena suasana hati Bu Ranti tampak tidak baik.
"Laila mana Ga?" tanya Rifki menatap Arga.
"Lagi keluar kali, mungkin dia
bosan lihat wajah kamu di sini," ucap Arga.
__ADS_1
"Assalamualaikum.." sapa Laila yang baru datang.
"Waalaikumussalam," jawab Arga dan Rifki serentak.
"Dari mana aja Laila?" tanya Arga.
"Apa aku harus selalu melaporkan kemanapun aku pergi?"
"Ah sudahlah, sudah ku duga kamu akan berkata seperti itu," ucap Arga yang sudah paham dengan Laila.
Laila teringat tentang perkataan Adel bahwa adiknya sedang ada masalah, Laila memutuskan untuk menjumpai sang adik."Bos Arga yang baik hati, boleh nggak aku izin sebentar, ada hal penting yang harus aku urus," tutur Laila membujuk Arga.
"Hal penting apa sih La?" tanya Arga.
"Adik saya sedang bermasalah, saya harus melihat kondisinya, saya khawatir dia kenapa-napa," tutur Laila.
Arga pun memberi izin, karena bagaimanapun juga Laila punya urusan pribadi di luar pekerjaannya.
"Baiklah, tapi setelah urusan mu selesai, segera kembali! ujar Arga.
Laila pun pergi menemui adiknya.
Sementara itu Rifki pulang bersama supir yang sudah disiapkan papa Rendra. Dan Arga bersama mamanya kembali pulang ke Rumah Arga.
***
Laila pun memperjelas pandangannya, tampak Ridwan dikelilingi banyak laki-laki. Satu persatu dari mereka bergantian memukuli Ridwan.
Ridwan berusaha melawan sekuat tenaganya, namun jumlah mereka terlalu banyak hingga ia tergeletak di tanah.
"Dasar anak anak kurang ajar," cetus Laila dan berlari secepat mungkin ke arah kerumunan itu.
"Hentikan! kenapa kalian mengeroyok Ridwan?" tanya Laila sambil memapah Ridwan berdiri.
"Jangan ikut campur, ini urusan laki-laki," ucap salah seorang dari mereka.
"Ridwan adik saya, saya harus ikut campur," tegas Laila menatap tajam satu per satu laki-laki itu.
"Hei gadis bercadar! minggir lah, kami tidak ingin berlawanan dengan perempuan seperti kamu,"
Mendengar itu membuat Laila semakin bertenaga untuk menghabisi anak kuliahan itu.
"Baiklah.. sepertinya kalian memang ingin mengujiku, majulah jika kalian ingin melawan ku," tegas Laila.
"Jangan kak, nggak usah ladenin mereka," kata Ridwan menghentikan Laila.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara yang menjadi ciri khas mobil polisi. para Laki-laki itu pun berlarian karena mengira ada polisi yang datang. Ternyata itu hanyalah tipuan Arga yang sedari tadi mengikuti Laila.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Laila.
"Aku ngikutin kamu tadi, kamu sih bikin orang khawatir aja," tutur Arga yang berjalan ke arah Laila.
"Ini adik kamu?" Arga menatap Ridwan.
"Iya, dia Ridwan, adik aku,"
"Iya, saya adik Laila pak," tutur Ridwan menatap Arga.
"Astaga..jangan panggil aku pak, selisih usia kita tidak jauh, panggil saya kak Arga," ujar Arga.
Ridwan tampak memar di bagian wajahnya.
"Dasar anak nakal, kenapa kamu terlibat masalah dengan mereka?" tanya Laila melototi adiknya.
"Mereka memang sering mengganggu mahasiswa lain, kemarin mereka mengganggu seorang wanita yang juga teman sekelas aku, aku nggak terima lah, aku belain wanita itu, makanya mereka selalu mengincar ku," jelas Ridwan.
"Jangan bilang kalau wanita itu pacar kamu? jangan coba pacar pacaran ya," gerutu Laila mengomeli Ridwan.
"Astaghfirullah..nggak kak, siapa yang pacaran sih, aku cuma temenan aja," jelas Ridwan menatap Laila.
Arga tersenyum melihat Laila yang tampak garang pada adiknya. "Aku nggak bisa bayangin bagaimana keseharian adikmu memiliki kakak yang galak kayak kamu," ucap Arga menatap Laila.
"Jangan ikut campur urusan pribadi saya ya pak," tegas Laila.
"Udahlah kak, aku mendingan pulang aja ya," tutur Ridwan. "Ya udah kamu buruan pulang sana, hati-hati ya," ucap Laila pada adiknya.
Ridwan pun pulang dengan taksi yang di pesan Arga.
"Pak Arga ngapain sih ngikutin saya?" tanya Laila melototi Arga.
"Suka-suka saya dong, saya bisa pergi kemanapun yang saya mau," tegas Arga yang berdiri di tepi jalan bersama Laila.
"Iya iya..orang kaya emang selalu begitu," cetus Laila.
"Saya cuma khawatir kamu kenapa-napa, kemarin kamu hampir di pukul oleh penjahat, saya nggak tenang kalau kamu pergi sendiri," ucap Arga. Perkataan Arga membuat Laila terheran-heran.
"Pak Arga sehat kan? kok tiba-tiba mikirin keselamatan saya," cetus Laila.
Arga menghela nafas, "Kamu pikir saya ini orang seperti apa? kamu belum mengenal saya lebih dalam, saya adalah bos yang sangat baik Budi, saya harus memastikan pekerja saya aman dari bahaya," tutur Arga menatap Laila.
"Kalau begitu pergilah ke White horse pak, pastikan semua karyawan mu aman dari bahaya," tegas Laila sembari berjalan menuju mobil Arga.
__ADS_1
"Baik ayok kita ke sana," ucap Arga bersemangat.
Laila pun semakin kesal, "Sepertinya aku salah bicara," batin Laila yang merasa Arga semakin menyebalkan.