Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz #15


__ADS_3

Tepat di sepertiga malam, Ainun yang sudah lemah karena kelamaan menangis berusaha menguatkan diri untuk menunaikan shalat tahajud. Berharap yang maha kuasa memberinya kekuatan.


"Ya Allah, hamba akan selalu berusaha husnuzon dengan semua yang hamba lalui, karena hamba yakin semua ini terjadi sesuai kehendak mu, tapi satu pinta ku ya Rabb, kuatkan aku, aku begitu lemah tanpa kekuatan darimu, saat ini aku tak sanggup lagi menceritakan rasa sakitku, karena aku yakin engkau yang lebih tau tentang isi hati hamba, dan semoga engkau bantu hamba melewati semua ini," Ainun amat khusyuk berdoa dalam sholatnya sambil air matanya bercucuran.


***


Pagi itu,


Mama Hilman menunggu Ainun di tempat ia kemarin bertemu Ainun. "Waktu itu Ainun lewat dari sini pas pulang kerja, berarti pagi ini dia juga akan lewat sini untuk berangkat kerja," batin Bu Sinta.


Dan benar saja tak lama kemudian Ainun muncul. Bu Sinta buru-buru menemui Ainun.


"Tunggu! Ainun kamu masih ingat saya kan?" sapa Bu Sinta menghentikan langkah Ainun.


"Iya saya kenal Bu, Bu Sinta kan?" tanya Ainun.


"Iya benar, ibu masih merasa berhutang budi sama kamu, kamu mau nggak makan malam sama saya malam ini," ucap Bu Sinta.


Ainun terdiam, ia mempertimbangkan masalahnya yang terlalu banyak hingga ia tak ada waktu untuk makan malam di luar.


"Please..kamu mau ya nak, saya cuma mau berterima kasih," tutur Bu Sinta membujuk Ainun.


"Ya udah deh, boleh Bu," jawab Ainun.


"Makasih ya nak, oh ya nanti makan malamnya di rumah saya, ini alamatnya," ucap Bu Sinta sambil memberikan alamat rumahnya.


***


Maysa dan suaminya Farhan menemui ibu di rumah.


Mereka tampak serius berbicara di ruang tamu.


"Pokoknya aku nggak setuju kalau Ainun akan menikah dengan laki-laki tua itu Bu, aku nggak rela, aku akan cari cara untuk melunasi hutang ibu, aku akan mencicilnya," tegas Maysa dengan serius menatap ibu.


"Maysa kamu kenapa sih, ini demi kamu, ibu melakukan ini demi kamu, tapi kenapa kamu malah banyak membantah ibu," tutur ibu.


"Bu..aku nggak mau adik aku menderita karena aku," tegas Maysa.


"Siapa yang menderita? Ainun sendiri yang mau menikah dengan Parto," gumam ibu menatap putrinya.


"Maaf kalau saya ikut campur Bu, tapi untuk saat ini ibu tenang dulu ya, saya akan bantu Maysa melunasi hutang ibu, hanya saja kami perlu waktu sebentar untuk mengatasinya," jelas Farhan menatap ibu.

__ADS_1


"Berapa kali ibu bilang kalian tidak perlu mengurus masalah ini, ibu tau apa yang harus ibu lakukan," tegas ibu dengan tajam.


***


Usai bekerja Ainun buru-buru pulang karena malam ini ia ada jadwal makan malam dengan Bu sinta yang baru ia kenal.


Hilman yang melihat Ainun di tepi jalan menyapanya dari mobil.


"Ainun! Ayok saya antar," panggil Hilman.


"Nggak usah pak, saya pulang sendiri aja, assalamualaikum," ucap Ainun dan buru-buru pulang.


*"*


Malam itu keluarga pak Rahman sudah menunggu untuk makan malam.


Pak Rahman menemui putranya yang sedang melamun di meja makan.


"Malam ini papa juga ngundang anak teman papa, dia adalah perempuan yang cantik, Solehah, baik dan pastinya dari keluarga baik-baik," ucap papa menatap Hilman.


"Pa, tapi kan mama juga udah ngundang gadis yang mau ia kenalkan," ucap Hilman.


"Justru itulah papa pun mengundang pilihan papa, kalau mama kamu aja kamu kasih kesempatan masa papa nggak," ujar papa.


"Papa ikut ikutan aja deh, lihat aja nanti pasti Hilman lebih tertarik pada bidadari yang mama undang," tegas mama menatap suaminya.


"Mama sok tau deh, Hilman aja belum liat wujudnya, mana orangnya mana..kok belum datang-datang," kata papa yang juga merasa pilihannya sudah tepat.


"Udah udah kok malah ribut sih, tapi papa sama Mama harus ingat ya, ini hanya sekedar makan malam dan setelah ini kalau aku tidak tertarik dengan pilihan kalian, aku bisa melamar wanita pilihan ku sendiri," jelas Hilman menatap kedua orangtuanya.


Bi Siti datang memberi tahu bahwa ada yang datang.


"Tuan! ada tamu, seorang gadis," tutur Bi Siti.


"Suruh masuk bi," perintah pak Rahman.


Bu Sinta berharap yang datang itu adalah Ainun, tapi ternyata yang datang malah gadis pilihan suaminya.


"Alhamdulillah, kamu sampai juga nak, ayok silahkan duduk," sapa papa menyambut hangat gadis itu.


"Terimakasih pak Rahman," ucap gadis itu sambil duduk.

__ADS_1


"Kenalin ini putra tunggal saya, Hilman, Hilman kenalin ini gadis yang papa ceritakan tadi namanya reina" ucap papa memperkenalkan gadis itu.


Hilman hanya tersenyum sebentar pada gadis itu agar ia tak di kira sombong.


"Aduh, Ainun kok nggak datang-datang ya," batin mama yang khawatir Ainun tidak datang.


"Gimana ma? kita mulai aja makan malamnya? udahlah tamu undangan mama pasti nggak akan datang," ucap papa meledek mama.


"Tunggu dulu pa! papa nggak sabaran bangat sih," cetus mama yang kesal


Mendengar debat kedua orangtuanya membuat Rahman pusing, ia malah teringat Ainun.


"Secantik apa pun gadis yang kalian undang, tetap aja bidadari ku lebih cantik," batin Hilman yang sudah kukuh ingin memperistri Ainun.


Bi Siti kembali lagi memberi tahu bahwa ada gadis yang datang.


"Tuan, ada tamu lagi," ucap bi Siti.


"Suruh dia masuk," tutur Mama bersemangat.


Langkah kaki mulai terdengar, Bu Sinta tak sabar melihat Ainun.


Dan benar saja, perempuan yang di sebut bu sinta bidadari itu pun muncul.


"Assalamualaikum," Sapa Ainun yang canggung melihat keluarga Bu Sinta itu.


Hilman mengangkat kepalanya, matanya menoleh ke arah Ainun, Hilman pun kaget melihat bidadari dalam mimpinya berada di hadapannya.


"Maasyaa Allah, inikah bidadari yang ingin mama kenalkan, kenapa bidadari mama bisa sama dengan bidadari yang selalu aku mimpikan, apa mungkin ini pertanda kalau aku memang berjodoh dengan Ainun," batin Hilman yang masih menatap Ainun.


Ainun memperhatikan satu per satu orang yang ada di situ, tepat saat ia menatap Hilman tiba-tiba ia panik.


"Hah pak Hilman! kok ada pak Hilman, apa jangan-jangan.. astaghfirullah bodohnya aku, iya benar ini ternyata rumahnya pak Hilman, itu kan pak Rahman pemilik restoran tempat aku bekerja," batin Ainun yang menyesali kedatangannya.


"waalaikumussalam Ayok Ainun, silahkan duduk," sambut Bu Sinta dengan ramah.


"Iya terimakasih Bu," ucap Ainun sambil duduk di bangku yang tersisa tepatnya di hadapan Hilman.


Hilman tak henti menatap Ainun.


"Tuh kan kamu pasti kagum sama perempuan yang mama ceritakan, lihat pa, Hilman aja sampe tercengan melihat bidadari mama," ucap mama meledek papa.

__ADS_1


"Hah? bidadari apa sih maksudnya, aku makin bingung deh, suasananya nggak nyaman banget," batin Ainun yang bingung dengan keluarga Bu Sinta.


__ADS_2