Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz #7


__ADS_3

Hilman meraba dompetnya dan mengambil cek uang senilai 3 juta,


"Segini cukup untuk mengganti baju mewah anda? jika kurang kabari saya, saya selalu stay di sini," tegas Hilman menatap tajam gadis yang bajunya terkena noda makanan yang di jatuhkan Ainun.


Gadis itu mengambil cek uang di tangan Hilman, dan langsung pergi dengan wajah masam.


Sementara Bu Mira hanya menunduk. "Lanjutkan kerjaan kamu," suruh Hilman pada Bu Mira. Bu Mira pun pergi.


Begitupun Ainun yang melangkah bergegas melanjutkan pekerjaannya.


"Tunggu! siapa yang nyuruh kamu pergi," sapa Hilman pada Ainun.


Ainun berbalik badan lagi,


"Tadi kan bapak suruh saya lanjutkan pekerjaan," tutur Ainun yang segan pada Hilman.


"Yang saya suruh itu Mira, bukan kamu, saya udah nolong kamu loh, masa kamu nggak ada basa-basi sedikit pun," ujar Hilman yang sengaja karena ingin melihat Ainun berterima kasih padanya.


"Terimakasih pak,dan saya juga minta maaf pak karena saya melakukan kesalahan lagi, pokoknya saya janji saya akan bayar uang yang bapak berikan pada perempuan tadi, saya pasti akan tanggung jawab kok," tutur Ainun dengan sungguh-sungguh.


"Beneran, gimana cara kamu gantinya? emang kamu mau gaji kamu di potong satu bulan full?" tanya Hilman.


"Jangan pak! nanti saya cicil aja ya pak," ucap Ainun pelan padahal dalam hatinya ia bingung harus mencari uang kemana lagi.


"Gimana nanti kalau kamu kabur? JustruĀ  tampang alim seperti kamu ini loh yang justru di khawatirkan lari dari hutang," tutur Hilman yang dalam hatinya tersenyum melihat ekspresi Ainun yang panik.


Ainun melepas gelang di tangannya, gelang itu lumayan mahal dan merupakan peninggalan dari almarhumah ibunya.


"Pak, ini adalah benda paling berharga dalam hidup saya, ini peninggalan ibu kandung saya, silahkan bapak pegang dulu sebagai jaminannya,dan nanti setelah saya bisa melunasi hutang saya, barulah bapak kembalikan gelang ini, tapi saya mohon ya pak, tolong jangan hilangkan gelangnya,ini sangat berharga buat saya" tutur Ainun yang tidak tau lagi harus berbuat apa.


Melihat kesungguhan hati Ainun membuat Hilman tersentuh. "Apa aku udah keterlaluan ya,kasihan gadis ini, dia bahkan rela memberi barang paling berharga miliknya, apa aku terima aja ya,biar nanti aku bisa kembalikan gelang ini sekaligus aku melamarnya," batin Hilman.


"Baik,saya rasa gelang ini cukup sebagai jaminan,kamu tenang aja,saya akan jaga gelang ini baik-baik," ucap Hilman sambil mengambil gelang itu. Hilman pun pergi ke ruangannya.


Ainun menarik dan melepas nafasnya dengan lega. "Untung aja aku selamat dari bos baru itu, tapi kok dia mau nolongin aku ya," batin Ainun.


***

__ADS_1


Hilman pun diam-diam mencium gelang Ainun di ruangannya. "Bidadari ku, maaf ya aku bukan bermaksud untuk membuat kamu sedih, tapi ini adalah salah satu cara aku untuk mengenal kamu lebih dekat,dan supaya kamu pun mengenal aku lebih dekat," batin Hilman.


Hilman mengambil diary Ainun yang kemarin ia temukan. Ternyata Hilman selalu membawa buku diary Ainun karena bagi Hilman itu sangatlah berharga.


Hilman melanjutkan membaca catatan harian Ainun pada halaman selanjutnya.


"Catatan hari ini: Aku benar-benar kagum dengan sosok seseorang, kebaikan hatinya, kelembutan sikapnya, dan akhlaknya yang baik selalu menarik hatiku. Kak Farhan, andai kamu tau aku begitu kagum sama kamu,kebaikan kamu terhadap orang-orang di sekitar kamu membuat aku tak henti menatap itu."


Membaca itu membuat Hilman semakin bertanya tanya dalam hati. "Hah? Farhan? apa gadis itu menyukai Farhan?" batin Hilman.


Hilman membuka lembar berikutnya,


"Catatan hari ini: Hari ini aku pulang sekolah di jemput kakak ku dan temannya kak Farhan. Rasanya aku sangat bahagia bisa melihat kak Farhan."


Membaca itu Hilman mulai mengerti bahwa sebenarnya Ainun menyukai Farhan sejak Ainun duduk di bangku SMA.


Hilman pun membuka lembaran yang lain.


"Catatan hari ini: Hari ini ibu kembali menegaskan padaku, bahwa aku tak perlu kuliah,padahal aku sangat ingin kuliah setelah lulus nanti, tapi kata ibu pendidikan kakak adalah yang utama, karena dia anak pertama,"


"Catatan hari ini: Sakit rasanya ketika melihat ibu setiap hari tak pernah menganganggap apa pun yang aku lakukan. Bahkan ketika aku juara satu di kelas pun tak membuat ibu bangga padaku. Andai ibu memberi aku sedikit saja kasih sayangnya, aku sadar aku anak tiri, tapi ini sudah berlebihan."


Hilman membuka lembaran berikutnya,


"Catatan hari ini: Aku mencoba ikhlas, mulai hari ini aku akan mencari pekerjaan, karena pendidikan kak Maysa sangatlah penting. Aku ikhlas jika harus mengorbankan pendidikan ku, asalkan kakak ku bisa sarjana,"


Hilman semakin kasihan dengan kisah hidup gadis bernama Ainun itu.


"Andai dulu aku mengenal kamu Ainun, pasti aku akan menghapus kesedihan kamu, aku semakin yakin untuk menjadikan kamu istriku, meskipun kamu belum mengenalku," batin Hilman.


***


Azan Dzuhur berkumandang,


Ainun bergerak ke mesjid di dekat restoran itu untuk sholat Dzuhur.


Ainun pun ikut melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah di mesjid.

__ADS_1


Namun kali ini ada yang lain di telinga Ainun, karena suara imam sepertinya berbeda dengan suara imam yang kemarin-kemarin.


Usai sholat, tak sengaja Ainun berpapasan dengan Hilman di depan mesjid.


"Siang pak," sapa Ainun sambil menunduk, melihat wajah bos nya membuat Ainun teringat hutang.


"Ainun," panggil Hilman pada Ainun yang berusaha menghindar dari Hilman.


"Iya ada apa pak," sahut Ainun.


"Nama kamu Ainun kan?" tanya Hilman.


"Iya saya Ainun pak," jawab Ainun dengan gugup.


"Kenalin, saya Hilman, CEO baru di sini, saya putra tunggal dari pak Rahman pemilik restoran ini," jelas Hilman padahal Ainun tak bertanya tentang itu.


"Iya pak, sekali lagi saya mohon maaf atas kejadian hari ini yang tidak menyenangkan bagi bapak, hari ini saya udah banyak buat kesalahan, maaf ya pak," ucap Ainun.


"Nggak pa pa Ainun, saya justru suka sama kamu,"


"Hah?" Ainun kaget dengan perkataan Hilman.


"Sorry sorry, maksud saya, saya suka sama kerjaan kamu, dengar-dengar kamu orangnya rajin, jujur, pekerja keras, pokoknya kamu pekerja yang baik," tutur Hilman yang mencari-cari alasan.


Ainun hanya cengar-cengir,bingung dengan bos nya yang aneh.


"Makasih pujiannya pak, saya permisi dulu, assalamualaikum pak," ucap Ainun yang kemudian melangkah pergi.


"Waalaikumussalam," jawab Hilman.


***


Setelah seharian bekerja, Ainun sudah bisa pulang, ia berjalan sambil menunggu angkot di tepi jalan.


Tiba-tiba mobil hitam berhenti di depannya, "Ayok naik, bahaya kalau perempuan jalan sendirian, ayo saya antar kamu pulang," ucap Hilman mengajak Ainun untuk pulang bersama.


Ainun tercengang karena ia baru mengenal bos baru tapi sudah di perlakukan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2