
Para penjahat pasukan di truk itu memang sengaja mengirim video tersebut untuk memancing Laila. Sebenarnya mereka ingin membalas Laila, namun akan sulit untuk menculiknya. Hingga Adel harus menjadi umpan untuk membalas dendam.
Suasana menyeramkan membuat Adel hampir pingsan di dalam truk itu. Para gadis lainnya pun menangis tanpa suara. Adel masih bertanya-tanya untuk apa sebenarnya mereka menculik para gadis di kota ini.
"Apa kita akan mengirim gadis ini pada bos, tapi dia pasti tidak akan menyukai gadis seperti ini, lihatlah tubuhnya sangat kurus," ucap seorang penjahat pada rekannya sambil menunjuk ke arah Adel.
"Tadi si supir bilang kalau gadis ini hanya umpan untuk membalas gadis bercadar itu, kita akan menyuruhnya datang pada kita, setelah itu barulah kita bisa beraksi membalasnya, bila perlu kita bisa menjadikannya salah satu gadis yang akan melayani big bos," ujar penjahat yang satu lagi.
Mendengar percakapan itu membuat Adel sedikit mengerti kemana mereka akan di bawa. Namun Adel berharap agar Laila tidak akan pernah datang. Karena itu hanya akan menimbulkan bahaya bagi laila sendiri.
"Aku harap kamu jangan pernah ke sini La," batin Adel dengan mata berkaca-kaca.
Malam hari,
Rifki tampak bersemangat mengunjungi rumah Adel dengan pakaian rapih. Namun sesampainya di rumah Adel, ibu Adel malah mengatakan bahwa putrinya belum kembali.
"Bu, tadi siang Adel udah balik kok, apa jangan jangan Adel nya udah masuk ke kamarnya tanpa ibu ketahui, coba di cek dulu Bu," ujar Rifki yang masih berusaha berpikiran positif.
Ibu pun hanya menuruti perkataan Rifki, ia mengecek kamar Adel namun tetap saja ia tak menemukan putrinya. Ibu kembali menemui Rifki di teras rumah.
"Adel nggak ada," ucap ibu dengan raut wajahnya yang mulai panik. Pikiran pikiran negatif mulai bermunculan di benaknya. Khawatir sesuatu telah terjadi pada putrinya.
Cincin kawin di genggaman Rifki pun terjatuh, tadinya ia ingin meminta pendapat Adel tentang cincin itu, namun kini ia semakin panik mengingat Adel yang entah kemana.
...********...
__ADS_1
"Baik, ayo kita cari Adel sama-sama, jika kamu ingin melakukan sesuatu hal, maka aku harus ikut, aku harus pastikan kalau kamu baik-baik saja," tegas Arga menatap wajah Laila yang tak kunjung berhenti menangisi sahabatnya.
Laila perlahan berdiri dari duduknya, ia menatap kearah Arga seraya menyetujui ucapan Arga. Sebenarnya kini Arga telah mengutus banyak orang untuk mencari Adel. Bahkan menawarkan berbagai hadiah untuk orang yang menemukannya.
Di mobil Arga,
"Jadi sekarang, kita mulai dari mana?" tanya Arga menoleh ke arah Laila.
"Aku juga bingung, tapi mungkin lebih baik kita menelusuri jalan ke rumah Adel," ucap Laila yang tak berhenti memikirkan Adel.
Sepanjang jalan telah dilalui, namun tak ada tanda-tanda sama sekali. Lelah Arga dan Laila semalaman mencari Adel tak membuahkan hasil apa pun. Arga pun memutuskan untuk membawa Laila istirahat di rumah.
...********...
"Sayang..tidur dulu, besok kita lanjutkan mencari Adel," tutur Arga sembari mengelus rambut Laila yang masih belum bisa tidur.
"Iya, kamu juga tidurlah," ucap Laila kemudian menutup wajahnya dengan selimut agar Arga tak tau bahwa ia tak bisa tidur.
Satu jam kemudian,,
Arga pun tertidur. Laila kembali mengambil Hpnya. Ternyata ada chat yang belum ia baca. Chat itu ternyata dari orang yang menculik Adel.
Dalam chat itu Laila di suruh untuk menjemput Adel sendirian ke sebuah tempat tersembunyi yang jauh dari keramaian.
Tanpa berpikir panjang, Laila diam-diam mengambil kunci mobil dan buru-buru pergi ke alamat yang sudah dikirimkan. Di sepanjang perjalanan ia merasa bersalah karena keluar tanpa izin suaminya, namun di satu sisi ia juga tak bisa mengabaikan chat ini, karena khawatir Adel akan kenapa-napa.
__ADS_1
Kini tak ada rasa takut sedikitpun di hati Laila, meski harus menyetir tengah malam. "Bagaimana pun juga aku telah banyak berhutang budi pada Adel, lagi pula dia sahabat ku, aku akan merasa bersalah jika tak bisa menyelamatkannya," batin Laila yang sedari tadi memikirkan Adel.
...******...
Ada 7 kamar khusus di sebuah rumah besar di ujung kota. Rumah ini adalah satu satunya rumah di lingkungan tersebut. Gang menuju rumah ini pun hanya di penuhi pepohonan di sepanjang jalan.
Pemilik rumah adalah big bos yang sangat menyukai wanita. Ia tak ingin satu wanita, namun harus tujuh orang wanita, karena ia amat tertarik pada dongeng 7 bidadari yang masing-masing menyusun pelangi.
Kini ia menyeleksi wanita wanita mana saja yang akan ia pilih untuk menemaninya malam ini. Ada sembilan wanita yang di bawa anak buahnya. Masing-masing dari mereka tak bisa melawan karena jika sempat membantah, ancamannya adalah ditembak mati.
Adel berada di tengah-tengah delapan wanita lainnya. Satu persatu di pilih oleh big bos tersebut. Kini giliran Adel yang di hadapkan pada big bos.
Kening big bos mengkerut menatap Adel, sorot matanya menunjukkan kebencian. "Aku tak suka wanita kurus seperti ini, bawa dia ke dalam ruang kurungan, beri dia makanan bergizi agar badannya lebih berisi," perintah big bos pada anak buahnya.
"Gadis ini memang sengaja kami tangkap untuk menjadi umpan bos, bos ingat kan wanita yang pernah saya ceritakan, wanita yang berani menghajar kami, wanita itu adalah teman gadis ini, makanya kami menjadikan gadis ini umpan," ujar anak buahnya seraya menunjuk Adel.
Big bos tampak menganggukkan kepalanya seraya mengizinkan tindakan anak buahnya. "Baiklah, meski demikian, tetap beri dia makan, aku tidak ingin gadis gadis ini kelaparan, mereka kelak akan melayani ku, jadi mereka harus tetap cantik," ujar big bos.
Anak buah tersebut membawa adel ke sebuah ruangan yang di kunci rapat. Adel sendirian di ruangan itu, tali yang mengikatnya kini telah di buka. Begitupun dengan penutup mulutnya. Tapi masalahnya kini ia tak bisa kemana-mana karena tak ada celah untuk kabur.
Kini doa adalah senjata satu satunya yang ia miliki. dengan penuh harap ia berdoa agar bisa dikeluarkan dari tempat aneh itu. Namun di satu sisi ia khawatir bahwa Laila akan datang dan akan di habisi oleh para penjahat.
"Ya Allah tolong selamatkan hamba dan sahabat hamba dari bahaya ini, hamba tak ingin sesuatu terjadi padanya," Adel berdoa dalam hatinya sedang air matanya tak henti bercucuran.
Adel juga merasa tak tega melihat nasib ke tujuh wanita yang terpilih untuk melayani big bos kejam itu. Kini Adel semakin ingin keluar dari rumah big bos misterius tersebut untuk menyelamatkan nasib gadis lainnya.
__ADS_1