
Sore itu pak Rendra menjenguk putra angkatnya yaitu Rifki. Ia menceritakan semua perbuatan ibu Rifki, hingga membuat Rifki shock dan ingin bertemu ibunya di kantor polisi.
"Tapi bagaimanapun perilaku ibumu, kamu tetap ku anggap putra ku, tapi maaf nak, aku akan menceraikan ibu mu," ucap pak Rendra menatap Rifki.
Rifki masih tak percaya ibunya sekejam itu, bahkan hampir saja membunuhnya. Tak sadar air mata Rifki menetes, mengingat ibunya yang ternyata sekejam itu, ia tak pernah membayangkan ibunya sanggup berbuat demikian.
"Maaf kalau ibu sudah mengacaukan semuanya, aku harap papa memaafkan ibu,meski papa ingin menceraikannya," tutur Rifki sembari matanya berkaca-kaca.
Tiba-tiba pintu terbuka, Bu Ranti yang tadi dari toilet, kini masuk ke ruang rawat Rifki untuk menjaganya kembali. Namun ia dikejutkan dengan pemandangan yang merusak suasana hatinya. Langkahnya terhenti melihat mantan suaminya berada di ruangan itu. Bu Ranti langsung berbalik badan dan keluar dari ruang rawat Rifki.
Mata Rendra menatap Bu Ranti dengan penampilan yang berbeda, kini ia telah mengenakan hijab dengan rapi.Melihat Bu Ranti yang bahkan tak mau menatap pak Rendra, membuat pak Rendra semakin merasa bersalah. Ia menyusul Bu Ranti keluar.
"Ranti!" panggilnya. Bu Ranti menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Ada apa lagi?" cetus Bu Ranti tanpa menatap wajah pak Rendra. Rasanya ia tak ingin melihat wajah yang dulu menghancurkan kebahagiaannya itu.
"Aku minta maaf, kamu pasti marah, jujur aku malu setelah semua yang terjadi ini, fakta langsung membuktikan kalau aku telah mengambil jalan yang salah, aku salah karena memilih wanita penjahat di banding kamu, maaf jika Diana telah menyakiti kamu, dan soal penculikan itu, aku akan menebusnya, silahkan hukum aku," tutur Rendra menatap mantan istrinya.
Bu Ranti tersenyum sinis, "Jangan pernah muncul di hadapan ku lagi, jangan mengotori pandangan ku, kita tidak ada urusan," cetus Bu Ranti dan langsung pergi meninggalkan Pak Rendra. Sakit hati yang sudah ia alami bertahun-tahun tak bisa di tebus hanya dengan kata maaf.
***
Laila dan sahabatnya Adel tengah mengobrol di kamar Laila. "Kamu aja deh yang pergi ke nikahan Haris, aku capek mau istirahat," ucap Laila sembari berbaring di tempat tidurnya.
"Kamu masih sempat istirahat, acaranya kan besok," kata Adel yang sibuk dengan HP nya.
Laila menghela nafas, "Aku benar-benar malas del, paling nanti kita ke sana cuma numpang makan doang, aduh malas bangat deh!" keluh Laila dengan wajah lesu.
"Bilang aja kalau kamu nggak sanggup lihat si Haris nikah sama perempuan lain," kata Adel sambil menatap Laila.
"Kalau iya emang kenapa," cetus Laila dengan polosnya.
"Astaga Laila..apa nggak ada laki-laki lain yang buat kamu tertarik, BTW bos kamu ganteng loh, kamu sama dia nggak ada percikan percikan cinta gitu," Adel bermaksud mengalihkan hati Laila dari Haris.
__ADS_1
"Percikan cinta? nggak lah, yang ada itu percikan api, si sad boy itu sangat sulit di pahami, mood nya mudah berubah," kata Laila mengingat perlakuan Arga yang kadang baik dan kadang galak.
***
Malam itu Afni datang menjenguk Rifki di ruang rawat. Arga yang sedari tadi menemani Rifki terkejut dengan kedatangan Afni.
"Rifki..kamu kok bisa seperti ini sih," basa-basi Afni yang berjalan ke arah Rifki dan Arga.
"Ya bisa lah, kenapa nggak bisa coba, semuanya bisa terjadi seiring berjalannya waktu," cetus Rifki yang tak ada ramah ramahnya sama sekali.
Arga hanya terdiam sambil sibuk dengan HP nya.
"Oh ya, maaf ya Arga, akhir-akhir ini aku jarang main ke kantor kamu, soalnya aku agak sibuk, kerjaan kamu gimana?" tanya Afni menatap Arga yang duduk di sofa.
Mata Arga tetap fokus ke HP nya, "Kamu nggak harus datang kok," ucapnya.
"Oh ya, tumben si cadar tidak di sini," kata Afni sambil melirik sekitar.
Arga meletakkan HP nya kemudian berkata, "Aku baru ingat, kemarin kamu ngerjain Laila kan? kamu buang cadarnya saat ia berwudhu, kamu nggak ada kerjaan lain selain gangguin dia," cetus Arga menatap tajam Afni.
"Itu bukan candaan, kamu pikir pakaian Laila seperti itu adalah sebuah candaan," gerutu Arga yang tampak kesal pada Afni.
Afni pun hanya menunduk seolah menyadari kesalahannya. Namun dalam hatinya ia malah bertambah dendam pada Laila.
***
Keesokan hari,
Suasana pagi di rumah Laila tampak girang. Sudah jarang Laila ikut sarapan bersama keluarganya. Ayah dan bunda pun sangat bersemangat menyiapkan nasi goreng kesukaan Laila.
"Wah..wangi banget, kayaknya enak nih," ucap Laila menatap hidangan di meja makan.
"Ayo makan, sekarang sudah jarang kamu bisa sarapan pagi di sini," kata Ayah dengan bersemangat.
__ADS_1
"Iya Laila.. rasanya setiap makan bersama, bunda merasa ada yang kurang karena kamu nggak ada di sini," ucap Bunda menatap putrinya.
"Aku juga maunya selalu makan bersama bun, tapi mau gimana lagi, kan aku kerja," tutur Laila.
"Iya Bunda ngerti kok, gimana bos kamu, apa dia sehat?" tanya Bunda.
"Alhamdulillah dia sangat sehat," jawab Laila.
"Sepertinya bunda sangat perhatian pada laki-laki itu," sindir Ridwan sambil tersenyum melirik bunda.
"Ayah juga heran sama bunda kamu ini, selalu aja lebih peduli sama bosnya Laila," tutur Ayah.
"Kalian ini suka iri ya, emangnya kenapa kalau aku bertanya tentang bos Laila," gerutu bunda menatap ayah dan Ridwan. Candaan seperti inilah yang membuat Laila terasa berat untuk menginap di tempat kerjanya. Ia sangat merindukan suasana rumah.
***
Usai acara sarapan pagi, Laila pun membantu orangtuanya menjemur kerupuk kulit. Tiba-tiba Notifikasi wa Laila berbunyi.
"Kamu udah makan?" chat dari Arga. Belum sempat ia membalasnya sudah masuk chat lain.
"Assalamualaikum, selamat pagi Laila, udah sarapan belum," chat WA dari Rifki.
"Yang dua orang ini pada ngapain sih, kompak bangat chat nya, ini juga pak Arga, sejak kapan dia ngurusin makan aku," gerutu Laila membaca chat Arga dan Rifki.
Laila pun membalas wa Arga, "Sudah bos,"
Dan kemudian membalas WA dari Rifki, "Waalaikumussalam, udah,"
Setelah itu Laila langsung melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian Chat Arga kembali masuk.
"Hari ini kamu datang ya, aku di rumah sakit,"
Disusul dengan chat WA Rifki, "Kamu datang ya, aku butuh teman curhat, ini genting,"
__ADS_1
Membaca chat kedua orang bersaudara itu membuat Laila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung apa yang terjadi pada kedua orang ini. Laila bingung, mereka mengirim pesan di waktu yang sama dan isi pesan yang sama.