Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
39. Ketika cinta kadaluarsa


__ADS_3

Malam itu Laila tampak menatap foto Linda di kamarnya, "Linda..aku akan menjalankan wasiat mu untuk menikah dengannya,semoga semua prosesnya berjalan lancar," batin Laila.


Tiba-tiba Ridwan mengetuk pintu kamar Laila, "Kak..di ruang tamu ada kak Haris sama ibunya lagi bertamu," ucap Ridwan sembari mengetuk pintu.


Laila buru-buru membuka pintu kamarnya, "Kok bisa? ada masalah apa?" tanya Laila terkaget kaget.


"Aku juga nggak tau, lebih baik sekarang kita segera ke ruang tamu," Kata Ridwan.


Laila dan Ridwan pun bergegas ke ruang tamu.


Suasana di ruang tamu kini ramai lagi, Laila masih bingung dengan maksud kedatangan Haris.


"Tumben nak Haris malam-malam ke sini, ada apa?" tanya Bunda yang sudah mengenal Haris sejak Laila di bangku SMA.


"Begini Bu, saya ingin mengutarakan niat baik saya, saya ingin melamar putri ibu," ucap Haris mengejutkan Laila.


Ayah bunda dan Ridwan pun saling tatap tatapan. Seolah mereka bingung harus mengatakan apa karena Laila sudah menerima lamaran Arga.


"Haris..maaf, tapi bukannya kamu baru saja berduka," tutur Laila pelan.


"Iya nak, tapi saya memang menyuruh Haris menikah karena dia tampak kesepian nak," ujar Ibu Haris.


"Laila..mungkin kamu akan berpikir dua kali untuk menikah dengan duda seperti ku, tapi jujur, aku memendam perasaan padamu sejak kita masih SMA," jelas Haris.


Laila yang mendengar itu tidak menyangka bahwa ternyata selama ini cintanya tak bertepuk sebelah tangan, tapi kini semuanya sudah berakhir.


Cinta yang laila anggap sebagai cinta sepihak telah berakhir. Nyatanya cinta juga ada kadaluarsanya ketika sekian lama di pendam tanpa balasan.


"Haris, maafkan aku, tapi aku sudah menerima lamaran dari orang lain," tutur Laila pelan.


Bagai di sambar petir, Haris ternyata terlambat. Namun ia tetap harus menerima kenyataan.


Haris hanya bisa tersenyum di balik sakitnya, "Benarkah, kalau begitu saya minta maaf karena sudah datang tidak pada waktunya," ucap Haris.


"Tidak pa pa, lagipula kamu kan tidak tau, sekali lagi aku minta maaf ya Ris, semoga kamu bertemu seseorang yang jauh lebih baik dari aku," ujar Laila yang khawatir membuat Haris kecewa.


"Tidak pa pa Laila, mungkin ini sudah menjadi takdir Allah yang tertulis di Lauhul Mahfudz, aku akan berusaha menerima ini, semoga kamu dan dia kelak menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Haris di balik sakit hatinya.


...******...

__ADS_1


Pagi itu Adel tak sengaja bertemu Haris di jalan. "Haris..gimana lamaran kamu? diterima kan?" tanya Adel menyapa Haris.


"Mungkin kamu salah paham Del, kemarin kamu bilang bahwa laila mencintai ku sejak lama, ternyata dia sudah menerima lamaran dari orang lain," ujar Haris dengan wajah lesu.


"Beneran? aduh maaf ya Ris, padahal kemarin aku hanya berniat untuk mempersatukan kalian, kamu yang sabar ya, mungkin kalian tidak berjodoh," ucap Adel yang merasa bersalah.


"Tidak pa pa Del, aku tidak menyalahkan siapa pun, mungkin ini jalan terbaik dari Allah, " kata Haris yang berusaha menerima kenyataan pahit ini.


"Oh ya, aku ada urusan, aku duluan ya, Assalamualaikum," ucap Haris dan kemudian melangkah pergi.


"Waalaikumussalam,'


"Wah..pacar kamu lumayan juga," ucap Rifki yang tiba-tiba menemui Adel.


"Dunia ini kok terasa sempit ya, dimana-mana ada kamu, dengar ya! dalam Islam nggak ada yang namanya pacaran, aku nggak kenal kata pacaran dalam sejarah hidup ku," tegas Adel yang sedikit kesal.


"Iya deh, kamu memang si paling mantap agamanya, tapi jangan buruk sangka dulu, aku nemuin kamu untuk mengembalikan payung ini," ujar Rifki sembari memberikan payung Adel.


Adel mengambil payung itu dari tangan Rifki.


"Kamu kelamaan balikin payungnya," tegas Adel.


"Udah ah aku kayak nggak ada kerjaan aja bicara sama kamu di sini, aku banyak urusan, assalamualaikum," ucap Adel dan bergegas pergi.


...******...


Rifki menemui Arga di kantornya,


"Gimana Ga? lamaran diterima?" tanya Rifki penasaran.


"Ya iya lah, Arga gitu loh, apa kamu tidak melihat wajah tampan ku ini, wanita mana yang mau nolak?" canda Arga dengan suasana hati yang amat cerah.


"Ada Antangin? aku mual dengarnya, lebai bangat dah," cetus Rifki.


"Ini fakta,"


"Terserah deh, oh ya kapan pernikahannya dilaksanakan?" tanya Rifki.


"Minggu ini, jadi mulai sekarang, aku titipkan White horse sama kamu untuk satu Minggu ini, aku harus mempersiapkan banyak hal,"

__ADS_1


Wajah Rifki mulai mengkerut, "Sudah kuduga, kok nasibku gini amat ya, sudah putus cinta, ditambah sekarang yang ujung-ujungnya harus mengerjakan tugas kamu," keluh Rifki dengan wajah lesu.


"Sudahlah saudara ku, terima saja nasibmu, ku doakan kamu segera dapat jodoh," ucap Arga dengan wajahnya yang tampak menyebalkan di mata Rifki.


"Apa? kamu mau nikah?" tanya Afni yang mendengar semua perbincangan Arga dan Rifki.


"Iya Afni, pokoknya kamu harus datang ya," ucap Arga menatap Afni.


Afni merasa hancur mendengar ucapan Arga. "Apa kamu yakin akan menikah? siapa wanita yang akan kamu nikahi?" tanya Afni tampak serius.


"Laila," jawab Arga singkat.


***


Sementara itu, di dalam penjara, tampak Bu Diana sangat kesal mendengar berita bahwa Arga akan menikahi wanita yang membuat semua anak buahnya babak belur.


"Wanita bercadar itu telah menghancurkan semua mimpi mimpiku, bagaimanapun caranya dia harus merasakan apa yang kurasakan,dia tidak boleh berbahagia bersama Arga," batin Bu Diana.


Ternyata dipenjara tak membuatnya berubah, hatinya sama saja sekotor dahulu.


Entah rencana apa yang ia skenario dengan kondisinya yang masih tahanan.


***


Suasana menyeramkan di rumah Afni semakin kacau ketika ia meluapkan rasa sakit hatinya dengan mengacak acak seisi rumah.


Afni hanya tinggal sendiri di rumahnya karena kedua orang tua sibuk di luar negeri.


"Laila.. perempuan nggak tau diri,," jerit Afni sembari mengacak acak rambutnya.


Ia tampak stres, ia memecahkan setiap kaca yang ia lihat. Begitulah kehidupan Afni yang sebenarnya. Sedari kecil ia akan bertingkah gila ketika apa yang ia inginkan tidak ia dapatkan.


Seketika Afni tersenyum sinis, ia mengambil nafas dan mulai memikirkan sesuatu,


"Huh..tenang Afni tenang...aku harus merencanakan cara yang lebih halus untuk memberi kejutan pada Laila, aku tidak boleh terburu-buru, semuanya harus terencana agar berhasil," ucap Afni yang berbicara sendiri di ruangan itu.


Afni mulai menyusun rencananya, entah apa yang ia rencanakan tapi kini ia memasuki sebuah ruangan bawah tanah di rumahnya.


"Rasanya sekarang aku rindu bermain boneka boneka seperti saat aku masih kecil, kamu harus menjadi boneka ku Laila," ucap Afni sedang dipikirannya sudah tersedia rencana yang akan ia jalankan secara pelan dan bertahap.

__ADS_1


__ADS_2