Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
54. Lapor Bu dokter!


__ADS_3

Arga pun membawa Laila berjalan jalan di bawah terangnya rembulan. Kini ia menggenggam erat tangan Laila.


"Jadi sekarang Afni sudah di penjara?" tanya Arga sembari berjalan menggandeng tangan Laila.


"Ya begitulah, sebenarnya aku juga kasihan sama dia, dia mungkin tumbuh seperti itu karena kondisi keluarganya yang tampak kacau," ujar Laila.


"Lalu apa menurut mu keluarga ku sangat harmonis? nggak kan! aku juga merasakan bagaimana sakitnya punya keluarga yang sudah berpecah, tapi aku nggak sampai segila Afni," tegas Arga.


"Ya..ya..ya..kamu memang patut di tiru pak Arga,"


"Iya dong, Bu Laila," balas Arga.


"Terimakasih ya, kamu menerima ku dengan kondisi yang buruk seperti ini,"


"Aku sudah membaca habis buku yang pernah kamu baca, yaitu kisah cinta Qais dan Laila, maka aku ingin seperti Qais yang tergila-gila mencintai Laila, jadilah Laila ku di dunia nyata, yang akan ku cintai meski aku harus gila karenanya,"


Perkataan Arga itu membuat hati Laila bagai bunga yang mekar. Laila pun tak bisa menahan senyumnya.


...*****...


"Dasar polisi gila!" suara jeritan Afni dari dalam penjara. Setelah semua yang ia lakukan sama sekali tidak membuatnya merasa bersalah.


Setelah melihat kondisi Afni yang sangat membahayakan bagi orang banyak, polisi pun memvonisnya dengan hukuman penjara seumur hidup. Karena melihat kondisi Afni yang tetap kukuh ingin menghancurkan Laila dan orang-orang yang ia benci.


...******...


Pagi hari,


Arga tampak semangat kembali untuk mengelola white horse. Rifki sedang mengerjakan tugas Arga di ruangan Arga seperti biasanya.


Tiba-tiba Arga dan Laila masuk ke ruangan itu. Mulut Rifki ternganga melihat Arga yang tampak fresh.


"Minggir! CEO sesungguhnya telah datang," ucap Arga di hadapan Rifki.


"Astaga..apa aku sedang mimpi? baru semalam Laila kembali kamu sudah langsung sehat gitu aja, bukannya kemarin kemarin kamu hampir gila hingga menyuruh ku memiliki perusahaan ini," gerutu Rifki menatap Arga yang tampak menyebalkan.


"Tidak ada surat resmi penyerahan White horse kan? jadi pergilah!"


"Iya..iya..aku juga pusing lama-lama di perusahaan kamu ini," cetus Rifki dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Sabar Rif!" ucap Laila yang berdiri di belakang Arga.


"Kemarin aja kayak orang gila, sekarang pas udah ada Laila kamu Sok-sokan jadi cowok keren, mana gayanya sok cool lagi, mau muntah aku," ucap Rifki meluapkan kekesalannya.


Namun ini hanyalah sebatas candaan antara dua orang bersaudara.


"Iri bilang bos! makanya cari istri! jangan kelamaan sendiri, sejelek-jelek nya orang pasti ada jodohnya, kamu cuma perlu sedikit berusaha," ujar Arga sambil tersenyum sinis seolah meledek Arga.


"Makin ngeselin aja kamu ya,"


"Udah udah..kalian ini kok malah ribut sih," tegur Laila menghentikan perdebatan Arga dan Rifki.


"Sayang kamu lihat nggak sih, si jomblo ini selalu cari ribut," ucap Arga yang sengaja membuat Rifki kesal.


"Harusnya kita berterimakasih pada Rifki, dia sudah banyak berusaha selama tiga bulan ini hanya untuk mencari aku," tutur Laila


Mendengar itu membuat Rifki merasa menang, "Dengar tuh, makanya jadi orang jangan jadi kacang lupa kulitnya," gerutu Rifki


"Iya-iya makasih, kamu memang warga Indonesia yang baik!" ucap Arga. Dan lagi-lagi kata-kata Arga tidak pernah menyenangkan di telinga Rifki.


"Udah ah mending aku pergi, ruangan ini sangat panas," cetus Rifki dan langsung keluar dari ruangan Arga.


Kini Arga kembali meneruskan perjuangannya memajukan Perusahaan. Tiba-tiba sekretaris Arga masuk ke ruangan untuk memberitahukan jadwal Arga hari ini.


Mata Laila melotot melihat sekretaris yang berbicara di dekat Arga. Terlebih sekretaris itu sangatlah cantik.


PLAK


suara tepukan tangan Laila.


"Kenapa La?" tanya Arga.


"Banyak nyamuk!" ucap Laila keras. Sangat terlihat jelas bahwa Laila selalu melototi perempuan itu.


Kesabaran Laila mulai menipis ketika si sekretaris mengibaskan rambutnya di hadapan Arga.


Laila melemparkan hiasan kaca ke lantai. "Maaf aku tidak sengaja menjatuhkannya," ucap Laila padahal ia sengaja melakukan itu.


Arga tersenyum seolah paham bahwa Laila sedang cemburu.

__ADS_1


"Keluar lah dulu!" suruh Arga pada sekretaris barunya.


Arga berjalan mendekat ke sofa Laila duduk. "Kalau cemburu bilang aja kali Bu Laila, kenapa kaca yang jadi korbannya," kata Arga sembari tersenyum menatap Laila.


"Nggak! aku nggak cemburu tuh!" Laila masih mengelak.


"HM..beneran? kok aku nggak percaya ya,"


"Iya..iya..aku cemburu, sekarang ini aku pasti akan cemburu jika perempuan cantik menghampiri kamu, bagaimana mungkin aku bersaing dengan perempuan lain sedang wajahku telah rusak,"


"Siapa yang nyuruh kamu bersaing? kamu sudah menang dari dulu, jadi tidak usah berkompetisi lagi untuk mendapatkan ku" ujar Arga merayu Laila.


"Tolong perhatikan kata-kata mu pak Arga, aku tidak pernah berkompetisi mendapatkan mu, kamu sendiri yang datang melamar ku," gerutu Laila seolah tak terima dengan kata-kata Arga.


"Iya sayang iya...aku yang mengejar mu, kamu memang pantas untuk diperjuangkan," tegas Arga.


...******...


Adel di tugaskan untuk mengecek pasien di sebuah ruang rawat rumah sakit tempat ia bekerja.


Begitu Adel membuka pintu, ia terkejut melihat wajah Rifki yang bersantai di sana.


"Pagi Bu dokter! saya sakit nih," sapa Rifki dengan tampang menyebalkan di mata Adel.


"Astaghfirullah..kamu nggak ada kerjaan lain ya selain ngikuti aku," gerutu Adel menatap tajam.


"Bu dokter tolong cek jantung saya, kenapa jantung saya berdebar kencang melihat wajah Bu dokter," kata Rifki yang masih tersenyum menatap Adel yang berdiri di pintu.


"Jangan main-main ya Rif, aku banyak urusan, jangan ganggu aku lagi!" tegas Adel melototi Rifki.


"Lapor Bu dokter! saya menyukai anda!" ucap Rifki dengan percaya diri.


Adel terkejut mendengarnya, ia menatap sekilas apakah ada orang yang mendengar. "Sepertinya aku bisa membantu memberi saran, menurut ku pergilah dulu ke rumah sakit jiwa, mungkin pihak RS jiwa akan menangani mu dengan baik," tegas Adel dan langsung berjalan pergi.


Rifki tak tinggal diam, ia buru-buru mengejar Adel. "Bu dokter, jangan gitu ah, masa saya di suruh ke RS jiwa, saya beneran sakit loh," ujar Rifki mengikuti langkah Adel.


"Kamu cuma modus!"


Rifki pun tak terima dibilang modus, ia menampakkan lengan kirinya dengan luka goresan pisau yang belum di jahit.

__ADS_1


Adel terkejut melihatnya, "Astaghfirullah tangan kamu kenapa? kok bisa gitu?" Adel tampak panik melihatnya.


"Kan aku udah bilang kalau aku ada yang sakitnya, sebenarnya ini dari kemarin, tapi aku malas nunjukin ini sama kamu, ini kemarin kelakuan si Afni, waktu kita kerja sama menyelamatkan Laila, aku mencoba menahan dia untuk tidak kembali ke rumahnya, eh dia malah main benda tajam," jelas Rifki.


__ADS_2