Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
52. Terbebas


__ADS_3

Adel yang memiliki akal cerdas sudah mempersiapkan kunci master yang bisa digunakan membuka segala gembok. Ini ia lakukan untuk berjaga-jaga bila ada ruangan yang di kunci.Ia berjalan menuju rumah Afni.


Sementara itu Tejo dan Surti tengah sibuk menggeledah kamar Afni untuk mencari kunci itu. Namun hingga kini kunci belum di temukan.


Adel sudah memasuki rumah Afni, ia dengan hati-hati menatap semua sisi rumah.


Hingga sampailah di depan kamar Afni, Adel mendengar suara dua orang yang tampak berbicara. Adel dengan pelan membuka pintu itu yang ternyata tidak di kunci.


"Siapa kamu?" tanya Tejo mengagetkan Adel.


Afni mengira Tejo dan Surti akan menghalanginya, ia mengarahkan pistol ke arah Tejo. Namun sebenarnya ini hanyalah pistol mainan.


Tejo pun mengangkat tangan, "ampun..saya cuma mau ingatkan kamu, pergilah sebelum nyonya Afni datang, nyonya kami adalah seorang psikopat," ucap Tejo yang tampak takut pada Adel.


Adel meletakan pistolnya, "Kalian sebenarnya siapa?dan kalian lagi apa di sini?" tanya Adel.


"Saya hanya satpam dan teman saya ini adalah pembantu di sini, sekarang kami sedang berusaha menyelamatkan seseorang yang di kurung oleh nyonya sejak tiga bulan lalu," jelas Tejo dengan wajah ketakutan.


"Jadi benar si Afni itu gangguan jiwa, astaghfirullah..jadi dimana perempuan yang ia sekap?" tanya Adel yang semakin penasaran. Adel penasaran apakah perempuan yang di kurung itu benar-benar Laila atau tidak.


"Nyonya memang menyimpan banyak misteri," ujar Surti menatap Adel.


"Tolong beritahu saya dimana perempuan itu di sekap, sahabat saya menghilang sejak tiga bulan lalu, mungkin saja perempuan itu adalah sahabat saya," tutur Adel yang sudah tidak sabaran.


"Mari saya tunjukkan," ujar Tejo kemudian berjalan ke arah lemari besar itu. Tejo membuka lemari tersebut dan tampaklah tangga menuju ruang bawah tanah.


Adel buru-buru turun, diikuti dengan langkah Tejo dan Surti.


"Siapa di sana? tolong saya jika kamu mendengarnya," suara Laila dari sudut pintu.


Adel mendengar itu dan buru-buru mendekati suara itu. Mata Adel tak kuasa menahan air mata melihat Laila di rantai besi bagai binatang liar.


Wajah Laila tampak memprihatinkan, dengan Isak tangis, Adel bergerak cepat membuka gembok itu, "Laila.. akhirnya aku menemukan mu setelah tiga bulan aku Mencarimu hingga ke seluruh kota," ujar Adel berderai air mata.

__ADS_1


Tangisannya semakin menjadi-jadi begitu ia melihat kaki Laila yang sudah membekas merah karena rantai besi.


Begitupun Laila dengan tangisan haru, "Aku takut Del, aku kira aku akan berakhir di sini, terimakasih telah datang," ucap Laila sembari menangis memeluk Afni.


"Bagaimana kamu bisa bertahan dengan semua ini, luka bakar di wajahmu, kenapa bisa seperti itu," tanya Adel berderai air mata.


"Afni menyiramnya dengan air keras," jawab Laila yang tampak trauma ketika mengingat kejadian itu.


Adel semakin kasihan dengan penderitaan sahabatnya itu, "Tenang lah, setelah keluar dari neraka ini ku pastikan aku akan membawamu ke dokter spesialis kulit untuk menghilangkan luka bakar itu," ujar Adel dan membantu Laila untuk berdiri.


Tejo dan Surti ikut menangis melihat betapa menderitanya Laila selama di sana.


Mereka pun bergegas sama-sama keluar dari ruangan tersebut.


Tepat saat mereka hampir sampai ke pintu depan, tiba-tiba Afni dengan dua anak buahnya telah menghadang mereka.


"Jangan pikir kalian dengan mudah keluar dari sini, aku bukan orang bodoh, aku tau kalian ada di sini," ujar Afni sembari tersenyum sinis.


Laila mengambil nafas dalam. Ia menggerak-gerakkan kakinya seolah memastikan apakah kakinya masih bisa bergerak normal. Dan untungnya ia merasa lebih baik saat ini.


Afni tersenyum sinis, dan memberi kode tangan pada anak buahnya untuk menangkap Adel, Laila, Surti beserta Tejo.


"Sekalian aja si Tejo sama Surti kalian tangkap, dua orang ini benar-benar jadi parasit di sini," cetus Afni.


Dua orang suruhan Afni mulai maju untuk menangkap Laila dan Adel.


"Mundur lah!" ucap Laila sembari mendorong Adel ke belakangnya.


Laila maju dua langkah, ia menyiapkan tenaganya untuk menghajar kedua suruhan Adel. Kini Laila meluapkan seluruh rasa sakitnya selama ini. Selama di sekap ia tidak bisa menggunakan keahlian silatnya karena ia di rantai. Namun kini ia akan melepas semua sakitnya.


Laila mempersiapkan kekuatan tinjunya yang terkenal ganas. Laila mengambil ancang-ancang.


KAPOWW..

__ADS_1


KAPOWW..


Hanya butuh tiga menit untuk mengalahkan kedua anak buah Afni. Tinju Laila beruntun mengenai perut dan wajah kedua laki-laki itu. Hingga keduanya jatuh pingsan dengan luka luka parah di sekujur tubuh.


Afni ternganga melihat kekuatan Laila, kini ia harus turun tangan. Ia mengeluarkan pisau dan mengambil ancang-ancang untuk membunuh Laila.


Selagi Laila melihat Afni yang akan menyerangnya, tentu saja ia dengan mudah merebut pisau di tangan Afni.


Dengan gerak cepat Laila merebut pisau dan membuangnya ke lantai, kini Afni telah berhasil Laila kepung.


"Bukankah kita teman baik, tapi kenapa kau ingin membunuh ku," Laila tersenyum sinis.


Rifki muncul dengan wajah panik, "Apa aku terlambat?" tanya Rifki pada Adel yang berdiri di sana. "Kamu nggak pa pa?" tanya Rifki lagi, ia tampak mengkhawatirkan Adel.


"Aku tidak pa pa, tapi lihatlah itu, Laila sudah kutemukan," ucap Adel sembari menunjuk Laila yang tengah mengikat tangan Afni.


Rifki belum bisa percaya bahwa itu Laila, sepengatahuan Rifki seorang Laila memiliki paras sempurna tapi yang ia lihat adalah wanita yang dipenuhi luka bakar.


Kedatangan Rifki ternyata diikuti dengan polisi yang sudah direncanakan oleh Rifki sendiri. Polisi pun langsung membawa Afni dan kedua anak buahnya ke kantor polisi untuk di tahan dan interogasi.


Tejo dan Surti tampak bengong melihat Laila dan kedua temannya yaitu Adel dan Rifki.


"Aku bahkan takut melihat wajahku sendiri," ucap Laila meneteskan air mata.


Setelah mendengar Laila berbicara, Rifki pun sadar bahwa itu benar-benar Laila.


"Kamu benar-benar Laila, Alhamdulillah, kami sudah lama Mencarimu Laila akhirnya kamu ketemu juga," ucap Rifki dengan mata yang berkaca-kaca.


Adel menenangkan Laila, "Sudahlah Laila, jangan bersedih lagi, jangan khawatirkan wajahmu, sekarang ini teknologi semakin canggih, kamu bisa sembuh tanpa jangka waktu panjang," tutur Adel merangkul sahabatnya.


"Ayolah kembali, pasti Arga sangat bahagia melihat kamu, setelah kamu hilang Arga tampak seperti orang gila, ia tak ada semangat hidup, dan kurasa dia benar-benar akan gila jika tidak menemukanmu sama sekali," kata Rifki mengajak Laila pulang.


"Tidak usah, dia mungkin akan takut melihat wajahku yang menyeramkan," ucap Laila berderai air mata. Hatinya begitu perih mengingat Arga. Ia khawatir akankah laki-laki yang sangat ia cintai akan menerima kondisinya yang kini sangat buruk.

__ADS_1


__ADS_2