Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz #16


__ADS_3

"Selamat datang Ainun, terimakasih kamu udah mau hadir malam ini, kenalin ini suami saya, dan ini putra tunggal kami, Hilman, " ucap mama memperkenalkan keluarga nya.


Ainun pun berusaha tersenyum meski ia khawatir karena ia melihat bosnya Hilman di sana. "Iyah, sama-sama Bu," ucap Ainun lalu menunduk.


"Ainun! jadi kamu perempuan yang nolongin mama kemarin, makasih ya!" kata Hilman yang sedari tadi menatapi Ainun.


"Iya, sama-sama pak Hilman," jawab Ainun dengan kaku.


"Jangan panggil saya pak hilman, panggil aja Hilman, kita kan nggak lagi bahas kerjaan," tegur Hilman.


"O..jadi udah pada kenal nih, sepertinya kalian memang jodoh ya," canda Mama.


"Hah? maksudnya gimana Bu?" tanya Ainun yang masih bingung.


"Udah jangan di dengerin, mama ku cuma bercanda," ucap Hilman yang sedikit malu dengan tingkah mama yang langsung membahas jodoh jodohan.


Melihat itu papa khawatir Hilman tak tertarik dengan perempuan yang ia undang yaitu Reina.


Gadis bernama Reina itu merasa ia hanya tamu yang tak sengaja di undang.


"Aku kayaknya nggak di anggap deh, aku kira aku bakalan langsung di jodohin sama Hilman, eh ternyata ada gadis lain di sini," batin Reina.


"Ayo silahkan di nikmati hidangannya, semoga kalian suka ya," ucap papa memulai makan malam.


Usai makan malam Ainun pun pamit pulang, tepat saat ia keluar dari rumah Hilman, tiba-tiba Hilman memanggilnya.


"Ainun! aku antarin kamu pulang ya, ini udah malam nanti kalau ada apa-apa gimana," panggil Hilman.


Ainun menoleh ke belakang, "nggak usah repot-repot pak," ucapnya.


"Nggak pa pa, nggak repot kok, tunggu di situ ya," ucap Hilman.


Hilman pun mengantar Ainun pulang. Ainun hanya terdiam di mobil. Suasananya senyap.


"Saya nggak nyangka ternyata perempuan yang mama undang itu kamu," ucap Hilman memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Iya pak, saya juga nggak nyangka kalau yang ngundang saya ternyata mama nya pak Hilman," tutur Ainun yang masih segan pada Hilman.


"Mama nggak cerita apa-apa sama kamu?" tanya Hilman.


"Cerita? maksudnya gimana pak?" tanya Ainun balik.


"Maksud saya, mama nggak ada cerita apa-apa soal alasan mengundang kamu malam ini?" tanya Hilman


"Nggak pak, Bu Sinta nggak cerita soal itu, emangnya saya di undang karena apa ya pak?" tanya Ainun yang penasaran.


"Soal itu..saya juga kurang tau sih, kan mama yang undang kamu," elak Hilman padahal ia tau bahwa Ainun di undang untuk di jodohkan dengannya.


Tibalah di rumah Ainun. "Terimakasih pak," ucap Ainun sambil turun dari mobil.


"Sama-sama, selamat ya.."


"Hah.. selamat buat apa pak?"


"Selamat malam," Hilman lalu memaparkan senyumnya pada Ainun sebelum pergi.


...*****...


Baru saja Ainun sampai di dalam rumah, ia sudah mendengar perdebatan antara ibu dan kakaknya Maysa. Namun ketika mereka menyadari kedatangan ainun, suasana seketika senyap.


Maysa menatap ke arah Ainun, buru-buru ia memeluk Ainun hingga Ainun terheran dengan sikap kakaknya itu.


"Kakak kenapa?" tanya Ainun sembari mengelus punggung kakaknya.


"Maafin aku, aku udah banyak menyusahkan hidup kamu, jujur aku nggak pernah tau kalau kamu berjuang sekeras ini untuk aku, harusnya kamu nggak perlu lakuin ini," tutur Maysa berderai air mata.


Ainun tak bisa berkata apa apa lagi, kini Maysa telah tau semuanya tentang dirinya yang berjuang habis-habisan.


"Aku tidak merasa di susahkan kok, kakak kenapa sesedih ini," ucap Ainun sedang matanya berkaca-kaca, kini ia kembali mengingat masa masa penderitaannya selama ini.


Ibu yang melihat ini merasa risih, ia lalu melepas tangan Maysa dari Ainun. "Untuk apa kamu minta maaf, Ainun saja tidak keberatan,"

__ADS_1


Ainun hanya terdiam mendengar kata kata ibunya seolah mengiyakan.


Maysa sedari tadi telah menahan amarahnya, tapi kini ia harus meluapkan semua isi hatinya. "Ibu egois! ibu tidak pernah memikirkan perasaan Ainun, asal ibu tau, jika aku tau dari awal bahwa Ainun lah yang paling berjuang mati-matian untuk aku, lebih baik aku nggak usah kuliah, dulu ibu memberi alasan bahwa ayah meninggalkan banyak warisan yang digunakan untuk kuliah ku, tapi ternyata ibu menjadikan Ainun sebagai mesin penghasil uang," tutur Maysa panjang lebar.


Ainun yang mendengar itu seolah mengingatkan ia pada perjuangannya dulu. Air mata tak berhenti bercucuran. Meski ia telah mengikhlaskan, namun tetap saja itu akan sakit ketika di ungkit kembali.


"Udahlah kak, aku nggak masalah kok, aku juga nggak akan nyalahin siapa-siapa," ucap Ainun sambil menggenggam tangan kakaknya.


"Cukup Maysa! jadi sekarang kamu menyalahkan ibu setelah semua yang ibu lakukan untuk kamu, ibu rela melakukan apa pun untuk kebahagiaan kamu, tapi kamu malah berpihak pada adik kamu," cetus Ibu dan bergegas pergi ke kamarnya untuk mengurung diri.


"Udahlah kak, jangan buat ibu marah lagi, yang berlalu biarlah berlalu, lagi pula aku udah ikhlas kok, lebih baik kita lupakan semua kenangan pahit itu," tutur Ainun menenangkan sang kakak.


Namun hingga kini Maysa tak henti mengucap maaf pada Ainun karena merasa bersalah. Tiba-tiba muncullah Farhan,suami Maysa.


"Sayang, pulang yuk, jangan sedih sedih lagi ya, Ainun adalah gadis yang kuat, dia tidak akan rapuh meski dulu ibu memperlakukan nya dengan tidak baik," tutur Farhan menenangkan Maysa.


"Kak Farhan benar, mendingan sekarang Kakak pulang dulu ya, kasihan kak Farhan ternyata dari tadi nunggu di luar," kata Ainun seraya membujuk kakaknya.


"Iya aku pamit ya, kamu tenang aja, besok aku akan kembali, ku pastikan si Parto itu tidak jadi menikahi mu," tegas Maysa meyakinkan Ainun.


"Iya kak, hati hati di jalan ya," ucap Ainun, ia lalu mengantar kakak dan kakak iparnya hingga ke depan rumah.


Sebenarnya hati Ainun sedikit perih, tapi hatinya menuntunnya untuk tetap tersenyum bahagia. Bagaimana tidak perih, kehadiran Farhan tadi seolah mengungkit hati Ainun yang pernah merasakan cinta pada Farhan.


Memang kini Ainun perlahan telah melupakan perasaannya, tapi bagaimana pun juga akan sulit untuk menghilangkan perasaan itu 100% dari hatinya.


...*****...


"Ma.. bagaimana kalau besok kita melamar Ainun?" pertanyaan Hilman mengejutkan kedua orangtuanya yang tengah menonton televisi.


"Kamu serius," tanya Mama.


"Iya ma, Ainun adalah bidadari yang sering aku ceritakan pada mama, dan ternyata perempuan yang ingin mama kenalkan adalah Ainun, tunggu apa lagi, aku harus segera melamarnya," tegas Hilman dengan sungguh-sungguh.


Papa masih mencerna perkataan Himan. "Pikirkanlah dulu matang-matang, jangan terburu-buru," tutur Papa menasehati Hilman.

__ADS_1


"Nggak usah berpikir panjang panjang, Ainun itu memang pantas untuk kamu nak, mama setuju" kata kata mama ini seolah memberikan lampu hijau pada niat baik Hilman yang ingin melamar Ainun.


__ADS_2