
"Nggak usah repot-repot pak, saya udah biasa kok pulang sendiri," ucap Ainun menolak tawaran itu.
"Kalau aku ikut, pasti si bos ini nanti akan nanya nanya soal hutang aku, aku kan belum punya uang, gimana nih," batin Ainun yang berpikir panjang.
Hilman keluar dari mobilnya, dan membukakan pintu mobil untuk Ainun,
"Ayo naik! ini perintah!" tegas Hilman.
"Nggak usah pak! saya nggak enak sama teman kerja yang lain," tutur Ainun yang mencoba mencari alasan.
Tiba-tiba kaca mobil di bangku belakang terbuka. Ternyata di dalam mobil juga ada staf yang lain.
"Ainun, ayok naik,nanti keburu malam loh," ajak salah satu teman kerja Ainun yang ada di mobil itu. Dia adalah Rika, teman terdekat Ainun di restoran itu.
Ainun masih bengong melihat para pekerja restoran berada di mobil Hilman.
"Tuh lihat, saya bukan cuma ngajak kamu, tapi juga ngajak yang lain, jangan-jangan tadi kamu mengira kalau saya ngajak kamu semobil berdua ya?" ucap Hilman menatap Ainun yang masih berdiri di samping pintu mobilnya.
"Nggak kok pak, saya nggak berpikir sejauh itu, i-iya pak, ini saya naik," kata Ainun dan langsung naik ke mobil Hilman.
Di mobil, Hilman melirik lirik ke arah Ainun.Ainun pun merasa risih.
"Kok ada ya CEO yang mau ngantarin anak buahnya pulang, aneh bangat," batin Ainun.
"Kamu pasti heran kenapa saya mau ngantarin pulang para pekerja saya, kamu nggak usah heran, saya emang begini orangnya, jiwa sosial saya emang sangat tinggi," kata Hilman menoleh ke arah Ainun.
"Iya benar bapak emang bos yang punya jiwa jiwa sosial yang tinggi," puji Ainun pada Hilman.
"Hh,demi pulang bareng bidadari, aku harus rela ngantarin pulang karyawan yang lain, kalau orang lain tau bisa-bisa aku diketawain, mana ada CEO jadi supir kayak gini," batin Hilman.
"Ainun Anisah, itu kan nama lengkap kamu?" tanya Hilman.
"Kok bapak tau," Ainun terheran karena bos itu tahu nama lengkap Ainun, padahal ia tak pernah memberi tahunya.
"Ya saya tau nama lengkap para pekerja saya," tutur Hilman.
"Berarti bapak juga tau nama lengkap saya dong," Rika bersuara dari belakang.
Hilman hanya cengar-cengir karena ia tidak tahu.
__ADS_1
***
Malam itu Ainun istirahat di kamarnya. Tiba-tiba ada telpon masuk dari nomor yang tidak di kenal.
"Halo Assalamualaikum, mohon maaf, ini dengan siapa ya?" tanya Ainun.
"Waalaikumussalam, saya Hilman, bos kamu," jawab Hilman di telpon.
"Ada perlu apa ya pak," tanya Ainun.
"Saya cuma mau memastikan kalau ini benar-benar nomor kamu," ucap Hilman.
"Pasti si bos mau nagih hutang nih," batin Ainun yang khawatir.
"Oh gitu, kalau nggak ada yang lain, telponnya saya tutup dulu ya pak, Assalamualaikum," ucapan Ainun dan langsung mematikan telepon.
Ainun khawatir bos akan menagih hutang sedangkan ia belum punya uangnya.
Tiba-tiba HP Ainun berdering lagi.
Ainun spontan menjawab telpon itu.
"Pak saya belum punya uangnya, saya tau kok bapak telpon saya karena mau nagih hutang kan," kata Ainun di telpon.
"Oh Kak Maysa, ada apa kak," tanya Ainun.
"Kamu nggak kangen sama aku, aku Padahal kangen bangat sama kamu, besok kamu bisa main ke rumah aku nggak, nanti aku kirim alamatnya," tutur Maysa.
"Maaf kak, aku sibuk kerja," ucap Ainun pelan.
Padahal ia takut hatinya tak akan kuat melihat kemesraan kakaknya dengan laki-laki yang pernah singgah di hatinya.
"Gimana kalau besok malam kita ketemu di kafe yang biasa," usul Maysa mengajak Ainun ke kafe yang biasa mereka pergi dulu.
"Tapi kak,aku.."
"Udah pokoknya besok ya, kamu harus bisa, Assalamualaikum," ucap Maysa dan langsung mematikan telepon.
"Ya Allah, gimana nanti kalau aku nggak sanggup melihat mereka, harusnya aku tadi menolak keras untuk ke kafe, aku nggak bisa lihat mereka bermesraan di depan ku," batin Ainun.
__ADS_1
***
Hilman di kamarnya sedang sibuk membaca diary Ainun yang semakin membuat Hilman kasihan dengan cerita tentang Ainun.
Hilman menggenggam gelang Ainun yang di berikan Ainun sebagai jaminan hutangnya.
Hilman menatap gelang itu, ia mencium gelang itu sambil tersenyum,
Ainun, aku akan menghapus semua lumpur di hidupmu, jadikan aku sebagai pangeran dalam hidup mu, sebagai sandaran yang menemani hari-hari mu," batin Hilman.
Mama Hilman(Bu Sinta) melihat tingkah anaknya yang akhir akhir ini agak aneh. Mama memperhatikan tingkah Hilman dari pintu kamar Hilman yang terbuka.
"Ehem..lagi ngapain Hilman, mama rasa akhir-akhir ini kamu udah stres ya, kadang-kadang senyum sendiri, selalu menyendiri nggak seperti biasanya, dan kamu selalu membaca buku itu yang mama pun nggak tau itu buku apa," tutur Mama yang mengomentari tingkah aneh Hilman.
"Mama, apaan sih ma, siapa yang senyum sendiri," Hilman mengelak.
"Tuh kan nggak ngaku, oh ya gimana restoran? kamu bisa urus kan?" tanya mama.
"Iya insyaallah aman ma," ucap Hilman.
"Terus kapan nikah? mau nunggu sampai kamu tua Bangka? atau mau nunggu sampe mama sakit-sakitan," canda Mama
"Hilman akan segera nikah," ucap Hilman dengan percaya diri.
"Beneran kamu mau nikah, bagus dong kalau gitu, nanti mama kenalkan anak teman mama sama kamu, nanti kamu tinggal pilih yang paling cantik yang paling Solehah dan yang paling baik," tutur Mama bersemangat.
"Aku udah punya calonnya kok ma," tegas mama.
"No no no..mama lebih tau yang terbaik untuk anak mama, kalau pun kamu punya calonnya, mama harus teliti dulu perempuan itu," tegas mama.
"Memangnya perempuan seperti apa yang ingin mama jadikan istri aku?" tanya Hilman.
"Mama tidak butuh perempuan yang kaya, tidak juga berdarah bangsawan, yang mama butuhkan adalah perempuan yang nurut sama suami, perempuan yang bisa menjaga harga dirinya, perempuan Solehah yang bukan hanya menerima kamu tapi juga menerima mama dan papa sebagai orang tuanya, karena mama tau menikah dengan perempuan kaya tidak menjamin bahagia buat kamu," tutur Mama menasehati Hilman.
"Iya ma, insyaallah perempuan yang akan aku jadikan istri sangat baik akhlaknya, Solehah, baik, rajin sholat, pekerja keras, tapi masalahnya Hilman susah deketin perempuan itu," ujar Hilman.
"Siapa perempuan itu? apa mama mengenal nya?" tanya Mama yang penasaran.
"Nggak ma, perempuan itu adalah bidadari yang selalu muncul di mimpi aku," tegas Hilman.
__ADS_1
"Astaghfirullah Hilman, perempuannya cuma dalam mimpi?" mama geram pada Hilman.
"Iya ma, tapi aku udah ketemu perempuan itu di dunia nyata, aku udah tau banyak tentang perempuan itu," tutur Hilman.