
Sore itu Laila dan Arga menyempatkan untuk singgah di makam Linda.
Laila tampak sedih di samping makam Linda.
"Linda..kini aku sudah menjalankan wasiat mu, semoga kamu lebih tenang di sana," ucap Laila sedang matanya berkaca-kaca.
Arga teringat kata-kata yang pernah diucapkan Linda padanya,
Beberapa bulan lalu sebelum Linda meninggal,
"Aku tak pernah mencintai seseorang lewat wajahnya ataupun fisik, karena saat ini banyak wanita yang memiliki penampilan cantik namun akhlaknya buruk," ucap Arga pada Linda.
"Benarkah? aku tidak yakin, jika kamu melihat wajah sahabat ku pasti kamu akan menarik kata katamu," balas Linda.
"Tidak akan! bahkan secantik apa pun itu, di mata ku hanya kamu yang tercantik," ucap Arga, dimatanya Linda adalah wanita cantik padahal semua orang tau bahwa Linda hanyalah gadis bertubuh mungil dengan kulit gelap.
Mengingat perkataan Linda itu membuat Arga percaya dengan kata-kata Linda. Kini Arga sadar bahwa perkataan Linda benar, Arga terpesona saat pertama kali melihat wajah Laila. Bahkan bisa dibilang Laila adalah wanita tercantik yang ia temui.
***
Malam hari,
Laila duduk di teras rumah, menunggu suami pulang dari mesjid.
Tak lama kemudian Arga pun muncul, Laila menatapnya penuh rasa kagum.
Laila memang sangat suka menatap Arga pulang dari mesjid dengan sarung dan pecinya.
"Kamu kok nunggu di sini, nggak dingin?"
"Nggak, kan ada kamu, hati aku jadi hangat," balas Laila seolah merayu Arga.
"Astaga..aku mau melayang mendengar itu, kamu sudah manis, jangan terlalu bersikap manis lagi," ucap Arga menatap Laila.
"Benarkah.. kamu juga sangat tampan dengan penampilan seperti ini, aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya," ucap Laila dengan senyumnya.
Arga menutup mulutnya yang ternganga, Laila tampak pandai mengambil hatinya hingga membuat ia malu dan terkejut.
"Aku bisa gila kalau gini terus, kamu bikin jantung aku meledak tau nggak," ucap Arga yang menahan senyumnya.
__ADS_1
Arga dan Laila memasuki rumah, tampak di ruang tamu sudah ada dua koper.
"Ini koper siapa sayang? jangan bilang kalau kamu mau pergi dari sini? nggak! kamu nggak boleh jauh jauh dari aku," gerutu Arga yang mengira itu koper Laila.
"Nggak..nggak...itu bukan punya aku,"
"Itu koper saya mas Arga!" Lastri bersuara. Ia berjalan mendekati Arga dan Laila.
"Kamu mau kemana Las?" tanya Laila sembari menatap koper dan barang barang Lastri.
Dengan wajah yang menyedihkan Lastri memutuskan untuk berhenti bekerja. "Saya sudah tidak sanggup lagi, saya mau cari kerja lain, maaf jika saya ada salah selama bekerja, saya pergi untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik," kata Lastri.
Laila pun paham perasaan Lastri. "Kenapa kamu pergi Las, aku ada salah ya?" tanya Laila.
"Nggak..cuma aku juga pengen cari kerja lain, ingin mengubah nasib, siapa tau nanti ada kerjaan yang bagus," lanjut Lastri
Arga tak tega melihat Lastri harus pergi tanpa arah tujuan yang jelas,
"Begini saja, gimana kalau kamu bekerja di White Horse? nanti kamu yang berhadapan langsung sama HRD, biar HRD yang ngasih kamu posisi yang pas buat kamu," usul Arga.
Mendengar itu membuat Lastri terharu dan bahagia, "Makasih mas Arga, saya mau!" Lastri tampak tertarik dengan usul Arga.
Lastri pun memutuskan untuk mencari kos kosan yang dekat dengan White Horse. Menikahnya Arga dan Laila membuatnya pamit undur diri.
Di sepertiga malam, Arga tampak menjadi imam dalam sholat tahajud nya bersama sang istri.
Keduanya tampak khusyuk membangun cinta dalam rumah tangga berlandaskan cinta pada sang maha cinta.
Di akhiri dengan Laila mencium tangan Arga.
"Terkadang aku merasa ini mimpi, bisa berada di sisi mu belum pernah terbayang dipikiran ku sebelumnya," ucap Laila menatap dalam mata Arga.
Arga pun merasa demikian,
"Laila.. Allah sudah menyatukan kita, saatnya kita membangun rumah tangga yang dicintai Allah, tapi justru saat memiliki kamu aku semakin khawatir dengan satu hal, aku takut jika suatu saat kamu menghilang dari pandangan ku hingga membuat ku rapuh dan putus asa," tutur Arga.
"Bagaimana jika Allah memanggil ku lebih dulu?" Pertanyaan Laila mengagetkan Arga.
"Jika Allah yang memanggil mu maka aku akan berusaha ikhlas, tapi jika kamu menghilang dari pandangan ku karena sebab yang lain, aku mungkin akan hancur Laila, jadi jangan pernah jauh dari sisiku," tegas Arga mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
Laila menatap Arga dari kaca yang berjalan menuju mesjid untuk sholat subuh,
"Dia memang bukan ustadz seperti Haris, tapi aku selalu kagum padanya, dia faham betul bahwa sholatnya laki-laki adalah di mesjid, dan yang terpenting aku sangat mencintainya," batin Laila.
...******...
Pagi ini Laila membereskan barang-barang Arga di kamar, tak sengaja ia menjatuhkan hiasan meja di kamar Arga. Hiasan meja itu terbuat dari kaca berkilauan, dan kelihatannya sangat mahal. Laila khawatir Arga akan marah.
Suara retakan itu terdengar ke telinga Arga, ia bergegas ke kamar melihat keadaan Laila.
"Ada apa sayang?" tanya Arga yang menemui Laila.
"Ini..jatuh! maafin aku ya, aku akan beresin ini, kamu jangan marah ya," bujuk Laila dengan perasaan bersalahnya.
Tangan Arga mulai mengambil ancang-ancang seolah ingin menampar Laila, Laila pun takut dan memejamkan matanya.
Namun ternyata Arga hanya mengelus kepala Laila, "Nggak usah capek-capek, nanti biar bi Siti yang beresin ya, kamu kenapa minta maaf? seisi rumah ini sudah menjadi milik kamu, termasuk aku," ucap Arga membuat jantung laila kembali berdebar kencang.
Laila membuka matanya, melihat Arga yang tersenyum hangat menatapnya.
Laila tersenyum malu mendengar perkataan Arga itu, "Apa aku sekaya itu sekarang? hingga aku memilikimu dan seisi rumah ini?"
"Aku lebih kaya karena memiliki perempuan secantik dan sebaik kamu," tegas Arga, dan lagi-lagi perkataan Arga menggetarkan hati Laila.
Pipi Laila mulai memerah,
"Sudahlah, jangan gombal mulu, pergilah sebentar dari kamar ini, aku akan membereskannya dulu," suruh Laila untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai merah.
"Aku memang menjadi milikmu, tapi kamu tidak semudah itu untuk memerintah aku, aku kan kepala keluarga, imam di hidup kamu, jadi kamu yang harus menurut, jadi sekarang kamu ikut aku ya! kita sarapan dulu, suami mu ini sudah lapar,"
Arga menarik tangan Laila ke ruang makan meski Laila menolaknya.
Arga melihat meja makan yang hanya ada buah dan roti tawar.
"Maaf..aku tadi belum sempat masak karena beresin barang barang di kamar," ucap Laila yang tampak merasa bersalah.
"Jangan minta maaf mulu, duduklah, kita sarapan seadanya," tutur Arga sembari duduk di hadapan Laila.
Arga memakan Roti dengan selai yang ada, Laila hanya menatap Arga.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak sarapan? apa kamu mau nanya dulu sama rotinya dia boleh dimakan atau tidak?" tegur Arga.
"Iya..ini aku sarapan kok," kata Laila kemudian mulai memakan roti di meja.