Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
32. Dia seperti kisah yang ku baca


__ADS_3

Setelah Afni pulang, Laila pun menemui Arga di ruang tamu. "Bu Ranti tadi nanya, gelangnya yang kemarin kamu temui di dapur masih ada?" tanya Laila pada Arga yang sibuk dengan laptopnya.


"Ada di atas meja kamar aku, di sebelah tempat tidur," jawab Arga.


"Kata Bu Ranti ambil dulu,"


"Kamu ambil aja, nggak pa pa, nggak di kunci kok," ucap Arga sedang matanya tertuju pada laptop. ia sedang mengecek file laporan yang dikirim sekretarisnya.


"Kamu aja, nggak mungkin aku berani masuk ke kamar kamu," cetus laila.


"Kenapa nggak mungkin, kamu nggak usah lebai deh, udah sana ambil aja," suruh Arga.


Laila pun terpaksa bergerak ke kamar Arga.


Laila tercengang melihat suasana kamar Arga yang rapi dan nyaman. Ia menatap dinding yang dipenuhi foto Linda. Ia melihat sebuah kuotes yang tertulis di dinding tersebut. "Penampilan bukanlah syarat untuk mencintai seseorang, cinta adalah ketika kamu nyaman bersamanya"


Laila tampak terkesan dengan kata-kata yang tertulis di dinding kamar Arga. Ia pun menatap ke sisi lain.


"Tak perduli seberapa buruknya dia di mata manusia, namun aku akan tetap pada pilihan yang sama, sebab cinta bukan karena rupanya, bagaimana pun penampilannya, dia jauh lebih baik di mata ku di bandingkan seribu wanita yang kutemui di kehidupan ini,"


Laila pun terharu melihat tulisan tulisan itu. Ia merasa bahwa cinta Arga pada Linda benar-benar tulus dan kuat hingga saat ini.


"Sepertinya Arga sangat sangat mencintai linda, bahkan fotonya masih berserakan di sini, sungguh indah cinta mereka, aku tak menyangka bahwa cinta seperti ini benar benar ada di dunia nyata," batin Laila yang tak sadar matanya telah berkaca-kaca karena terharu dengan kuatnya cinta Arga pada Linda.


Laila mengambil gelang di atas meja dan buru-buru keluar dari kamar Arga.


***


Malam hari, usai sholat isya Laila melanjutkan membaca buku yang sangat ia sukai, yaitu kisah cinta dari timur : Qais dan Laila.


Laila sesekali menangis karena terlalu menghayati kisah itu. Bukan karena namanya yang sama dengan nama tokoh di kisah itu, tapi karena rasa cinta yang amat kuat.

__ADS_1


Ia membaca kisah Qais yang tergila-gila pada Laila dengan parasnya yang tidak secantik wanita lain. Qais seperti gila saat terpisah dari Laila.Hingga Raja pun penasaran seberapa cantiknya Laila.


Saat Raja melihat Laila, raja pun berkata "Tak seberapa cantiknya dirimu hingga membuat seseorang jadi gila, wahai Laila,"


Laila pun menjawab: "Itu karena matamu bukan mata Qais," Sungguh keindahan terletak pada mata yang memandang dan hati yang mencintai.


Membaca kisah itu membuat mata Laila berkaca-kaca karena terharu. "Mungkin itulah yang dirasakan Arga saat ia mencintai wanita seperti Linda, Linda..andai kamu bisa bersama Arga hingga menua bersama," batin Laila sedang air matanya menetes.


tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu kamar Laila. Laila pun membuka pintu, "ada apa las?" tanya Laila pada Lastri yang berdiri di pintu.


"Ke depan yok, ibu sama mas Arga lagi bakar bakar jagung di luar, sepertinya mereka lagi kurang kerjaan, sampai-sampai mencari kesibukan di malam hari, makanya ibu nyuruh aku manggil kamu," tutur Lastri.


"Kok tumben las, dalam rangka apa nih," Laila masih bingung.


"Mungkin karena ibu selamat dari penculikan kemarin, makanya ibu ingin bersenang-senang dulu," jawab Lastri yang asal tebak.


"Ayok gabung Laila..seru loh bakar-bakar jagung di tengah rembulan yang indah," ajak Bu Ranti menatap Laila yang baru tiba.


"Iya Bu," jawab Laila.


Begitupun Lastri yang ikut bergabung, entah apa yang membuat ibu dan anak itu terbesit untuk membakar jagung malam hari, namun Lastri dan Laila hanya ikut saja.


Arga memberikan jagung yang sudah ia bakar pada Laila, Laila pun menerimanya.


Mereka memakan jagung bakar sembari menatap rembulan yang tampak terang malam ini.


"Kamu pasti heran kenapa tiba-tiba ada acara bakar-bakar jagung, sebenarnya aku dan mama memang sering melakukan ini saat aku masih kecil, dan aku rindu suasana itu, jadi kami sepakat untuk membakar jagung malam hari seperti yang kami lakukan dulu," tutur Arga yang duduk setengah meteran di samping Laila.


"Iya sih, memang menyenangkan menatap rembulan yang tampak terang itu," kata Laila sembari menatap Langit.

__ADS_1


"Kamu nggak kesusahan makan dengan cadar mu?" tanya Arga.


"Nggak, aku udah terbiasa, ini tidak sesulit yang kamu bayangkan," jawab Laila.


"Oh ya gelangnya tadi udah ketemu kan?"


"Udah, maaf ya, saat aku ke kamar kamu, aku sempat membaca tulisan-tulisan yang ada di dinding itu, sekarang aku mulai paham bagaimana besarnya cinta kamu pada Linda," tutur Laila sedang matanya masih tertuju ke langit.


Arga tersenyum mengingat Linda, "Ya begitulah, dulu orang-orang memang sering mengatakan cinta kami hanya settingan, tapi aku tak mendengarkan itu, aku tetap melanjutkan rencana pernikahan kami, namun takdir berkata lain, Allah memanggilnya lebih dulu," jelas Arga sedang ingatannya kembali ke masa lalu.


Laila menghela nafas dan berkata, "Pasti rasanya sangat sakit kan? tapi kamu hebat, sekarang sudah lebih membaik dari kemarin-kemarin, bahkan kamu pernah tidak makan teratur selama seminggu hanya karena belum bisa menerima kehilangan Linda,"


Arga pun sedikit tersenyum, "Ya, Alhamdulillah aku mulai membaik, dan kamu tau? itu karena seseorang hadir mengobati rasa sakit itu, dan melengkapi hati yang kosong," tutur Arga.


Laila yang tidak tau apa apa dengan polosnya berkata, "Aku tau pasti Bu Ranti telah berhasil mengobati rasa sakit mu, ya memang faktanya seorang ibu sangat berpengaruh pada kondisi anaknya," ujar Laila sembari melirik Arga.


"Tanpa aku sadari kamulah yang mengobati luka ini Laila, kamu selalu berhasil menggantikan kehadiran Linda, kamu telah berkorban banyak untuk aku dan mama, bahkan mempertaruhkan nyawa sendiri, hingga aku pun tak sadar telah terbawa perasaan," batin Arga sembari menatap Laila.


"Lagi ngomongin apaan sih, mama mau gabung dong, ngobrol sama Lastri kurang seru," canda Bu Ranti sambil mendekat pada Arga dan Laila.


"Mama kepo ya..," ledek Arga.


"Oh ya, tadi isi suratnya apa Bu, aku jadi penasaran," tanya Laila menatap Bu Ranti.


"Iya ..aku juga penasaran," ucap Lastri seraya mendukung Laila.


Bu Ranti dengan wajah masam menunjukkan surat itu. Arga, Laila dan Lastri yang membaca surat itu dengan serentak tertawa bersama.


"Sepertinya papa sama Mama kembali ke zaman dahulu ketika cinta bersemi lewat surat menyurat," ledek Arga menatap mama yang tampak kesal.


"Sudah sudah..jangan bahas laki-laki tua itu, mama kesal bangat kalau ingat wajah dia," gerutu Bu Ranti dengan kekesalannya.

__ADS_1


__ADS_2