
Rifki tampak galau di kamarnya, ia masih kepikiran dengan Adel yang dilamar laki-laki yang jauh lebih baik dari dirinya.
"Apa aku gila saja ya! bisa-bisanya cinta ku kena tikung untuk kedua kalinya," gerutu Rifki yang berbicara sendiri di kamarnya.
Tiba-tiba terdengar notifikasi WA Rifki. Ternyata chat dari Adel. Rifki pun bersemangat membacanya.
"Lukanya jangan lupa di oles salep yang aku kasih,"
Rifki pun membalas,
"Luka di di hati apa ada obatnya?"
Adel membalas chat Rifki, "Aku bukan Dokter spesialis Hati, jadi carilah dokter yang tepat!"
Rifki pun menelpon Adel agar bisa berbicara lebih luas.
"Assalamualaikum..ada apa?" sapa Adel di telpon.
"Waalaikumussalam..aku ganggu nggak?"
"Ya jelas lah,"
"Ya udah deh matiin aja telponnya," kata Rifki yang khawatir akan membuat Adel terganggu.
"Nggak usah nggak pa pa, aku bercanda kok," balas Adel.
"Del..kamu pasti akan menerima lamaran Haris kan?" tanya Rifki
"Aku masih berpikir untuk sementara waktu, aku belum tau jawabannya, kenapa emangnya?"
"Pasti sekarang kamu lagi mikirin Haris ya,"
"Sok tau kamu!" cetus Adel. Karena saat ini Adel justru kepikiran dengan Rifki.
"Terus lagi mikirin apa dong? masa kamu mikirin aku sih, atau jangan-jangan benar kalau kamu mikirin aku?"
Adel tak memberi jawaban, ia langsung mematikan telepon. "Tau aja sih kalau aku lagi mikirin dia," batin Adel yang berbaring di kamarnya.
...****...
Pagi itu Laila menemui sang adik di rumah.Laila masih belum move on dengan perkara mobil kemarin. baru saja sampai Laila sudah mencubit telinga Adiknya Ridwan.
"Aduh! aduh! sakit,"
"Kenapa kamu minta mobil sama Arga," gumam Laila.
"Kak Arga yang ngasih kak, aku nggak minta," tutur Ridwan yang sudah kesakitan.
__ADS_1
"Lain kali jangan mau Ridwan, aku jadi ngerasa nggak enak kalau gini caranya,nanti orang-orang bisa beranggapan kalau kita memeras hartanya," ujar Laila mengingatkan adiknya.
"Jangan di dengerin Ridwan, mendingan kita main basket yok, kamu suka basket kan," ucap Arga yang tiba-tiba muncul.
Laila terkejut melihat Arga tiba-tiba di belakangnya.
"Ayok .." sahut Ridwan.
Arga dan Ridwan pun pergi begitu saja. "Kurang asam, aku di tinggalin, baru kali ini aku dicuekin, lihat aja nanti.." gerutu Laila yang tampak kesal.
Arga dan Ridwan fokus bermain basket sambil mengobrol sesekali.
"Gimana gebetan kamu?" tanya Arga.
"Susah kak, dia orangnya sederhana, kalaupun aku pakai mobil, nggak ngaruh sama sekali buat dia, namanya juga perempuan mahal, ya pasti susah lah,"
"Kakak kamu nggak gitu gitu amat kok, malahan dia yang ngejar aku," ujar Arga seolah membanggakan diri.
Ternyata Laila ada di sana dan mendengarkan perkataan Arga. "Ehem..nggak kebalik tuh," cetus Laila dengan mengerutkan keningnya.
Arga pun tertangkap basah menjelekkan istri sendiri. Arga membuang bola basket di tangannya dan buru-buru menemui Laila.
"Sayang kamu salah dengar, maksud aku kita .. saling kejar-kejaran gitu, aku ngejar kamu, kamu ngejar aku,"
"Sejak kapan aku ngejar kamu," gumam Laila.
"Iya deh iya..aku minta maaf, aku yang salah," ucap Arga membujuk Laila.
...********...
Adel tampak melamun di taman rumah sakit, sisa setengah jam lagi ia akan kembali bertugas.
Tiba-tiba Haris kembali datang menghampiri Adel.
"Assalamualaikum.." sapa Haris,
"Waalaikumussalam," jawab Adel sedikit grogi.
"Gimana del, apa kamu sudah ada jawaban?"
"Kamu sangat baik tapi..aku tidak bisa Ris, aku merasa kamu bukan mencintai ku tapi hanya merasa bahwa aku orang yang dekat dengan kamu, lalu kamu beranggapan bahwa ini akan memudahkan mu untuk jatuh cinta, jadi maaf, aku tidak bisa,"
Haris tampak kecewa mendengar jawaban pahit dari Adel. "Apa kamu tidak ingin memberiku kesempatan Del?"
"Kesempatan hanya akan membuat kamu makin kecewa, karena aku menyukai laki-laki lain," Tegas Adel.
Haris pun terdiam dengan jawaban tersebut, namun dalam hatinya Haris pun sadar, bahwa ia sebenarnya tidak mencintai Adel, namun hanya menjadikan Adel sebagai pelarian untuk melupakan Laila.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan terima jawaban ini walaupun pahit, semoga orang yang kamu cintai tidak mengecewakan mu, aku pamit ya, Assalamualaikum," ucap Haris kemudian bergegas pergi.
"Waalaikumussalam," kini Adel merasa lega karena masalah yang membuatnya kepikiran telah tuntas.
Semalaman ia memikirkan tentang lamaran Haris, hingga ia pun menemukan keputusan yang tepat.
"Cie..yang baru di lamar, gimana? kamu terima nggak lamarannya?" tanya Rifki mengejutkan Adel. Rifki tiba-tiba muncul di belakang Adel.
"Emangnya kalau aku terima kenapa? dan kalau pun aku tidak terima emangnya kamu perduli?"
"Baguslah, jadi kamu terima lamaran dia? kalian emang cocok sih," kata Rifki padahal hatinya perih.
"Menurut kamu apa aku akan terima lamaran dia?"
"Ya iyalah, kan Haris laki-laki yang baik, pasti setiap wanita ingin menjadi istrinya,"
"Kamu bilang setiap wanita ingin menjadi istrinya, lalu apa aku berarti bukan wanita jika aku menolaknya?"
"Maksudnya.."
"Pikirkan saja sendiri," ucap Adel dan melangkah pergi.
"Tunggu! jadi kamu menolak lamaran Haris?" tanya Rifki menghentikan langkah Adel.
Adel menoleh ke arah Rifki, ia tak menjawab namun menganggukkan kepala seraya mengiyakan.
"Ye.. Alhamdulilah, Terimakasih Adel," ucap Rifki dengan keras.
"Kenapa kamu yang berterima kasih?"
"Kamu akan tau jawabannya nanti malam!" lanjut Rifki dengan nada suara yang keras.
Rifki bermaksud akan melamar Adel malam ini sebelum laki-laki lain melamar Adel lagi.
...*******...
Arga mengobrol dengan Laila di ruang tamu rumah ayah Laila.
"Kata Adel besok kami akan ke dokter ahli yang akan mengoperasi wajahku, kamu masih setuju kan?" tanya Laila yang sebenarnya deg-degan mendengar kata operasi.
"Harusnya aku yang temanin kamu, tapi perusahaan saat ini tidak bisa ditinggalkan, maaf ya sayang, bagaimana kalau aku nanti menyusul saja,"
"Iya nggak pa pa kok, kamu kerja yang baik ya, besok aku akan pergi bersama Adel," tutur Laila sembari bersandar di bahu Arga.
"Tapi aku takut jika kamu menghilang dari pandangan ku, aku takut kamu kenapa-napa lagi," tutur Arga yang masih trauma kehilangan Laila.
"Aku pergi bersama Adel kok, lagi pula siapa lagi yang akan mengincar ku, Afni sudah di penjara, begitupun dengan ibu tiri mu," tutur Laila.
__ADS_1
"Meskipun mereka di penjara aku tetap khawatir, pokoknya nanti kalian akan di kawal oleh orang suruhan ku, biar aku merasa lebih tenang,"
"Iya..iya..terserah kamu deh, gimana baiknya aja," kata Laila menurut pada Arga.