Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz #5


__ADS_3

Sesekali Ainun melirik Maysa dan Farhan yang bergandengan di pelaminan.


Perih, sakit, ingin mengeluh, itulah yang dirasakan Ainun, namun ia berusaha tegar.


Hilman berniat menyapa Ainun, namun tiba-tiba Ainun di panggil ibu Farah ke belakang.


"Ibu manggil aku ya," sapa Ainun menatap sang ibu.


"Iya ibu butuh bantuan kamu, kamu punya tabungan kan, ibu butuh uang, kemarin ibu mesan perhiasan untuk kakak kamu, dia kan pengantin baru, sudah sewajarnya dia punya perhiasan, ibu cuma butuh 8 juta kok, kamu punya kan?" tanya Bu Farah.


"Ada tapi..ini untuk aku kuliah nanti Bu," jawab Ainun pelan.


"Ainun, apa kamu nggak mau bantu ibu? berapa kali ibu bilang sama kamu, kamu nggak perlu kuliah lagi, lebih baik kamu fokus kerja aja," tegas ibu.


Ainun menghela nafas, "baik, aku akan bantu ibu," ucap Ainun dengan terpaksa.


"Seluruh tabungan ku udah habis, padahal aku susah payah nabung buat kuliah," batin Ainun.


***


Hilman mencari cari Ainun di tengah keramaian itu, matanya menoleh kanan kiri mencari cari bidadari dalam mimpinya. Namun ia tak menemukannya.


Hilman menemui Farhan yang sedang duduk di pelaminan. "Farhan aku boleh nanya sesuatu?" pinta Hilman.


Farhan pun meminta izin pada Maysa untuk berbicara sebentar dengan sahabatnya, "Bentar ya may, ini sahabat aku Hilman, siapa tau dia ada hal penting yang mau di tanyakan," ucap Farhan. Maysa hanya mengangguk pertanda memberi izin.


Farhan dan Hilman pun sedikit menjauh dari orang-orang. "Aku ini lagi bersanding di pelaminan loh, masih aja kamu ngajak ngobrol," keluh Farhan pada Hilman.


"Iya maaf bro, soalnya ini agak penting, aku mau nanya, perempuan yang tadi sama istri kamu itu siapa?" tanya Hilman yang penasaran.


"Oh itu adik ipar aku, namanya Ainun, kenapa?" tanya Farhan.


"Itu bidadari yang selalu aku ceritakan sama kamu," jelas Hilman bersemangat.


"Lah kok bisa? kamu kenal dari mana?" tanya Farhan lagi.


"Ceritanya panjang. Berarti nama gadis itu Ainun? dan dia adik istri kamu?" Hilman mulai penasaran.

__ADS_1


"Iya, tapi dia sama istri aku beda ibu," jelas Farhan.


"Anak tiri maksudnya?"


"Iya, ibu kandung dari istriku adalah Bu Farah, dan ibu kandung dari Ainun sudah lama meninggal, jadi dia tetap menjadi putri dari Bu Farah, karena bagaimanapun juga mereka punya ayah yang sama, meski ayahnya udah meninggal," jelas Farhan dengan detail.


"Ya udah makasih ya, pokoknya nanti aku masih mau nanya nanya tentang gadis itu sama kamu, tapi sekarang kamu balik ke pelaminan aja sana, takutnya nanti pengantin wanitanya malah kesepian," canda Hilman.


***


Malam itu,


Maysa masih canggung mengobrol dengan Farhan sebagai istri. Karena biasanya mereka mengobrol sebagai teman dekat.


"Kenapa kamu tiba-tiba ngelamar aku Farhan?" tanya Maysa memulai pembicaraan.


"Emangnya salah ya, aku memang suka sama kamu dari dulu, kamu aja yang nggak nyadar," jawab Farhan sambil menatap Maysa.


Maysa tersenyum malu, "Aku kira setelah pulang dari luar negeri kamu akan bawa calon istri," ucap Maysa sambil tersenyum.


"Sebanyak apa pun gadis cantik di luar negeri, tetap aja cuma kamu yang aku cintai," tutur Farhan dengan tulus.


***


Setelah kering, ia membaca lembar berikutnya,


"Catatan hari ini: Aku merindukan sosok ayah, yang selalu adil memperlakukan putri-putrinya. Aku juga rindu sosok ibu, yang selalu memberikan sandaran padaku saat aku jatuh. Ayah, ibu, hari ini aku sedang demam, aku nggak bisa kerja, padahal bulan ini aku harus mengirimkan uang untuk biaya kuliah kak Maysa, andai aku bisa menyihir kertas jadi uang supaya aku nggak capek-capek harus memikirkan biaya kakak setiap bulannya. Ayah,ibu, rasanya kepalaku amat berat, badanku menggigil, aku bahkan belum mahir mengobati diriku sendiri, tapi aku tau kalau aku harus jadi wanita kuat, sekuat ibu dan ayah."


Membaca itu membuat Hilman langsung merasakan bagaimana sakitnya menjadi gadis itu.


"Berarti istri Farhan itu dulu kuliah dengan biaya dari adiknya yang mati-matian kerja, pasti saat itu sangat melelahkan bagi Ainun, Andai aku bisa menjadi penghapus luka bagi gadis ini, andai aku bertemu gadis ini dari dulu, agar aku bisa menghapus lumpur di hidupnya," batin Hilman yang kasihan pada Ainun.


***


Sementara malam itu Ainun tengah khusyuk membaca Al-Quran sebagai penenang hatinya.


Namun tiba-tiba ibu memanggilnya. "Iya, bentar Bu," sahut Ainun yang buru-buru menemui ibunya.

__ADS_1


"Ada apa Bu," sapa Ainun,ia duduk di hadapan ibunya.


Ibu menunjukkan beberapa perhiasan yang indah di dalam kotak. "Menurut kamu mana yang lebih cantik?" tanya Ibu dengan semangat.


Ainun pun memperhatikan dua kotak perhiasan itu. "Menurut aku dua-duanya cantik kok, ibu mau beli ini untuk kak Maysa kan?" tanya Ainun.


"Iya, soalnya dia itu nggak punya perhiasan, kasihan kan, nanti orang ngiranya dia nggak punya apa-apa," lanjut Ibu.


Ainun hanya tersenyum. "Iya Bu,semoga kak Maysa suka ya," tutur Ainun.


***


Ainun kembali ke kamarnya, sambil menangis ia bersandar di pintu. "Padahal itu tabungan terakhir aku Bu, aku bahkan nggak punya apa-apa lagi, andai ibu tau bahwa untuk beli sebuah riasan saja aku tidak bisa menyisihkan gajiku untuk itu, tapi yang ibu pikirkan hanya kebahagiaan kak Maysa tanpa berfikir bagaimana perasaan ku," batin Ainun sambil menangis. 


***


Keesokan hari,


Pagi itu Ainun kembali menyiapkan semangatnya untuk memulai hari.


"Aku kerja dulu ya Bu, ibu jangan lupa nanti makan siang tepat waktu," ucap Ainun sambil mencium tangan ibunya.


"Iya, kamu juga yang semangat kerjanya ya," pesan ibu.


Ainun pun berangkat dengan semangat, meski perlakuan ibu padanya selalu berbeda dengan kakaknya, namun ia tetaplah menyayangi ibu Farah, karena bagaimanapun juga ibu Farah adalah satu-satunya orang tua baginya.


***


Hilman memantau CCTV di Restoran, ia memantau keberadaan Ainun.tak lama kemudian, ia melihat Ainun dari CCTV sedang berjalan menuju gudang untuk mengambil sesuatu.


Hilman buru-buru berjalan menuju keberadaan Ainun.Diam-diam Hilman mengikuti Ainun dari belakang.


Ainun yang berjalan ke arah gudang untuk mengambil barang mulai merasa ada yang mengikutinya.


Ainun menoleh ke belakang, namun tak ada siapa-siapa di sana, tempatnya begitu sepi, Ainun mulai merinding, takut ada orang jahat yang mengikutinya.


Ainun kembali berjalan dan meyakinkan dirinya bahwa tidak ada siapapun di belakang.

__ADS_1


Hilman yang tadi bersembunyi kembali melangkah mengikuti Ainun dari belakang.Kali ini Ainun benar benar merasa bahwa dibelakang nya sedang ada yang berniat jahat.


"Pasti ada orang iseng yang mau jahilin aku nih, aku harus hati-hati," batin Ainun dan bersiap untuk menyerang.


__ADS_2