Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
24. Apa kamu menyukaiku?


__ADS_3

"Laila mana?" tanya Rifki pada Arga yang tengah menemaninya di ruang rawat.


"Aku udah suruh dia pulang untuk istirahat, pasti dia lelah," jawab Arga yang duduk santai di sofa.


Rifki sedikit kesal, niatnya ingin mendapat perhatian Laila malah gagal. "Kok di suruh pulang sih, Laila kan mau rawat aku di sini," protes Rifki menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Arga tersenyum sinis, "Itu banyak suster di luar, mau aku panggilkan semuanya, biar mereka fokus merhatiin kamu," tutur Arga.


Rifki pun merasa kesal karena harusnya Laila saat ini berada di sisinya.


***


Laila merebahkan tubuhnya di kamar, ia mengingat Minggu ini ustadz Haris akan menikah, hatinya terasa sesak mengingatnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Laila membuka pintu kamarnya, ia melihat adiknya yang tampak serius.


Ridwan menatap serius wajah Laila."Apa ini kak? jadi selama ini kakak sengaja jadi pengawal CEO itu karena wasiat kak Linda? tapi kenapa kakak nggak pernah kasih tau kalau Linda berwasiat agar laki-laki itu menikahi kakak," tanya Ridwan menunjukkan surat peninggalan Linda untuk Laila. Ridwan tak sengaja menemukan surat itu di kamar Laila saat ia mencari sesuatu.


Laila pun tak bisa mengelak lagi, bukti sudah ada di tangan Ridwan. "Rid, jangan bilang-bilang sama siapa-siapa ya, apa lagi sama bunda, bisa-bisa aku di suruh buru-buru nikah sama bos ku, iya yang kamu bilang emang benar, tapi tolong jaga rahasia ini," pinta Laila memohon pada adiknya.


"Kak..kamu mikir nggak sih, ini pekerjaan berbahaya, aku dengar semalam kamu menghadapi para penjahat di ruko kosong itu, aku tau kamu bisa bela diri kak, tapi ini terlalu berbahaya, lebih baik aku yang gantiin posisi kakak," tegas Ridwan seraya mengkhawatirkan kakaknya.


Laila pun meyakinkan adiknya, "Rif, aku akan baik-baik saja, tenang aja, Allah pasti menjaga kita, selagi niat kita baik, insyaallah semua akan baik-baik saja," tutur Laila menatap mata Ridwan.


Ridwan tampak khawatir dengan perkataan Laila yang terlalu kukuh untuk menjadi bodyguard.


"Baiklah, tapi mulai sekarang aku akan memantau kamu kak, hubungi aku jika terjadi sesuatu," ucap Ridwan.


"Iya iya..jangan bilang-bilang ayah sama bunda ya soal pertarungan semalam," pinta Laila.


"Iya..iya.." Ridwan tampak tak yakin dengan kakaknya.

__ADS_1


***


Papa Arga tampak kecewa dengan ulah istrinya itu."Ini salah faham pa, papa harus percaya sama aku," ucap Bu Diana sembari menangis mengemis kepercayaan dari suaminya. Namun percuma,pak Rendra (papa Arga) sudah curiga dari awal. Dan kini semuanya sudah jelas.


"Tinggallah di penjara ini sampai kamu membusuk, aku akan menceraikan kamu," tegas pak Rendra menatap tajam Bu Diana di dalam penjara.


Pak Rendra sangat menyesali perbuatannya. Meninggalkan anak istri hanya untuk wanita jahat seperti Diana. Tentu ada rasa bersalah yang mendalam di hatinya. Entah Bu Ranti akan memaafkan dirinya atau tidak. Tapi saat ini pak Rendra sangat ingin meminta maaf pada Bu Ranti. Rasa bersalah bercampur malu memenuhi perasaan pak Rendra. Bagaimana tidak malu, melihat kelakuan istrinya yang menyiksa Bu Ranti istri pertamanya.


***


Hari ini Laila menyempatkan diri untuk ziarah ke makam sahabatnya Linda. Karena tak biasanya Arga memberi ia libur, jadi ia pun memanfaatkan waktu yang sebentar ini.


"Linda, istirahatlah yang tenang di alam barzakh, percayakan padaku, aku akan menjaganya sekuat tenagaku, kini dia sudah aman dari kejahatan ibu tirinya, tapi masalahnya saat ini aku belum menemukan orang yang membunuh mu," batin Laila sembari membersihkan makam Linda.


Sesekali Laila meneteskan air matanya, mengingat kebersamaan mereka sejak SMA. Linda adalah sahabat terbaiknya, yang sangat menyayanginya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" suara Arga dari arah belakang Laila mengagetkannya.


"sa - saya..cuma membersihkan makam Linda pak, kan nggak ada salahnya membersihkan makam calon istri bos sendiri," ucap Laila mencari-cari alasan.


Bodohnya Arga langsung percaya saja, ia tak berpikiran apa pun, mengingat Laila memang sudah pernah ke makam Linda bersamanya.


"Kenapa kamu sangat perduli pada saya dan calon istri saya yang sudah meninggal, saya merasa kamu sangat tulus menjaga kami, tidak seperti bodyguard pada umumnya yang hanya sebatas menjalankan tugasnya," tutur Arga sembari berdiri di hadapan Laila.


"Kita memang harus sepenuh hati dalam menjalankan pekerjaan kita, bukannya pak Arga juga sepenuh hati dalam mengurus perusahaan," jawab Laila.


"Nggak! maksud saya kamu seperti ada sesuatu," ucap Arga yang tampak penasaran. Laila pun khawatir arga mencurigai dirinya.


"Maksudnya sesuatu apa?"


"Begini, saya lihat kamu sangat sigap dengan keselamatan saya, bahkan semalam saya lihat betapa sigapnya kamu melindungi saya, kamu seolah tak ingin saya terluka, apa kamu ada niat lain?" Arga tampak semakin penasaran.

__ADS_1


"Hah? niat lain apa maksudnya?" suasana semakin tegang bagi Laila, ia takut Arga mengetahui identitas dirinya sebagai sahabat Linda.


"Apa jangan-jangan kamu menyukai saya?" pertanyaan Arga membuat Laila merasa lega, ternyata Arga tidak mencurigai yang lain.


"Suka apanya sih pak, jangan ngaco deh, tugas bodyguard kan memang melindungi bosnya, apa ada yang salah, pak Arga terlalu pede pak, bapak kali yang suka sama saya," ucap Laila tersenyum sinis. Laila langsung pergi meninggalkan Arga di pemakaman itu.


"Astaga..pake bohong segala lagi, jelas-jelas dia suka sama aku, sok sok nggak ngaku, perempuan emang gitu, kalo dia bilang tidak pasti sebenarnya iya, udah kebaca isi pikirannya," Batin Arga menatap langkah Laila yang semakin jauh.


***


Di rumah sakit tampak Rifki tengah sendirian, ekspektasi tak seindah realitanya. Ia hanya terbaring sendiri di rumah sakit. Padahal ia berharap akan lebih banyak waktu bersama Laila. Ia pun melamun sendirian.


Tiba-tiba pintu terbuka, ia menoleh, melihat Laila yang berjalan ke arahnya.


"Assalamualaikum," ucap Laila sembari berjalan ke arah Rifki.


"Waalaikumussalam," ucap Rifki tampak wajahnya amat bahagia.


Semangat Rifki kini kembali, yang tadinya cemberut sudah mulai tersenyum.


"Gimana? punggung kamu masih sakit?" tanya Laila sembari memperhatikan Rifki.


"Iya masih sedikit sakit, tapi kalau kamu ada di sini aku akan baik-baik saja," Rifki menatap mata indah Laila.


"Kamu sangat keren Rif, aku suka sama kamu, kamu sangat baik, kamu rela berkorban untuk melindungi saudara kamu sendiri," ucap Laila sembari tersenyum manis di balik cadarnya.


Mendengar itu membuat jantung Rifki berdebar kencang, senyuman di bibir nya tak terkondisikan lagi.


"Pak.."


"Pak..apa anda baik baik saja.." tanya suster menghentikan khayalan Rifki. Mulutnya yang tadi tersenyum dan menganga kini telah tersadar.

__ADS_1


"Apaan sih ganggu aja deh," cetus Rifki pada Suster.


__ADS_2