Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
27. Dia menyelamatkan ku?


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE DAN SUBSCRIBE YA🤡


Arga berjalan ke atap gedung rumah sakit. Laila hanya bisa mengikuti langkah Arga sesuai perintah.


"Kamu dari mana aja tadi? kenapa baru datang?" tanya Arga yang berdiri sambil menatap pemandangan dari atap.


"Saya tadi ada urusan pribadi pak," jawab Laila yang berdiri di belakang Arga.


"Urusan pribadi apa?"


"Namanya juga urusan pribadi pak, masa iya saya harus kasih tau pak bos," cetus Laila.


"Oh, oke, lain kali jangan telat,"


"Apaan sih, nggak jelas banget," batin Laila sedikit kesal.


"Apa kamu sudah mendapatkan informasi mengenai Inisial L, sahabat Linda itu?" tanya Arga.


Mendengar pertanyaan Arga membuat Laila khawatir,ia bingung harus menjawab apa, dan di sisi lain Laila takut Arga akan marah.


"Belum pak bos," jawab Laila pelan.


Arga menghela nafas, "Baiklah, tidak masalah, pasti cepat atau lambat kita akan mendapatkan informasi perempuan itu," ucap Arga seolah tidak mempermasalahkan hal ini.


"Benar juga kata dia, mungkin cepat atau lambat identitas ku akan diketahui, apa ya yang akan terjadi jika dia tau bahwa aku sahabat Linda, apa aku akan dipecat, atau dia akan membenciku," batin Laila memikirkan perkataan Arga yang secara tidak langsung membuatnya tersinggung.


Arga berbalik badan menatap Laila yang tampak memikirkan sesuatu. "Kamu kenapa? jangan khawatir! saya nggak akan marah kalaupun kamu tidak menemukan orang itu, suatu saat waktu yang akan menjawabnya, entah mengapa sekarang saya tidak terlalu perduli mencari Inisial L itu, mungkin karena sekarang ada kamu yang selalu ada buat saya," tutur Arga menatap Laila yang sedari tadi menunduk.


Mendengar itu Laila spontan mengangkat kepalanya, "Hah? maksudnya.." Laila tidak mengerti maksud Arga.


"Ah sudahlah, saya mau jemput mama dulu," ucap Arga sambil berjalan menuju parkiran.


Sebenarnya Arga merasa dirinya tidak terlalu semangat lagi untuk mencari sahabat Linda karena seseorang mulai masuk ke dalam pikirannya.

__ADS_1


Laila pun mengikuti langkah Arga. Mereka bergerak menuju rumah Arga untuk menjemput mama.


Di perjalanan, suasana mobil tampak senyap, Arga yang duduk di depan sesekali melirik ke arah Laila.


Tiba-tiba ban mobil menindas Paku yang berserakan di jalan, seolah ini di sengaja.


Ban mobil pun kempes serentak. "Kayaknya ban nya bermasalah pak," ucap pak supir sembari menoleh ke arah Arga.


Arga pun turun dari mobil, begitupun Laila. "Jadi gimana pak bos? apa kita naik taksi aja, biar saya pesan taksinya," tutur Laila yang berdiri di samping mobil.


Tiba-tiba seseorang laki-laki bermasker hitam membawa besi yang mengarah pada Laila. Laila tak menyadari di belakangnya ada bahaya. Arga yang tak sengaja menoleh ke arah Laila, bergerak cepat menendang laki-laki aneh tersebut. Laki-laki itu pun berlari, ia kabur, sebab niat buruknya sudah ketahuan. Penjahat itu adalah pembunuh Linda sebelumnya. Namun Arga dan Laila tidak menyadari itu.


"Kamu nggak pa pa?" tanya Arga yang tampak khawatir menatap Laila.


Laila tercengang melihat Arga yang menyelamatkannya. "Sa-saya--nggak pa pa," jawab Laila dengan gugup.


"Alhamdulillah, aku bingung kenapa sekarang malah kamu yang hampir jadi korban, padahal akulah yang seharusnya mereka incar," ujar Arga sedikit bingung.


Tak lama kemudian, taksi pesanan pun tiba.


Laila pun bermaksud duduk di depan, tepatnya di samping supir taksi.


"Duduk di belakang aja," suruh Arga sembari membuka pintu mobil untuk Laila.


Meski sedikit heran dengan sikap Arga, Laila tetap menuruti perintahnya. Laila pun duduk di bangku belakang mobil, begitupun Arga. Laila tak biasa duduk di samping Arga, hingga ia mengatur jarak sejauh mungkin.


"Tadi dia menyelamatkan aku, sekarang aku di suruh duduk di bangku belakang, mana pintunya dibukain lagi, ada apa dengan bos Sad boy ini? harusnya kan aku yang bukain dia pintu, kan aku bodyguardnya," gerutu Laila dalam hatinya yang kebingungan.


Arga yang semalam bergadang menahan kantuk di mobil. Namun tetap saja ia tak bisa menahan hingga ia ketiduran.


Laila menoleh ke samping kirinya, melihat Arga yang ketiduran. Mata Laila menatap wajah Arga yang tertidur. "Bos galak ini semakin hari semakin membaik, syukurlah, nggak sia-sia aku jadi bodyguardnya, aku senang sekarang sikap dinginnya mulai berubah, aku tau dia orang baik, mungkin dulu dia bersikap dingin karena hatinya sedang kacau di tinggal Linda," batin Laila sembari tersenyum menatap Arga.


"Suaminya ketiduran ya mbak," sapa supir taksi pada Laila.

__ADS_1


"Hah? bukan bukan! dia bukan suami saya pak," Laila terkejut dengan kata-kata supir taksi itu.


***


Di rumah sakit, tampak Rifki tengah sendirian meratapi kesedihannya, mengingat ibunya telah jadi tahanan.


Tiba-tiba seorang dokter wanita masuk ke ruangannya untuk mengecek kondisinya.


"Sepertinya besok kamu sudah bisa pulang," ucap si dokter yang ternyata teman dekat Laila yaitu Adel.


"Dokter yang kemarin mana?" tanya Rifki terheran menatap dokter Adel, karena baru kali ini ia masuk ke ruang rawat Rifki.


"Saya sebenarnya malas ke sini, ini bukan tugas saya, tapi teman saya yang namanya Laila nyuruh saya ke sini," ujar Adel sembari mengecek luka Rifki.


"Emangnya Laila punya teman dokter? jangan jangan kamu dokter bohongan,"


"Baru kali ini saya ketemu pasien ngeselin kayak kamu, harusnya tadi saya nggak nurutin permintaan Laila," gerutu Adel.


"Iya iya..saya percaya anda dokter, oh ya Laila nya kemana dok?" tanya Rifki


"Pergi sama calon suaminya,"


"Hah? jangan asal bicara ya dok," cetus Rifki yang merasa kesal.


"Iya..tadi dia pergi sama laki-laki," tegas Adel.


"Itu bos nya, bukan calon suami, calon suaminya itu saya, makanya dokter jangan sok tau," gerutu Rifki yang tak terima dengan perkataan Adel.


***


Bu Ranti tampak melamun di kamarnya, ia masih trauma dengan penculikan kemarin. Ia tak bisa melupakan suasana menyeramkan ketika ia sendirian di tempat gelap dan pengap. Ia teringat betapa sialnya dia karena dulu punya suami yang menghancurkannya seperti pak Rendra. Bu Ranti tidak akan pernah melupakan perlakuan Rendra dan Diana padanya.


"Rasa sakit yang satu belum terobati, namun yang lainnya telah menyusul, sepertinya mereka tak punya hati telah memperlakukanku seperti ini, rasa sabar ku selama ini ternyata belum cukup buat mereka, harusnya dulu aku bersikap keras untuk membalasnya," batin Bu Ranti yang melamun menatap kaca jendela kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2