Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
63. Kekhawatiran


__ADS_3

Sesampainya di rumah Arga, ternyata di sana sudah ada Bu Ranti dan keluarga Laila yang menunggu.


Rasa bahagia dan tidak sabar kerap di rasakan bunda dan Ayah yang amat merindukan putrinya.


Tak lama kemudian mobil Arga pun sampai di depan rumah, bunyi klakson langsung membuat Ayah, bunda dan Bu Ranti buru-buru keluar dari rumah.


Dan benar saja mobil itu adalah mobil Arga. Bunda pun buru-buru memeluk putrinya. "Bunda benar-benar kangen sama kamu, akhirnya kamu kembali dengan selamat," ucap bunda dengan air mata bahagia.


Adel pun berpamitan pulang, karena ia juga ingin cepat-cepat menemui ibunya. "Aku balik ke rumah dulu ya La," ucap Adel


"Kenapa buru-buru sih Del?"


"Aku kangen sama ibu," jawab Adel.


Rifki menemui Adel, "Apa nanti malam aku boleh ke rumah mu? untuk membahas tentang tanggal pernikahan dan keperluan lainnya?" tanya Rifki dengan serius.


Adel hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya seraya menyetujui. Adel tak lupa berpamitan pada Ayah dan bunda serta Bu Ranti.


"Biar aku mengantarmu," ucap Rifki, tentu ia akan khawatir jika Adel pulang sendiri tanpa ada yang menemani.


"Tidak usah, kalian istirahat saja," Adel menolak dengan halus, ia memilih untuk pulang sendiri karena ia memang sudah terbiasa mandiri.


Adel pun pulang dengan memesan taksi online.


Suasana rumah Arga tampak ramai, canda tawa terdengar dari ruang tamu. Jarang-jarang semua anggota keluarga Arga dan Laila berkumpul untuk silaturahmi.


Raut wajah Ayah dan bunda tampak bahagia melihat Laila kini kembali dengan selamat dan kondisi wajah yang sudah membaik.


Kini Arga pun bisa melepas rindu pada istrinya yang sekian lama telah jauh darinya.


***


Sementara itu Adel di perjalanan ke rumahnya di hentikan oleh truk kemarin yang pernah berselisih dengan Laila.

__ADS_1


Sopir truk turun terlebih dahulu, di susul oleh segerombolan temannya di dalam truk besar.


"Kalian lagi!" ucap Adel sedikit takut, karena tentu saja mereka akan membalaskan kejadian beberapa Minggu lalu pada Adel. Namun kini Adel tak bisa kemana mana. Supir taksi tak akan bisa membawanya lari dari segerombolan laki-laki di dalam truk itu.


Adel berusaha untuk tetap tenang, meski kini para laki-laki sangar berdiri tegak di hadapannya. "Apa mau kalian?" tanya Adel berusaha mengeraskan suara agar tidak nampak ketakutan.


Mereka hanya tersenyum sinis tanpa menjelaskan sepatah pun, langsung saja mereka memasukkan Adel ke dalam truk. Sementara si supir taksi di tahan oleh dua laki-laki sangar lainnya.


Mulut Adel di tutup dengan kain, ia tak bisa berkata-kata, namun saat pertama kali memasuki truk itu, matanya berkaca-kaca melihat beberapa gadis lainnya yang di culik.


Adel semakin takut hingga keringatnya bercucuran


Ingin berbicara dengan gadis-gadis lainnya, namun kini mulutnya di tutup dan tangan di ikat.


...*******...


"Apa benar kamu melawan segerombolan laki-laki beberapa Minggu lalu, tepatnya saat perjalanan ke rumah sakit?" tanya Arga yang tengah mengobrol santai dengan Laila di lantai dua rumah Arga.


"Sudah ku bilang, jangan lagi bertarung dengan siapa pun, sekuat apa pun kamu,tetap saja hanya kamu yang ingin ku lindungi," tegas Arga yang amat mengkhawatirkan Laila.


Laila menatap suaminya sembari menggenggam tangannya. "Tenang aja sayang, aku akan selalu baik baik saja demi kamu, jangan terlalu khawatir, aku sudah terbiasa menghadapi penjahat seperti itu," tutur Laila.


"Tapi kamu nggak perlu lakuin itu,"


"Kenapa? justru aku merasa harus menolong orang banyak, apa gunanya keahlian ku jika aku tidak memanfaatkannya,"


"Tapi...ah ya sudahlah, jangan di bahas lagi," ucap Arga agar tidak menimbulkan persoalan. Ia khawatir jika melanjutkan pembicaraan ini justru akan membuat Laila tersinggung.


Namun Laila tetap ingin meyakinkan Arga bahwa ia harus melindungi orang yang lemah. Laila meraih tangan Arga sembari menatap matanya.


"Aku mohon, tolong jangan halangi aku jika sewaktu-waktu aku harus menggunakan tenagaku untuk menyelamatkan orang lain, aku tau aku tak bisa melakukan ini tanpa izin dari kamu, makanya aku harap kamu bisa menerima keadaan ku yang seperti ini, agar kamu tidak terlalu khawatir jika aku harus menyelamatkan orang lain," tutur Laila panjang lebar.


Mendengar perkataan Laila membuat Arga tak sanggup untuk memberi jawaban. Rasanya sangat berat menyetujui sang istri untuk melakukan hal hal berbahaya. Meski ia tau bahwa Laila memiliki keahlian lebih di bidang bela diri namun tetap saja ia tak bisa tenang jika Laila berhadapan dengan orang-orang jahat.

__ADS_1


"Maaf..tapi aku tidak setuju untuk permintaan kamu yang satu ini," ucap Arga dengan berat hati.


"Kenapa? apa kamu tidak percaya kalau aku bisa jaga diri, apa kamu ragu?" tanya Laila seolah menegaskan bahwa ia akan baik baik saja.


"Sayang..tolong jangan paksa aku untuk meletakkan kamu dalam situasi bahaya," tutur Arga dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Itu berarti kamu tidak menerima kondisi ku yang seperti ini, dari awal kamu tau bahwa aku memiliki kelebihan pada ilmu bela diri ku hingga aku merasa berkewajiban untuk melindungi siapa pun yang ingin ku lindungi, sama halnya seperti ketika dulu aku ingin melindungi mu dari penjahat itu," jelas Laila panjang lebar.


"Tapi.." Arga tak tau lagi kata-kata apa yang tepat untuk menyanggah Laila. Kini ia semakin khawatir bahwa Laila akan tetap melakukan hal hal yang membuatnya dalam bahaya.


"Bukankah kita harus saling memahami," ucap Laila seraya membujuk Arga.


"Iya tapi.." belum selesai Arga berbicara, tiba-tiba HP Laila berdering.


"Halo assalamualaikum Del, ada apa," sapa Laila namun tak ada balasan.


Berkali kali Laila memanggil nama Adel namun tak ada jawaban, hanya terdengar suara kendaraan truk di hp Laila.


"Kenapa sayang, ada apa?" tanya Arga yang bingung melihat Laila menelpon hanya memanggil manggil nama Adel.


"Adel, dia nelpon aku tapi nggak ada suara Adel, yang kedengaran hanya suara kendaraan, aku bingung, sebenarnya dia mau bilang apa sih," ujar Laila yang semakin penasaran. Di satu sisi ia juga khawatir karena tak biasanya Adel seperti ini.


Tak lama kemudian sebuah video terkirim ke WhatsApp Laila.


Laila terkejut melihat video berdurasi 3 menit yang menunjukkan bahwa Adel di culik. Rasa panik menggerogoti hatinya, Laila langsung ingin melangkah mencari Adel.


"Kamu mau kemana?" Arga menahan tangan Laila.


Tak kuasa menahan tangis, Laila tak menjawab pertanyaan Arga, ia hanya menunjukkan video itu sembari menangis histeris.


Arga pun paham bahwa Laila pasti akan pergi mencari Adel.


"Terus kamu mau cari kemana? maksud kamu..kamu mau pergi sendiri? apa kamu tidak menghargai aku sama sekali, bahkan jika kamu tidak perduli dengan keselamatan mu, setidaknya kamu harus perduli bagaimana khawatirnya aku jika terjadi sesuatu," tegas Arga menunjukkan kekhawatirannya.

__ADS_1


__ADS_2