
Tejo merinding, saat mendengar suara Isak tangis wanita ketika ia memasang lampu baru di kamar Afni.
"Ah mungkin aku salah dengar," ucap Tejo yang memberanikan diri. Namun suara Isak tangis itu semakin keras di telinganya.
Tejo memberanikan diri mencari arah suara, ia memperhatikan seisi ruangan itu, namun tak ada siapa-siapa di sana.
Mata Tejo terkesan melihat lemari indah dan megah di kamar itu. Tejo membuka lemari besar tersebut. Lagi-lagi ia terkejut, ternyata itu bukanlah lemari biasa, namun dalam lemari terhubung ke sebuah tangga menuju ruang bawah tanah.
Tejo menelan ludah, ia sangat takut untuk turun tangga. Namun Tejo penasaran, dengan bermodalkan senter di tangannya, ia mencoba melangkah di anak tangga.
Sampailah di ruang bawah tanah. Mata Tejo tak berkedip menatapi seisi ruangan dengan bantuan senter.
Hingga ia tak sengaja mengarahkan senter ke arah pintu toilet ruang bawah tanah itu. Tejo ternganga melihat seorang perempuan dengan wajah yang di penuhi luka bakar. Wanita itu adalah Laila.
Melihat Tejo membuat Laila merasa punya harapan untuk keluar dari ruangan itu.
"Siapa kamu?" tanya Tejo yang sudah merinding melihat Laila yang tampak menyeramkan dimatanya.
"Tolong saya pak, tolong jangan takut, wajah saya seperti ini karena tiga bulan lalu tersiram air keras, dan pelakunya adalah Afni," tutur Laila dengan Isak tangisnya.
Tejo pun prihatin melihat kondisi fisik Laila, "Astaghfirullah..sudah ku duga, nyonya Afni itu tampaknya menyimpan banyak misteri," ucap Tejo yang masih menatapi Laila dengan rasa kasihan.
"Tolong lepaskan saya pak," pinta Laila berderai air mata.
Tejo melihat kaki Laila yang di rantai lengkap dengan gemboknya. Yang berarti Tejo harus mencari kunci terlebih dahulu.
"Maaf tapi saya tidak bisa melepas ini tanpa kunci, saya tidak bisa mematahkan rantai ini, tapi tenanglah, saya akan pergi mencari kunci," ujar Tejo dengan segala harapan yang ia beri untuk Laila.
Tiba-tiba Tejo mendengar suara mobil Afni yang baru tiba di depan rumah.
"Aku harus pergi, jangan takut ya! aku berjanji akan kembali," ucap Tejo dan kemudian bergegas pergi.
Tejo buru-buru menutup lemari aneh itu dan berlari keluar kamar Afni.
Laila tampak berharap bahwa Laki-laki yang menemukannya tadi akan kembali membantunya.
"Ya Allah.. semoga hamba engkau berikan jalan keluar," batin Laila yang berdoa dalam hatinya.
Afni tampak kesal karena Tejo entah dimana, sehingga gerbang belum dibuka padahal Afni ingin masuk.
__ADS_1
Tak lama kemudian Tejo pun muncul, "Maaf nyonya..tadi saya di toilet," tutur Tejo sembari membuka pagar itu.
Afni tak menjawab namun ia memasang wajah masam.
Ternyata Adel dan Rifki mengikuti Afni ke rumahnya. mereka memantau Afni dari kejauhan. Mereka berbincang di dalam mobil.
"Jadi apa rencana kamu?" tanya Rifki pada Adel.
"Bentar..aku mau tau, si Afni itu tinggal sama siapa aja di rumahnya?" tanya Adel.
"Setau aku dia tinggal sendiri,"
"Masa dia tinggal sendiri di rumah sebesar itu?"
"Ya emang gitu kenyataan Del," jawab Rifki.
"Baiklah kita pantau dulu, kita tunggu sampai dia keluar rumah," tutur Adel.
"Kita nunggu sampai kapan? gimana kalau dia nggak keluar keluar sampai besok?"
"Udah tenang aja, kita tunggu dulu, kalau dia nggak keluar juga, nanti kita pikirkan rencana berikutnya," ujar Adel yang sudah merencanakan banyak cara.
"Surti, sekarang aku tau kenapa kamu selalu mendengar suara aneh dari dalam kamar nyonya," bisik Tejo ke telinga Surti.
Bi Surti tampak penasaran, "Kenapa Jo, duh jadi merinding nih,"
"Tadi aku nggak sengaja mendengar suara itu juga, dan aku mencari arah suara itu, ternyata lemari besar di kamar nyonya itu bukan sembarang lemari, saat lemari itu aku buka, ternyata isinya tidak seperti lemari melainkan tangga menuju ruang bawah tanah," jelas Tejo sejelas jelasnya.
Surti pun ternganga, baru kali ini ia mendengar adanya ruang bawah tanah.
"Terus..terus.."
"Terus aku turun ke sana, dan kamu tau? ada perempuan yang di rantai besi di sana, kasihan banget Sur, ternyata nyonya telah lama menyiksa perempuan itu, aku benar-benar nggak tega," lanjut Tejo.
Surti pun langsung percaya, karena penjelasan Tejo sejalan dengan kejanggalan yang ia alami selama tiga bulan terakhir ini.
"Jadi gimana Jo, apa yang kamu lakuin?"
"Aku mau menolongnya, tapi kakinya di rantai besi yang lengkap dengan gemboknya, aku nggak bisa melepas rantai itu tanpa kunci, jadi aku pun pergi dari sana untuk mencari kuncinya," tutur Tejo.
__ADS_1
Surti semakin merinding, "Jadi benar kalau bos itu penjahat?" tanya Surti ke telinga Tejo.
"Lebih tepatnya psikopat, aku sudah niatkan dalam hatiku Sur, aku akan berhenti bekerja setelah menyelamatkan perempuan itu," ujar Tejo yang amat kasihan pada Laila.
Sementara itu Adel dan Rifki tengah menunggu sampai Afni keluar.
"Dia nggak akan keluar del, giman nih," ujar Rifki yang sudah lelah menunggu.
"Oke, kita akan melakukan rencana ku, dengar baik-baik, kamu temui Afni ke rumahnya, ajak dia menemui Arga, setelah itu serahkan padaku, aku akan menelusuri rumahnya,aku yakin jika dia benar-benar menyembunyikan Laila, pasti ada petunjuk yang bisa di temukan di rumahnya," jelas Adel.
"Oke! kita mulai ya, aku akan ke sana dengan mobil ini, jadi kamu harus bersembunyi," kata Rifki yang tampak serius.
Kini keduanya memulai permainan yang sesungguhnya. Adel pun turun dari mobil, ia bersembunyi di sekitar kawasan rumah Afni.
...******...
Afni menemui Laila di ruang bawah tanah. "Maaf ya Laila sayang, aku telat membawakan mu makan, ini makanlah, jangan biarkan perutmu kosong," ujar Afni sembari memberikan sejumlah Roti.
Anehnya meski Afni mengurung Laila namun ia selalu merawat Laila layaknya peliharaannya.
"Terimakasih Afni!" ucap Laila. Kali ini Laila ingin bersikap baik di depan Afni agar Afni tidak curiga bahwa ia berniat melarikan diri.
"Baru kali ini kamu ucapin terimakasih, ternyata kamu sadar juga bahwa aku memelihara mu dengan baik," ucap Afni sembari tersenyum sinis.
Tiba-tiba ada chat masuk di hp Afni, ia membacanya yang ternyata chat dari Rifki.
"Afni aku sudah di depan rumah mu, aku sengaja menjemput mu, tolong bantu aku menjaga Arga,"
Membaca chat itu membuat Afni harus buru-buru ke depan rumah.
Afni menemui Rifki,
"Rifki, tumben kamu ke sini,"
"Iya Afni, aku kewalahan menghadapi Arga, tolong bantu aku, makanya aku jemput kamu ke sini," kata Rifki.
Tentu saja Afni akan mau jika ini menyangkut Arga. Rifki pun berhasil membawa Afni pergi.
Adel mengintip mobil Rifki yang sudah melintas di depannya. Kini gilirannya untuk beraksi.
__ADS_1