Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
29. Sapu jelek


__ADS_3

Rifki tampak terharu melihat kepedulian Bu Ranti dan Arga padanya. Malam itu tampak Bu Ranti dan Laila tertidur di sofa yang sama, sedang Arga tidur di sofa yang lain.


"Rasanya dari dulu aku lebih sering bersama mereka daripada sama Ibuku sendiri," batin Rifki yang tak henti menatap Arga dan Bu Ranti.


Laila terbangun di tengah malam itu, ia melihat Rifki yang ternyata belum tidur. "Kamu belum tidur Rif?" Laila menatap Rifki yang masih saja melamun.


Rifki hanya mengangguk seolah mengiyakan.


"Kenapa? kamu nggak bisa tidur karena mikirin sesuatu?" tanya Laila.


"Aku lagi mikirin ibu, sekarang dia udah tidur apa belum ya,"


Laila pun duduk di samping Rifki. "Jangan khawatir, ibu kamu tidak akan disiksa di penjara, ia hanya dikurung agar dapat merenungi kesalahannya," ujar Laila menatap Rifki.


"Aku bingung La, entah mengapa aku merasa lebih dekat dengan Bu Ranti daripada ibu ku sendiri, dari dulu ibu selalu sibuk mengurus kekayaan papa Rendra, dia selalu mengajarkan ku ambisi untuk menguasai harta papa, tapi aku tidak bisa bahagia jika menuruti keinginannya, hingga aku sering bermain bersama Arga, meski saat itu Arga membenciku, karena beranggapan bahwa aku merebut kebahagiaannya, tapi Bu Ranti tetap memperlakukan ku dengan baik,aku jadi merasa bersalah pada mereka," tutur Rifki meluapkan isi pikirannya.


"Kalau boleh tau, sejak kapan ibumu menikah dengan papa Arga?" tanya Laila.


"Sejak aku masih kelas 4 SD,memang sudah begitu lama, namun aku baru tau sekarang kalau ibuku Setega ini," jelas Rifki.


"Meski ibu kamu melakukan kesalahan, kamu harus tetap menghormatinya, besok setelah keluar dari sini kamu bisa mengunjungi ibu kamu di kantor polisi," ujar Laila memberi nasehat pada Rifki.


"Kamu temani aku ke sana ya," pinta Rifki.


"Aku sih nggak masalah tapi..aku nggak tau Arga akan kasih izin atau nggak," jawab Laila sembari menatap Arga yang tertidur lelap.


***


Sekitar dua puluh menit lagi azan subuh akan berkumandang, Bu Ranti dan Laila bergegas ke musholla rumah sakit untuk sholat subuh.


Bu Ranti sudah keluar lebih dulu, Laila bingung bagaimana cara membangunkan Arga untuk sholat, karena tak mungkin ia menyentuh yang bukan mahramnya.


"Pak Arga bangun!" ucap Laila membangunkan Arga, namun tak ada respon dari Arga.


Laila pun punya cara sendiri, ia mengambil sapu dan memukul mukul punggung Arga dengan pelan.


Arga pun terbangun, ia melihat Laila yang memegang sapu. Ekspresinya menunjukkan kekesalan, sebab bodyguardnya sendiri memukulinya dengan sapu. Arga melototi Laila.

__ADS_1


Laila yang memegang sapu dengan spontan menjatuhkan sapu itu ketika ia melihat Arga yang sudah terbangun, "Maaf pak, ini demi kebaikan bersama, sebentar lagi azan subuh berkumandang, Assalamualaikum," ucap Laila dan buru-buru berlari keluar dari ruangan.


Setelah Laila keluar Arga malah tersenyum sendiri, ia menatap sapu yang digunakan Laila untuk membangunkannya, "Perempuan ini benar-benar lucu, membangunkan ku dengan sapu jelek ini," ucap Arga sambil tersenyum menatap sapu yang ia pegang.


***


Assalamualaikum warahmatullah..


Assalamualaikum warahmatullah..


Suara dari musholla yang menandakan sholat subuh telah selesai Salam.


Laila yang sudah selesai sholat berjalan keluar musholla. Dan lagi-lagi ia bertemu Haris di depan musholla.


"Assalamualaikum Laila," sapa Haris.


"Waalaikumussalam, Haris, gimana keadaan Nisa? maaf ya kemarin aku belum sempat menjenguk dia, insyaallah nanti aku sempatkan deh, kamu yang sabar ya, jaga dia dengan baik, di saat-saat seperti ini dia pasti sangat membutuhkan kamu," tutur Laila yang berdiri satu meter di depan Haris.


"Makasih atas sarannya La, insyaallah aku aku akan menjaga dia," ucap Haris.


Haris menatap langkah Laila. "Bagaimana mungkin aku semudah ini melupakan makhluk mu yang pernah aku cintai ya Rabb, namun demi menjalankan wasiat ayah, aku akan berusaha menjauhkan pikiran ku dari yang haram," batin Haris.


***


Laila berjalan menuju ruang rawat Rifki sedang matanya dengan tatapan kosong. "Kenapa aku harus ketemu dia lagi sih, pokoknya aku harus bisa menjauhi pandangan ku dari Haris," batin Laila.


"Laila.." panggil Adel dari belakang.


Laila menoleh ke belakang menatap Adel yang berjalan ke arahnya.


"Iya ada apa Del,"


"Aku kemaren ketemu adik kamu, kayaknya muka dia ada lebam lebam gitu, pas aku tanya dia malah diam aja, dia kenapa sih?" tanya Adel.


"Hah..masa sih, apa jangan-jangan dia berhantam ya," ucap Laila yang mulai kepikiran dengan adiknya.


"Aku juga nggak tau La, coba kamu tanya dulu, siapa tau dia ada masalah," kata Adel sambil berjalan dengan Laila.

__ADS_1


"Makasih ya infonya, oh ya kamu kok subuh-subuh udah di sini aja sih,"


"Iya sama-sama, kebetulan tadi malam aku bertugas, ini baru mau pulang, aku duluan ya La," ujar Adel yang berpamitan pada Laila.


***


Pagi yang cerah, Bu Ranti yang sedang bersantai di taman rumah sakit, dikagetkan dengan kedatangan pak Rendra.


"Pagi!" sapa Pak Rendra yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Bu Ranti.


Bu Ranti malah membuang pandangannya dari Pak Rendra.


"Kamu udah sarapan belum, ini aku bawain kamu sarapan, sekalian untuk Arga dan Rifki," ujar Pak Rendra sambil menjinjing kotak makanan yang cukup banyak.


"Aku nggak butuh itu, pergilah dari pandangan ku," cetus Bu Ranti.


"Ranti..apa kita tidak bisa berdamai saja, jangan membenciku seperti ini, aku tau aku salah, aku minta maaf, tapi jangan marahan seperti ini ya," pinta pak Rendra dengan bersungguh-sungguh.


Bu Ranti tak menjawab, ia malas meladeni Pak Rendra.


"Ranti..kamu ngomong dong, jangan diam aja," lanjut Pak Rendra.


Namun tetap saja Bu Ranti membisu, ia tak ingin melihat wajah Rendra lagi.


"Baik, kalau kamu nggak mau bicara, aku akan bernyanyi sekuat kuatnya di sini," ancam pak Rendra.


Bu Ranti tetap kukuh dengan diamnya.


Pak Rendra pun menarik nafas dan memulai usahanya, dengan percaya diri ia mengeluarkan suaranya yang pas Pasan, "Pandangan pertama..awal aku berjumpa.."


BRUK!!


suara sendal jepit Bu Ranti yang ia lemparkan tepat sasaran di punggung pak Rendra. Belum sampai satu paragraf lagu yang di nyanyikan pak Rendra, namun ia harus terdiam menghentikan lagunya.


"Kamu tau nggak sih, di rumah sakit ini banyak pasien yang akan sekarat mendengar suara cempreng kamu ini, aku lebih suka mendengar suara panci yang bertabrakan dari pada mendengar suara mu itu," cetus Bu Ranti dan kemudian melangkah pergi meninggalkan pak Rendra di sana.


Namun pak Rendra tidak patah semangat, ia akan tetap berusaha mendapatkan maaf dari Bu Ranti.

__ADS_1


__ADS_2