
Laila termenung bersandar di dinding, ia mengingat masa-masa bersama Arga. "Baru saja aku merasakan bahagia bersama kamu, sekarang kamu sedang apa ya, apa kamu mencari ku? aku sangat merindukanmu," batin Laila meneteskan air mata.
Laila bisa saja menahan rasa takutnya di ruangan itu,namun ia tidak bisa menahan sakitnya jauh dari Arga. Hatinya sesak menahan rindu pada laki-laki yang sangat ia cintai.
"Ya Allah, kenapa hatiku sangat perih menahan kerinduan ini, aku tak bisa jauh darinya, apa aku yang salah karena terlalu mencintainya, aku tak masalah jika harus berada di kegelapan ini, tapi aku tak bisa menahan rindu ini padanya," batin Laila dengan Isak tangis yang semakin menjadi-jadi.
...*******...
Di sisi lain Arga terbaring lemah di kamarnya, sesekali ia mencoba berdiri untuk pergi mencari Laila. Kini ia tak kuasa menahan kerinduannya.
Arga mengambil bantal yang biasa dipakai Laila. Itulah yang selalu ia peluk, sesekali ia berhalusinasi bahwa ada Laila di sana.
"Laila, sini sayang, jangan pergi lagi, apa kamu sudah makan? apa kamu haus?" tanya Arga menatap Laila yang berdiri di hadapannya.
Mata Arga tampak lesu dan berkaca-kaca menatap sang istri berada di sana.
"Jangan pergi lagi ya, tetap lah di sisiku, aku akan menjagamu,"
Tiba-tiba Bu Ranti datang, ia menangis melihat putranya yang sudah seperti orang gila di kamar. Seharian Arga hanya memanggil Laila dan berbicara sendiri seolah ada Laila di sana.
"Arga! sadarlah, istighfar nak, mama tau kamu sangat mencintai Laila, bukan cuma kamu yang merasa kehilangan, tapi mama juga, keluarga Laila juga pasti sangat merindukan Laila, tapi mama mohon jangan sampai kamu seperti ini, jangan gila hanya karena Laila hilang," bentak mama mengomeli putranya.
"Ma.. Laila tadi ada di sini, aku nggak bohong ma, sekarang dia pergi lagi," ucap Arga dengan tatapan kosong. Matanya bengkak karena menangis semalaman. Rasa bersalah dan rindu bercampur aduk merusak pikiran Arga.
Isak tangis Bu Ranti semakin tak terpendam melihat kondisi Arga yang memprihatinkan, "Nggak ada Laila di sini! kamu yang berhalusinasi, mama juga pernah kehilangan orang yang dicintai, tapi mama bisa bangkit Arga, dan kamu juga harus bisa bangkit, jangan lemah seperti ini," gerutu Bu Ranti yang berusaha tegar.
Seperti biasa, Adel dan Rifki kembali bertengkar di depan rumah Arga.
"Kamu sadar nggak sih, dari tadi ide kamu mencari Laila nggak ada yang masuk akal, masa kita nyari Laila ke hutan sana, kamu gila ya!" gerutu Adel yang tampak geram pada Rifki.
"Kamu yang gila! kamu mikir nggak sih, di film film biasanya orang yang di culik itu di ikat di hutan," tegas Rifki.
"Kamu kebanyakan nonton film, aduh aku benar-benar gila kalau harus kerja sama untuk mencari Laila, kamu kayaknya susah di ajak kerja sama," gumam Adel dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ya udah gini aja, gimana kalau kita ke mall aja, kan Laila hilangnya di sana, kita bisa cari lewat CCTV," tutur Rifki.
"Ya udah deh, ayok," ucap Adel. Baru saja mereka melangkah, tiba-tiba Afni datang.
"Arga mana Rif," sapa Afni dengan wajah yang tampak sedih.
"Di dalam,"
"Aku benaran merasa bersalah, harus nya aku menyelamatkan Laila meski harus mengorbankan nyawa ku, aku nggak tega melihat Arga terpuruk seperti ini," ujar Afni berderai air mata.
"Udahlah Afni, jangan nyalahin diri sendiri lagi," tutur Rifki.
"Saya mau nanya, dimana tempat Laila di culik? dan seperti apa orang yang menculiknya?" tanya Adel pada Afni.
"Orang yang menculik Laila dua laki-laki bertubuh besar, saat itu aku dan Laila sedang di perjalanan menuju mall, tiba-tiba ada yang menghentikan kami, dan mereka langsung menangkap Laila," jelas Afni dengan raut wajah yang tampak meyakinkan.
Rifki pun langsung termakan omongan Afni. Namun Adel adalah perempuan yang cerdas dengan nilai tertinggi sejak ia masih TK. Ia pernah belajar psikologi, sehingga ia mengerti sedikit tentang kepribadian seseorang.
"Maksud kamu?" Afni heran mendengar Adel yang tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Nggak, maksud aku..kamu nggak kenapa-napa kan? mereka nggak ngapa-ngapain kamu?" tanya Adel lagi.
"Aku juga nggak tau kenapa aku nggak ikut di culik, harusnya aku aja yang mereka culik," jelas Afni.
"Oh gitu, ya udah kami pergi dulu ya, kami akan ke TKP, tadi kamu bilang Laila di culik di jalan menuju Mall kan? kami akan ke sana sekarang," ujar Adel.
"Iya Del, ya udah aku masuk dulu ya," ucap Afni dan kemudian memasuki rumah Arga.
Adel masih memperhatikan langkah kaki Afni. Ia masih terpikir dengan raut wajah Afni yang tampak aneh. Air mata Afni tampak tak murni di pandangan Adel.
"Hello..mau sampai kapan ngelamun di sini, ayok buruan," tegur Rifki.
Adel dan Rifki pun bergegas ke mobil untuk menuju TKP.
__ADS_1
Afni menemui Bu Ranti yang tampak menangis di ruang tamu. "Tante..kok Tante nangis?" tanya Afni yang perhatian pada Bu Ranti.
"Tante nggak tau lagi gimana caranya menghibur Arga, dia hampir gila karena memikirkan Laila, bahkan sesekali dia mencoba keluar untuk mencari Laila, tapi dia terjatuh ke lantai, ia benar-benar lemah saat ini, sekuat apa pun Tante membujuknya dia tetap tidak mau makan," tutur Bu Ranti sambil menangis di samping Afni.
"Tante yang sabar ya, aku akan mencoba menenangkan Arga," ucap Afni.
Afni berjalan menuju kamar Arga, namun ternyata sudah di kunci.
"Arga, kamu baik baik aja kan?" tanya Afni dari luar pintu.
"Pergilah! jangan ganggu aku, aku sedang bermimpi bertemu Laila, jangan ganggu tidur ku," bentak Arga dari dalam kamar.
Afni merasa kesal dengan jawaban Arga itu, ia pun pergi dengan wajah kesalnya.
...******...
Di perjalanan, Rifki yang menyetir tampak menambah kecepatan mobilnya.
"Jangan ngebut juga kali Rif, kamu gila beneran ya!" gerutu Adel yang takut terjadi kecelakaan.
"Iya..iya.." Rifki mengurangi kecepatan mobilnya.
"Rif..aku pernah belajar psikologi, dulu aku berniat jadi psikolog, tapi orang tuaku lebih suka jika aku jadi dokter,"
"Terus..aku harus bilang wow gitu?" Rifki memotong pembicaraan Adel.
"Dengar dulu.."
"Iya iya, lanjutkan!"
"Aku sedikit paham dengan masalah mental seseorang, aku lihat Afni itu ada masalah dengan sikap dan ekspresi nya, setiap kali melihatnya aku merasa ada sesuatu yang salah, tapi aku juga tidak mengerti secara pasti, karena aku pun tidak begitu ahli di bidang itu," tutur Adel yang mengingat ingat momen dimana ia menatap mata Afni.
Rifki masih tak mengerti dengan argumen Adel itu.
__ADS_1