Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz #11


__ADS_3

Maysa menyusul Ainun ke toilet.


"Kamu ngapain berdiri di sini, ayok Ainun, kami udah nungguin kamu loh," tegur Maysa yang mengagetkan Ainun di sana.


"I-iya maaf kak," ucap Ainun gugup. Terpaksa Ainun ikut kakaknya ke meja tadi.


Sesampainya di sana, Ainun hanya menunduk berusaha menutup wajahnya dengan jilbabnya.


Hilman menatap Ainun yang menghindari pandangannya.


"Ehem..Ainun, kenalin ini teman aku namanya Hilman," kata Farhan memulai pembicaraan.


Ainun pun terpaksa mengangkat wajahnya dan memaksakan senyuman.


"Iya kak, selamat malam pak Hilman," sapa Ainun yang tersenyum kaku. Ia terpaksa menyapa Hilman karena sudah telanjur di perkenalkan Farhan.


"Ainun, kamu juga di sini," sapa Hilman seolah dia tidak tau bahwa Ainun adik Maysa. Padahal ia sudah tahu semuanya.


"Iya pak, maaf pak, saya baru tau kalau pak Hilman teman kakak ipar saya," kata Ainun.


"Kok kebetulan sekali ya, ternyata Hilman dan Ainun sudah pada kenal," tutur Maysa tersenyum ramah.


Pesanan makanan pun datang,


"Ayok silahkan di makan," ucap Farhan.


Selama makan Ainun tak berani menatap Hilman, ia masih teringat kejadian tadi sore dimana ia menyiram Hilman dengan air cucian sayuran.


"Kok aku baru tau ya kalau pak Hilman temannya kak Farhan, aduh..mau di taro dimana muka ku ini,aku udah berusaha menghindar dari pak Hilman tapi tetap aja masih ketemu," batin Ainun.


"Ainun, kamu kapan nikah?" tanya Farhan mengejutkan Ainun.


"Hah nikah? aku belum kepikiran ke situ kak," jawab Ainun dengan gugup.


"Belum ada calonnya atau gimana?" tanya Maysa.


Mendengar itu ekspresi Ainun seketika berubah, ia mengingat perkataan ibu tadi pagi yang menyuruhnya menikah dengan laki-laki tua yang mapan.


"Aku belum siap nikah kak," ucap Ainun pelan.


"Kalau misalnya ada yang ngelamar kamu sekarang gimana? apa kamu akan terima?" tanya Farhan.


"Aku juga belum tau kak," jawab Ainun pelan.


Hilman melirik lirik ke arah Ainun.

__ADS_1


"Bidadari ku, rasanya aku ingin melamar kamu saat ini juga, tapi masalahnya aku belum izin pada kedua orang tuaku," batin Hilman.


Usai makan Ainun langsung buru-buru pulang, khawatir bertemu lagi dengan Hilman.


***


Di rumah,


Ainun baru saja sampai, ibu menyambutnya.


"Baru pulang!" tanya ibu.


"Iya Bu, tadi habis ketemu sama kak Maysa, katanya besok dia mau ke sini, mau ketemu ibu," tutur Ainun menatap ibu yang duduk di sofa.


"Oh gitu, ya udah kamu ganti baju sana, setelah itu ibu mau bicara sama kamu," ujar Ibu.


Ainun pun bergegas ke kamarnya untuk menganti pakaian.


"Kira-kira ibu mau bicara soal apa ya," batin Ainun yang bertanya tanya dalam hatinya.


Ainun kembali menghadap sang ibu.


"Ibu sudah pilihkan beberapa pelaminan yang bagus buat kamu, kamu boleh milih yang mana yang kamu suka," kata ibu pada Ainun.


"Maksud ibu apa? pelaminan untuk siapa Bu? siapa yang mau nikah?" tanya Ainun yang masih bingung.


"Kamu Ainun, kamu akan menikah dengan pak Parto, supaya hidup kamu terjamin,biar kamu nggak repot-repot kerja buat biayain ibu," jelas ibu menatap tajam Ainun.


Seketika mata Ainun berkaca kaca.


"Bu, aku nggak pernah bilang kalau aku setuju menikah dengan laki-laki itu, kenapa ibu mengambil keputusan sepihak kayak gini?" ucap Ainun pelan tapi tajam.


"Kamu masih menganggap aku ibu mu kan? jadi nggak usah membantah Ainun, sekian lama aku membesarkan kamu, setelah tumbuh dewasa kamu malah melawan!" bentak ibu menatap Ainun.


Ainun menghela nafas dalam.


"Bu, aku tau aku bukan anak kandung ibu, tapi nggak gini caranya Bu, apa sebenci ini ibu sama aku, semua hal dalam hidup aku harus ibu yang nentuin, apa nggak ada rasa kasihan ibu sedikit pun sama aku, Bu aku mohon tolong mengerti aku Untuk kali ini aja, jangan memaksakan kehendak ibu, jangan ikuti ego ibu, aku juga butuh bahagia Bu," jelas Ainun sambil air matanya menetes.


"Justru karena ibu peduli sama kamu, makanya ibu susah payah menjodohkan kamu dengan pak Parto supaya hidup kamu terjamin," tegas Ibu.


"Terjamin tersiksa kan maksud ibu, laki-laki se keras pak Parto mungkin hanya akan menyiksa aku setiap hari Bu, itu kan yang ibu harapkan! jika alasannya adalah uang, maka aku akan berkerja sekuat mungkin untuk memberi ibu uang sebanyak yang ibu mau," jelas Ainun menatap ibu.


"Kamu dan ibumu memang sama, sama-sama keras kepala, sama-sama perempuan pembantah," bentak ibu yang spontan mengungkit almarhumah ibu kandung Ainun.


"Kalau memang ibu benci sama aku kenapa ibu nggak bunuh aku aja, biar sekalian ibu puas!" ucap Ainun pelan tapi tajam.

__ADS_1


"Jaga bicara kamu Ainun, saya tidak sekejam itu, saya masih punya hati membesarkan kamu, kalau bukan karena kemurahan hati saya mungkin kamu hanya akan jadi anak di pinggiran jalan," tegas Ibu tanpa memikirkan perasaan Ainun.


Air mata Ainun semakin deras, seolah ia tak sanggup lagi berbicara dengan ibu.


"Harusnya kamu berterima kasih pada ibu," lanjut ibu.


"Iya Bu terimakasih telah membesarkan aku, tapi tolong berhenti berusaha meyakinkan aku kalau ibu benar benar membenciku, dengan semua yang sudah ibu lakukan selama ini, justru malah semakin menunjukkan kalau ibu menyimpan dendam, Bu selama ini aku diam bukan berarti aku tidak sakit, aku sakit Bu,sakit sekali melihat ketidak adilan ibu setiap hari," tutur Ainun berderai air mata.


Ibu tersenyum sinis,


"Masih sempat sempatnya kamu berbicara soal keadilan, coba kamu pikir kan dulu, dengan status kamu di rumah ini, apa kamu berhak mendapat keadilan! hal yang paling adil untuk kamu adalah sadar diri, sadar diri posisi kamu di rumah ini," cetus ibu dengan tajam.


"Bu..padahal aku sayang sama ibu, tapi ini yang ibu lakukan," kata Ainun yang hatinya kecewa. Ainun bergerak  pergi ke kamarnya mengunci diri.


Ia bersandar di balik pintu.


"Ya Allah,musibah apa lagi ini, setelah sekian rasa sabar yang aku tanam, apa aku masih bisa bertahan, aku tak bermaksud mengeluh, tapi mengapa kebahagiaan tak pernah berpihak padaku," batin Ainun yang tak henti menangis.


***


Keesokan hari,


Ainun berjalan sambil mencari angkot di jalan. Tiba-tiba laki-laki bernama pak Parto itu menegurnya.


"Ainun Anisah!" panggil laki-laki itu.


Ainun menoleh ke belakang.


"Akhirnya aku ketemu kamu juga, aku udah nggak sabar menunggu hari pernikahan kita," ucap pak Parto.


"Pak saya tidak pernah bilang kalau saya mau nikah sama bapak," cetus Ainun.


"Jangan panggil pak dong, panggil aja Abang, atau Mas juga boleh," ucap Pak Parto.


Ainun tetap cuek tak merespon laki-laki itu.


"Ayo aku antar kamu kerja," ajak pak Parto.


"Nggak usah, nggak perlu repot-repot pak," tolak Ainun.


"Nggak pa pa, nggak repot kok, ayok!" tegas pak Parto dan menarik tangan Ainun.


Ainun spontan ingin melepas tangannya namun pak Parto tak melepasnya.


Tiba-tiba laki-laki berjas hitam datang  melepas tangan pak Parto dari Ainun.

__ADS_1


__ADS_2