
Hilman menemui Ainun dan Maysa yang sedang mengobrol.
"Boleh saya duduk" sapa Hilman.
"Pak Hilman, iya silahkan pak, masa bapak pake izin segala,ini kan restoran milik pak Hilman," tutur Ainun mempersilahkan Hilman.
"Iya silahkan duduk, maaf ya, kalau aku ganggu kerjaan Ainun," ucap Maysa pada Hilman.
"Oh iya nggak pa pa Maysa, nggak masalah," jawab Hilman.
"Makasih banyak ya," ucap Maysa.
"Iya sama-sama, saya udah dengar semua permasalahan kalian tadi," ucap Hilman.
"Hah?" Ainun tercengang karena kaget.
"Saya bersedia membantu kamu Ainun," ujar Hilman menatap Ainun.
"Nggak usah pak, pak Hilman nggak usah mikirin masalah saya, saya nggak enak sama bapak, saya udah terlalu banyak bikin masalah di sini, padahal bapak juga baru kenal sama saya," tolak Ainun pelan.
"Nggak pa pa Ainun, saya cuma mau bantu kamu," tegas Hilman.
"Hilman..kamu nggak perlu repot-repot ya, aku nggak mau ngerepotin orang lain dalam masalah kami, terimakasih atas kepedulian kamu, tapi aku akan menyelesaikan masalah kami," tutur Maysa pada Hilman.
"Justru karena itulah aku ingin terlibat membantu kalian, karena aku adalah sahabat Farhan, suami kamu," tutur Hilman pada Maysa.
Ainun hanya menunduk, ia bingung harus bagaimana menyikapi masalah itu.
"Jangan Hilman, lagi pula aku juga kerja kok, aku pasti bisa kumpulin uang untuk menyelesaikan hutang ibuku," tutur Maysa.
"Baiklah kalau kalian nggak mau, tapi kalau ada apa-apa, hubungi aku aja ya, aku siap bantu kalian," ucap Hilman pada Ainun dan Maysa.
"Terimakasih banyak pak," ucap Ainun.
***
Hari ini Ainun pulang bekerja berjalan kaki menuju terminal bis, tepat saat Ainun lewat dari depan Bank, ia melihat ada yang janggal. Ada seorang ibu-ibu yang di ikuti oleh dua laki-laki tinggi besar di belakang si ibu. Ibu itu tidak sadar ada yang mengikutinya.
Ainun mengikuti dari belakang, dan benar saja tepat di tempat yang sepi, kedua laki-laki itu beraksi, mengeluarkan pisau tajam dan mengancam ibu tersebut.
Ainun yang melihat itu ingin membantu, namun ia sedikit takut karena ia hanyalah perempuan biasa.
__ADS_1
Namun melihat ibu tersebut Ainun tidak tega, hingga ia mencari akal.Sebenarnya niat kedua laki-laki itu hanyalah ingin mengambil tas si ibu yang berisi uang.
"Saya akan berikan semua yang saya punya, tapi tolong jangan lukai saya," ucap ibu itu ketakutan.
Kedua laki-laki itu mengambil tas ibu tersebut dan bergegas pergi sebelum ada orang yang melihatnya.
Ainun yang sudah memiliki ide dari tadi menunggu sampai kedua laki-laki itu lewat di depannya.
Di waktu yang singkat tadi Ainun telah membuat jebakan sederhana agar kedua laki-laki itu jatuh. Dan benar saja begitu melintas di jebakan, kedua laki-laki itu jatuh hingga tas tersebut ikut jatuh. Ainun yang bersembunyi langsung keluar dan menukar tas tersebut dengan tasnya. Kebetulan sekali tas itu sangat mirip dengan tasnya.
Ainun menyembunyikan tas itu di jilbabnya.
"Masnya nggak pa pa, apa perlu saya cari bantuan?" sapa Ainun pada kedua laki-laki itu.
Ainun mengambil ponselnya seolah ingin menelpon seseorang padahal ia hanya menakut-nakuti preman itu.
Tiba-tiba saja banyak orang yang lewat dari tempat itu. Kedua preman tersebut lari membawa tas ibu tadi tanpa sadar bahwa tas itu telah di tukar.
Ainun membuka tas tersebut, "Maasyaa allah," ucap Ainun yang kaget melihat isi tas di penuhi uang.
Ainun buru-buru menemui ibu tadi yang masih shock. Ibu tersebut masih panik, ia menelpon anaknya untuk menjemput.
"Assalamualaikum Bu, ini tas ibu kan," sapa Ainun sambil memberikan tas itu.
"Waalaikumussalam, iya benar," jawab Ibu lalu segera mengecek isi tasnya.
"Ada yang hilang nggak Bu?" tanya Ainun.
"Semuanya lengkap, makasih ya nak, sebenarnya saya nggak pa pa kalau uang ini hilang, tapi dalam tas ini banyak benda benda penting saya," tutur si ibu.
"Iya sama-sama Bu, lain kali ibu hati-hati ya, saya pergi dulu Bu," ucap Ainun yang permisi pamit.
"Bentar dulu nak, saya sangat berterimakasih sama kamu, siapa nama kamu nak?" tanya si ibu.
"Ainun Bu," jawab Ainun.
"O..nama kamu Ainun, panggil aja saya Bu Sinta," jawab si ibu.
"Iya Bu Sinta," jawab Ainun sambil tersenyum.
"Sekali lagi terimakasih ya, tolong kamu terima ini," ucap Bu Sinta sambil memberikan sejumlah uang untuk Ainun.
__ADS_1
"Nggak usah Bu, saya nolongin ibu bukan untuk mencari imbalan, kalaulah itu tujuan saya, apa bedanya saya dengan preman tadi," tolak Ainun dengan lembut.Ibu tersebut kagum melihat ketulusan Ainun.
"Oh ya gimana ceritanya nak, kok kamu bisa merebut tas ini?" tanya Bu Sinta.
"Tadi saya sengaja menjebak preman itu biar mereka jatuh Bu, setelah itu saya tukar aja tasnya dengan tas saya, kebetulan tasnya mirip," jelas Ainun.
"Pintar juga kamu nak," puji Bu Marissa pada Ainun.
"Iya Bu, soalnya kalau saya melawan terang-terangan sudah pasti saya kalah, satu-satunya cara adalah menjebak mereka," lanjut Ainun.
"Iya juga sih," ucap Bu Sinta.
"Oh ya bentar lagi azan, saya duluan ya Bu," ucap Ainun.
"Kamu mau pulang ke rumah kamu?" tanya Bu Sinta.
"Iya Bu, tapi saya mau ke mesjid dekat sini dulu, takutnya nanti nggak sempat kalau sholat di rumah," jelas Ainun.
"Ya udah saya ikut ya," pinta Bu Sinta.
"Boleh, mari Bu," jawab Ainun.
Bu Sinta dan Ainun pun berjalan menuju mesjid.
Bu Sinta melihat kekhusyukan Ainun dalam sholatnya. "Ternyata masih ada anak gadis yang baik di zaman ini, gadis ini benar-benar Sholehah, jujur dan tulus," batin Bu Marissa.
Usai sholat Ainun pun pamit pulang pada Bu Sinta.
"Bu, saya duluan ya, takut ibu saya nyariin," ucap Ainun.
"Iya Ainun, lagi pula bentar lagi anak saya datang menjemput saya," tutur Bu Sinta. Ainun pun pergi. Baru saja Ainun pergi, Hilman datang menjemput mamanya.
"Mama nggak pa pa kan, ma aku udah sering bilangin mama jangan pernah keluar sendiri bawa-bawa uang banyak, mama tadi mau kemana sih," ujar Hilman yang panik.
"Iya maaf, tadi mama mau ke panti asuhan, kamu tau sendiri kan, panti asuhan yang sering mama kunjungi itu kan cuma mau menerima uang cash," jelas mama Hilman.
"Ya udah mama nggak usah mikirin uang yang hilang, yang penting mama selamat," tutur Hilman.
"Siapa bilang uangnya hilang, nih uangnya masih utuh, tadi ada bidadari cantik nolongin mama, gadis itu benar-benar Solehah, sholat nya khusyuk banget Hilman," jelas mama Hilman.
"Bidadari? kuntilanak kali ma, orang udah malam," canda Hilman.
__ADS_1
"Bukan, ini asli perempuan cantik, kamu ini nggak percayaan bangat sih," cetus mama.
"Iya iya aku percaya, ayok pulang," Hilman membukakan pintu mobil pada mamanya.