
"Bodyguard bercadar ku mana ma?" tanya Arga sembari menemui mama yang asyik menonton TV.
"Bodyguard yang mana sih, Laila maksud kamu? dia istrimu bukan lagi bodyguard,"
"Iya..iya ma..itu maksudnya,"
"Itu di kamar," jawab mama singkat karena Bu Ranti masih fokus dengan sinetron yang ia tonton.
Arga mendapati Laila yang sedang berkaca di kamar sembari menangisi wajahnya.
"Aku tak pernah menyangka wajahku bisa seseram ini, tapi kenapa Arga tak pernah mengomentari wajah ku ini, aku jadi semakin tidak enak padanya, mungkin dia sengaja melakukan ini agar aku tidak bersedih karena wajahku," batin Laila sembari menghadap kaca.
Air mata menetes di pipinya karena rasa haru mengingat Arga yang selalu memperlakukan ia dengan baik meski dalam keadaan terburuknya.
Arga memperhatikan Laila yang sibuk bercermin. "Jangan membenci wajah mu sayang, mungkin Allah sedang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur, jadi jangan mengeluh, kamu tetap cantik di mata ku," Arga mendekat dan berdiri di belakang Laila.
"Di satu sisi aku bersedih karena wajah ku hancur, tapi di sisi lain aku bersyukur karena keadaan ku ini membuat ku yakin bahwa kamu adalah laki-laki setia, aku pernah berpikir bahwa kamu akan meninggalkan ku karena wajah ku yang rusak," ucap Laila sedang matanya berkaca-kaca.
"Bukankah berkali kali aku bilang bahwa aku akan tetap mencintaimu meski aku buta, di mata ku kamu tetap cantik, lagi pula jangan terlalu di pikirkan lagi sayang, besok kan kamu akan menjalani pengobatan,"
Laila pun terharu dengan perkataan Arga, dengan mata berkaca-kaca ia memeluk erat tubuh Arga. Namun tak bisa di pungkiri bahwa ahli silat seperti Laila akan memeluk seseorang seolah mencekik tubuhnya.
"Sa- sayang..bisakah kau memelukku tanpa tenaga silat mu, kita tidak sedang di area tinju," keluh Arga.
Laila melepaskan tangannya sambil senyam-senyum sendiri, "Maaf..maaf..apa kamu baik-baik aja, apa tulang rusuk mu patah?"
"Kamu pikir kamu sehebat apa? dengar ya, sekuat apa pun silat mu, tapi tetap saja cuma kamu yang ingin aku lindungi," ujar Arga.
"Astaghfirullah..lalu bagaimana dengan mama,"
"Iya..maksudku selain mama,"
"Nggak..tadi kami bilang cuma aku satu-satunya, aku adukan ke mama ya," canda Laila sembari berjalan menghampiri mama yang sibuk menonton.
"Ma..mama.."
"Iya kenapa Laila?"
"Kata Arga perempuan yang mau dia lindungi cuma Laila, masa dia nggak lindungi mama sih, parah bangat kan ma," ucap Laila yang mengompori.
"Nggak..gitu ma.." Arga mendekat ke arah Bu Ranti.
__ADS_1
Bu Ranti memukuli anaknya dengan bantal, "Dasar anak kurang ajar!" gerutu Bu Ranti.
Laila tertawa lepas melihat Arga yang kewalahan menghadapi mamanya.
"Udah..udah ma..aku cuma bercanda kok, laki-laki ini berjanji melindungi kita, kita lihat aja nanti kalau dia ingkar janji," ucap Laila menghentikan tangan mama yang memukuli Arga.
"Kamu sih.." Arga mencolek pipi Laila.
"Rasain," Laila tertawa lepas.
"Ah kalian ini seperti anak kecil saja, pasangan lain dengan bahagianya jalan jalan atau dinner berdua, eh kalian malah kayak anak kecil, lari sana lari sini.." gerutu mama dan melanjutkan sinetron kesukaannya.
"Assalamualaikum," sapa Rifki yang menerobos masuk ruang tamu.
Arga dan Laila menoleh dan serentak menjawab salam. "Waalaikumussalam,"
"Maaf, kami lagi nggak terima tamu," canda Arga melototi Rifki.
"Aku bukan tamu ya, aku adik ipar Laila, iya kan Laila,"
Laila pun hanya mengangguk seolah mengiyakan, "Iya aja deh,"
"Kan Rifki adik kamu, berarti adik ipar aku kan?" kata Laila
"Terserah kalian deh, ada apa lagi Rif?" tanya Arga.
Dengan rasa semangat Rifki mengambil nafas dalam-dalam. "Aku akan melamar Adel," tegas Rifki.
"hah?" Laila tampak terkejut.
"Kamu nggak salah Rif, tapi bagus juga sih, jadi kamu nggak gangguin kami lagi," ucap Arga, ia merasa lega karena ia tidak akan khawatir lagi jika Rifki memiliki perasaan pada Laila.
"Aku serius ingin menghalalkan pandangan ku pada Adel,jadi tolong bantu aku untuk ke rumahnya malam ini," tegas Rifki sembari duduk di sofa.
"Ini terlalu mendadak, tapi aku akan mendukung mu, aku yakin kamu akan menjaga teman ku dengan baik, semoga kamu tidak mengecewakan dia," tutur Laila yang tampak setuju dengan niat baik Rifki.
"Sayang.. bagaimana mungkin kamu percaya dengan laki-laki yang satu ini," ucap Arga yang sengaja memancing Rifki.
"Bisa diam nggak!" cetus Rifki menatap sinis Arga.
"Udah sayang..kamu suka bangat ya gangguin adik kamu sendiri," tegur Laila menghentikan keusilan Arga.
__ADS_1
"Iya deh iya..nanti malam kita akan jadi pasukan pejuang lamaran, mau nggak mau kita harus nurutin Rifki," ujar Arga pasrah.
"Gitu dong..kamu kan jadi kelihatan tampan," puji Laila menatap Arga.
"Benarkah? apa sekarang aku lebih tampan dari pangeran?"
"Iya sayang.. lihatlah hidung mu mancung, postur tubuh mu tinggi, sangat Perfect,"
"Kamu memang tidak pernah salah menilai seseorang," ucap Arga sembari memeluk istrinya.
Rifki ternganga melihat tingkah Arga dan Laila yang sok romantis di depannya. "Hello..aku masih di sini.."
"Oh iya..masih ada orang sayang, kita harus hargai dia," kata Arga dengan raut wajah seolah meledek Rifki.
"Sudahlah, aku pulang saja, lama-lama aku nggak tahan juga lihat muka Arga yang menyebalkan, oh ya jangan lupa malam ini," kata Rifki dan buru-buru pergi.
...********...
Malam hari selepas isya,
"Perempuan mana sih yang mau kita lamar?" tanya pak Rendra pada Rifki. Meski Rifki adalah anak angkatnya namun hingga kini hubungan keduanya masih terjalin baik.
"Namanya Adel pa, perempuan Sholehah, dia sahabat Laila," jelas Rifki.
"Iya..iya..iya..kalau sahabat Laila sih papa yakin kalau perempuan itu baik," ujar Pak Rendra.
Sampailah di rumah Arga. Benar saja Bu Ranti, Arga, dan Laila sudah menunggu di teras rumah.
"Datang juga dia," Arga menghela nafas lega.
Mata Bu Ranti melototi Pak Rendra yang ternyata juga ikut. "Mama nggak usah ikut deh, mama ngantuk," ujar Mama dan melangkah masuk, namun Rifki menahannya.
"Ma..jangan gitu dong,Rifki butuh mama," ucap Rifki menahan Bu Ranti.
Bu Ranti pun terharu ketika Rifki memanggilnya dengan panggilan mama. hingga Bu Ranti sedikit berubah pikiran.
"Benar Ranti, kalau kamu tidak cinta lagi sama saya mestinya kamu nggak perlu khawatir dengan kehadiran saya, kecuali jika kamu masih cinta sehingga kamu malu melihat saya," pak Rendra bersuara.
"Sorry ya, nggak level. ya udah deh mama ikut,"
"Alhamdulillah," ucap Arga dan Laila serentak
__ADS_1