
Laila tersadar dari pingsannya, namun rasa sakit masih terasa pekat di kulit wajahnya.
Afni kemudian menemui Laila lagi, ia memperhatikan Laila dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Matanya terhenti bergerak ketika melihat gelang mutiara biru di tangan Laila. Ia merasa tertarik untuk memilikinya.
"Gelang mu bagus juga, ini untuk ku saja ya, pasti ini sangat bagus di tangan ku," ucap Afni dan menarik paksa gelang Laila.
...*******...
Pagi hari,
Dengan semangat membara Arga kembali bergerak mencari Laila. Pagi itu Ridwan datang ke rumah Arga, ia bermaksud untuk bekerja sama mencari Laila.
"Aku akan ikut dengan mu mencari kakak ku, bagaimana pun juga aku tau ini sepenuhnya bukan salahmu," ujar Ridwan menatap Arga.
"Terimakasih telah mengerti aku, aku tau kalian sangat kecewa, tapi aku janji akan membawa Laila kembali," ucap Arga meyakinkan Ridwan.
Arga dan Ridwan pun bergegas ke tempat di culik nya Laila, dengan harapan mendapat sebuah petunjuk.
...*******...
Adel sedang menemui salah seorang temannya yang merupakan pemilik sebuah apotek. Adel yang asyik mengobrol dengan temannya itu tak sengaja melihat Afni di sana.
Afni tak menyadari bahwa Adel melihatnya. Adel memperhatikan Afni yang sedang membayar sejenis salep kulit yang terbakar.
Adel pun menemui Afni, "Kamu kenapa Afni, kok beli salep kulit, kamu baik-baik aja kan?" tanya Adel memperhatikan plastik pembungkus obat di tangan Afni.
Afni terkejut melihat Adel tiba-tiba ada di hadapannya. "Oh ini..buat teman aku, tangannya nggak sengaja kena air panas," kata Afni.
Adel memang percaya dengan perkataan Afni, tapi seketika matanya tertuju pada gelang di tangan Afni. Ia merasa gelang itu familiar.
"Aku duluan ya, soalnya teman aku udah nunggu," ucap Afni dan buru-buru pergi.
Adel bertanya-tanya dalam hatinya, ia merasa itu seperti gelang yang ia berikan pada Laila.Namun ia tak melihat dengan jelas.
...--------...
__ADS_1
Seharian Arga dan Ridwan mencari Laila namun tak ada hasil yang didapatkan. bahkan jejaknya tak ditemukan. Begitupun polisi yang berkata kasus ini bagai jalan buntu, tak ada keterangan yang jelas dan petunjuk yang di temukan.
Arga semakin khawatir dengan kondisi Laila, ia takut terjadi sesuatu. Setiap detik waktunya ia habis untuk memikirkan Laila.
Hari demi hari berlalu, Arga bagai tak punya semangat hidup, bahkan ia tak memperdulikan dirinya lagi. Kini kumis dan jenggot tumbuh karena ia tak pernah berkaca dan mencukurnya.
Ia hanya murung di kamar, dan sesekali berhalusinasi bahwa ada Laila di sana.
Orang-orang sekitar telah menganggap Arga gila Karena jika ia keluar rumah, ia selalu memanggil manggil nama Laila.
...ΩΩΩΩΩ...
3 Bulan kemudian,,,
Kini White horse di kendalikan oleh Rifki, namun ia melakukan ini untuk Arga, bukan semata untuk merebutnya.
Rifki dan Adel telah berusaha selama tiga bulan terakhir ini, namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Laila.
Seluruh kota telah ditelusuri oleh orang suruhan papa Arga, namun tetap saja mereka tak menemukan Laila.
"Lihatlah dia, aku semakin khawatir dia akan benar-benar gila!" ucap Rifki pada Adel yang berdiri di depan pintu kamar Arga.
"Seburuk-buruknya keadaan dia, tapi saat ini yang paling patut dikhawatirkan adalah kondisi Laila, aku bahkan belum menemukannya," ujar Adel sedang matanya berkaca-kaca karena teringat akan sahabatnya itu.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan sekarang Del, semuanya telah kita telusuri, dan pencarian sudah mencakup seluruh kota ini, bahkan orang suruhan papa sudah turun tangan, tapi tidak ada hasil, kemana lagi kita harus mencarinya," tutur Rifki yang tampak khawatir.
Adel pun terpikir akan sesuatu, ia memikirkan banyaknya hal janggal dengan seseorang yang tidak lain adalah Afni.
"Sebenarnya Afni itu orang seperti apa sih?" tanya Adel.
"Kok tiba-tiba kamu nanyain dia?" Rifki pun heran dengan pertanyaan Adel.
"Aku sedang mencari tau sesuatu saat ini, nanti akan ku ceritakan, ini bukan tempat yang tepat untuk berunding," tutur Adel.
Tak lama kemudian Afni muncul di rumah Arga. "Kalian ada di sini juga!" sapa Afni menemui Adel dan Rifki.
"Iya, soalnya kami khawatir Arga semakin memburuk," ujar Rifki menatap Afni.
__ADS_1
Sementara Adel memperhatikan Afni dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia kembali memperhatikan gelang di tangan Afni.
Setelah mengamati ia sadar bahwa gelang itu benar-benar milik Laila, karena Adel sendiri yang merangkai mutiara itu menjadi gelang dan memberikannya pada Laila.
"Gelang mu bagus ya, beli dimana?" tanya Adel pada Afni.
"Oh ini beli di toko perhiasan," jawab Afni.
"Ini tidak ada di jual di toko perhiasan, bahkan mutiara buatan seperti ini hanya ayahku yang tau cara pembuatannya, sepertinya ada yang tidak beres dengan perempuan ini," batin Adel yang semakin curiga pada Afni.
"Rif, kita pergi yok, kita coba cari Laila lagi, kita harus semangat," ucap Adel menatap Rifki.
...*******...
Di mobil,
Rifki yang menyetir memperhatikan adel yang sedari tadi memikirkan sesuatu.
"Kamu mikirin apa sih del?" tanya Rifki penasaran.
"Rifki, kali ini aku benar benar harus menyelidiki Afni, meski aku bukan detektif atau psikiater, tapi aku yakin dia tidak beres," jelas Adel meyakinkan dirinya.
"Tidak beres apanya sih,"
"Gelang yang ada di tangan Afni tadi adalah gelang yang aku berikan pada Laila sebagai simbol persahabatan kami, itu tidak ada di pasaran, aku sendiri yang merangkai itu," jelas Adel dengan serius.
"Maksud kamu dia terlibat dengan hilangnya Laila,?"
"Kamu mikir nggak sih, Laila hilang pada saat bersama Afni, dan sebenarnya kita pun belum tau pasti Laila benar-benar di culik atau tidak, nggak ada yang lihat, tapi kita langsung aja percaya sama dia," lanjut Adel mengungkapkan rasa curiganya.
Rifki mulai berpikir meskipun ia tak sepintar Adel tapi semakin ke sini Rifki pun semakin paham.
"Dulu Afni pernah menjebak Laila di tempat wudhu, kalau di pikir-pikir dia memang pantas di curigai sih," tutur Rifki.
"Tuh kan... berarti benar, Afni sepertinya melakukan sebuah sandiwara di depan kita,"
"Tapi ini belum pasti Del, kita harus punya bukti kuat,"
__ADS_1
"Iya, makanya sekarang kita harus diam-diam mencari tau tentang Afni, kita harus mengintai perempuan itu, aku yakin dia terlibat, dia pikir aku sebodoh itu untuk dia bohongi," gerutu Adel yang tampak geram pada Afni.
Adel semakin sadar, bahwa Afni memiliki masalah dengan raut wajah dan ekspresi bahkan kepribadiannya. Namun ia tak tau pasti karena ia hanyalah seorang dokter.