
Rifki mengantar Adel pulang ke rumahnya. Kini tinggal Arga dan Laila di sana. Arga menatap tajam sang istri. Langsung saja ia mencubit telinga Laila karena telah melanggar peraturan dalam rumah tangga mereka.
"Aduh..sakit..apaan sih," protes Laila sembari mengerucutkan bibirnya.
"Bagus ya..kamu keluar tanpa sepengetahuan aku, kamu harusnya bilang dulu kalau mau kemana mana, kamu istri aku La, aku harus memastikan kamu terbebas dari bahaya, kamu..." Arga menahan nafas, ia tak tau lagi kata-kata apa yang tepat untuk menegaskan bahwa ia amat mengkhawatirkan Laila.
Laila tersenyum seraya membujuk Arga. Ia meletakkan kedua tangannya di di pipi Arga. "Maafin aku ya, tapi..aku terpaksa lakuin ini karena kata penjahat itu aku harus datang sendiri," tutur Laila.
Melihat sikap lembut Laila membuat Arga tak bisa memarahinya, meski kini Arga amat marah. Tapi Arga tetap berusaha tegas di depan Laila.
"Pokoknya mulai sekarang, jangan lakukan hal semacam ini tanpa ada aku di sisi mu," tegas Arga menatap tajam mata Laila.
"Iya sayang.. Maasyaa Allah, suamiku begitu tampan dan perhatian, maaf ya sayang, lain kali aku nggak akan seperti ini lagi," ucap Laila sembari menggenggam tangan Arga.
Kini kemarahan Arga bagai es yang meleleh, ia tak kuasa menahan senyumnya karena rayuan Laila. "Bodohnya aku yang tidak bisa memarahi mu, ya sudahlah ayok kita pulang, lama lama aku bisa diabetes kalau kamu bersikap terlalu manis, Aduh..kurasa aku bisa gila jika terlalu lama menatap mu," Arga mengalihkan pandangannya sembari menahan senyumnya. Tentu kini ia malu-malu karena mendapat pujian dari sang istri.
Di mobil,,
"Sayang lain kali jangan gini lagi ya, kamu lihat sendiri kan, tadi si tua genit itu hampir saja menembak mu, aku benar-benar khawatir," tutur Arga menasehati sang istri.
"Iya..maaf ya sayang, tapi jangan khawatir, aku yakin laki-laki itu tak bermaksud menembak ku, sepertinya dia tidak melukai wanita, hanya saja dia gemar mengoleksi banyak wanita, makanya dia melakukan penculikan ini," ujar Laila seraya menenangkan Arga.
"Jadi kamu belain laki-laki bajingan itu?"
"Bukan..bukan.. maksud aku dia emang kejam, tapi..dia tidak mau membunuh wanita," lanjut Laila.
Azan subuh berkumandang, Arga menghentikan mobil di depan sebuah mesjid. Mereka pun melaksanakan sholat subuh berjamaah di mesjid itu.
...********...
__ADS_1
Di Rumah Adel,
"Akhirnya kamu kembali nak, ibu benar-benar khawatir," ucap ibu Adel seraya memeluk putrinya.
"Iya Alhamdulillah Bu, aku sangat bersyukur bisa kembali ke samping ibu," tutur Adel memeluk erat sang ibu.
"Terimakasih ya nak Rifki, kamu sudah membawa putriku dengan selamat," ucap ibu.
"Iya sama-sama Bu, tapi ini adalah hasil perjuangan Laila, tadinya saya pun tidak tau dimana keberadaan Adel, saya mencari tanpa arah tujuan yang jelas, tapi Laila lah yang menuntun saya dan Arga untuk ke tempat misterius itu," jelas Rifki yang masih duduk di ruang tamu.
"Apa pun itu kalian telah menyelamatkan putriku, terimakasih banyak," ucap ibu dengan bersungguh-sungguh.
"Iya sama-sama Bu, oh ya sudah azan, saya permisi ya Bu, saya lihat di dekat sini ada mesjid," ucap Rifki sembari berdiri dan hendak melangkahkan kakinya.
Adel menatap haru langkah Rifki, "Kini dia semakin pantas untuk ku jadikan sebagai imam dalam hidupku, Maasyaa Allah, aku tak menyangka ia berubah drastis seperti ini," batin Adel yang tersenyum menatap Rifki dari kaca jendela.
...****...
"Maaf ma, tadi kami ada urusan mendadak, makanya pergi tengah malam," ucap Arga seraya menunduk di hadapan mama.
"Iya ma..maafin kami ya," tutur Laila membujuk Bu Ranti.
"Urusan apa sih, kok harus bangat tengah malam gitu," gerutu mama.
"Adalah....mama mau tau aja deh," ucap Arga tak serius.
"Ya sudahlah, yang penting kalian tidak apa apa, ayok masuk, kita sarapan dulu," Bu Ranti bergegas mempersiapkan sarapan untuk mereka.
"Assalamualaikum.." suara dari arah depan rumah. Tiba-tiba pak Rendra sudah main masuk saja tanpa basa basi langsung duduk di ruang makan.
__ADS_1
"Orang gila ini kok main masuk aja, ngapain?" Bu Ranti pun rusak moodnya karena melihat pak Rendra di hadapannya.
"Ini sangat penting untuk kita semua, pokoknya habis sarapan kita harus bergerak cepat untuk memilih pakaian yang tepat sebagai baju persatuan kita di pesta pernikahan Rifki," tutur Pak Rendra dengan santai mengambil Roti beserta selai dan langsung memakannya.
"Kok buru-buru sih pa?" tanya Arga.
"Apanya yang buru-buru, sudah sebulan pernikahan ini di tunda," jawab Papa Rendra.
Bu Ranti tampak geram menatap laki-laki di hadapannya. Laila pun berusaha menenangkan hati Bu Ranti. "Ma...udahlah, mama nggak usah marah-marah gitu, kita kan cuma mau mempersiapkan pernikahan Rifki, mama senyum dikit dong," ujar Laila membujuk Bu Ranti.
Barulah Bu Ranti sedikit lebih baik dalam mengondisikan raut wajahnya, yang tadinya masam kini semakin membaik.
...*******...
Adel dan ibunya terkejut karena Rifki membawanya untuk mencoba beberapa gaun pengantin. Dan ia lebih kaget lagi melihat seluruh keluarga Arga ikut untuk menentukan baju persatuan yang akan di pakai.
Laila tampak semangat membantu Adel memberi penilaian tentang gaun yang Adel pakai. Mama pun sibuk mencari gaun yang tepat untuk di pakai di pesta pernikahan ini.
"Jangan terlalu pusing dalam memilih, kalian sudah pada cantik, mau gimana pun pasti akan tetap cantik," ucap Pak Rendra menatap Bu Ranti yang tengah asyik memilih gaun bersama dengan Adel dan Laila.
"Ini urusan wanita, pergilah jangan ikut campur," gerutu Bu Ranti.
Laila langsung mengalihkan pandangan Bu Ranti dari pak Rendra. "Ma..udah dong, sekarang kita harus mengesampingkan masalah yang lain lain, nanti Adel dan Rifki nya sedih loh.." ujar Laila membujuk mama.
"Iya..iya..HM..demi kebahagiaan kalian semua, mama akan mencoba memaafkan si tua itu, meski terkadang agak susah, tapi sebagai manusia biasa, mama juga sadar kok, kebencian akan merusak kebahagiaan sendiri," tutur Mama yang mulai merubah pola pikirnya.
"Alhamdulillah..gitu dong, mama emang paling the best," ucap Laila seraya merangkul Bu Ranti.
"Aku boleh manggil 'mama' juga kan ya!" Adel menoleh ke arah Bu Ranti.
__ADS_1
"Ya harus dong, kamu kan juga akan nikah sama Rifki, jadi sekarang kalian sama sama manggil mama ya," ucap Bu Ranti seraya tersenyum menatap dua gadis cantik di hadapannya.