Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
49. Perih bagai dikuliti


__ADS_3

"Maksud kamu apa sih Del?" Tanya Rifki yang masih bingung dengan ucapan Adel.


"Aku bingung harus menjelaskan mulai dari mana sama kamu, hanya orang pintar yang akan paham," tutur Adel seolah merendahkan kemampuan Rifki.


"Astaga gadis ini benar-benar ngeselin," ucap Rifki melirik Adel yang tampak menyebalkan.


"Oke..oke..aku akan mencoba menjelaskan meskipun kamu tidak terlalu mengerti,"


"Buruan jelasin, aku pasti mengerti, kamu aja yang selalu anggap rendah sama aku, hati-hati loh, nanti kamu lama-lama bisa suka," ucap Rifki.


"Amit-amit deh, oke dengarkan baik-baik, aku kenal betul dengan Laila, ilmu bela dirinya sangat sangat luar biasa, bahkan dia bisa mengalahkan 10 preman, dari cerita Afni tadi itu seperti nggak masuk akal," jelas Adel memaparkan pemikirannya.


"Nggak masuk akal kenapa?"


"Mikir dong Rif, masa laila nggak bisa menghadapi dua penjahat, sedangkan 10 preman aja dia habisi secara bersamaan, kayaknya cerita Afni susah untuk diterima akal ku," tutur Adel.


"Kan bisa aja preman itu membius Laila atau dengan cara lainnya," kata Rifki yang masih tidak yakin dengan perkataan Adel.


"Kamu kebanyakan nonton film! udah ah, nggak nyambung kalau bicara sama kamu," gerutu Adel dengan kekesalannya.


...*****...


Laila tertidur di ruang gelap itu, tiba-tiba muncullah Afni yang tampak emosi. Ia masih kesal dengan kata-kata Arga tadi yang membentaknya.


Di tangannya sudah ada air keras, yang sengaja ia bawa untuk menghancurkan wajah Laila. Ia tak terima karena Laila lebih cantik darinya.


"Maaf peliharaan tersayang, aku tidak bermaksud apa-apa, ini demi kebahagiaan kita," ucap Afni sambil tertawa-tawa. Ia kemudian menyiram air keras di wajah Laila.


Laila pun terbangun karena rasa sakit yang tiba-tiba di wajahnya. Wajahnya bagai di bakar. Air mata mengalir dari matanya, ia tak bisa menjerit dengan kondisi mulut di tutup.


Laila menjerit kesakitan dalam hatinya, keringat bercucuran di lehernya, menahan rasa sakit bagai dikuliti.


Hancur sudah wajah Laila bagai kulit yang terbakar. Tak ada yang bisa dilakukan, Laila hanya menangis dan pasrah menahan perihnya kerusakan kulit karena terkena air keras.


"Hahaha..kasihan kamu Laila, sebentar ya, aku ambilkan kaca dulu," ucap Afni yang pergi mengambil kaca.

__ADS_1


Ia menghadapkan kaca itu ke depan mata Laila. "Lihatlah wajahmu bagai nenek sihir yang terkutuk," ucap Afni tertawa lepas.


Isak tangis semakin menjadi-jadi, Laila terkejut melihat wajahnya yang tampak hancur. Namun rasa sakit yang berlebih membuat nya jatuh pingsan.


***


Sementara itu di depan rumah, Tejo dan Surti sedang sibuk membahas majikannya.


"Sur, tadi si nyonya bawa air keras, kira-kira buat apa ya?" bisik Tejo ke telinga Surti.


"Air keras? buat apa ya, aku juga nggak tau Jo," bisik bi Surti balik.


"Surti, kalau di film horor yang aku tonton, ada perempuan psikopat yang menyiram keluarga nya dengan air keras, ih serem bangat sumpah!"


"Ah beneran? film yang kamu tonton kayaknya kurang populer, aku nggak tau sama sekali tentang film mu itu," bisik Bi Surti.


Tiba-tiba Afni muncul,


"Diam..diam..nyonya datang," bisik Tejo.


"Sore nyonya!" sapa Surti dan Tejo serentak.


"Siap nyonya," jawab Surti dan Tejo serentak. Afni pun bergegas pergi mengendarai mobilnya.


Surti dan Tejo lanjut membahas majikannya, "Kamu tau nggak, kalau nyonya itu pernah di masukkan ibunya ke rumah sakit jiwa karena ibunya menganggap nyonya Afni sudah gila," jelas Surti.


"Ah masa sih, kamu tau dari mana?"


"Dari tetangga sini, tapi kejadian itu udah lama, sekitar enam tahun lalu, bermula saat ibunya baru datang dari luar negeri, terus ibunya ngira kalau nyonya Afni terkena gangguan jiwa," lanjut Surti.


"Terus, kenapa bisa keluar dari RS jiwa?"


"Karena bapaknya datang bebasin dia," jawab Surti.


Seketika jiwa gosip meronta-ronta ketika tuan rumah sedang tidak ada.

__ADS_1


...******...


Lelah Rifki dan Adel mengecek CCTV yang ada di mall dan sekitarnya, namun tak ada hasil sama sekali.


Kini mereka bingung kenapa tidak ada petunjuk sama sekali di sana. Bahkan CCTV di TKP pun tak menunjukkan adanya Laila dan Afni.


"Del, ini udah sore, aku antar kamu pulang ya," ucap Rifki menatap Adel yang tampak sedih.


"Biar aja aku nggak usah pulang, aku mau cari Laila," tegas Adel yang tak henti memikirkan Laila.


Rifki pun merasa terharu dengan kesungguhan hati Adel yang tampak perduli dengan sahabatnya. "Tapi kamu juga butuh istirahat, pulanglah dulu, besok kita lanjutkan," tutur Rifki.


Adel malah menangis di tengah keramaian itu, "Perasaan ku semakin tidak enak, apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Laila, aku tiba-tiba merasakan perih di hatiku, aku juga bingung entah perasaan apa yang ku alami ini," ujar Adel yang semakin deras air matanya.


Rifki menatap Adel, "Adel, jangan khawatir ya, kita sama-sama berdoa supaya Allah melindungi Laila, bukankah senjata terkuat adalah doa? jadi malam ini kita sama-sama tahajud ya, kita doakan Laila," tutur Rifki dengan lembut untuk menenangkan Adel.


Kali ini keduanya tampak damai tak seperti biasanya yang selalu ribut tanpa henti. Rasa simpatik mulai muncul di hati Rifki karena kesungguhan Adel mencari Laila.


...*******...


Malam itu, Afni mengenakan cadar dan menemui Arga yang masih mengurung diri dikamar.


tapi kali ini Arga baru usai sholat isya, sehingga hatinya sedikit lebih tenang, kali ini ia mencoba ingin bangkit dan berjuang mencari keberadaan sang istri.


Saat Arga membuka pintu kamarnya, ternyata sudah ada Afni di depan pintu.


"Assalamualaikum!" sapa Afni, ia mengira bahwa Arga akan menganggap nya sebagai Laila.


Namun kini pikiran Arga lebih fresh dari kemarin, sehingga ia dengan mudah membedakan mana Laila dan mana Afni.


"Waalaikumussalam, kamu udah pakai cadar Afni? baru dapat hidayah?" Arga menatap Afni yang tampak aneh.


"Arga, anggaplah aku Laila, agar kamu tidak kesepian, aku akan menemani kamu," tegas Afni menatap Arga.


Arga mengurut kepalanya, "Pulanglah Afni, aku ini lagi banyak beban pikiran, tolong jangan ganggu aku," ucap Arga dengan kepalanya yang agak pusing.

__ADS_1


Arga pun bergegas ke dapur, kali ini ia menyemangati dirinya untuk tetap makan agar ia bertenaga untuk mencari Laila esok hari.


Saat Arga makan di ruang makan, ia teringat senyuman Laila yang biasanya duduk dihadapannya. "Laila..kalau kamu di sini, pasti sekarang kita lagi suap-suapan, dan aku pasti akan datang di saat kamu sibuk memasak, lalu kita bercanda tawa menghabiskan waktu," batin Arga menatap bangku yang biasanya di duduki Laila


__ADS_2