
Adel dan Laila pun berangkat dengan mobil dan supir beserta bodyguard yang sudah disiapkan Arga.
Laila mencium tangan suaminya seraya berpamitan.
Arga mencium kening Laila seraya berkata, "Aku akan sangat merindukan mu, aku akan segera menyusul," tentu saja Arga dengan berat hati berpisah dari sang istri walau hanya sementara waktu.
"Jaga diri baik baik, aku berjanji saat kamu kembali aku telah melakukan syarat yang kamu berikan," ucap Rifki menatap Adel yang hendak masuk ke mobil.
Adel hanya tersenyum dan dan menganggukkan kepalanya. Tak lupa keduanya berpamitan pada Bu Ranti.
Di dalam perjalanan,
mobil Laila diikuti dengan satu mobil di belakang, itu adalah mobil rombongan penjaga Laila.
"Kurasa suami mu agak berlebihan La," ujar Adel yang duduk di sebelah Laila.
"Bukan agak berlebihan, tapi dia memang berlebihan," ucap Laila sembari tertawa.
"Tapi apa kamu tidak akan merindukan dia?"
"Hanya orang yang tidak memiliki cinta yang tidak merindukan suaminya, ya pasti aku rindu lah, tapi ini demi kebaikan bersama," jelas Laila.
Di tengah perjalanan, mobil Laila berhenti karena ada sedikit kendala di depan. Seorang pengendara truk mengetuk keras pintu mobil seorang ibu-ibu.
Si ibu pun terpaksa keluar dengan wajah ketakutan.
"Apa kau pikir ini jalan nenek moyang mu, cepat singkirkan mobil mu sebelum aku memecahkan kacanya!" bentak si laki-laki garang dan botak pengendara truk itu.
"Maaf maaf, tapi tadi saya nggak sengaja berhenti sebentar karena saya melihat anak saya, tapi ternyata saya salah orang," ucap si ibu dengan ketakutan.
Melihat kejanggalan ini, tentunya akan membuat Laila ingin ikut campur membela pihak yang lemah. Adel pun tak bisa menghentikan Laila, ia hanya bisa mengikuti Laila dari belakang.
Laila turun tanpa rasa takut sedikitpun, "Hei pak, bisakah anda lebih sopan pada ibu yang lebih tua dari pada anda," tegur Laila seraya berdiri di depan supir truk itu.
"Jangan ikut campur, kalian ini hanya perempuan lemah!"
"Aku tak bertanya siapa yang kuat dan siapa yang lemah, tapi tolong, biarkan ibu ini pergi!" tutur Laila.
"Enak aja dia pergi tanpa ganti rugi!"
"Apa yang harus di ganti rugi, truk anda tidak lecet sedikit pun, justru mobil ibu ini yang lecet,", gerutu Laila yang makin kesal.
"Sudahlah, lebih baik kau pergi sebelum aku merontokkan gigi mu!" tegas supir truk sembari melototi Laila.
__ADS_1
"Silahkan jika kamu berani!" ucap Laila.
Enam bodyguard penjaga Laila pun turun tangan mengambil posisi berbaris teratur di depan Laila.
"Astaga..kau pikir aku takut dengan pasukan mu ini!" supir truk tertawa. Sepuluh laki-laki bertubuh kekar turun dari dalam truknya.
"Mundur lah!" perintah Laila pada ke enam bodyguard.
"Tapi Bu.."
"Sudah cepat mundur!" tegas Laila.
"Ha..ha..ha.." supir truk tertawa lepas karena mengira Laila mengalah.
"Jangan terlalu bahagia, aku menyuruh anak buah ku mundur karena aku sendiri yang akan menghadapi kalian!" tegas Laila.
Adel ingin menghentikan Laila, tapi ia tau betul bahwa Laila tak akan mendengarkannya.
Keenam Bodyguard berusaha menghentikan Laila.
"Bu Laila..tolong jangan lakukan ini, kami tidak ingin di pecat!" keluh para bodyguard itu.
"Siapa yang ingin memecat kalian, tenang saja!"
Laila menarik nafas dalam, dan mempersiapkan tinjunya untuk memulai pertarungan.
Para bodyguard Laila tercengang melihat kemampuan Laila.
"BRUK.." Anggota terakhir terjatuh ke aspal, gigi rontok dan hidung berdarah membuatnya tidak berdaya.
Tersisa supir truk, ia pun mundur teratur karena takut akan bernasib sama dengan teman temannya.
Supir truk lalu kabur membawa teman temannya.
Laila berbalik badan, melihat anak buah Arga pada ketakutan.
"Kalian kenapa?"
"Ti..tidak Bu, ka_kami cuma..cuma.." mereka tak bisa berkata apa apa lagi. Rasa takut tak terungkapkan melihat Laila bagai makhluk jadi jadian di mata mereka.
"Sudah ku bilang, kalian hanya akan menambah beban ku dan bukan melindungi ku, tapi bagaimana pun juga, aku tau kalian butuh uang untuk menafkahi keluarga, jadi ku anggap saja kalian sangat membantu," tegas Laila dan bergegas masuk ke mobil.
"Astaga..apa bos kita manusia?"
__ADS_1
"Apa dia Alien?"
"Tidak ku rasa dia wonder woman,"
"Astaga ..mungkin tadi kita salah lihat,"
"Hei..apa kau masih merasa ini khayalan mu?"
"Sudah cukup! ayok buruan! sebelum bos menghabisi kita!"
Keenam Bodyguard suruhan Arga itu masih shock melihat kemampuan Laila, hingga mereka sibuk berbisik bisik membicarakan Laila.
Hari pertama bertemu dokter, Laila pun dipaksa untuk mengambil tindakan selanjutnya. Hingga hari demi hari berlalu Laila melewati proses operasi dan penyembuhan bekas jahitan.
Dokter tak mengubah apa pun dari dirinya, hanya mengangkat dan memperbaiki sel kulit yang telah rusak.
...********...
Di sisi lain Rifki tampak bersemangat belajar memperbaiki bacaan Al-Qur'an nya. Ia berguru pada seorang ustadz.
Begitupun Arga yang kerap kali di paksa Rifki untuk menemaninya. Sehingga Arga tak kunjung sempat menyusul istrinya.
Untuk mengobati kerinduan, seperti biasa Arga akan menelpon sang istri.
"Assalamualaikum sayang..gimana? apa perbannya sudah bisa di buka? aku benar benar sangat merindukan mu, maaf aku tak pernah ke sana, karena urusan di sini tak mengizinkan ku untuk pergi," sapa Arga di telpon.
"Waalaikumussalam, ini aku.. Adel! Laila lagi tidur!" jawab Adel, yang sedari tadi kupingnya kepanasan mendengar kata-kata Arga.
"Oh kamu Del, sorry sorry," Arga tampak malu karena telah berbicara berlebihan.
Rifki mendengar kata kata Arga yang menyebutkan nama Adel, buru-buru ia merebut HP itu dari tangan Arga
Tentu saja ia tidak mau ketinggalan untuk berbicara dengan calon istrinya.
"Assalamualaikum, Del ini aku, Rifki,"
"Waalaikumussalam, ada apa Rif,"
"Aku sudah memperbaiki bacaan Al-Qur'an ku, sekarang sudah lebih baik, tapi kata guruku aku masih harus lebih giat lagi, masalah hafalan, aku baru menghafal surah Al-Mulk," jelas Rifki.
Rifki begitu merindukan calon istrinya, namun memang saat ini berjauhan adalah solusi paling tepat untuk menghindari fitnah.
"Alhamdulillah kalau gitu, teruslah belajar, selagi kamu mau, kamu pasti bisa, semangat ya Rif," ucap Adel seraya menyemangati Rifki. Adel sangat menghargai usaha Rifki yang memperbaiki diri sebelum menjadi imam keluarga mereka kelak.
__ADS_1
"Adel, ingatlah aku tak pernah berhenti mencintai mu, jadi jangan berpaling ya, aku di sini berjuang untuk kita," ujar Rifki mengungkap isi hatinya.
Namun belum bicara banyak Arga telah merebut HP nya. "Sudahlah jangan terlalu banyak bicara! lanjutkan pelajaran mu," tegas Arga menghentikan Rifki menelpon.