
Suasana gelap, entah tempat macam apa itu, namun tempat itu terkesan menyeramkan.
"Tolong lepaskan aku, aku mohon, siapa pun itu tolong bebaskan aku!" suara Laila dari dalam ruangan gelap itu.
Sedang kaki dan tangannya di rantai besi, sekuat-kuatnya Laila ia tak akan sanggup membebaskan diri sendiri, terlebih suasana yang sangat gelap membuat nya tak bisa kemana-mana.
"Tolong!" jerit Laila,
"Laila.. Laila..kamu kenapa sayang?" Arga menepuk pundak Laila yang tertidur di sofa ruangan Arga di kantor.
Laila tersadar dari mimpi buruknya, "Huh..ternyata cuma mimpi," ucap Laila yang mendapati dirinya ternyata tertidur di sofa.
"Kamu mimpi apa sampai keringatan gitu?"
Laila masih terdiam, ia masih kepikiran dengan mimpi buruknya. "Aku mimpi buruk, baru kali ini aku tiba-tiba bermimpi ngeri kayak gini, aku melihat diriku di rantai besi," ucap Laila dengan matanya yang berkaca-kaca. Mimpi ini terasa nyata bagi Laila.
Arga memeluk Laila seraya menenangkan istrinya, "Kamu jangan khawatir ya, ada aku yang selalu jagain kamu, kita akan baik-baik saja," tutur Arga di pelukan Laila.
Tak lama kemudian Afni pun muncul di ruangan Arga. "Assalamualaikum..lagi pada ngapain nih," sapa Afni dengan ramahnya.
"Eh Afni, sini..sini..aku nggak lagi ngapa-ngapain sih, cuma menemani Arga yang lagi kerja," sambut Laila.
Afni duduk di samping Laila, "Kamu perhatian bangat ya, sampai sampai kamu nungguin Arga yang lagi kerja," kata Afni seolah memuji Laila.
Laila tersenyum,
"Oh ya, kita jalan jalan yok," ajak Afni
Laila menatap Arga,"Aku sih mau, tapi aku nggak bisa pergi tanpa izin Arga," ucap Laila.
Laila memang tak pernah jalan jalan kemanapun, terlebih karena Arga tak ada waktu untuk mengajaknya jalan-jalan.
Afni menatap ke arah Arga, "Boleh kan Arga?"
"Iya..iya..tapi hati-hati ya, jangan lama-lama, pulanglah sebelum Ashar," tegas Arga.
...*****...
Afni membawa Laila berkeliling mall sekalian berbelanja. Laila tampak tak biasa melihat keramaian seperti itu.
"Kamu pilih aja baju yang kamu sukai, nanti biar aku yang bayarin," ucap Afni seraya merangkul Laila.
"Nggak usah Repot-repot, aku nggak mau beli apa-apa kok," Laila menolak dengan lembut.
"Udah nggak pa pa, ambil aja, ini nih pasti bagus buat kamu," kata Afni sembari memasangkan gelang di tangan Laila.
__ADS_1
Laila pun hanya pasrah, ia menerima semua yang ditawarkan Afni.
"Laila!" panggil Adel yang ternyata ada di sana.
Laila menoleh ke belakang, "Adel, kamu di sini juga,"
"Iya La, kebetulan banget, kita barengan yok, ini siapa La?" Adel menatapi Afni.
"Kenalin, ini Afni teman lama Arga," ucap Laila seraya memperkenalkan Afni.
Adel pun menjabat tangan Afni seraya berkenalan.
"Aku Adel, sahabat Laila," tutur Adel tersenyum ramah.
"Sial! ini siapa lagi sih, rencana ku gagal lagi!" batin Afni yang sudah mempersiapkan sesuatu untuk Laila.
Seharian Afni, Laila dan Adel berbelanja kebutuhan wanita, dan seharian ini pula Afni harus menyimpan rencananya dulu, karena ada Adel yang menghalangi rencananya.
...******...
Afni mengantar Laila kembali ke kantor Arga,
"Assalamualaikum," ucap Laila memasuki ruang kerja.
"Seru tapi lebih seru lagi kalau kamu ikut," ujar Laila.
"Afni udah pulang?"
"Udah, tadi dia antarin aku sampai depan, terus langsung pulang deh," jelas Laila.
Tiba tiba Handphone Laila berdering, ia pun mengangkat telpon yang ternyata dari bunda.
"Assalamualaikum Bun,"
"Waalaikumussalam, kamu gimana kabarnya Laila, kamu sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat Bun, besok aku ke rumah ya Bun, aku kangen bunda sama Ayah," tutur Laila
"Bagus dong kalau gitu, soalnya bunda juga kangen,"
"Oh ya tumben bunda nelpon ada apa Bun?" tanya Laila penasaran.
"Sebenarnya akhir akhir ini bunda sering mimpi buruk tentang kamu, bunda khawatir dengan keadaan kamu, kamu baik-baik aja kan?" tanya bunda lagi.
"Iya Bun, aku baik-baik aja, bunda tenang aja ya, kan ada Arga juga Yang jagain aku," tegas Laila.
__ADS_1
...*******...
Malam hari,
Malam itu Laila termenung di teras rumah, ia teringat kata-kata bunda tadi, dan mengingat kembali mimpi buruknya.
"Sebenarnya ada apa ya, kenapa hatiku rasanya aneh, seolah sesuatu yang besar akan terjadi, ah sudahlah mungkin ini hanya perasaanku ku aja," batin Laila kemudian bergegas masuk rumah dan mengunci pintu.
Tengah malam itu Laila belum tertidur, sedang Arga sudah tertidur pulas. Laila menatap wajah Arga yang tampak tampan saat ia tidur.
"Aku juga tidak tau, kenapa saat ini aku merasa khawatir kehilangan seseorang," batin Laila sembari mengelus rambut Arga.
Semalaman Laila susah tidur, ia semakin dihantui dengan mimpi buruknya dan bercampur aduk dengan mimpi bunda.
"Jangan..jangan bawa dia ..jangan bawa dia.." Arga terucap di tengah tidurnya.
"Kamu kenapa, Arga.." Laila berusaha membangunkan Arga.
Arga pun tersadar bahwa ini hanya mimpi buruk. Begitu ia membuka matanya ia langsung memeluk erat tubuh Laila.
"Aku benar-benar takut jika aku terbangun dan tidak melihat kamu lagi," ucap Arga dengan tubuhnya yang sudah keringatan karena mimpi buruk yang memasuki tidurnya.
"Aku selalu ada di samping kamu, kamu jangan khawatir, emangnya kamu mimpi apa sih?"
"Aku melihat kamu di bawa seseorang, aku takut tidak bisa menyelamatkan kamu, tapi aku benar-benar bersyukur karena itu ternyata cuma mimpi buruk," ucap Arga berderai air mata.
"Kamu nangis?" Laila menatap mata Arga yang tampak sedih.
"Aku hanya tak ingin merasakan kejadian seperti ini lagi meskipun sekedar di mimpi," tutur Arga.
"Sudahlah, jangan khawatir, kita akan menghadapi apa pun bersama sama," ucap Laila menenangkan Arga.
Meski saat ini hati Laila pun masih dihantui rasa khawatir namun ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Arga.
...******...
Tengah malam itu tampak Afni sedang bernyanyi dengan suara pelan di ruang bawah tanah rumahnya. Ruangan ini adalah ruang rahasia, tidak ada yang tau selain dirinya, bahkan pembantu di rumah itu pun tidak mengetahui.
Terdapat tangga di balik sebuah lemari besar di kamarnya. Ruangan ini ia desain khusus untuk menenangkan diri saat ia berhantam dengan orangtuanya dulu. Tapi kini ia tinggal sendirian, hingga membuatnya hidup dengan tidak baik.
Sekilas menyeramkan jika mendengar suara nyanyian di tengah malam. Terlebih suaranya terkesan menyedihkan.
Pembantu Afni yaitu Bi Surti tengah melewati kamar majikannya yaitu Afni. Tiba-tiba terdengar sesuatu di telinganya. Suara nyanyian yang menyedihkan membuatnya merinding. Ia mencoba membuka pintu kamar Afni. Namun ternyata kosong, di dalam tak ada Afni, melainkan seisi kamar yang berantakan.
Ia berniat membereskan meski ini sudah tengah malam, tapi tiba-tiba suara nyanyian itu semakin keras, bi Surti pun berlari terbirit-birit ke luar dari ruangan itu.
__ADS_1