Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
26. Melihatnya menikah


__ADS_3

Di ruang rawat Rifki, tampak Arga dan Rifki tengah sibuk dengan HP masing masing. Keduanya sama sama menunggu pesan dari Laila, namun mereka tidak menyadari itu.


"Jadi kamu udah tau tentang ibu kamu?" tanya Arga sedang matanya masih tertuju pada Hp nya.


Rifki menutup hp nya. "Iya, aku udah tau semuanya, maaf ya Ga, aku jadi malu sama kamu, ibu ku yang selama ini serakah udah banyak menyusahkan kamu," ucap Rifki, pikirannya mulai teralihkan.


"Udahlah nggak usah dipikirin, sudah berlalu, aku juga nggak nyalahin kamu kok," ucap Arga menatap Rifki.


***


Saat Laila masih sibuk membantu sang bunda, tiba-tiba saja Adel datang mengingatkan Laila ke pesta pernikahan Haris hari ini.


"Laila..kamu belum siap siap?"tanya Adel yang langsung menemui Laila.


"Aku lagi sibuk bantuin bunda," kata Laila mencari-cari alasan.


Bunda yang mendengar itu pun ikut bersuara, "Pergilah jika kamu ada urusan, kan bunda nggak sendiri di sini, ada ayah juga yang bantuin, bunda udah biasa kok, ini bukan pekerjaan yang melelahkan bagi bunda," tutur Bunda.


Laila pun terdiam, ia tak punya alasan lagi.


Laila dan Adel pun bergegas ke kamar Laila untuk bersiap-siap.


"Del, aku beneran malas banget, nggak tau kenapa aku kayaknya nggak bisa lihat dia nikah sama perempuan lain," keluh Laila yang tampak malas untuk bersiap siap.


"Justru itulah kenapa kita harus datang, biar kamu itu sadar kalau Haris sudah menjadi milik perempuan lain," tegas Adel menatap temannya itu.


Laila pun dengan terpaksa bersiap-siap untuk pergi ke nikahan Haris, meski ia merasa berat hati.


***

__ADS_1


Sampailah di resepsi pernikahan Haris, tampak Laila tengah menyaksikan akad nikah Haris. Laila duduk di barisan paling belakang. Matanya tertuju ke depan, dengan tatapan kosong, ia teringat masa masa SMA bersama Haris. Saat SMA dulu ia amat memperhatikan Haris, selalu berusaha memperlakukan Haris dengan baik. Ia selalu menunjukkan kepeduliannya pada Haris, meski tak pernah mendapat perhatiannya. Laila tak pernah berputus asa mencintai dalam diam, namun kini cinta sepihak nya harus di akhiri, karena Haris telah menikahi wanita lain.


"Sadarlah Laila..cinta mu hanya bertepuk sebelah tangan, hentikan perasaan bodoh ini," batin Laila sembari mengalihkan pandangannya.


Sebelum pulang dari acara itu, Laila dan Adel tak lupa memberi selamat pada pengantin.


Laila menyapa Haris yang tengah duduk di pelaminan bersama istrinya "Selamat ya Ris, semoga kalian jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Laila menatap Haris dan istrinya.


"Amin.." sambung Adel di samping Laila.


"Terimakasih udah datang, semoga kalian cepat nyusul ke pelaminan," ucap Haris.


***


Arga sedang melamun di ruang rawat Rifki, sedang matanya menatap kaca jendela rumah sakit. Entah mengapa ia merasa ada yang kurang ketika Laila tidak sedang bersamanya.


Arga mulai teringat saat saat pertama kali ia bertemu Laila. Ketika itu Laila menonjok perut nya. Kemudian ia teringat lagi, suatu malam dimana Laila menonjok hidungnya hingga berdarah. Arga senyum sendiri mengingat hal hal tentang Laila. "Laila memang beda dari perempuan lain, dia kuat, tapi di balik itu dia punya hati yang baik, dan dia punya banyak kebiasaan yang sama dengan Linda," batin Arga sembari tersenyum manis.


"Assalamualaikum," ucap Laila yang memasuki ruang rawat Rifki. Raut wajahnya sedikit lesu, hari ini sangat menyedihkan bagi Laila, namun tetap saja ia harus menjalankan tugasnya sebagai bodyguard.


"Waalaikumussalam," jawab Arga dan Rifki serentak.


"Kenapa baru datang, ini udah jam berapa Laila, kamu telat lagi," Arga menatap Laila yang duduk di sofa.


"Masih untung aku datang, harusnya aku masih tiduran di rumah," ucap Laila tanpa menatap Arga.


Rifki melihat Laila yang tampak dibebani masalah."Kamu kenapa? kamu ada masalah?" tanya Rifki menatap Laila.


"Nggak! emangnya aku kelihatan ada masalah," kata Laila sambil menatap Rifki.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu nggak ada masalah. Laila..aku udah tau semuanya tentang ibu aku yang meneror kalian, maaf ya La, aku juga nggak nyangka ibu akan berbuat sejahat itu," ucap Rifki dengan pelan, tampak sekali dari wajahnya bahwa ia sedang bersedih karena ibunya di penjara.


"Kamu udah pernah ketemu sama ibu kamu?" tanya Laila menatap Rifki.


"Belum, rasanya sangat sakit saat aku tau ibuku jadi tahanan"


"Rifki..kamu yang sabar ya, tapi kamu jangan pernah membenci ibu kamu gara gara masalah ini ya, meski ibumu banyak salahnya, tapi dia tetaplah ibu mu, lagi pula kita tidak tau bagaimana kedepannya, siapa tau ibu kamu suatu saat menjadi orang yang lebih baik," tutur Laila.


Rifki pun tersenyum mendengar kata-kata Laila, perkataan Laila bagai motivasi baginya. "Makasih ya, aku kira kamu akan benci sama ibu aku," ucap Rifki yang tersenyum menatap Laila.


"Untuk apa aku benci pada ibumu, aku tidak berhak memvonisnya sebagai seseorang yang buruk, aku juga hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa, bisa saja ada sisi baik yang dimiliki ibumu, dan bisa jadi suatu hari nanti ibu mu jauh lebih baik," tutur Laila.


Kata-kata yang keluar dari mulut Laila selalu berhasil membuat Rifki jatuh cinta berkali-kali padanya. Rifki tersenyum melihat Laila yang tampak manis dengan akhlak baiknya.


"Kamu emang beda Laila, baru kali ini aku ketemu perempuan seunik kamu," ucap Rifki.


"Ehem.." suara tenggorokan Arga seakan memberi kode. Ia merasa tak dianggap di ruangan itu. Telinganya terasa gatal mendengar percakapan Rifki dan Laila.


"Pak Arga haus?" tanya Laila menoleh ke arah Arga.


"Bukan cuma haus,tapi saya merasa kepanasan di ruangan ini, saya mau keluar, cari angin," cetus Arga, entah mengapa ia sedikit kesal ketika melihat Laila bersikap baik pada Rifki.


Arga pun melangkah untuk keluar dari ruangan. Arga menoleh ke arah Laila. "Kenapa masih di situ? kamu harus selalu tiga langkah di belakang saya," tegas Arga menatap tajam Laila.


"Kalau aku pergi,siapa yang jagain Rifki," Laila menoleh ke arah Rifki.


Rifki pun menahan Laila untuk tetap di ruangan, "Iya Arga, Laila harus tetap di sini, dia mau jagain aku," ucap Rifki.


"Nanti aku suruh sepuluh suster kesini buat jagain kamu, biar kamu merasa seperti pangeran," cetus Arga dan langsung keluar dari ruangan.

__ADS_1


Laila pun tak ada pilihan lain selain mengikuti langkah Arga.


"Dasar saudara ngeselin, selalu aja jadi perusak suasana," gerutu Rifki sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya ia geram pada Arga yang seolah mengganggu kedekatannya dengan Laila.


__ADS_2