Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz #9


__ADS_3

Pagi hari,


Ainun dan ibunya tengah sarapan bersama.


"Ainun, kalau kamu bosan kerja, kamu bisa menikah dengan Pak Parto, pemilik toko di depan," tutur ibu Farah.


"Bu, aku nggak pernah bosan kerja, lagi pula aku nggak mau menikah dengan pak Parto, dia udah tua Bu, lebih cocok jadi seorang ayah," tutur Ainun pelan.


Tatapan ibu semakin tajam,


"Kamu pikir kamu ini secantik apa, Ainun, zaman sekarang kalau cari jodoh itu yang pintar dikit, yang di cari itu bukan yang tampan tapi yang mapan," tegas Ibu dengan serius.


Ainun menghela nafas,ia tak habis pikir sang ibu akan berkata seperti itu.


"Tapi aku juga nggak akan bahagia menikah dengan laki-laki mapan tanpa ilmu agama Bu," jelas Ainun.


"Ibu cuma mau yang terbaik untuk kamu," tegas Ibu.


"Itu terbaik untuk ibu, bukan untukku," ucap Ainun, selera makannya tiba-tiba hilang karena usulan ibu yang menyuruhnya menikah.


***


Pagi itu Maysa dan suaminya Farhan sedang sarapan pagi.


"Sayang malam ini kita ketemuan sama Ainun ya, aku kangen sama dia," ucap Maysa membuka percakapan.


"Oke sayang, tapi aku boleh ngajak Hilman sahabat aku kan?" tanya Farhan.


"Iya boleh, tapi kenapa harus ngajak dia, ini kan cuma acara kita aja," tutur Maysa.


"Sayang sahabat aku itu orangnya baik, Soleh, tampan, bagaimana kalau kita mendekatkan Ainun dan Hilman, aku yakin Ainun tidak akan menyesal mengenal Hilman," usul Farhan.


Maysa berpikir sejenak,


"Iya juga sih, aku setuju, Ainun itu terlalu baik untuk laki-laki sembarangan, tapi kalau menurut kamu Hilman itu benar benar laki-laki yang baik, aku setuju aja," tutur Maysa.


"Iya sayang, aku nggak mungkin menjodohkan Ainun dengan laki-laki yang tidak baik, karena bagaimanapun juga sekarang Ainun adalah adik ku juga," jelas Farhan menatap istrinya.


***


Ainun tampak melamun sambil membersihkan meja di restoran.


"Tumben ngelamun, ada masalah," tanya Rika sahabat Ainun yang tiba-tiba menghampirinya.


"Nggak, siapa yang ngelamun," elak Ainun yang lanjut bekerja.


"Dari raut wajah kamu aja udah kelihatan Ainun, biasanya kan kamu itu selalu semangat, nggak ngelamun gini," ucap Rika sambil membantu Ainun membersihkan meja.


"Cuma perasaan kamu aja kali," elak Ainun lagi.

__ADS_1


"Ya udah, tapi kalau ada apa-apa ceritanya sama aku ya, aku ke belakang dulu," ucap Rika dan kemudian pergi.


Ainun masih lanjut bekerja,


kemudian ia mengantar pesanan pelanggan yang datang ke restoran itu, tepat saat Ainun berbalik badan ia menabrak Hilman hingga jus yang di bawa Ainun membasahi baju Hilman.


"Astaghfirullah..maaf pak maaf...saya nggak tau bapak ada di belakang saya,lagian pak Hilman kok tiba-tiba ada di belakang saya," ucap Ainun yang menunduk dan memohon maaf.


Hilman menatap bajunya yang basah, namun bajunya yang jadi kotor tak akan membuatnya marah pada bidadari nya.


Tiba-tiba bu Mira datang,


"Astaga Ainun..kamu kenapa sih nggak kapok buat masalah terus, kenapa kamu tumpahin jus di baju pak Hilman," tegas Mira memarahi Ainun.


"Maaf Bu, saya benar-benar nggak sengaja," ucap Ainun yang amat merasa bersalah.


"Pak Hilman maaf ya pak, lain kali saya akan ingatkan Ainun untuk berhati hati," ucap Bu Mira sebagai penanggung jawab pelayanan di restoran.


"Kamu nggak perlu marahi Ainun, dia nggak sengaja, udah sana lanjutkan kerjaan kamu," tegas Hilman menatap Bu Mira.


Mira pun pergi dengan wajah masam karena Hilman justru membela Ainun.


Ainun tercengang melihat Hilman yang tidak berkomentar buruk pada perlakuan Ainun tadi.


"Kok pak Hilman nggak marah ya," batin Ainun merasa heran.


"Pak saya minta maaf!" ucap Ainun lagi.


"Baru kali ini pak," ucap Ainun pelan sambil menunduk.


"Yakin? tapi saya rasa ini adalah kesalahan kedua kamu, kesalahan pertama adalah kenapa pagi ini kamu tidak mengantarkan kopi ke ruangan saya sesuai janji kamu kemarin," jelas Hilman hingga menyadarkan Ainun.


"Astaghfirullah, iya yah saya lupa pak, saya minta maaf pak, sekarang juga saya akan buatkan kopi dan langsung saya antar ke ruangan bapak," ucap Ainun bersungguh-sungguh.


"Saya bosan deh, kayaknya kamu udah terlalu sering minta maaf sama saya," cetus Hilman seolah menyudutkan Ainun.


"Maaf pak," ucap Ainun


"Dan lagi-lagi kamu minta maaf," cetus Hilman.


Hati Ainun benar-benar khawatir karena memang ia sudah terlalu sering membuat kesalahan pada Hilman.


"Ya udah saya tunggu di ruangan saya, secepatnya bawa kopi untuk saya," suruh Hilman dan ia langsung kembali ke ruangannya.


***


Hilman tersenyum sendiri mengingat tingkah Ainun tadi yang menurutnya lucu.


"Ainun..Ainun..andai saat ini aku berani mengungkapkan bahwa kamu adalah bidadari dalam mimpi ku, tapi sayangnya aku tak mampu, karena aku khawatir jika aku melamarmu terlalu cepat, maka kamu akan langsung menolak ku," batin Hilman yang sedari tadi memikirkan Ainun.

__ADS_1


"Assalamualaikum, permisi pak," ucap Ainun sambil mengetuk pintu ruangan Hilman.


"Waalaikumussalam, masuk!" tutur Hilman yang bersemangat melihat Ainun.


"Ini kopinya pak maaf ya pak hari ini saya udah banyak melakukan kesalahan," ucap Ainun pelan.


Hilman menatap Ainun,


"Apa kopi ini manis?" tanya Hilman


"Emangnya kenapa pak? bapak diabetes?" tanya Ainun.


"Nggak, saya cuma nanya," jawab Hilman.


Ainun semakin deg-degan karena khawatir bos akan marah dengan segala kecerobohannya.


"Kalau gitu saya permisi dulu ya pak, Assalamualaikum," ucap Ainun dan langsung keluar dari ruangan Hilman.


"Waalaikumussalam," jawab Hilman sambil menatap kepergian Ainun.


***


Sore itu Ainun di suruh koki di restoran itu untuk membuang air bekas cucian sayuran karena saluran pembuangan air sedang tersumbat dan belum di perbaiki.


Ainun pun melaksanakan itu.


Hilman sedang memantau Ainun dari luar tepatnya di dekat jendela kaca.


AinunĀ  tidak tau bos ada di sana langsung saja ia buang Air itu.


Seketika hujan lokal berlangsung. Bos yang malang itu basah kuyup sedang bajunya dipenuhi ampas sayuran.


Mendengar suara seseorang, Ainun buru-buru melihat ke bawah jendela di luar.


"Astaghfirullah, pak Hilman," ucap Ainun dan spontan langsung berlari ke luar untuk melihat keadaan pak Hilman.


"Mati kamu Ainun...dasar bodoh..bodoh.. bisa-bisa aku di jadiin sate kalau gini caranya," batin Ainun yang menyalahkan dirinya sendiri.


Ainun menghadap Hilman yang basah kuyup dan hanya terdiam dengan wajahnya yang tampak menahan amarahnya.


Melihat itu Ainun makin takut.


"Maafin saya pak," ucap Ainun.


Hilman mendekati Ainun, menatap tajam mata Ainun, "Kamu sebenarnya kenapa sih, kamu nggak suka sama saya," cetus Hilman, Hilman sebenarnya tidak marah tapi ia sengaja ingin mengerjai Ainun.


"Nggak pak! Nggak! saya suka kok, cuma tadi saya nggak tau kalau bapak ada di bawah," lanjut Ainun yang terus menunduk.


"Hah kamu suka sama saya?" tanya Hilman membuat Ainun seolah serba salah.

__ADS_1


"Nggak gitu pak, maksudnya saya tadi nggak sengaja, dan bukan karena nggak suka sama bapak, saya minta maaf pak, kalau bapak mau pecat saya nggak pa pa pak, saya ikhlas, saya tau kesalahan saya sudah melampaui batas," jelas Ainun yang semakin takut.


__ADS_2