
Seminggu kemudian,,
Ar Rahman..'Allamal Qur'an....
Suara lantunan ayat suci Al-Quran oleh Rifki. Kini ia menepati janjinya untuk melantunkan hafalannya dalam resepsi pernikahan mereka.
Adel pun menangis haru menatap Rifki bagai imam impian yang selama ini ia inginkan. Rifki berhasil membuktikan bahwa ia mampu memantapkan diri sebagai imam yang baik untuk Adel.
Air mata bahagia tampak hadir dalam hari bahagia ini. Keluarga Laila pun ikut bahagia melihat kebahagiaan Adel di depan mata.
Ayah, bunda dan Ridwan turut hadir paling depan di pernikahan ini. Laila merasa hari ini adalah hari paling bahagia karena melihat kebahagiaan sahabatnya sendiri. Begitu pun Arga yang lega karena akhirnya adik tirinya menikah juga.
"Selamat ya Del, semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Laila sembari memeluk sahabatnya.
"Semoga kamu cepat di karuniai keturunan," lanjut Laila
"Terimakasih ya, kamu juga, semoga kamu cepat mendapatkan keturunan, tapi ku rasa saat kamu punya anak nanti, pasti anak mu akan jadi pesilat seperti ibunya," canda Adel seraya tersenyum menatap Laila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
7 tahun kemudian,,
Suasana pagi yang cerah, tampak seorang ibu yang masih muda sedang berjalan ke ruang kepala sekolah sebuah TK ternama di kota ini.
Ia adalah Laila, yang biasa di panggil dengan panggilan Bunda oleh putrinya. Kini putrinya telah duduk di bangku TK. Hari ini Laila mendapat surat panggilan langsung dari kepala sekolah untuk hadir jam 09.00.
Laila pun hadir tepat waktu. "Assalamualaikum bu, ada masalah apa lagi ya Bu, apa putri saya berulah?" sapa Laila sembari duduk di hadapan ibu kepsek.
"Saya bingung, anak Bu Laila ini di kasih makan apa sih, kok bisa seganas ini, Medina telah berkelahi dengan sepuluh murid laki-laki di kelasnya, ini di luar nalar, saya sebenarnya juga kurang percaya, mana mungkin gadis kecil ini mampu mengalahkan sepuluh anak laki-laki," jelas Bu kepsek sembari menunjuk Medina yang duduk sambil menunduk di hadapan nya.
Medina adalah putri dari Laila dan Argantara. Dan memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Putri Laila tumbuh menjadi gadis kuat sepertinya.
Medina dengan tubuh mungilnya berdiri di bangku dan menjelaskan semuanya. "Bu..saya tidak salah, mereka yang mengganggu teman ku, jadi aku hanya ingin menyelamatkan temanku itu," jelas Medina.
"Iya Medina, sebenarnya saya juga percaya kok sama kamu, sekarang kamu kembali ke kelas ya," ucap Bu kepsek.
Medina pun kembali ke kelas bersama wali kelasnya. Kini tinggal Laila dan Bu kepsek yang mengobrol.
"Maaf ya Bu, putri saya pasti tidak berniat jahat kok, saya tau betul, dia bukan tipe anak yang suka mengganggu temannya," tutur Laila.
"Iya Bu Laila, saya yang justru minta maaf karena fitnah ini, sudah jelas ini fitnah, mana mungkin gadis kecil seperti Medina mampu melakukan ini semua, makanya saya memanggil Bu Laila ke sini untuk mengklarifikasi, agar tidak ada kesalahpahaman," jelas Bu kepsek.
Laila pun tersenyum mendengar perkataan Bu Kepsek. Dalam hatinya ia percaya bahwa Medina mungkin memang telah menghajar para laki-laki di kelasnya.
...******...
Setelah jam pelajaran usai, Laila membawa putrinya pulang. Seperti biasanya mereka akan pulang dengan supir pribadi yang selalu menjemput Medina.
Di mobil,,
"Medina..kamu berhantam lagi ya," tanya Laila menatap putrinya.
Medina tak berani menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya seraya mengiyakan.
"Tapi bunda, mereka yang jahat, Medina cuma belain teman aja kok," jelas Medina.
"Lain kali jangan gini ya sayang, nggak boleh gitu tau, nanti teman temannya luka gimana! emangnya Medina mau di marahin orang tua dari teman-teman Medina itu," Laila mencoba menasehati putrinya.
"Iya..iya bunda," jawab Medina. Entah dia mengerti atau tidak dengan perkataan bundanya, yang jelas ia akan selalu mengiyakan.
...*******...
Malam hari,
"Sayang tadi Medina ada masalah apa? kok kamu sampai di undang ke sekolah?" tanya Arga yang tengah menonton TV bersama Laila sedangkan Medina sudah tertidur pulas di kamarnya.
"Entahlah, aku juga bingung, aku hanya mengajarinya silat untuk menjaga diri, tapi tadi kata kepsek dia menghajar sepuluh anak laki-laki di kelasnya" jelas Laila.
__ADS_1
"Bagus dong, itu namanya hebat!" puji Arga seraya merasa bangga dengan putrinya.
"Apanya yang bagus sih,"
"Iya, bagus, Putri kita tumbuh dengan baik, jika sudah begini Medina pasti akan bisa menghadapi situasi situasi yang berbahaya," ujar Arga
"Sayang..bahaya kalau dia melukai orang lain,"
"Medina tidak akan melukai orang lain tanpa alasan yang jelas," tutur Arga membela putrinya.
"Terserah kamu deh," Laila pun pasrah, karena seperti biasanya Arga memang mendukung putrinya menjadi wanita tangguh agar tidak ada laki-laki yang berani mengganggunya.
"Oh ya besok kan libur, kita bawa Medina jalan jalan ya," ucap Arga.
"Kemana?"
"Ada deh, pokoknya kamu sama Medina siap siap aja,"
...********...
Arga pun membawa istri dan putri kesayangannya ke sebuah tempat indah berupa taman dengan pemandangan yang indah. Bunga anggrek dan mawar bertebaran di sepanjang jalan.
Medina pun amat bahagia melihat pemandangan sekitar. burung berkicau menuntunnya berlari mengikutinya.
"Lihatlah Medina, dia benar-benar persis seperti mu, cantik, kuat, hebat, itulah yang membuat ku merasa beruntung, rasanya bagai anugerah besar melihat putri kita tumbuh dengan baik," ucap Arga sembari merangkul istrinya.
Laila pun ikut tersenyum bahagia melihat Putrinya tampak aktif bergerak mengenal lingkungan dan selalu memperhatikan sekitarnya.
"Terimakasih ya bodyguard bercadar ku, kamu telah menjadi wanita Sholehah yang membuat ku menjadi laki-laki paling beruntung," ucap Arga sembari mencium kening Laila.
...*****...
Laila dan Arga menyempatkan untuk ziarah ke makam Linda. Karena bagaimanapun juga Linda lah yang menjembatani hubungan mereka.
"Bunda..ini kuburan siapa?" tanya Medina yang selalu aktif bertanya pada sang bunda.
Mendengar itu membuat Medina berinisiatif untuk membersihkan makam itu. Ia memunguti dedaunan yang jatuh ke makam.
"Pintarnya putri ayah.." Arga memuji putrinya yang berhati mulia meski masih berusia dini.
Senyum bahagia terpancar di wajah Arga dan Laila melihat putrinya yang cantik dan berhati baik. Kini mereka menjadi satu keluarga yang utuh dengan rasa kasih sayang yang mewarnai hari harinya.
Ada rahasia indah di balik cadarnya, ada kekuatan di balik sikap lembutnya. Ada kasih sayang yang tulus dari hatinya. Laila Ikrimah, wanita sempurna di mataku, aku kan menjaganya hingga nafas terakhir ku. Dan aku ingin bersamanya hingga sampai pada keabadian yaitu akhirat yang telah dijanjikan. Berawal dari bodyguard kini ia menjadi istriku yang mendampingi perjalanan hidupku. (Argantara)
💞 Tamat..🙏
Promosi Cerita
Ketika Pangeran Dingin Jatuh Cinta
Part 1
Bad boy tampan, itu adalah kata yang sering terucap di bibir setiap wanita ketika melihat sosok Rendra. Meski hanya sesekali Rendra keluar di siang hari, namun tetap saja ia selalu berhasil menarik perhatian setiap wanita.
Rendra adalah laki-laki berusia 25 tahun yang tinggal di sebuah komplek yang di huni oleh orang orang kaya. Sampai di usianya yang 25 tahun ini, ia bahkan tak berpikir untuk mencari kerja meskipun sudah lulus S1 di universitas terbaik di kota ini.
Malam ini sama saja seperti malam sebelumnya, Rendra keluar dari jendela kamarnya untuk pergi mencari kesibukan bersama teman temannya. Biasanya mereka akan ke kafe untuk buang suntuk. Dan sesekali ikut balap motor meski papa kandung Rendra telah melarangnya.
"Tuan Rendra..ini makan malamnya sudah saya siapin," ucap bi Maryam sembari mengetuk pintu kamar Rendra. Berkali kali bi Maryam mengetuk pintu namun tak ada jawaban.
"HM..aku terlambat lagi, pasti tuan Rendra udah kabur lagi lewat jendela, tuan besar bisa marah lagi ini," batin bi Maryam sedikit cemas.
Sementara itu, Rendra malah nongkrong bersama gengnya yang tak lain adalah Keny dan Adit. Kali ini mereka nongkrong di kafe yang lumayan mahal. Namun seperti biasa pasti Rendra yang akan mentraktir temannya.
"Tenang aja, kalian pesan sepuasnya," ucap Rendra sembari menikmati musik yang mengiringi.
Tak di sangka, ternyata Pak Arif Pratama (Papa Rendra) ada di meja sebelah dan sedang memantau Rendra.
__ADS_1
Rendra dan kedua temannya masih belum menyadari itu. "Ren..hidup kamu enak bangat ya, nggak usah kerja tapi uang tetap jalan, kamu nggak ada niat buat kerja gitu?" tanya Keny pada Rendra yang masih bersantai.
"Nggak..jangan bahas gituan, aku lagi malas mikir," cetus Rendra yang seperti biasanya selalu bersikap dingin meski pada kedua temannya.
"Iya nggak usah di bahas ken, mendingan kita ikut balapan yuk," ajak Adit seraya mengalihkan perhatian Rendra. Namun sepertinya mood Rendra sedang tidak baik. Ia malas untuk pergi malam ini.
Rendra tak menjawab perkataan Adit itu. Ia tampak diam seolah menandakan bahwa ia tidak setuju. Tentu kedua temannya telah mengerti maksud dari ekspresi wajah Rendra itu.
"Ya udah kalau kamu nggak mau, oh ya Wenny kayaknya suka deh sama kamu, kamu nggak tertarik sama dia, dia itu cantik..body nya oke..kaya.. pokoknya paket lengkap deh, kamu nggak tertarik?" tanya Adit dengan berharap supaya mood Rendra berubah jika ia membahas wanita.
"Bisa nggak sih jangan bahas perempuan, perempuan itu semuanya sama, mata duitan!" cetus Rendra yang mengingat wajah ibu tirinya. Rasanya ia tak pernah bisa menghilangkan dendam pada ibu tirinya itu.
"Kenapa sih Ren, kamu masih dendam sama ibu tiri kamu?" tanya Keny.
"Kamu pikir aja sendiri, ibu tiri itu tidak lebih seperti lintah di mataku," ucap Rendra dengan tatapan tajam.
"Cukup Rendra!" bentak pak Arif yang ternyata ada di belakang Rendra. Ia sudah mendengar semua perkataan Rendra itu terutama saat Rendra jujur bahwa ia sangat membenci ibu
tirinya.
Melihat itu, kedua teman Rendra buru buru kabur sebelum mereka melihat pak Arif murka.
"Kenapa pa? salah kalau aku nggak suka sama perempuan itu? percuma dia berjilbab, tapi hatinya busuk, dia menikah dengan papa cuma karena harta pa! papa harusnya sadar, mana ada perempuan yang mau menikah dengan duda anak tiga kayak papa kecuali karena harta!" tegas Rendra yang amat kesal pada papanya.
"Astaghfirullah Rendra..papa dosa apa sih sampai sampai punya anak durhaka seperti kamu," pak Arif tak tau harus berkata apa lagi untuk merubah sikap anaknya yang buruk itu. Sikap Rendra berubah drastis sejak ibu kandungnya meninggal satu tahun lalu.
Satu tahun lalu mama kandung Rendra meninggal dunia karena penyakit jantung, ia mewasiatkan kepada sahabat terbaiknya yaitu Sinta untuk menikah dengan suaminya sendiri. Sinta pun dengan ikhlas menjalankan permintaan sahabatnya itu untuk menikahi Arif Pratama yang sudah beranak tiga.
**
Di sisi lain, seorang gadis bercadar nan bermata indah tengah merenung di sebuah kampung. Ia adalah Mardiyah. Panggil saja ia Diyah.
Sebulan yang lalu ibunya telah meninggal dunia. Ibu adalah satu-satunya yang ia punya, namun itu pun telah berpulang ke tempat kembalinya.
Saat ia merenung di jendela kamarnya, tiba-tiba ada telpon masuk ke hpnya. Diyah pun mengangkat telpon itu yang ternyata telpon dari teman dekat ibunya. Ia adalah Maryam, Pembantu yang paling senior di rumah Rendra di kota.
"Assalamualaikum nak Diyah.."
"Waalaikumussalam Bu, ada apa ya Bu, tumben ibu nelpon malam malam," tanya Diyah
"Ibu kepikiran terus sama kamu nak, kamu gimana di kampung? kerja apa nak," tanya bu Maryam. Namun Mardiah hanya diam.
"HM..terus kamu biayanya dari mana nak, pantesan ibu mimpi tentang kamu terus, terus sekarang kamu mau kemana nak?"
"Aku juga nggak tau Bu, mau cari kerja juga susah,"
"Gini aja, gimana kalau kamu ke sini aja, ke tempat ibu kerja, kebetulan salah satu pembantu si sini ada yang berhenti kerja, jadi pembantu di sini kurang satu, kalau kamu mau kamu bisa langsung datang nak, cuma untuk sementara, kalau kamu nanti nggak betah, kamu bisa cari kerja lain," usul Bu Maryam pada Diyah.
"Beneran Bu, Alhamdulillah Diyah mau Bu, dari pada kelamaan cari kerja mendingan Diyah kerja sama ibu aja untuk sementara," tutur Diyah yang amat senang dengan kabar itu. Meski hanya jadi pembantu, ia akan tetap menerima pekerjaan ini karena sangat sulit untuk mencari pekerjaan yang cocok di zaman ini.
"Ya udah..besok kamu berangkat ya, ibu akan kirimkan ongkos kamu,"
"Nggak usah Bu.."
"Udah jangan tolak lagi, ibu udah menganggap kamu anak ibu sendiri,"
"Makasih ya Bu," ucap Diyah yang amat terharu dengan kata-kata Bu Maryam itu. Ia merasa seolah memiliki kekuatan lagi di saat ia dalam keadaan lemah.
Keesokan harinya,
Mardiyah tampak semangat menjinjing tas nya menaiki bis dengan tujuan ke kota tempat ia akan bekerja.
Hingga sampailah di terminal bus di kota itu. Mardiyah menginjakkan kaki di kota yang ramai ini, ia bingung harus kemana dulu. Untungnya Bu Maryam telah berdiri di sana sedang menjemputnya. "Mardiyah.." panggil Bu Maryam dengan keras.
Mardiyah menoleh ke arah suara itu, ia pun berlari memeluk bu Maryam dengan tangisan haru.
"Kamu harus kuat ya nak, anggap saja aku ini ibumu, kita berjuang sama sama, perempuan itu harus kuat, seperti ibumu," ucap Bu Maryam ke telinga Mardiyah.
__ADS_1