
Keesokan hari, tepat di hari Jumat, usai memasak, Laila tampak bersih-bersih di rumah Arga meski Arga tidak menyuruhnya.
"Sepertinya semua pekerjaan ART di rumah ini sudah kamu borong, jika dijumlahkan mungkin gaji kamu akan berlipat lipat, apa karena itu kamu mengerjakan ini semua?" tanya Arga yang tiba-tiba menghampiri Laila.
"Astaghfirullah pak Arga, saya ngerjain ini ikhlas, lagian saya nggak bisa terus-terusan duduk tanpa aktivitas, nggak kayak pak Arga yang selalu santai, mungkin white horse udah acak acakan selama pak Arga nggak ke sana," gerutu Laila.
"Saya bisa mengontrol white horse dengan cara saya sendiri, ah sudahlah saya mau makan dulu, rasanya perut saya udah mulai lapar, ayok makan bareng saya" ajak Arga.
"Saya udah makan pak,"
"Kalau begitu temani saya makan," tegas Arga.
Dengan berat hati Laila pun menemani Arga makan.
"Bu Ranti mana?" tanya Laila pada Arga yang duduk di ruang makan.
"Mama lagi istirahat di kamar, nanti kamu temani mama makan ya," pinta Arga.
"Iya pak bos," jawab Laila.
"Mulai sekarang kamu boleh panggil saya Arga, nggak usah pake panggilan bos," ucap Arga.
"Kenapa?"
"Karena.. karena..saya.. sekarang menganggap kamu sebagai teman dekat," jawab Arga mencari-cari alasan.
"Oke.. nggak masalah, Arga!" ujar Laila.
***
Arga bersiap-siap untuk sholat Jum'at ke mesjid. "Laila!" panggil Arga.
"Iya..ada apa!" sahut Laila.
"Kamu tolong tanyakan Lastri dimana dia meletakkan kain sarung saya," pinta Arga.
Laila pun langsung melaksanakan perintah Arga. Tak lama kemudian Laila datang membawa kain sarung pada Arga.
"Terimakasih," ucap Arga.
"Sama-sama,"
***
__ADS_1
Laila sedang berdiri di jendela kaca lantai dua rumah Arga. Tepat saat itu ia melihat Arga yang baru pulang dari mesjid. dengan baju Kokoh putih, dan kain sarungnya. Mata Laila terfokus menatap Arga yang tampak tampan saat pulang sholat Jum'at. Begitu Arga membuka pecinya, mata Laila tak berkedip menatapnya. "Maasyaa Allah, kenapa aku baru sadar kalau dia benar-benar tampan, kemana pikiran ku selama ini, astaghfirullah! Laila! sadarlah! dia bos mu, jangan mengada-ada," batin Laila yang berdebat dengan hati kecilnya.
Laila merasa aneh dengan dirinya, "Kenapa jantungku berdebar kencang, astaghfirullah.. sepertinya aku kurang sehat," ucap Laila sembari mengedipkan matanya.
"Lagi ngapain berdiri di depan jendela?" tanya Arga yang tiba-tiba di belakang Laila.
"Saya..lagi..lagi.."
"Saya lihat dengan jelas kalau kamu tadi menatap saya dari jendela ini seperti menatap pangeran yang baru kembali dari perang," ucap Arga memotong pembicaraan Laila.
Laila terdiam mendengar kata-kata Arga. Ia merasa malu karena Arga mengetahuinya. "Aduh.. aku bodoh bangat sih, kalau udah gini aku harus gimana," gerutu Laila dalam hati.
"Kamu jangan kepedean deh, aku tadi lagi lihat pemandangan luar, bukan lihatin kamu," elak Laila dan langsung berjalan menuju kamarnya.
Arga tersenyum sendiri, "Masih nggak ngaku lagi, padahal tadi dia menatap ku dari jendela ini," ucap Arga sembari menatap kaca itu.
***
Lastri menemui Arga yang sedang bersantai sambil menonton bola. "Mas Arga, di luar ada tamu," ucap Lastri.
"Siapa?"
"Katanya nama dia Afni," jelas Lastri.
Arga pun menemui Afni di ruang tamu.
"Kamu akhir-akhir ini nggak ke white horse, jadi aku pikir kamu sakit, makanya aku ke sini, sebagai teman, wajar dong kalau aku khawatir," tutur Afni menatap Arga.
"Aku baik-baik aja kok, besok aku akan ke sana," ucap Arga.
Suasana tampak senyap, Arga hanya terdiam sambil sibuk dengan HP nya.
"Arga, udah lama kita nggak main catur, main yok,dari pada kita cuma diam-diaman gini," usul Afni.
Arga pun setuju, karena ia pun tertarik untuk bermain.
Tampak Arga dan Afni tengah asyik bermain catur. Hingga Arga terkadang tertawa lepas ketika Afni kalah.
Laila tak sengaja lewat dan melihat Arga yang tampak asyik bermain catur dengan Afni.
Mata Laila merasa risih melihat keduanya sibuk bermain. "Ngapain Afni ke sini cuma buat main catur, mana berisik bangat lagi, aku kan jadi nggak bisa baca buku di kamar, suaranya terdengar kemana-mana," gerutu Laila dalam hatinya.
"Sepertinya kita harus bergerak menyingkirkan perempuan itu," ucap Lastri yang tiba-tiba di belakang Laila.
__ADS_1
"Astaghfirullah Lastri... ngagetin aja deh, kamu ngapain di sini?" tanya Laila.
Dengan wajah serius memantau Arga dan Afni, Lastri pun memikirkan sesuatu. "Kita kan sama-sama bersaing sportif mendapatkan cinta mas Arga, jadi kita harus kerja sama untuk mengusir perempuan itu dari rumah ini," tutur Lastri dengan serius.
Laila ternganga mendengar perkataan Lastri, "Kita? kamu aja kali las, aku nggak ikut-ikutan dalam persaingan kamu meraih hati Arga," cetus Laila.
"Udahlah Laila, aku tau kalau kamu suka sama mas Arga, buktinya sekarang kamu mengawasi mereka yang lagi main catur, pasti kamu khawatir mas Arga akan tergoda dengan perempuan itu kan," lanjut Lastri yang semakin menekan Laila.
Laila menghela nafas, "Lastri..aku lihatin mereka karena aku merasa terganggu, aku lagi baca buku di kamar, tapi karena suara berisik mereka aku jadi terganggu," keluh Laila menatap Lastri.
Laila pun memutuskan untuk membaca di luar rumah, tepatnya di taman depan. Tiba-tiba seseorang datang membawa lima keranjang buah.
"Permisi, saya ingin mengantar kiriman dari pak Rendra untuk Bu Ranti, ini rumah Bu Ranti kan?" tanya seorang laki-laki.
"Iya benar," jawab Laila.
Laila pun menerima kiriman buah itu. Saking banyaknya ia tak mampu mengangkat sendiri hingga Lastri harus turun tangan membantunya.
Laila melihat surat yang melekat di keranjang buah, ia mengambilnya untuk di berikan pada Bu Ranti.
Laila dan lastri menghadap Bu Ranti sambil membawa semua keranjang buah.
"Bu, ini kiriman dari pak Rendra,dan ini ada suratnya," ucap Laila sambil memberikan amplop surat pada Bu Ranti. Bu Ranti mulai membuka surat itu.
Puisi cinta pertama
Cinta pertama ku..
ingatkah engkau dimana kita bertemu dulu
masih ingatkah engkau sapu tangan yang ku beri dulu
Meski waktu telah memisahkan kita
namun hatiku kini masih tertuju padamu
Sambal terasi dan semur jengkol adalah saksi bisu cinta kita yang tertulis dalam sejarah
masakan mu adalah yang terbaik sepanjang hidupku
kembalilah padaku
My love Ranti
__ADS_1
Membaca surat itu membuat Bu Ranti naik darah, ia merobek robek surat berisi puisi jadul tersebut.
"Untuk apa lagi dia mengirim sampah ini ke rumah ku, puisi ini juga benar-benar memalukan, apa dia tidak mengingat usianya yang sudah tua, dasar laki-laki menyebalkan," gerutu Bu Ranti yang tampak marah. Laila dan Lastri pun hanya terdiam melihat Bu Ranti marah-marah sendiri.