Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
55. Operasi wajah?


__ADS_3

Adel buru-buru mengobati luka di lengan Rifki. "Aduh sakit!" keluh Rifki.


"Belum juga kena sentuh udah sakit!"


"Hehe..iya lanjutkan,"


Adel melanjutkan mengobati luka Rifki tersebut.


"Aku benar-benar menyukai kamu!"


Perkataan singkat Rifki membuat Adel terkejut. "Laki-laki seperti kamu ini cuma berkata tanpa memikirkan apa yang dia katakan, udahlah, ini udah beres,sana sana pulang!" suruh Adel yang baru usai membalut luka Rifki.


"Del aku serius, kamu bisa nggak sih menatap aku sebagai laki-laki baik, aku rasa selama ini kamu selalu memperlakukan ku sebagai laki-laki gila,"


"Kan emang kamu gila,"


"Kalau aku gila aku nggak mungkin jatuh cinta sama kamu!" ucap Rifki membuat Adel semakin grogi.


"Udah ah, aku mendingan pergi, aku banyak kerjaan, Assalamualaikum," Adel pun pergi meninggalkan Rifki di sana.


Di sepanjang jalan jantung Adel berdebar tidak karuan, "Benar nggak ya kalau dia suka sama aku, tapi gimana kalau dia cuma mau mainin aku, ah mendingan aku nggak usah ladenin dia, bisa-bisa nanti aku cuma di permainkan," batin Adel.


...**********...


"Aku sudah menempatkan sekretaris wanita itu di posisi yang lain, dan sekretaris yang lama akan kembali bekerja besok, jadi jangan mengerutkan wajah di depan ku lagi ya," bujuk Arga pada Laila yang sedari tadi fokus membaca buku.


"Iya..iya.."


"Senyumnya mana?"


Laila pun memancarkan senyumnya. Tiba-tiba hp Laila berdering.Ia mengangkat telpon yang ternyata dari Adel.


"Assalamualaikum ada apa Del?"


"Waalaikumussalam, kamu mau kan ikut aku ke Dokter kulit, wajah kamu masih bisa diobati kok, tapi kamu mau operasi kan? operasi plastik adalah cara terbaik untuk mengembalikan kondisi wajah mu seperti semula," jelas Adel.


"Hah Operasi plastik? nggak perlu Del, aku takut akan menghadirkan dosa di dalamnya," ujar Laila yang tampak takut.


"Operasi plastik haram jika dilakukan untuk mengubah fitrah yang sudah ditetapkan Allah pada diri kita Laila, tapi saat ini jalan terbaik adalah operasi, wajahmu akan semakin bengkak jika dibiarkan terlalu lama," Jelas Adel yang mengkhawatirkan Laila.


"Kalau gitu aku diskusikan dulu dengan Arga," ucap Laila.


Laila pun menanyakan pendapat Arga tentang hal ini. "Kata Adel wajahku hanya bisa di atasi dengan operasi plastik, apa kamu mengizinkan ku melakukan itu?" tanya Laila menatap Arga dengan serius.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak pernah keberatan dengan kondisi wajah mu, tapi aku tau kamu pasti merasa tidak nyaman dengan wajah mu, terlebih saat terkena air, demi kesembuhan mu maka aku akan menyetujuinya, dan aku akan selalu mendampingi mu," ucap Arga yang menyetujui niat Laila.


...******...


Malam hari, saat makan malam bersama Arga, Laila teringat sesuatu. Laila terpikir bagaimana nasib Tejo dan Surti setelah kehilangan pekerjaan.


"Sebelumnya ada dua orang yang berusaha menyelamatkan ku saat aku di kurung, yang satu adalah seorang ibu bernama Surti yang menjadi pembantu di rumah Afni, dan yang satu lagi adalah Tejo satpam di rumah itu juga, aku merasa berhutang budi pada mereka," tutur Laila membuka pembicaraan.


"Benarkah, baik lah besok kita akan menemui mereka, kita akan mengucapkan terimakasih,"


"Bagaimana kalau mereka bekerja di sini saja, kasihan mereka sekarang tidak punya kerjaan lagi," usul Laila.


"Kalau itu kemauan kamu, ya nggak pa pa, sekalian aku juga akan memberi mereka hadiah," lanjut Arga.


Keesokan hari,


Arga dan Laila bergegas mencari alamat rumah Surti dan Tejo, tentunya rumah mereka tidak akan jauh dari rumah Afni.


Hingga sampailah di rumah Surti.


"Assalamualaikum Bu, masih ingat saya kan?" sapa Laila menatap Bu Surti yang sedang menjemur cucian.


"Iya saya ingat, gadis yang di kurung kan? Alhamdulillah saya senang sekali kamu bisa bertemu keluarga mu lagi," ucap Surti dengan tangisan haru.


"Iya Alhamdulilah Bu," balas Laila.


"Beneran? ini nggak tipu-tipu kan ya,"


"Iya Bu.." tegas Arga sembari memberikan kunci rumah untuk Bu Surti.


Surti pun amat bahagia hingga tak bisa berkata-kata lagi. Kini ia bisa memiliki rumah sendiri setelah sekian lama ia mengontrak.


"Saya tidak tau rumah Tejo, tapi kalau Bu Surti bertemu dia, tolong berikan kunci mobil ini untuk dia," pinta Arga sembari memberi kunci mobil itu.


Bu Surti ternganga melihat mobil mewah ternyata sudah ada di depan rumahnya.


...*****...


Laila menunggu Arga yang sedang bertemu klien di sebuah kafe. Karena terlalu bosan Laila mencoba ke luar kafe itu untuk mencari udara segar.


Bruk..


Seorang laki-laki tak sengaja menabrak Laila.

__ADS_1


Mata Laila terkejut ketika melihat laki-laki tersebut.


"Haris.." sapa Laila.


"Ternyata kamu La, maaf ya, aku nggak sengaja," ucap Haris sembari menjaga jarak dari Laila.


"Iya nggak pa pa," balas Laila sembari tersenyum ramah.


"Suami kamu mana La?"


"Lagi di dalam, dia lagi urus kerjaan, nggak enak juga kalau aku ganggu,"


"Oh gitu, kamu.. gimana," tanya Haris


"Apanya yang gimana?"


"Maksud aku kabar kamu gimana?"


"Aku baik, kamu?"


Haris tampak tersenyum tapi matanya berkaca-kaca, ia menyembunyikan rasa sakit yang masih ia rasakan hingga saat ini. Terlalu lama ia memendam perasaan pada Laila, hingga akhirnya Laila malah menikah dengan laki-laki lain.


"Alhamdulillah kabar ku baik,"


"Syukurlah," balas Laila.


Sekretaris laki-laki yang baru bekerja lagi untuk Arga baru saja tiba, ia melihat Laila yang sedang mengobrol akrab dengan seorang laki-laki.


Namun ia langsung masuk ke kafe untuk menemui Arga. Saat Ia tiba, ternyata Arga telah selesai meeting dengan klien.


"Kamu telat di hari pertama?" Arga melototi sekretaris nya Budi.


"Maaf pak, motor saya tadi mogok," ucap Budi sembari menundukkan kepalanya.


"Lain kali jangan telat lagi!" tegas Arga kemudian matanya melirik ke sana ke mari mencari keberadaan Laila.


"Pak..tadi saya lihat Bu Laila lagi ngobrol sama laki-laki, akrab bangat kayaknya, itu siapa ya pak?" tanya Budi.


"Hah laki-laki? dimana?"


"Itu di depan pak,"


Arga buru-buru bergerak cepat mencari Laila. Langkahnya terhenti ketika melihat Laila yang tampak ramah pada Haris.

__ADS_1


"Itukan..Haris, ustadz yang sering Laila tonton sambil senyum-senyum sendiri, kurang asam, beraninya Laila sok akrab sama laki-laki lain," gerutu Arga yang terbawa arus cemburu dalam hatinya.


Arga menemui Laila, "Sayang..kamu ngapain berdiri di sini," sapa Arga sembari merangkulnya di depan Haris.


__ADS_2