Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
34. Hujan deras


__ADS_3

"Harusnya jika kamu serius kamu menemui orang tuaku bukan malah menemui ku, tapi kalau sudah begini aku akan menjawabnya langsung,maaf Rif, aku tidak bisa menerima lamaran kamu," tutur Laila.


Laila tak ingin memberi harapan pada Rifki karena khawatir ia akan sakit hati. Memberi harapan pada seseorang justru akan membuat nya jatuh lebih dalam.


"Tolong jangan langsung menolak ku Laila, kamu boleh berpikir untuk beberapa hari," kata Rifki, ia masih berharap bahwa laila akan berubah pikiran.


Laila menghela nafas, "Aku takut jika memberimu sedikit harapan saja, kamu akan sakit nantinya, aku bukan orang yang tepat untuk kamu Rif, carilah perempuan lain yang jauh lebih baik dari aku," jelas Laila.


Arga yang menyaksikan itu akhirnya lega mendengar jawaban Laila.


"Apa karena kamu sudah punya seseorang yang kamu sukai?" tanya Rifki.


Laila pun terdiam, ia tak bisa menjawab karena ia sendiri bingung dengan perasaannya, hatinya berkata untuk langsung menolak Rifki.


***


Hujan deras mengguyur kota, Rifki yang sedang patah hati berdiri pasrah di tengah hujan. Ia tak merasa kedinginan karena rasa dingin terkalahkan oleh perihnya putus harapan.


"Harusnya kamu memberiku kesempatan Laila, bukan langsung menolak tanpa alasan yang jelas," batin Rifki, sedang air matanya tertutupi air hujan.


Tiba-tiba air hujan tidak menetes di atasnya lagi, ia menoleh ke atas, ada payung di tangan seorang wanita. "Anda baru keluar dari rumah sakit tapi sudah berani main hujan," cetus gadis itu yang ternyata dokter Adel.


"Kamu lagi, ngapain kamu di sini, pergilah, saya butuh menenangkan diri," gerutu Rifki dengan kesedihannya.


"Jika kamu sakit, pihak rumah sakit akan kerepotan mengurus pasien ngeselin kayak kamu, lagian kalau kamu ingin menenangkan diri, yang harus kamu lakukan bukan main hujan, tapi perbanyak ibadah pada Allah," gumam Adel.


Rifki pun terdiam, ia mengambil payung di tangan Adel, sedang Adel memakai payung yang satunya lagi.


***


Malam hari,,


Arga mengetuk pintu kamar Laila,


"Iya ada apa?" tanya Laila yang membukakan pintu.


Belum berkata apa-apa Laila sudah mengerti maksud arga karena bunyi perut Arga seolah menyuruhnya untuk memasak.

__ADS_1


"Pak Arga lapar?" tanya Laila sembari tersenyum.


Arga yang tampak malu cengar-cengir sambil manggut-manggut.


"Iya La, tapi kalau kamu malas masak nggak pa pa kok, aku bisa makan roti aja,"


"Nggak masalah, ya udah bentar ya, aku masak dulu," ucap Laila dan bergegas ke dapur untuk memasak.


Laila pun memasak di bantu Lastri.


"Aduh.. sepertinya mas Arga udah ketergantungan sama masakan kamu, aku harus belajar masak dari kamu nih La, biar mas Arga terpesona sama aku," canda Lastri sembari mengiris bawang.


"Laila tersenyum mendengar perkataan Lastri, "Makanya lihat baik-baik kalau aku lagi masak, biar kamu makin jago masaknya," ujar Laila.


Arga berdiri di belakang, menatap Laila yang sibuk memasak untuknya. Pandangannya begitu dalam menatap gerak gerik Laila, meski hanya mata Laila yang dapat ia lihat, namun hatinya sangat bahagia ketika matanya menatap objek ternyaman untuk ia pandang.


"Aku tak tau harus memulai dari mana untuk mendapatkan kamu La," batin Arga sembari memperhatikan Laila.


Laila pun menatap ke arah Arga, Laila melihat Arga yang tidak henti menatap dirinya.


Arga yang panik langsung mengambil kotak P3 K, ia melihat luka Laila dan bermaksud mengobati.


"Biar saya aja pak, saya bisa kok, lagian bukan mahram," ucap Laila sambil mengambil obat yang di pegang Arga.


Arga hanya memperhatikan Laila mengobati lukanya sendiri,


"Lain kali hati-hati, jangan buat saya khawatir,"


Ucapan Arga itu membuat Laila tercengang, karena Arga seolah memperhatikan dirinya lebih dari seorang bodyguard.


"Iya pak Arga,"


"Kan saya udah bilang, kamu nggak usah panggil saya pak atau bos, panggil aja Arga," tegur Arga


Laila hanya manggut-manggut seolah mengiyakan.


"Saya tadi menyaksikan saat kamu menolak lamaran Rifki, kalau boleh tau kenapa kamu menolaknya?" tanya Arga yang tampak penasaran.

__ADS_1


"Tanpa saya jelaskan pun kamu akan tahu, jawabannya sudah jelas karena saya tidak mencintai dia,"


"Bukannya kata orang cinta akan hadir setelah pernikahan," lanjut Arga.


"Mungkin itu benar, tapi hatiku berkata untuk langsung menolaknya, aku khawatir jika memberi sedikit harapan akan membuatnya semakin sakit," jelas Laila sembari membalut lukanya.


"Lalu siapa yang kamu cintai?" tanya Arga mengagetkan Laila.


"Itu bukan urusan kamu," cetus Laila dan buru-buru menghindari Arga.


***


"Dalam waktu dekat saya berencana melamar seorang perempuan," tutur Arga yang baru usai makan.


Laila yang duduk di hadapan Arga terkejut mendengar ucapan Arga, "Serius?"


"Iya, tapi sebelum itu, saya harus menemukan Inisial L, agar hati saya lebih tenang untuk menikah," lanjut Arga.


"Itu berarti kamu tidak akan menjalankan wasiat dari Almarhumah Linda?"


"Ya begitulah, mau gimana lagi, aku sangat mencintai wanita ini, aku yakin Linda juga tidak akan keberatan jika dia tau bagaimana baiknya perempuan yang akan ku lamar ini," jelas Arga.


"Pasti wanita yang kamu maksud sangat cantik ya," tanya Laila yang penasaran.


"Aku tidak tau, aku hanya melihat ketulusan hatinya, wajahnya saja masih misteri bagiku, tapi cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, aku melihat ketulusan di matanya," jelas Arga sembari tersenyum menatap Laila.


Entah mengapa hati Laila sedikit perih mendengar nya, "Baguslah kalau pak Arga akan menikah, maaf ya saya agak ngantuk, saya ke kamar dulu, Assalamualaikum," ucap Laila dengan senyum palsunya, kemudian bergerak menuju kamarnya.


Arga menatap Laila yang tiba-tiba pergi begitu saja, "Waalaikumussalam," jawabnya sedikit bingung.


"Gimana ya reaksi Laila jika aku bertamu ke rumahnya untuk melamarnya, apa dia akan kaget, atau melompat-lompat karena bahagia,semoga semuanya berjalan lancar, agar aku bisa menghalalkannya," batin Arga yang senyum-senyum sendiri.


Laila bersandar di balik pintu, "Astaghfirullah..kenapa hatiku tiba-tiba nggak rela ya, harusnya aku senang jika dia akan menikah dengan perempuan lain, awalnya aku ingin mengungkap identitas ku sebagai inisial L, tapi sekarang..kurasa aku tidak perlu lagi melakukan itu," batin Laila sedang tangannya ia letakkan di dadanya.


Laila pun menyadari bahwa ia mulai terbawa perasaan pada Arga. Sebenarnya dalam hatinya ia ingin mengungkap bahwa dialah inisial L itu, namun mendengar Arga ingin menikah, Laila pun tak ingin merusak niat Arga.


Ia tidak tau saja, bahwa perempuan yang akan dilamar Arga adalah dirinya. Hari demi hari yang ia jalani bersama Arga ternyata membuatnya memiliki perasaan pada kekasih almarhumah sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2