
"Bunda jangan khawatir, kak Laila akan kembali secepatnya, kata Kak Arga kurang dari sebulan kak Laila akan balik ke sini," tutur Ridwan yang menenangkan hati bunda yang selalu khawatir dengan putrinya.
"Bunda hanya khawatir hal yang serupa terjadi lagi, meski Laila kuat ilmu silatnya, tapi anak itu sangat lengah, bisa saja dia di beri racun atau obat-obatan lain lagi yang bisa membuatnya lemah," ujar Bunda mengutarakan rasa khawatirnya.
"Sudahlah bunda, tenang aja, lagi pula Arga telah mengutus banyak orang untuk mengawasi Laila, kita harus tetap berpikir positif bahwa Laila akan kembali dengan selamat," ucap Ayah seraya menenangkan bunda.
Ketika keluarga Laila tengah sibuk membicarakan Laila, tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu.
"Masuk!" ucap Ayah.
Ternyata tamu yang datang adalah menantunya sendiri. "Assalamualaikum.." sapa Arga sembari membuka pintu.
"Oh kamu nak, silahkan masuk, ayok duduk dulu," ujar Ayah seraya menyambut kedatangan Argantara.
"Gimana kabar ayah dan bunda?" tanya Arga.
"Alhamdulillah baik, justru saat ini ayah dan bunda sedang memikirkan kondisi Laila," tutur Ayah.
"Ayah tenang saja ya, insyaallah, Laila akan selalu di jaga oleh Allah, Laila baik baik saja kok Yah, kami sering telponan dan dia selalu memberitahu bagaimana kabarnya," jelas Arga untuk menenangkan hati ayah dan bunda yang tengah kepikiran dengan Laila.
"Tapi kak, kenapa kak Laila pergi sendiri, kenapa kak Arga nggak temanin dia?" protes Ridwan .
"Sebenarnya saya maunya juga begitu, tapi keadaan tak memungkinkan, urusan di perusahaan sangat banyak, makanya Adel mengusulkan diri untuk menemani Laila, lagi pula kalian tenang saja, orang orang suruhan ku untuk menjaga Laila sangatlah banyak, jadi tidak akan ada yang bisa berbuat jahat pada mereka," jelas Arga.
Bunda dan Ayah pun berusaha untuk berpikiran positif seraya mendoakan agar hal buruk tidak terjadi pada putrinya.
...*********...
Beberapa Minggu kemudian,,
Sebentar lagi Arga dan Rifki akan sampai di rumah sakit tempat Laila operasi wajah. Kini Arga sudah tak sabar ingin bertemu istri tercinta, setelah kurang lebih sebulan hanya melepas rindu lewat telepon saja.
__ADS_1
Begitupun Rifki yang sedari tadi di mobil melantunkan surah Al-Mulk dan Ar-Rahman seraya mengetes hafalannya. Kini sudah cukup banyak perubahan dalam diri Rifki.
Sampailah di rumah sakit,
Kini Arga dan Rifki sudah berdiri tepat di depan ruang rawat Laila. Langkah Arga terhenti mendengar percakapan dokter dan Laila.
"Anda sangat cantik pada aslinya, bagaimana kalau anda menjadi model iklan, kebetulan teman saya butuh model untuk iklan produk nya," ucap si dokter menawarkan Laila pekerjaan. Dokter tersebut tak bisa berkata apa-apa melihat kecantikan Laila yang tampak luar biasa setelah melepas perbannya.
"Terimakasih dok tapi teman saya ini tidak tertarik," tegas Adel yang sedari kemarin sangat kesal pada dokter yang selalu sok akrab dengan Laila.
"Saya ingin mendengar langsung bagaimana jawaban Laila," ujar dokter.
"Mohon maaf pak, tapi saya tidak akan melepas cadar demi menjadi model!" tegas Laila menolak keras tawaran si dokter.
"Tidak usah jawab sekarang, kamu masih bisa berpikir sampai besok," kata dokter, ia masih berharap bahwa Laila akan berubah pikiran.
"Tidak perlu repot-repot menunggu saya berubah pikiran hingga besok pak, sebentar lagi suami saya akan datang menjemput saya," tutur Laila. Tentu Laila tak akan berubah pikiran meski dokter menawarkan berbagai tawaran.
"Kamu bisa jadi artis besar Jika menerima tawaran dari saya, tenang saja, kamu tidak perlu membuka jilbab, cukup buka cadar mu saja," ujar dokter yang masih membujuk Laila meski laila berulang kali menolaknya.
"Istri saya sudah bilang tidak! kenapa anda masih membujuknya," tegas Arga.Laila tampak girang melihat Arga telah sampai di hadapannya.
"Sayang, akhirnya kamu datang," Laila dengan spontan memeluk suaminya.
Si dokter pun tak bisa berkata apa apa lagi, "Ya sudah kalau memang kalian tidak tertarik, saya permisi!" ucap Dokter dan buru-buru keluar ruangan.
Adel dan Rifki hanya tatap tatapan, bahkan malu untuk bertegur sapa. "Gimana kabar kamu?" tanya Adel yang masih canggung menatap Rifki. Meski dahulu sering bertengkar, namun kini Adel semakin kalem saat menghadapi Rifki.
"Aku baik, kamu?"
"Ya aku juga," jawab Rifki singkat. Keduanya pun saling mengalihkan pandangannya karena tak tau topik apa yang harus dibicarakan.
__ADS_1
Arga menatap Laila dengan penuh rasa cemburu mengingat si dokter adalah seorang laki-laki yang tampan meski usianya telah berkisar empat puluhan.
"Apa si dokter genit itu menemuimu setiap hari selama kamu ada di sini?" tanya Arga
"Ya iya, kan emang itu kerjaan dia, emang kenapa sih sayang, kamu cemburu? kan Adel juga selalu ada di samping aku," jawab Laila seraya menenangkan hati suaminya yang di Landa rasa cemburu.
"Dokter itu benar-benar menyebalkan, berani beraninya dia menawarkan mu pekerjaan semacam itu, memangnya dia pikir aku tidak bisa memberi kamu nafkah sehingga kamu harus bekerja," gerutu Arga merasa kesal mengingat tingkah si dokter.
"Udah sayang udah.. mendingan sekarang kita buru-buru pulang, aku kangen sama bunda dan yang lainnya," ucap Laila yang sudah tak sabar untuk bertemu orang-orang yang ia sayangi.
Rifki berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak melihat Arga dan Laila yang bersikap seolah dunia milik berdua.
Arga menatap ke arah Rifki, "Keluarlah dulu, aku ingin melihat wajah istriku," suruh Arga pada Rifki.
"Aku sudah tau wajah Laila sebelum kamu mengetahuinya, jadi berhentilah bersikap seolah kamu yang paling tau!" tegas Rifki.
Tentu saja ini membuat Arga kesal, mengingat kembali kejadian menyebalkan yang diceritakan Rifki.
"Udahlah Rif, ayok keluar, mereka juga butuh waktu berdua," ucap Adel mengajak Rifki untuk keluar dari ruangan.
"Iya..iya.." Rifki pun keluar di susul dengan Adel.
"Mereka sudah keluar, apa aku boleh melihat wajahmu?" tanya Arga yang sudah bersemangat dan penasaran.
Laila hanya menganggukkan kepalanya seraya menyetujuinya. Perlahan Arga mulai membuka cadar sang istri. Matanya tak berkedip melihat paras cantik Laila yang kembali cantik seperti semula.
Kini ia menutup mulutnya yang ternganga dengan tangannya. Ia tak bisa mengungkapkan kata yang tepat untuk mendeskripsikan kecantikan Laila.
"Sudah ku bilang, jantungku tidak akan aman jika melihat wajahmu tanpa cadar, tutuplah wajahmu lagi, aku khawatir seseorang akan melihatnya," ujar Arga sembari memasang cadar Laila kembali.
"Hanya kita di ruangan ini," ucap Laila tersenyum manis seolah menggoda Arga.
__ADS_1
"Jangan merasa aman, bisa saja Rifki mengintip wajah mu ini," tegas Arga yang buru-buru merapikan cadar Laila.
"Astaghfirullah..kamu masih aja ya mengkambing hitamkan Rifki dalam segala hal," gerutu Laila sembari mencubit pipi Arga.