Liar

Liar
PROLOG


__ADS_3

12 Tahun yang lalu


Rumah mewah kala itu kondisinya sudah seperti kapal pecah. Serpihan kaca dan miniatur-miniatur mahal banyak berceceran. Sepasang suami istri tengah bercekcok dahsyat. Dimulai dari sang istri yang menemukan bukti jelas bahwa suaminya telah mengkhianati janji suci mereka.


"Gobl*k! Kau memang wanita bodoh! Gosip saja dipercaya!" teriak Nik menggelegar. Pria berkulit putih dan berhidung mancung itu terus mengumpati istrinya. Dia tidak terima dengan keputusan Olivia yang mengajaknya bercerai.


"Aku nggak mau lagi ada hubungan diantara kita. Semua udah jelas terbukti kamu emang bajing*n, kamu suka mabuk, kamu berkali-kali sewa pelacur di hotel, kamu juga selingkuh! Laki-laki macam apa kamu ini, hah? Pergi kamu!" Olivia memalingkan wajah. Tak sudi lagi melihat wajah Nik yang begitu menjijikkan. Bahkan air matanya sudah tak mampu turun untuk menangisi bajing*n macam itu.


"Kemasi barang-barangmu dan jangan lupa tanda tangani surat cerai kita." ucap Olivia tegas.


BRAKKK!!


Nik menendang meja hingga terbelah menjadi dua bagian.


"Jangan seenaknya berbicara! Kubunuh juga kau!" teriaknya penuh amarah.


"Mama sama papa kenapa bicara kaya gitu... hiks... hiks..." tangis Bima yang tengah berdiri di pojok ruangan bersama Alya. Adik perempuannya yang masih balita.


Perhatian Olivia teralihkan oleh suara kecil itu. Ia tidak tega melihat anak-anaknya yang masih begitu kecil, melihat kejadian ini dengan mata polos mereka.


"Buang saja bocah itu! Biar kubunuh kau wanita bodoh!" teriak Nik membuat Bima menangis lebih keras lagi. Sementara Alya celingukkan bingung dengan raut sedihnya. Dia tidak mengerti tapi dia bisa merasakan suasana menyedihkan ini.

__ADS_1


"DIAM!!" Olivia meraih vas kaca kecil dan melemparnya.


Tepat sasaran. Nik mengusap kasar bibirnya yang berdarah. Ia menatap Olivia lebih tajam dari sebelumnya. Pria itu sangat murka. Ia mendorong kuat Olivia tanpa aba-aba.


Olivia terhuyung hingga tubuhnya terbentur tembok. Jantungnya berdebar dua kali lipat lebih cepat. Nik mulai mencengkeram lehernya tanpa belas kasihan sedikitpun. Wajah pria itu nampak sangat mengerikan.


"NYONYA!!" Bi Ikah, asisten rumah tangga berlari mendekati mereka. Sekeranjang sayuran dilemparnya asal hingga isinya tercecer kemana-mana.


"Tuan, ada apa ini? Saya mohon tolong lepasin Nyonya Via... saya mohon, tuan..." pinta Bi Ikah. Tangannya berusaha menarik tangan kekar Nik dari perbuatan gila itu.


"LANCANG SEKALI KAU, PERGI JANDA BODOH!" teriak Nik lantang. Seisi ruangan seakan bergetar oleh suaranya.


Olivia meringis kesakitan. Penderitaan seperti ini bukan hanya sekali terjadi. Tapi sudah berkali-kali pria itu melakukannya. Ia tidak ingin mati di tangan manusia brengsek itu. Dengan sisa tenaganya, Olivia berusaha keras melawan. Ia menendang kuat perut Nik hingga pria itu terhuyung beberapa langkah.


Olivia berlari ke dapur sambil terbatuk-batuk. Ia hampir saja kehabisan nafas oleh ulah suaminya sendiri. Nik mengejar langkah Olivia. Bi Ikah kalang kabut kebingungan sambil mengikuti mereka.


Nik menyeringai jahat. Ia menemukan target di depan meja dapur, berdiri membelakanginya. Nik melangkah hati-hati untuk menyergap tubuh itu. Tapi tiba-tiba Olivia berbalik badan menodongkan pisau ke depan matanya. Nik terkejut bukan main.


"Pergi sekarang atau aku telfon polisi!" tegas Olivia. Dadanya naik turun tak karuan.


Nik menelan ludah dengan berat. Tatapannya lebih tajam dari pisau di tangan Olivia, seakan menyimpan penuh dendam. Akhirnya Nik menyerah. Ia mengangkat tangan sambil berbalik badan meninggalkan dapur.

__ADS_1


Olivia terus mengekori Nik dengan todongan pisau. Mengawasi pria itu mengemasi barang-barang ke dalam koper. Ia membiarkan Nik memasukkan semua gepok uang tabungan mereka. Yang terpenting pria brengsek itu harus segera pergi dari rumahnya.


"Aku pergi. Mungkin kau yang beruntung kali ini." ucap Nik berlalu meninggalkan Olivia di ambang pintu kamar.


Olivia terus mengikuti langkah Nik bersama Bi Ikah juga. Memantau apakah Nik benar-benar akan pergi. Tiba-tiba, Nik menggendong Alya yang sedari tadi berdiri di pojokkan ruang tengah. Membawanya lari keluar rumah. Olivia berteriak sekeras-kerasnya sambil tertatih mengejar langkah Nik.


"HEY, JANGAN BAWA DIA! JANGAN BAWA ANAKKU! KAMU SETAN!"


Terlambat. Pria itu sudah membawa pergi anak perempuannya. Olivia terduduk lemas di halaman. Di tengah debu-debu dan asap knalpot mobil yang berterbangan. Tangisnya pecah dengan hebat terdengar begitu menyayat hati.


Bi Ikah memeluk Olivia. Menenangkan wanita yang sangat malang itu. Walau dia sendiri tak sanggup menahan air mata.


"Sudah, ikhlaskan saja jika ini memang takdirnya. Semoga mereka ke tempat yang aman, nyonya.." Bi Ikah mengelus-elus bahu Olivia. Isak tangis wanita itu makin lepas.


Angin berembus menggugurkan daun-daun kering di atas tubuh lunglai mereka. Seakan mengiringi perasaan hancur wanita malang itu.


"MAMAAA....." seorang anak kecil berlari menghampiri mereka dengan kakinya yang mungil.


"Papa mau kemana sama Alya. Mama, Bima juga mau ikut... hiks..." rengek Bima.


Bi Ikah beralih memandang bocah itu dengan sedih. Ditariknya tubuh mungilnya dengan satu lengan. Bi Ikah memeluk Bima penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2