Liar

Liar
CALON JAGOAN?


__ADS_3

Malam yang dingin. Bintang-bintang bertebaran di atas langit yang hitam. Bulan bulat purnama pun menyertainya. Alya tidak suka membuang-buang waktu. Ia berpikir mulai saat inilah ia harus melakukan pertemuan dengan para gengster Bima Ardja.


"Non Alya mau ke rumah sakit lagi?" tanya Bi Ikah saat mereka berpapasan di tangga.


"Mau ke rumah temen, Bi." jawab Alya ramah.


"Oh, jangan lupa pulangnya jangan kemaleman ya, Non. Bibi takut, Nyonya marah."


"Iya."


Alya melanjutkan jalannya yang tertunda. Sesuai perkataan Wanda, cewek itu akan menjemputnya. Dan Alya menunggu di teras rumah sambil memainkan gadget. Ternyata ada satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.


WhatsApp


+62**********, 1 pesan baru


18:50 : Nona Alya Callista, anda telah dipanggil untuk melakukan pemotretan hari ini. Mulai minggu ini, jangan lupa luangkan waktu anda untuk pemotretan. Jadwal anda belum tercantum, dan anda akan kami panggil sesuai waktu yang kami tentukan. Terimakasih.


-Gallery Group.


"Apaan si, gaje banget." gumam Alya sambil mengabaikan pesan itu. Entah dari siapa dan Alya tak mau ambil pusing.


Bremmmmmm! Bremmmm!


Motor bising Wanda memasuki halaman rumah. Alya langsung terpana dengan sahabat satunya itu. Wanda memang tampak sangat keren ketika bersama dengan motornya. Alya menghampiri Wanda dengan senyuman lebar.


"Yuk,"


....


"Jadi ini ada apaan?" Galang angkat bicara saat ia, Alya, Wanda, Kevin, Banar, dan Beni berkumpul di sofa. Sementara yang lain sibuk bermain poker atau berkumpul di lantai atas.


"Alya mau ngomong." jawab Wanda membuat Alya terbelalak dan menyenggol lengan cewek itu dengan sikut.


"Gapapa ngomong aja, kan ada gue disini." lanjutnya.


"Mau ngomong apasi, cantik. Ngomong aja lah, kaya sama siapa. Kita bakalan dengerin lo kok." tambah Banar sambil menggerakan alisnya naik turun. Membuat Alya geli sendiri.


"Wanda aja." balas Alya.


"Gue maunya lo yang ngomong."


"Tuhkan, udah ngomong aja lah. Apa si susahnya," Wanda terus membujuk Alya agar sahabatnya mulai terbiasa berkomunikasi dengan mereka.


"Mau nanya, disini ada yang tau siapa pemimpin geng motor yang nyerang sekolah, ga?" tanya Alya.


Mereka tampak menggeleng berjamaah. Mengisyaratkan tidak tahu.


"Emang kenapa?" tanya Beni.


"Bisa dilogika ga si, kalau yang nyerang sekolah kita itu orang yang punya dendam sama Bima. Maksudnya si, mereka gaada dendam sebetulnya, tapi pemimpin mereka yang punya dendam. Dan pemimpin itu nyuruh mereka buat ngedapetin Bima." jelas Alya panjang lebar. Cukup detail nggak sih?


"Gue paham." respon Banar sambil mengangguk-angguk.


"Gue juga mikir gitu. Dan gue curiga sama satu orang, dia musuh kita dari dulu." Kevin pun memberi respon. Seketika semua orang menatap ke arahnya dengan lekat.


"Maksud lo Anhar?" tebak Wanda bersamaan dengan Galang.


"Ngapain si lo, Yang. Ngikut-ngikut gue," tuduh Galang diakhiri pelototan dari Wanda.


"Lo yang ikut-ikut!" sembur Wanda.


Tunggu, tadi Galang manggil Wanda apa? Yang? Ah, Alya tidak mau ambil pikir dulu. Sekarang ia fokus ke tujuannya.


"Kalau Alya curiganya sama Kak Sarah, Riko. Soalnya mereka punya masalah sama Bima. Tapi ini menurut Alya, belum tentu bener."

__ADS_1


"Bisa ga si, lo kalo ngomong pake lo, gue aja. Kan jadi enak didengerin." protes Kevin.


"Ngapain si lo pake komplot segala, ah." sembur Banar tak terima.


"Napa jadi lo yang kesel dah?"


"Jadi ganggu tau! Ntar kalo dia gamau ngomong lagi gimana,"


"Udah-udah, kalo mau tawuran, jangan disini! Kita tuh lagi bahas serius!" Wanda menggebrak meja. Membuat Kevin dan Banar langsung terdiam. Mau senakal apapun mereka, pasti akan kelakap jika Wanda sudah membentaknya. Yeah, mereka tipe cowok badboy tapi menghargai perasaan perempuan. Bagemana pemirsahh, gemesin bukan? Wkwk


"Yaudah lanjutin, Al. Gimana tadi," Galang memecah keheningan yang tercipta sesaat itu.


"Alya..."


"GUE!" potong Wanda cepat.


"Alya gabis..."


"G-U-E, pokoknya mulai sekarang lo coba latian ngomong pake LO, GUE!" ucap Wanda menekankan dua kata akhir itu. Biar si Kevin puas, pikirnya.


Semuanya terdiam. Wanda sudah kesal dan mereka tidak mau mengusik cewek itu. Apalagi sekedar membalas perkataannya, mereka tidak berani.


"Gu...gue minta tolong sama kalian. Kita kerjasama buat balas pemimpin itu. Alya, eh, gue gaterima hidup Bima udah tinggal takdir yang nentuin. Jadi tolong kerjasamanya, bantuin Alya nyari pemimpin itu." lanjut Alya mengutarakan keinginannya yang sempat tertunda.


"Maksud lo, lo mau balas dendam?" tanya Galang seakan tidak percaya seorang Alya berani melakukan hal macam itu.


"Iya."


"Wiihh, lo kesurupan apa, Al? Gue denger lo cewek baik-baik. Tapi kok berani kek gitu." tambah Banar.


"Ini yang kaya gini biasanya bakal jadi jagoan, nih." seseorang menyahut dari arah pintu masuk. Mereka semua menoleh, dan terkejut mendapati Kang Kisna tengah berdiri di ambang pintu dengan lipatan tangan di depan dada.


"Kang Kisna, kapan kesini?" sapa Galang ramah.


Dengan sabar, Alya kembali menjelaskan secara detail permintaannya. Kang Kisna tampak mengangguk-angguk sembari mengelus dagu. Setelah selesai menjelaskan, Kang Kisna mulai memberi respon.


"Kalo begitu si hati-hati mah. Mereka pasukan asing, dan kita belum tau seberapa hebat mereka. Tapi curigaan Neng Alya emang masuk akal. Sarah punya dendam sebab dia diputusin Bima. Riko juga. Kalo Anhar mah dia emang musuh kita dari dulu, tapi bukannya Anhar masih ditahan?"


"Kemaren si emang ditahan, siapa tau sekarang udah bebas. Kan itu cuma tahanan ringan dari om-nya." balas Wanda.


"Begitu ya, hmm..."


Semuanya sempat diam dengan pikiran masing-masing. Mendadak suasana menjadi hening dan Alya mencoba melirik Kevin. Cowok itu tampak berpikir sembari memainkan korek api. Tiba-tiba gadget yang Alya genggam sedari tadi memecah keheningan mereka. Lagi-lagi nomor tidak dikenal menghubungi Alya lewat telepon WhatsApp.


"Sapa tuh," kepo Beni.


"Gatau ini nomor siapa." balas Alya sambil memperhatikan nomor itu, foto profilnya kosong sehingga ia sulit mengenali.


"Apa mungkin Papa?" pikir Alya dalam hati. Ingatan itu membuat jantungnya berdebar-debar.


"Mana, mana, sini gue liat." Wanda merebut gadget Alya dan langsung ia tekan tombol hijau.


Alya sempat terbelalak tapi Wanda mencoba untuk menenangkan.


"Hallo?"


"..."


"Iya, kenapa? Ini siapa?"


"..."


"Oh, begitu. Maaf saya masih sibuk, saya gabisa."


"..."

__ADS_1


"Saya bilang gabisa ya gabisa!"


Klik


Wanda mematikan telepon itu dengan kesal. Tentu saja mereka terheran-heran dan kepo dengan siapa yang barusan berbicara di telepon. Wanda kembali menyerahkan gadget itu pada pemiliknya.


"Siapa, Nda?" tanya Alya dengan jantung masih berdebar-debar. Ia takut kalau misalkan yang telepon itu adalah Papanya.


"Tau tuh, katanya dari Gallery Group. Namanya Seno, lo disuruh kesana buat pemotretan. Tapi gue tadi udah bilang gabisa."


Alya cuma mengangguk-angguk sembari ber oh tanpa suara. Mengingat istilah Gallery Group, Alya ingat dengan pesan dari orang asing, satu jam yang lalu. Kemudian, pemikirannya kembali dibuyarkan oleh kedatangan Adam.


"HAY, GAIIISSS!" teriak cowok itu dengan wajah ceria dan panci di atas kepalanya.


"Njirr lo naik motor pake helm panci?" tanya Beni yang langsung disambut tawa oleh mereka.


"Bukaan, gue mau numpang masak mi. Hahaha."


"Yaelaah, rumah lo abis ambruk ya?" tanya Kevin.


"Enak aja. Gue males nih lagi kesel sama Nyokab."


"Pasti pura-pura gamau makan padahal laper yekan," tuduh Wanda lalu mereka ketawa.


"Tau aja lo. Yodah gue masuk dulu lah, bisa mati gue kelaperan."


....


"Gimana nih, Kang. Gue bingung nih, kalo ada Bima pasti udah kelar masalah kaya gini." tanya Galang saat ia dan Kang Kisna berdua di atas rooftop markas.


"Kang Kisna juga bingung. Tapi kasian Neng Alya, dia pasti dendam banget sama orang itu." jawab Kang Kisna sembari mengeluarkan bungkus rokok. Lalu menawari Galang.


"Makasi, Kang." Galang mengambil satu batang rokok itu dan menyulutnya menggunakan korek Kang Kisna.


"Mestinya kalian bantu aja. Besok Kang Kisna bantu susun rencana, tapi pastiin semua anggota hadir." ucap Kang Kisna sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Beneran nih? Mereka pasukan asing loh, Kang. Kita gatau seberapa hebat mereka,"


"Tenang aja, ada Kang Kisna." balasnya enteng lalu ketawa.


"Yaudah iya. Gue juga gaterima Bima sampe segitu. Awalnya si gue kira Bima bakalan baik-baik aja, tapi ternyata separah itu bahkan mau disembuhin dimanapun udah gabisa."


"Semoga takdirnya, Bima bakalan sembuh. Kang Kisna yakin!"


"Aminn."


"Kang Kisna rasa..."


"Hmm?"


"Kita bakalan punya jagoan baru."


"Maksudnya?"


-------------------------------------


Bingung yaa, sama aku juga🤣


Nantikan kisah selanjutnya ya gaes,


Jan lupa warnain jempolnya:v


Vote? 😍😍😍


Dadaa_

__ADS_1


__ADS_2