Liar

Liar
ALYA SAKIT


__ADS_3

"WANDAAAAAAAAA!!!"


Teriak Sasha heboh saat Wanda masuk kelas. Suaranya yang cempreng membuat semua orang menutup telinga kesakitan. Memang dasar, pagi-pagi sudah bikin pencemaran suara. Wanda tetap santai karena ia memakai earphone. Jadi telinganya aman.


"Wanda, lu denger nggak sih gue panggil?"


Wanda meletakkan tas punggung di kursi. Tak melirik Sasha sama sekali. Ia duduk dengan santai lalu mengotak-atik gadgetnya. Mengganti musik yang tengah ia nikmati.


"Wanda!" teriak Sasha. Cewek itu menarik earphone Wanda dengan kesal.


"Apaansi, Sha? Ganggu aja lu." balas Wanda.


"Kenapa lu kemaren nggak masuk, hah!"


"Kesiangan."


"Ya kenapa nggak berangkat aja sih? Alya aja berangkat walaupun telat."


"Itukan Alya bukan gue."


"Wanda!"


"Apasih, Sha. Sini deh earphone gue. Gue pengin dengerin musik tapi lu gangguin." gerutu Wanda.


"Lu nggak tahu kejadian kemaren, Nda?"


"Kejadian apa?" tanya Wanda cuek.


"Alya."


"Alya kenapa?" ekspresi Wanda langsung berubah. Ia menatap Sasha serius.


"Lah kirain lu udah tau, malah belum, hmm."


"Alya kenapa emang? Eh, mana anaknya? Nggak kaya biasanya belum berangkat. Biasanya kan dia dulu yang sampai kelas, bukan gue." Wanda menengok kursi sebelahnya yang kosong.


"Okedeh, gue ceritain." Sasha duduk di kursi Alya. Wanda memasang telinga baik-baik. Sasha mulai menjelaskan kejadian kemarin dari Alya berangkat terlambat, dihukum Pak Saiful, pingsan, dan sampai kejadian terakhir Alya memeluk Kevin pun ia ceritakan. Wanda terbahak mendengar itu.


"Pasti malu tuh dia, hahahaha... pake meluk sembarang orang lagi." ucap Wanda.


"Nitip surat." Bima tiba-tiba sudah disana, menyodorkan amplop putih ke Wanda.


"Lah, kapan dateng lu?" Wanda menatap Bima heran sambil menerima amplopnya.


"Yaampun, Kak Bima! Bikin kaget aja!" pekik Sasha.


"Asyik bener ngobrolnya. Sampe nggak sadar ketawa udah kaya pake toa. Tuh liat!" Bima menunjuk orang-orang di kelas yang tengah menatap Wanda dan Sasha heran.


Wanda menutup mulut. "Sorry, guys!" teriaknya lalu terkikik pelan.


"Alya nggak berangkat, Kak Bima?" tanya Sasha.


"Nggak."


"Gimana kabarnya? Masih sakit?" tanya Wanda.


"Udah agak mendingan sih, cuma masih lemes aja katanya."


"Gue punya cerita lucu loh, kak." kata Sasha menahan Bima beranjak dari kelas mereka.


"Cerita apa?" tanya Bima.


"Tentang Alya sama Kevin."


"Apaan?" Bima mengernyitkan dahi. Wanda terkekeh pelan.


Sasha pun menceritakan ulang kejadian Bima memeluk Kevin, yang mengira Kevin adalah abangnya.


"Bego!" ucap Bima selesai ketawa.


"Gue jadi penasaran muka Kevin gimana." ucap Wanda.


"Dia malah senyum-senyum, tapi lucu juga sih ekspresi kagetnya."


"Lah orang-orang nggak ada yang ngasih tau emang?" tanya Bima.


"Nggak! Mereka semua nahan tawa, apalagi gue. Kan kasian kalo diketawain." balas Sasha. Mereka bertiga tertawa.


"Aduh, gue jadi ngerasa bersalah bawa dia nonton balapan kemaren, Bim. Kita pulang jam 1 malem, dan hujan-hujanan di jalan. Pasti gara-gara itu dia jadi sakit." jelas Wanda. Wajahnya berubah murung.


"Nggak lah. Itu bukan salah lu. Dia cuma telat makan, jadi maaghnya kambuh." balas Bima mengelak.


"Gini aja, pulang nanti kita kerumah Alya yuk, jenguk dia. Kak Bima, lu juga ikut ke rumah Alya, ya!" seru Sasha.


"Rumah Alya kan rumah gue juga, bego." Bima menyembur.


Wanda menjitak kepala Sasha. "Gimana sih lu pake bloon segala di depan cowok yang lu demeni—"


Sasha cepat-cepat membungkam mulut Wanda.


Bima menggaruk belakang kepala berlagak tak paham meskipun aslinya dia paham. "Apa?" tanyanya.


"Nggak!" balas Sasha ketus.


****************


Alya duduk di ranjang sambil menonton televisi. Ia baru selesai makan siang.


"Nggak ada acara yang bagus." Ia bicara sendiri sambil menggonta-ganti stasiun televisi dengan remote. Wajahnya masih sedikit pucat karena ia belum sembuh total.


Alya mendengar seperti ada suara keramaian di lantai bawah. Suara orang tertawa-tawa dan mengobrol.

__ADS_1


"Non Alya." Bi Ikah membuka pintu dan masuk.


"Ada apa, bi?" tanya Alya.


"Temen-temen nona pada dateng tuh. Mau jenguk non Alya katanya." ucapnya memberitahu.


"Mm... siapa aja, bi?"


"Lah bibi mah nggak tahu nama mereka, non. Ada enam orang kalo nggak salah, yang dua cewek sisanya cowok semua."


"Yang cewek suruh kesini duluan deh, bi." ucap Alya. Ia sudah tahu pasti siapa orang itu. Pasti kedua sahabatnya.


"Baik, non." Bi Ikah pergi.


Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Alya setengah berteriak menyuruh masuk.


"ALYAAAAAAA!!!" teriak Sasha.


Gadis itu berlari dan langsung memeluk Alya tanpa aba-aba.


"Heh, lu tau nggak. Suara lu tuh bikin Alya tambah pusing tau!" sembur Wanda.


"Yeee, mana ada. Biasa aja kan, Al?" jawab Sasha.


Alya cuma tertawa pelan. Sasha melepas pelukkannya yang hampir membuat Alya mati karena sesak nafas.


Wanda mendekat ke ranjang. Ia menatap Alya sambil geleng-geleng kepala dan berkacak pinggang.


"Gila lu. Lagi sakit aja tetep cantik. Muka lu pucet tapi cantik lu nggak luntur juga, ya."


"Mana ada, ah." balas Alya.


"Jadi lu sakit apa?" tanya Wanda lalu duduk di bibir ranjang.


"Cuma demam, ini udah mendingan kok. Paling besok sembuh dan bisa ke sekolah."


"Iya gitu dong, cepet sembuh biar bisa ke sekolah lagi." ucap Sasha.


"Hehe, iya. Di bawah ada siapa aja?"


"Nggak rame kok, cuma Bima, Galang, Nico, Erik, sama Kevin." balas Wanda.


"Itu rame lah!" elak Alya membuat Wanda terkekeh.


Mendengar nama cowok terakhir yang disebutkan Wanda membuat Alya teringat kejadian kemarin. Ia menelan ludah dengan berat.


Sasha menatap Wanda sambil menahan tawa. Wanda mengode cewek itu agar tetap diam.


Pintu kamar dibuka. Mereka bertiga sontak menoleh. Bima masuk sambil menggendong tas ransel di satu punggung.


"Mereka mau masuk, boleh nggak?" tanyanya.


"Hai, sayangku, cintaku, matahariku, buah kasihku... gimana kabarnya, cantik?" itu suara Nico. Alya menatap cowok itu yang tengah pura-pura menyeka air mata dengan tissue, padahal wajahnya kering. Yah, sepertinya dia cocok dengan Sasha. Sama-sama alay.


"Jijik, goblokk!" Erik yang disebelahnya tanpa sungkan memoles kepala Nico.


"Diem lu, nggak ngerti suasana aja. Gue lagi sedih nih pacar gue sakit!"


"Alay, bego! Jijik gue dengernya."


"Apasih, gue juga ngomong ke Alya bukan ke elu. Kenapa lu yang sewot!"


"Ya lu alay, coag!"


"Suka-suka gue lah, napa lu cemburu, ya?"


"Mata lu!"


"Cielah, Erik cemburu sama Nico bebeb tersayangnya." Galang menyambung mengundang tawa mereka.


"Cie... cie..." yang lain langsung menyorakki.


"Cie... Erik lope Nico, ciee..."


"Uhuy! Erik cemburu, kiw!"


"APASIH! NAJIS KAMPRET!" teriak Erik kesal.


"Hahahahaha...."


Mereka semua tertawa. Kecuali Nico dan Erik yang saling melotot.


"Udah, cukup. Gimana kondisi lu, Alya?" tanya Galang mengembalikkan suasana.


"Aku nggak papa kok, cuma demam kemarin. Sekarang udah mendingan. Ngapain pada repot-repot kesini," balas Alya merasa sungkan.


"Yah, kita pengin jenguk lu, Al. Emang nggak boleh?"


"Hehe, ya tapi aku baik-baik aja. Malah pada repot-repot kesini."


"Nggak lah! Gue minta maaf, ya Al. Udah maksa lu buat ikut nonton balapan kemaren. Lu jadi sakit begini." balas Wanda.


"Lah, ngapain minta maaf. Bukan salah kamu, Wanda." Alya menatap sahabatnya sambil tersenyum tipis.


"Emang lu belum pernah keluar malem, ya? Sekali keluar langsung masuk angin aja." ucap Galang.


"Anjai." Kevin membalas.


"Hahaha, lemah." tambah Bima.


"Waduh, nggak asik tuh!" seru Nico.

__ADS_1


"Apaantuh!" Erik ikutan.


"Wey, pada ngomong apaan sih. Nggak jelas banget. Mana tadi bawaannya, kasihin!" teriak Sasha dengan suara cemprengnya.


"Silahkan, ratu toa." Nico menyerahkan parcel buah ke cewek itu, sambil berjongkok layaknya prajurit dengan sang ratunya.


Sasha menerima dengan bibir mengerucut sebal.


"Kita bawain buah tangan buat lu. Cepet sembuh, yaa." kata Wanda.


"Tuhkan ngerepotin!" balas Alya.


"Nggak sama sekali!" balas Sasha.


"Thanks, yaa. Udah pada nengokkin kesini." ucap Alya.


"Yoi, santai aja." balas Galang mengacungkan jempol.


Tok... tok... tok...


Pintu kamar diketuk. Bima yang tengah bermain game dengan Kevin beranjak membuka pintu.


"Ada apa, bi?" tanya Bima sambil terus fokus memijit gadget.


"Maaf, permisi, ada tamu lagi yang mau jenguk Non Alya." jawab Bi Ikah.


"Suruh masuk aja." balas Bima.


"Baik, Den Bima."


Seorang cewek berambut pendek masuk. Mengenakan kemeja berwarna peach dan jeans putih. Cocok dengan wajahnya yang manis. Wajahnya sedikit terkejut ketika melihat ramai orang di dalam kamar.


"Awas, awas, belakang lu, Vin!" seru Bima.


"Gue tau, sabar." balas Kevin.


"Abang," Alya memanggil Bima.


"Vin, depan gue, vin!" teriak Bima.


"Abang." Alya memanggil lagi meninggikan suara dari sebelumnya. Bima masih belum menyaut.


"Legendary!"


"Abang!" Alya setengah berteriak. Cowok itu terkejut dan menatap ke arah Alya.


"Apa?" balas Bima.


Alya menunjuk arah pintu dengan dagu. Bima menoleh, ia terkejut dan langsung meletakkan gadgetnya. Sarah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum ke arahnya.


"Kok nggak ngasih tau kalo mau kerumah." kata Bima sambil menggandeng tangan Sarah masuk.


"Harus, ya? Aku mau jenguk Alya, katanya dia sakit." jawab Sarah.


"Ini cewek gue." Bima mengenalkan Sarah kepada yang lain. Semua orang kini menatap cewek itu. Kecuali Kevin yang tetap asyik main game.


"Oh, jadi ini yang namanya Sarah." balas Galang sambil mengangguk-angguk.


Bima menyebutkan nama mereka satu persatu, mengenalkan semua teman-temannya kepada Sarah.


"Cantik kan cewek gue!" seru Bima lalu tertawa.


"Hmm, oke juga tuh." balas Galang.


"Ekhemm." Wanda berdehem.


"Lumayan lah." ucap Erik.


"Hahaha, lu gimana, Vin?" tanya Bima menatap Kevin.


Cowok itu melirik Sarah sebentar lalu kembali ke game. Ia cuma mengedikkan bahu tanpa berucap sepatah katapun.


"Kalo kata gue biasa aja sih." Nico ikutan.


"Alah, bilang aja lu iri, dasar jomblo!" ledek Galang diakhiri tawa mereka.


"Apasih, kalian masih belum paham juga, ya. Di hati gue tuh cuma ada Alya." jawab Nico.


"Kamu siapa?" Alya memberanikan diri berbicara. Membuat Nico diketawai habis-habisan oleh mereka.


"Awas lu ya, Al!" Seru Nico dengan sisa ketawa. Cowok itu mengangkat kepalan tangannya ke arah Alya.


"Terlalu pede itu tidak baik." gumam Kevin.


Alya melirik Kevin. Cowok itu tengah duduk di sofa ujung kamar, masih fokus dengan gadget miring.


"Sasha bete tuh." bisik Wanda ke Alya sambil cekikikan.


Alya menatap Sasha. Cewek itu tertunduk memainkan bagian bawah roknya dengan wajah cemberut. Alya paham perasaannya. Ia beralih menatap Wanda, mereka berdua cekikikan lalu saling berbisik.


"Kasihan dia."


"Ngecrushin orang yang udah punya pacar, xixixi." Wanda membalas.


"Sttt, jangan keras-keras, Nda."


"Ups."


"Jadi Alya sakit apa? Kenapa bisa sakit?" tanya Sarah sambil berjalan mendekati Alya. Wanda berdiri dari ranjang membiarkan cewek itu duduk di bekas ia duduk.


"Kebanyakan makan batu." itu suara Bima.

__ADS_1


__ADS_2