Liar

Liar
WHERE BIMA!


__ADS_3

Matahari kembali tersenyum cerah, burung-burung berkicau riang. Dedaunan dari pohon-pohon meneteskan air sisa hujan semalam. Sinar matahari masuk menerobos tirai jendela kamar Alya.


Gadis itu bangun karena alarm jam beker. Matanya membulat seketika melihat tunjukkan jarum jam. Pukul 06:00, adalah waktu yang cukup siang baginya. Segera Alya bangkit dan berlari ke kamar mandi terdekat.


"Mama kenapa gabangunin Alyaa" protes Alya dengan bibir manyun, ketika duduk di kursi makan.


"Biasanya juga bangun sendiri" jawab Mama santai sambil meletakkan lembaran-lembaran roti bakar yang baru keluar dari toaster, ke piring masing-masing.


"Tapikan jadi buru-buru gini siap-siapnya"


"Kak Bima mana?" tanyanya kemudian setelah mendapati kursi disebelahnya kosong.


"Nanti juga kesini"


"Tadi malem itu dia kenapa si, Ma?" tanya Alya mulai serius.


"Mama juga gangerti, gabiasanya dia kayak gitu" balas Mama yang kini tengah meracik roti dengan selai cokelat.


"A...Alya takut" lirih Alya menatap Mama lekat.


"Takut kenapa?"


Alya hanya menggeleng tak bisa menjawab. Tiba-tiba saja air matanya turun tanpa izin. Mama tentu terkejut melihat putrinya yang menangis.


"Alya kenapa nangis?" tanya Mama bingung.


"Alya gamau Kak Bima per..." ia tak melanjutkan perkataannya karena isak.


"Kamu ngomong apa si, sayang" Mama berdiri dan membungkuk. Menghapus air mata di pipi Alya. Ia mengelus puncak kepala Alya sampai akhirnya gadis itu berhenti menitikkan air mata.


"Nah gitu dong, udah cantik-cantik kok nangis"


Bima datang dengan tenang kemudian menarik kursi disebelah Alya untuk duduk. Keningnya berkerut ketika menatap kedua mata Alya yang sembab.


"Lo kenapa?" tanyanya bingung.


"Gapapa" balas Alya cepat sambil memasang wajah datar. Ia segera memakan roti bakar dihadapannya, tak mau memandang wajah Bima yang mungkin akan membuat pipinya kembali banjir.


"Dari semalem anak-anak Mama pada kenapa si? Mama jadi pusing sama kalian"


....


Alya menghempaskan tubuhnya di kursi tempat duduk. Matanya menatap kosong ke luar jendela kelas. Ia terus memikirkan kata-kata Bima tadi malam. Mencoba mencerna setiap lontaran katanya. Hatinya mulai tak tenang, ia merasa gelisah.


"Alyaaa" seorang cewek dengan jaket putih bermotif karakter hello kitty, muncul dari ambang pintu. Bahkan tudung jaket yang ia kenakan saja memiliki telinga karakter kartun tersebut. Belum lagi ekor yang menyembul di bagian belakang, membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya mesti menggeleng-gelengkan kepala. Siapa lagi orangnya kalau bukan Sasha.


Sasha datang bersamaan dengan Wanda yang sekarang tengah meletakkan tasnya. Ia duduk di kursinya, disamping Alya.


"Lo kenapa?" tanya Wanda melihat raut wajah murung Alya.


Alya menggeleng dengan berusaha mengembangkan senyum kecil. Untuk memperlihatkan pada kedua sahabatnya bahwa ia baik-baik saja.


"Baru kemaren di kasih cokelat sama Kevin, sekarang udah galo aja" goda Sasha.


"Emang. Lo kenapa si mukanya lesu gitu?"


"Perasaan Alya lagi ga..."


"Pak Saiful! Pak Saiful!" teriak Rendi sambil berlari cepat menuju kursi duduknya.


Sasha langsung berjalan cepat kembali ke mejanya, sebagaimana juga dengan yang lain. Wanda pun mengambil posisi duduk tegak, menghadapkan seluruh tubuhnya kedepan. Suasana kelas sudah rapi sebelum Pak Saiful masuk.


"Selamat pagi anak-anak!"


"Selamat pagi Pak Saiful!"


....


Bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Semua orang bersorak gembira layaknya anak kecil. Pak Saiful keluar lebih dulu sebelum suasana kelas berubah menjadi toko sembako emak-emak yang sedang diskon.


"Ke kantin aja yuk, biar lo gagalau mulu" ajak Wanda sambil membereskan buku-buku serta alat tulis, lalu memasukkan mereka semua kedalam laci.


Alya mengangguk mengiyakan. Memang selama pelajaran IPS tadi, ia banyak sekali melamun. Entah kenapa, ia merasa gelisah saja memikirkan kata-kata Bima. Pikiran negatif terus menghantui Alya, bahwa Kakaknya itu seolah akan pergi jauh dari kehidupan. Ini maksudnya apa ya?.


"Sha, kantin!" teriak Wanda saat berdiri, pada Sasha.


"All right!"


Mereka bertiga berjalan ke kantin beriringan. Sasha terus melingkarkan satu lengannya di punggung Alya. Cewek alay itu memang sering melakukan hal yang membuat orang lain disekitarnya merasa risi.


Sampai di kantin, mereka memesan makanan dan duduk di meja bundar. Bercerita tentang hal-hal lucu dan konyol membuat Wanda dan Sasha terus menerus ketawa. Sedangkan Alya hanya sesekali saja, ia terus merasakan resah entah apa itu penyebabnya.


Adam datang bergabung dengan mereka. Seperti biasa, cowok itu langsung main ambil minuman Sasha yang tergeletak.


"Adaaaaammmmm! Udah berapa kali lo ambil minuman gue!" Sasha mendengus sebal.


Adam tak membalas suara cempreng itu. Ia terus menikmati milkshake strawberry dingin di genggamannya. Tapi kemudian kedua matanya tiba-tiba mendelik ke arah Sasha.


"Eh, setann! Lo kemaren ngasih gue minum apaan!"


Kali ini Alya ikut ketawa, mengingat minuman jus jambu biji mengerikan yang Sasha bubuhi sambal sepuluh sendok.


"Gue gangasih, lo yang ngambil sendiri!" elak Sasha lalu ketawa puas.


"Awas lo, gue celupin juga tu pala ke got tetangga!"

__ADS_1


"Lo punya duit ga si? Tiap hari ngambilin minum gue mulu. Dasar missqueen!" sembur Sasha lagi.


"Yee, duit gue punya banyakk" cerca Adam sambil merogoh saku dan menunjukkan selembar uang berwarna merah pada mereka semua.


"Bajirr, sehari lo dikasih uang saku segitu?" tanya Wanda terbelalak.


"Yaiyalah, sultaaann!" seru Adam sambil satu kakinya sok-sokan diletakkan ke atas meja. Ia menggerakan kedua alisnya naik turun.


"Sombong amaatt!"


"Paling buat sebulan, hahaha" canda Sasha.


"Mak lo naik skuter! Nii bokap gue tu bentar lagi jadi presiden, ntar gue mau borong lamborgin..."


"ADAM, TURUNKAN KAKINYA!"


Serentak semua menoleh kearah sumber suara yang menggelegar itu. Sangat tidak asing lagi bagi mereka, bahkan Alya saja yang siswi baru pun hafal siapa pemilik suara mengerikan tersebut.


"Hehe, Bu Vita" cengir Adam tak berdosa sambil menurunkan kakinya ke lantai.


Alya, Wanda, dan Sasha tentu bersusah payah menahan tawa. Melihat wajah Adam yang tadinya sok-sokan, kini berubah macam wajah trenggiling. Gaje oi


"Bu Vita ngapain ke kantin?" tanya Adam memecah suasana tegang.


"Jajan lah"


Seketika kembungan di pipi Adam pecah karena ia ketawa. Wanda dan Sasha yang suka ketawa bebas tak beraturan pun kini harus membungkam mulut mereka.


"Kenapa ketawa?" tanya Bu Vita heran.


"Gapapa, Bu. Yaudah silahkan kalau mau jajan" jawab Adam lalu bangkit dan mencium punggung tangan Bu Vita. Langsung saja dia melesat meninggalkan tempat itu dengan kekuatan kilat. Tak mau mendengarkan ceramah Bu Vita lebih banyak lagi.


"Emang ya tu anak" Bu Vita geleng-geleng sendiri menatap tingkah laku anak didiknya, ia kembali berjalan meneruskan niatnya yang tertunda. Jajan.


....


Sudah setengah jam berlalu pelajaran IPA yang amat sangat membosankan. Semua penghuni kelas X-IPS II banyak yang tidak memperhatikan. Mereka asik dengan obrolannya sendiri-sendiri. Akhirnya Bu Riska merasa jengkel dan menyuruh Kia menjelaskan materinya.


"Kia, silahkan kedepan. Jelaskan materi reaksi garam semampumu"


Cewek berkacamata tebal itu menerimanya dengan tenang. Bagaimana tidak, dia cewek paling pintar di kelas. Kia segera bangkit dan berdiri di depan sesuai perintah Bu Riska.


"Asam sulfat bereaksi dengan kalium hodroksida, menghasilkan kalium sulfat dan air. Asam nitrat bereaksi dengan lithium hodroksida menghas..."


Prrrraaaaaannngggggg!


Jendela yang terletak tepat di samping tempat duduk Alya pecah. Sebuah batu sebesar kepalan tangan mendarat masuk menerobos kaca itu.


Semua orang terkejut dan spontan menatap arah suara. Suasana kelas jadi gaduh dan berantakan. Beberapa orang berlarian keluar untuk mencari tahu siapa yang melempar batu tadi.


"Ada yang terluka?"


"Gapapa, Bu" jawab Wanda sambil hati-hati menyingkirkan serpihan kaca dari mejanya.


"Aw!" pekik Alya tiba-tiba yang juga sedang membersihkan serpihan kaca. Jari telunjuknya tertancap serpihan itu sampai berdarah.


"Hati-hatii" ucap Bu Riska lagi.


"Lo gapapa kan?" tambah Wanda.


"Vigo, tolong ambilkan kotak P3K di UKS ya!"


"Iya, Bu" balas Vigo lalu segera berlari ke UKS ditemani Rendi.


"Gapapa kok, Bu. Cuma perih dikit"


"KITA DISERAAANGGG!" teriak Febri dan Ando bersamaan ketika mereka selesai meneliti keadaan luar. Semua orang yang ada di kelas tentu saja bingung.


Breeemmmmmm! Breeeeeemmmmmmm!


Terdengar deru motor bising beramai-ramai dari luar sana.


"Itu apa?" tanya Alya yang juga sedang bingung. Ia memandang Wanda lekat.


Mata hitam Wanda langsung terbuka lebar. Dia langsung berlari keluar tanpa merespon Alya. Alya pun jadi bingung dengan sahabat satunya itu. Apa yang dia pikirkan?.


"Wanda!" teriak Alya tapi tak berhasil. Cewek itu sudah lebih dulu meninggalkan kelas. Tanpa pikir panjang lagi, Alya langsung beranjak menyusul Wanda dengan berlari secepat mungkin.


"Alyaaa mau kemanaaa!" teriak Bu Riska bersamaan dengan Sasha.


....


Alya tak bisa menemukan Wanda karena keadaan sekolah yang cukup heboh. Orang-orang berlarian kesana-kemari sambil berteriak-teriak. Suasana itu membuat Alya makin penasaran ada apa di halaman depan. Ia mempercepat langkah, menyelusup banyak orang yang tengah modar-mandir tak jelas.


Alya tidak mempercayai situasi ini. Ia sampai di koridor depan dan mendapati gerombolan geng motor yang pasti bukan Bima Ardja, dengan jumlah yang sangat banyak. Seseorang yang dinobatkan sebagai pemimpin, berada paling depan diantara mereka. Bertengger diatas motor jenis RX-King dengan tangan kanan mengacungkan pedang samurai.


Beberapa dari mereka mulai berusaha memanjat gerbang yang sudah ditutup oleh satpam. Namun sia-sia, karena para guru dan penjaga sekolah lainnya terus menggagalkan.


"BIMA! KELUAR LO BAJI****!" teriak mereka berkali-kali.


Kening Alya berkerut mencoba mencerna suara yang tertangkap oleh pendengarannya.


"Bima?"


"LO BAKAL HABIS KALI INI, BIMM!"

__ADS_1


Detik berikutnya, Alya kembali berlari masuk dengan perasaan panik. Ia harus mencari Bima! Ditengah jalan menuju kelas Bima ia berpapasan dengan Nico, Erik, dan Galang. Langkahnya terhenti karena cowok itu memang menghadang jalannya.


"Mau kemana?" tanya Galang.


"Nyari Kak Bima" jawab Alya cepat.


"Bima gaada"


"Kemana dia!"


"Tadi dia pergi gatau kemana. Gue mau kedepan, kita diserang kan"


"Galang, kamu bener-bener gatau kemana Kak Bima pergi?" tanya Alya lebih antusias lagi.


"Gue juga lagi panik, Al"


"Mereka nyari Bima kan!"


"Coba kamu telfon dia! Kamu! Kamu juga!" teriak Alya menunjuk satu persatu dari mereka.


"Tadi udah kita hubungin berkali-kali. Nomornya gaaktif!" tukas Erik.


"Terus gimanaa Galaang! Kak Bima kemanaa!" tanpa sadar, gadis itu menangis didepan mereka. Dia begitu khawatir dengan keberadaan Bima.


"Eh, jangan nangis" ucap Galang setengah terkejut. Ia bingung harus berbuat apa sekarang. Pikirannya juga sedang risau memikirkan Bima. Kemana sebenarnya cowok itu pergi?.


"Jangan nangis, Al. Bima pasti baik-baik aja kok" tambah Erik sambil menepuk pelan pundak Alya.


"Lo gaperlu khawatir, dia orang hebat. Pasti bisa jaga diri" lanjutnya lagi.


"Tangan lo kenapa?" tanya Nico. Mereka baru menyadari bahwa gadis itu punya luka berdarah di jari telunjuknya.


Alya tak menjawab. Ia fokus mengehentikan isak tangis yang terus muncul.


"Lang, kamu pasti tau kemana Kak Bima pergi!"


"Jangan bikin gue emosi, Al!" bentak Galang keras.


Gadis itu langsung kelakap terdiam. Bahkan isakannya saja berhasil ia tahan. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding bersama gaungan suara itu yang menggema-gema didalam telinganya. Alya menunduk, meremas-remas jemarinya kuat.


"Lo gaperlu bentak dia, Lang" lirih Nico dengan nada serius.


"Ntar kalau dia ngadu ke mak lampir gimana? Bisa-bisa lo dikutuk jadi kecebong" Galang tak tahan lagi dengan otak Nico yang mungkin harus diganti dengan yang baru. Bagaimana bisa disituasi seperti ini kesintingannya kumat?.


"Gue mau cari Bima" tegas Galang lalu berjalan cepat meninggalkan mereka.


"Tunggu, Lang! Gue ikutt!" teriak Erik menatap punggung cowok itu yang mulai menjauh.


"Dadahh Alyaa! Maapin Bang Galang ya!" teriak Nico yang juga mulai menjauh karena belakang kerah bajunya diseret paksa Erik.


"LANG GALANG TUNGGU! WOY, LANG! BOLANG!"


....


Alya mengusap air matanya kasar. Ia tidak boleh menangis! Bima pasti akan baik-baik saja dimanapun keberadaannya!. Ia memilih kembali ke kelas. Mungkin akan lebih tenang berada di sana. Karena niat utamanya adalah menghubungi Bima, dan gadgednya ada didalam tas.


Sampai di kelas, Alya langsung mencari keberadaan benda gepengnya di dalam tas. Setelah ditemukan, ia segera menghubungi Bima tanpa menggubris Sasha yang mengoceh tak jelas.


"Nomor yang anda tuju, tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi"


Klik


Alya mendesah berat. Ia memasukkan gadgednya asal ke dalam tas. Kenapa bisa dia menghilang di keadaan darurat macam ini!.


"WOYY!" teriak Sasha tepat di kuping gadis itu. Alya terlonjak kaget dan spontan menepis kasar bahu Sasha. Ia memegangi telinganya yang berdengung.


"Kenapaa?" balas Alya pada akhirnya.


"Gue panggil-panggil lo dari tadi gadenger?" tanya Sasha mulai sebal. Bibirnya maju lima senti dari sebelumnya.


Bukannya merespon Sasha yang mulai ngambek, Alya malah meninggalkan cewek itu acuh tak acuh. Ia kembali berlari menuju halaman depan untuk mencari Wanda. Mungkin saja Wanda tahu dimana keberadaan Bima sekarang.


Bukkkkkkkkk!


"KALAU JALAN TU PAKE MAT..."


"Alya?"


Alya mendongakkan kepala dan mendapati Wanda. Ia segera memeluk tubuh itu dan menangis didalam sana.


"Jangan nangis. Gue ngerti kok apa yang lo rasain" ucap Wanda menenangkan. Ia mengelus-elus puncak kepala Alya pelan. Membiarkan gadis itu meredakan tangisannya.


"Kak Bima mana, Nda!"


"D...di...dia..."


"Wanda!"


Suara teriakan dari Galang membuat dua gadis itu melepas pelukan dan menoleh. Mereka melihat Galang dan beberapa orang lainnya berlari kearahnya.


"Darimana aja lo!" bentak Galang pada Wanda.


"Kenapa lo bentak gue?" tanya Wanda dengan kerutan di kening. Dalam hati, ia emosi mendengar Galang membentaknya seperti itu.


"Bima kena"

__ADS_1


__ADS_2