
Suara pintu dibuka memecah keheningan mereka. Bima memandang ke arah ambang pintu untuk melihat siapa yang datang.
Dek...Dek
Jantungnya berdegup kencang, ia sangat terkejut melihat pemandangan yang tidak pernah terduga.
Seorang cewek manis berambut pendek berdiri di ambang pintu. Dengan wajah seperti terkejut sekaligus tidak percaya. Kedua matanya terbuka lebar bersama bibirnya yang melongo.
Dengan langkah lemas lunglai, Bima mendekati cewek itu
"Gue bisa jela..."
Plakkkkkk!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Bima. Matanya terbuka lebar karena terkejut, ia emosi. Jemari-jemarinya mulai meraba rasa semelet di pipi kanannya.
"Tempat apa ini!" bentak Sarah keras. Suaranya menggema di ruangan itu. Ia menatap Bima tajam.
Jantung Alya juga berdebar-debar. Baru kali ini ia melihat Sarah bertingkah kasar seperti itu. Tadinya, ia menilai Sarah sebagai cewek yang lemah lembut. Tapi tidak dengan sekarang, cewek itu sudah membuktikan sikap aslinya.
Bima berusaha menahan emosi karena keadaannya sekarang sedang sedikit mabuk. Kedua tangannya terkepal erat sambil perlahan-lahan menatap mata Sarah.
Cewek didepannya itu terlihat berapi-api. Bima tidak pernah melihat wajahnya yang seperti itu sebelumnya.
"Jawab! tempat apa ini!" sekali lagi, suara Sarah benar-benar memenuhi seluruh ruangan.
"Sarah, tolong dengerin gue sebentar" ucap Bima lirih, berusaha menenangkan cewek itu.
Sarah tidak merespon perkataan Bima. Ia langsung berjalan cepat kearah meja. Semua orang menatapnya dengan ketegangan. Tidak ada yang berani bicara karena mereka pasti akan membuat masalah baru dengan Bima. Kang Kisna pun berusaha diam ditempat.
Sarah mengamati botol-botol AM kosong bekas mereka minum tadi. Lalu tangannya mulai meraih satu botol itu dan mengangkatnya.
"Lo minum ini?" teriak Sarah menatap Bima yang masih berdiri didekat ambang pintu.
Bima pasrah, ia tidak bisa berbohong karena Sarah sudah melihat keadaanya yang sedang mabuk sekarang. Ia mengangguk pelan.
"Dasar baji****!" teriak Sarah sambil memecahkan botol itu ke lantai. Suara pecahan terdengar sangat jelas. Ia merasa puas sekarang.
Semua orang bahkan lebih tegang setelah melihat pemandangan itu. Serpihan kaca menyebar kemana-mana. Mereka bingung apa yang harus dilakukan.
"Kasar banget tuh cewek" bisik Wanda ke telinga Alya dengan nada tidak suka.
"Baru kali ini Alya lihat dia sekasar itu" Alya menjawab dengan bisikan juga.
Kini semua orang terlihat berbisik-bisik membicarakan Sarah.
"Lo dengerin penjelasan gue dulu" ucap Bima sambil mendekat kearah Sarah. Langkahnya sedikit seperti orang mabuk.
Sarah memalingkan wajah dengan kesal. Bima meraih tangan cewek itu, tapi tidak berhasil. Sarah menepis genggaman Bima dengan kasar.
"Apa faedahnya lo ikut-ikutan begini! Gue tahu, lo ikut-ikutan geng motor kan!"
"Siapa yang nyeret lo masuk ke geng motor kayak gini!"
"Sar..."
"Lo ikut-ikut juga, Al?"
Alya tersentak mendengar kalimat itu ditujukan untuknya. Sarah terlihat memandang Alya dengan tatapan tajam.
"A...a...Alya cuma..."
"Gue pemimpin mereka" Bima menjawab cepat.
"Lo jangan mikir-mikir kalau gue terpengaruh mereka, justru malah gue yang mempengaruhi mereka!" jelas Bima tegas. Ia tidak ingin kawan-kawannya dicap jelek oleh Sarah. Apalagi Alya, adiknya sendiri.
"Gue bukan orang baik, gue tahu. Mereka semua orang baik tapi gue yang ngerubah mereka jadi gini"
"Lo ini apa-apaan si!" Sarah menjambak kerah baju Bima.
"Udah-udah!" seru Kang Kisna sambil mendekat. Ia menarik lengan Sarah agar melepas cengkeraman jemarinya di baju Bima.
"Aya-aya wae atuh" lanjutnya. Itu adalah bahasa Sunda yang artinya 'ada-ada saja'.
Sarah melepaskan tangannya lalu menatap Kang Kisna kilas.
"Siapa si ini!" ia kesal dalam hati.
Sarah yang hendak membantah Kang Kisna ia urungkan, karena melihat wajah Kang Kisna yang sepertinya lebih tua darinya.
"Neng, pacar Bima?" tanya Kang Kisna.
"Ya" jawab Sarah cepat. Dengan nada yang tidak sopan.
"Gue gasuka bad boy kayak lo!" Sarah berbisik di telinga Bima lalu melangkah cepat meninggalkan markas itu.
Walaupun Sarah mengucapkannya dengan berbisik, kata-kata itu sangat menusuk batin Bima. Ia menatap sosok tadi yang mulai menghilang menjauh.
"Yang sabar aja" ucap Kang Kisna lirih sambil menepuk bahu Bima.
.............................................................................................
Pagi harinya, matahari mulai menjalankan tugas kewajibannya. Menyinari bumi dengan menampakkan aura keindahan saat terbit. Sinar matahari pagi ini sangat cerah, tidak seperti biasanya. Cahaya masuk menembus kaca dan tirai putih kamar Bima.
Bima mulai membuka matanya dan merasakan silau dari cahaya matahari yang masuk. Ia bangun, tubuhnya terasa lelah dan lemas, tidak tahu kenapa.
"Bimaaa! Cepetan bangun!" teriak Mama dari luar sana. Membuat cowok itu bergerak turun dari tempat tidur dengan paksa.
"Mandi sana, Alya juga udah siap-siap tuh" perintah Mama setelah Bima membuka pintu.
__ADS_1
Bima tidak merespon, ia langsung menyeret kakinya menuju kamar mandi. Setelah mandi dan berpakaian, ia berdiri didepan rak buku kamarnya. Mencari buku-buku pelajaran yang akan dibawa untuk hari ini. Bima memang punya kebiasaan menjadwal pelajaran saat pagi.
Buku-buku yang Bima cari, ia masukkan kedalam tas dan menutup kembali resleting tas punggungnya. Ia membawa benda itu keluar menuju ruang makan.
"Ganteng anak Mama" ucap Mama tersenyum sambil merapikan dasi Bima yang melingkar di leher putih itu.
Mama melakukan itu bukan hanya saat ini. Ia sering melakukan hal itu sebelumnya. Kadang Bima tiba-tiba sangat sedih ketika Mama merapikan dasi seragamnya. Ia tahu, perlakuan seperti itu biasanya ditujukan untuk sang suami. Dan ia juga tahu kalau Mama merindukan Papa, jadi ia membiarkan Mama melakukan hal itu meskipun dasinya memang sudah rapi.
"Udah kayak oppa oppa korea" canda Mama selesai merapikan dasi Bima. Ia ketawa.
"Apaapaan kresek!" Bima menjulurkan lidahnya. Mama ketawa bersama Alya yang sudah duduk di kursi makan.
Mereka menikmati sarapan pagi yang hangat. Sambil sesekali Mama mengoceh layaknya burung di pagi hari. Menasihati Bima untuk mengurangi rokok yang ia hisap. Sedangkan cowok itu cuma mengangguk-angguk, ia fokus dengan sandwichnya.
"Kau ini dengar apa ga Mama bicara?" Mama setengah berteriak.
"Ga!" jawab Bima cepat.
"Udah cape-cape Mama ngomong, malah gadidengerin"
"Telinganya ketinggalan"
"Ketinggalan?" tanya Alya.
"Iya di kamar"
"Hahaha" Alya ketawa, Mama tidak.
Garing. Wkwk
Mereka berdua berangkat ke sekolah setelah berpamitan dan mendengar ceramah singkat Mama. Melajukan motor dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang ramai.
Sampai di halaman sekolah, Bima menghentikan motornya sebelum masuk ke parkiran. Membiarkan Alya turun dulu.
"Dah Kak Bimaa" ucap Alya setelah turun. Bima tidak merespon.
Ia langsung kembali menjalankan motornya masuk kedalam parkiran sekolah. Motornya terparkir rapi disela deretan motor lain. Bima membuka helmnya dan seperti biasa menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Ia merapikan rambut sambil bercermin di kaca spion.
Sepertinya Bima merasakan ada seseorang yang memperhatikannya dari parkiran cewek. Ia menoleh kesamping.
Marsha.
Marsha langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Lalu pura-pura sombong tidak menyapa atau apa ketika lewat didepan Bima.
Bima berjalan ke kelas, setelah cewek tadi mulai tidak terlihat dari pandangannya.
"Gimana Sarah?" tanya Galang setelah Bima sampai di kelas dan meletakkan tas punggungnya diatas kursi.
"Tau ah, lagi males mikirin" Bima menghembuskan nafas kasar.
"Masih marah ya?"
"Hahaha, gaya lo" Galang menepuk punggung Bima keras saat ketawa.
Jam pelajaran dimulai dengan membosankan.
2 jam kemudian..
"Apa kabar boss!" teriak Erik yang datang ke kelas Bima bersama Nico, Kevin, Adam, dan Bayu.
"Ngapain pada kesini" tanya Galang.
"Ke kantin bareng yuk" ajak Adam.
"Males lah, gue mau bolos aja" ucap Bima sambil berdiri dari duduknya. Ia meraih tas dan menggendongnya di punggung.
"Eh, serius nih mau pulang?" tanya Kevin.
"Iya"
"Gue ikut!" seru Galang sambil cepat meraih tasnya.
"Gue ikut juga, tunggu gue ambil tas dulu!" seru Kevin lalu dengan buru-buru ia berlari meninggalkan kelas.
"Slurr, ntar kalau guru masuk, bilang gue sama Galang gahadir ya" teriak Bima kepada semua orang penghuni kelas itu. Semua orang yang ada didalam menatap dirinya.
"Siap, Bim" Tino menjawab dengan setengah berteriak juga.
"Keterangannya apa?" tanyanya kemudian.
"Sakit"
"Beres dahh"
"Sipp, makasih bro"
Tino mengacungkan jempol untuk merespon Bima.
"Yuk" Kevin muncul dari pintu bersama tas punggungnya.
Mereka bertiga berangkat melakukan aksi mereka. Bolos sekolah lewat gerbang besar belakang sekolah yang memang tidak terkunci. Setelah membuka gerbang, mereka menuntun motor mereka setengah berlari keluar dari area sekolah. Melewati gerbang belakang yang sudah dibuka tadi.
Setelah keluar dari gerbang, Kevin menutup kembali gerbang itu.
"Kita mau kemana nih" tanya Kevin.
"Bergerak tanpa tujuan" Galang ketawa.
"Ke cafe aja" Bima menjawab.
__ADS_1
"Males ah, gaada duit" keluh Galang.
"Gue yang bayarr" jawab Bima.
"Seriusan lo?"
"Iyalah, yuk langsung aja"
Galang dan Kevin tersenyum sumringah. Mereka memakai helm dan mulai menjalankan motor meninggalkan sekolah itu.
Sampai di cafe terdekat, mereka memarkirkan motor. Masuk kedalam cafe yang ramai, mereka memilih duduk di pojok belakang. Lalu memesan minum dan cemilan. Mereka sibuk dengan gadged masing-masing.
Bima membuka WhatsApp, melihat updatean status orang.
Sarah Andini
Baru saja
Langsung saja ia buka updatean status dari Sarah. Sarah memposting foto sedang berada di cafe ini.
"Bim, lihat nih" Kata Galang sambil memperlihatkan layar gadgednya ke Bima. Galang menunjukkan status yang dibuat Sarah.
"Iya gue juga lagi lihat"
"Sarah disini?" tanya Kevin.
"Gue nyari dia dulu bentar, kalian berdua sini aja" Bima bangkit dari duduknya.
Galang dan Kevin mengangguk lalu kembali menatap layar gadgednya.
Bima berjalan-jalan pelan di cafe itu. Matanya melirik setiap meja untuk melihat siapa yang duduk. Saat ia melirik meja yang keempat, pemandangan sangat indah, sangat indah, dan sangat indah ditontonnya. Sekujur tubuhnya mulai terasa panas. Kedua tangannya terkepal erat. Dengan langkah kaki yang ia sengaja hentak-hentakkan keras, ia hampiri pemandangan itu.
Sarah berdua bersama seorang cowok!
Tanpa bicara ataupun menatap mata Sarah, Bima langsung menyeret paksa lengan cewek itu dengan kasar. Membawanya masuk ke toilet. Ia tidak peduli mau seperti apa cowok yang sedang duduk berdua dengan Sarah tadi. Semua orang melihat kearah Bima saat ia menyeret paksa Sarah.
Sampai didepan toilet cafe yang sepi, Bima melepaskan cengkeraman tangannya yang membekas menyala berwarna merah di lengan Sarah.
"Bima!" Sarah baru berseru terkejut. Ia seperti tidak percaya akan terjadi seperti ini. Wajahnya terlihat panik setengah mati.
Bima menatap Sarah tajam. Wajahnya berapi-api.
"Pacar lo? Haha" tanya Bima lalu ketawa mengerikan.
"B...b...buk"
"Jadi gini kelakuan lo?"
"Bima, gue bisa jelasin"
"Jelasin? Gabutuh! Lo inget kan tadi malem, gue mau ngejelasin aja lo gamau dengerin"
"Lupain itu, Bim. Sekarang dengerin gue dulu"
"Bawa dia kesini!" Bima membentak lirih.
"Si...si...siapa?"
"Bawa dia kesini!"
"Cowok tadi? Gue bisa jelasin"
"Bawa dia kesini!" Bima masih mengulang perintah yang sama.
"Dia bukan siapa-siapa"
"BAWA DIA KESINI!" kali ini Bima benar-benar berteriak didepan Sarah. Suaranya menggema, memenuhi seluruh ruangan itu.
Sarah menelan ludah dengan berat, ia terlihat sangat panik. Segera tubuhnya dibalikkan dan ia mulai berjalan cepat keluar dari area itu.
Tidak lama kemudian, Sarah kembali lagi bersama cowok tadi. Wajah cowok itu kelihatan panik.
Tanpa berbasa-basi langsung saja Bima menyeret kerah baju cowok itu. Membenturkan tubuhnya ke tembok.
"Lo siapa, anak mana, ada hubungan apa lo sama Sarah?" tanya Bima bertubi-tubi.
"Gu...Gue Riko" jawab cowok itu gelagapan. Ia takut apa yang akan dilakukan cowok dihadapannya ini.
"Lo pacar Sarah? jujur!"
Suasana hening. Riko tidak menjawab pertanyaan Bima, ia menundukkan kepala. Tidak berani memandang wajah Bima. Keringat dingin mulai bermunculan disekitar wajahnya.
Sedangkan Bima kesal sekali. Ia akhirnya memukul- mukul Riko dengan puas. Riko tidak berani melawan, entah apa yang ada dipikiran cowok itu. Bima terus menyerang Riko hingga dia terjatuh lemas.
"Cukup Bima!" bentak Sarah akhirnya, air matanya mengalir deras.
Bima berhenti melakukan serangannya, ia menatap Sarah tajam.
Sarah segera melangkah untuk menghampiri Riko yang terbaring lemah. Tiba-tiba Bima mencengkeram lengannya keras, menahan ia untuk bergerak. Kemudian Bima mulai berbisik pelan, walaupun itu cuma bisikan tapi kata-katanya sungguh menyakitkan.
"Gue gasuka play girl kayak lo!"
"Lepasin!" bentak Sarah sambil menggoyang-goyangkan lengannya. Akhirnya Bima melepaskan cengkeraman itu dan ia bisa bergerak kembali untuk menghampiri Riko.
Ia mengangkat kepala cowok itu. Hidungnya berdarah, serta Pelipis dan sudut bibirnya terlihat berwarna keungu-unguan.
Bima melirik mereka sebentar lalu meninggalkan area itu. Ia langsung mengajak Galang dan Kevin pulang. Tentunya mereka berdua bertanya-tanya sendiri dengan ekspresi wajah Bima.
"Lo kenapa, Bim?" tanya Kevin saat mereka berjalan menghampiri motor.
__ADS_1
Bima tidak merespon.