Liar

Liar
PASRAH


__ADS_3

Selama sore sampai malam ini, Alya terus saja menangis tanpa henti di kamarnya. Gumpalan-gumpalan tissue dengan jumlah yang sangat banyak berserakan di tempat tidur. Gadget yang sedari tadi berbunyi notif ia abaikan. Ia merasa khawatir dengan kondisi Bima. Bagaimana jika nanti Kakaknya pergi meninggalkan bumi? Ah jangan! Alya sudah sangat menyayangi Kakak laki-lakinya itu. Walaupun setiap hari sikapnya yang menjengkelkan, Alya tak pernah bisa membenci Bima.


"Udah, Al. Mau sampe kapan lo nangis begini...hiks...hiks. Kan gue jadi ikut nangis juga." ucap Sasha sambil mengusap air matanya.


Ya, Sasha. Cewek itu memang berada di rumah Alya sejak pulang dari rumah sakit tadi. Sasha tidak sendirian, ia bersama Wanda. Mereka tinggal atas permohonan Mama Olivia dengan sangat berharap. Mama tidak mau membiarkan Alya bersedih di rumah sendirian.


Alya tidak menghiraukan ocehan Sasha, ia terus menangis tersedu-sedu.


Pintu terbuka dan masuklah satu cewek lagi. Tentu saja dia adalah Wanda, sahabat Alya. Dengan membawa nampan berisi tiga gelas minuman, serta sekotak pizza yang baru saja ia pesan online. Belum sempat Wanda membagikan minuman itu, Sasha sudah lebih dulu menyambarnya dan langsung meminum tanpa aba-aba. Ia juga meraih kotak pizza dan memakan sepotongnya dengan sangat cepat. Seperti itulah tingkahnya jika sedang bersedih. Ia akan memakan apapun yang ada dihadapannya, atau meminum apapun yang terlihat, kecuali air dari bak mandi.


"Sha, pelan-pelan makannya. Ntar keselek kodok baru tau!" Wanda memperingatkan.


"Uhuk...uhuk!"


"Tuh kan! Makannya, gue bilangin juga apa,"


"Abisnya lo ngapain bawa-bawa kodok segala, kan gue jadi geli makannya!" teriak Sasha memenuhi seluruh ruang kamar Alya.


"Yaudah karna lo udah gaselera makan, biar gue aja yang ngabisin sama Alya." timpal Wanda lalu menjulurkan lidahnya kearah Sasha. Ia ketawa melihat raut wajah Sasha berubah menjadi badak bercula.


................................................................................


"Bangun, woyy! Udah jam enam nih," Sasha berteriak tepat di samping tubuh Alya dan Wanda yang masih terlelap di ranjang.


Teriakan cempreng itu reflek membuat keduanya terkejut hingga bangun dari posisi tidurnya bersamaan.


"Yaampun, Shaa. Pagi-pagi udah ngagetin aja!" pekik Wanda sambil mengucek-ucek matanya. Menatap jam dinding di atas televisi.


"Kenapa lo gabangunin dari tadi, mak lampiirr!" kesalnya kemudian.


"Yee, abisnya gue gamau antri kamar mandi." jawab Sasha sambil melanjutkan menyisir rambut yang tadi sempat tertunda.


"Ngapain antri kamar mandi? Lo gatau juga ya, kalo dirumah ini tuh kamar mandinya udah kaya di mall. Banyak oyy!"


"Beneran, Al?" Sasha lanjut bertanya pada Alya yang sedari tadi belum membuka suara.


Alya mengangguk, membenarkan ucapan Wanda. Kedua matanya masih kelihatan sembab disertai ujung hidung yang memerah. Ia bangkit dari ranjang lalu keluar dari kamar menuju kamar mandi.


"Gue mandi dulu lah. Bisa kesiangan ini gara-gara lo." gerutu Wanda.


"Biasanya juga berangkat paling siang. Emang lo kalo bangun dirumah jam berapa?"


"Gaada urusannya sama lo,"


"Dihh nyesel gue nanya,"


 


\*


 


"Dokter Via!" panggil salah satu dokter lagi, dengan nafas terengah-engah. Membuka pintu ruangan pribadi Mama tanpa mengetuknya lebih dulu.


"Ada apa?" jawab Mama mengerutkan kening. Ia menatap wajah muda lelaki itu yang memang baru bekerja di rumah sakit ini setahun yang lalu.


Umurnya masih sekitar dua puluh tujuh tahunan. Tag nama yang menggantung di bajunya bertuliskan "Dr. Andi Nugroho".


"Putra, anda," balasnya masih dengan nafas tak beraturan. Seperti baru menyelesaikan lomba lari. Ia memang baru saja berlari dari ruangan Bima ke ruangan Mama.


"Anak saya kenapa?" nada bicara Mama mulai meninggi. Menatap Dr. Andi dengan lekat.


"Putra, anda..." Dr. Andi menggantung ucapannya.


"Anak saya kenapa!"


 


\*


 

__ADS_1


Drrt...drrt


Gadget Alya bergetar. Segera ia cari benda itu di dalam tas ranselnya.


Kak Marsha calling


"Hallo?"


"..."


"Belum, Kak, dari kemaren."


"..."


"Boleh."


"..."


"Iya."


"..."


"Gajuga kok."


"..."


"Oke."


Sambungan telepon terputus.


"Siapa, Al?" tanya Sasha yang duduk di depan setir mobil. Gadis itu melongokkan kepalanya menghadap belakang sesaat.


"Kak Marsha." jawab Alya.


"Pasti ngajakin jenguk Bima ya," tanya Wanda yang duduk di sebelah Alya.


"Iya nanti pulang sekolah, pada mau ikut ga?"


"Eh, trus ntar gue pulang gimana njirr," protes Wanda.


"Motor gue di rumah Alyaa," lanjutnya.


"Tenang aja ntar kalian gue anter pulang dulu lah. Tega banget gue ninggalin kalian jalan kaki." balas Sasha.


"Kirain."


 


\*


"Gimana nih Bima?" tanya Adam ikut bergabung di meja kantin bersama Galang, Kevin, Erik, Nico, dan Beni. Kemarin Adam memang sempat tidak masuk sekolah karena bolos. Tidak masuk tanpa keterangan sudah menjadi hal biasa untuk mereka.


"Kemana aja lo kemaren," Kevin balik bertanya.


"Males lah, mending di rumah nge push rank,"


"Elah paling nob, haha," sahut Erik.


"Udah pernah epic belum lo?" lanjutnya lagi.


"Gapenting itu. Sekarang gimana kondisi Bima?" Adam merubah wajahnya kembali serius.


"Belum tau, belum ada kabar." balas Galang sambil dengan santainya menyulut rokok.


"Lang, Bu Vita!" seru Kevin menepuk pundak Galang yang mulai mengisap rokoknya.


Galang spontan terkejut dan membuang rokoknya ke bawah untuk ia injak.


"Hahaha, gue cuma bercanda lo sampe panik gitu," ungkap Kevin diakhiri tawa mereka.


"Anjirr mubazir nih rokok gue. Ganti kagak!" Galang menatap rokok di bawah kakinya yang sudah gepeng. Memberikan tatapan mengancam pada Kevin.

__ADS_1


"Ogah amat rokok gue mahal."


"Sombong amat ni bocah."


"Galaang,"


Semua menoleh kearah sumber suara tersebut. Cewek berambut setengah merah tampak berjalan cepat menghampiri mereka. Marsha.


"Kenapa?" jawab Galang menatap Marsha yang tengah mengibas-ngibaskan telapak tangannya di leher.


"Gue cari lo kemana-mana njirr, cape gue."


"Itu kemaren gimana si bisa sampe gitu?"


"Apanya yang sampe gitu?" Nico yang menyahut pertanyaan Marsha karena merasa tidak mengerti.


"Ituu, Bima kok bisa sampe kena? Emang kalian pada dimana kemaren?" pertanyaan Marsha cukup menekan. Dari wajahnya yang kelihatan jutek, samar-samar terlihat kemarahan disana.


"Itu kemaren Bima sendiri yang minta pergi." Galang menimpali.


"Kenapa gaada yang nyegah?" nada bicara Marsha semakin menekan.


"Gue udah cegah dia, Sha. Tapi tetep aja gamempan."


"Kenapa lo putus asa, lo gampang banget nyerah si,"


"Abisnya mau gimana lagi, Sha. Bima nya marah-marah,"


"Ya lo berusaha nenangin dia emang gabisa? Lo tuh punya otak jangan sering-sering dianggurin napa,"


"Dianggurin? Di-ang-gur-in. Emang gimana caranya?" Nico celotehan sendiri.


"Sha, gue juga mau dong otak dikasih anggur. Gimana caranya?" lanjutnya sambil menggerakan kedua alis naik turun menggoda.


"Diem lo!" bentak Marsha membuat Nico langsung kelakap.


Adam dan Kevin saling senggol sikut. Rasanya ingin ketawa disituasi seperti ini. Mereka berdua sudah terbiasa dimarahi guru bersamaan. Hingga pernah waktu itu dimarahi Pak Wasno yang galaknya sampai tujuh turunan, mereka malah kelepasan. Ketawa terpingkal-pingkal padahal tidak ada yang lucu. Teman-temannya pun sampai bingung dan mengira mereka ini gila, atau punya penyakit semacam... apalah. Apasi gaje ni garing pula


"Sekarang lo liat kan kondisi Bima, gimana!" lanjut Marsha.


"Tuh, Lang. Dimarahin Mbak Marsha lo denger kagak?" lagi-lagi pertanyaan nyeleneh melinatas dari bibir Nico.


Marsha memilih mengabaikan pria tak berotak itu. Lalu kembali menatap mereka satu persatu.


"Bukan cuma lo, Lang. Tapi kalian semua!"


"Kenapa kit..."


"Husssstt" belum selesai Nico berkomentar, Erik sudah lebih dulu memotong ucapannya. Daripada si galak Marsha semakin bertambah marah karena ocehan konyol Nico.


"Dari kemaren sampe sekarang, dia belum sadar juga! Gimana kalo dia sampe..." Marsha tak bisa melanjutkan perkataannya. Ia membungkam mulutnya sendiri untuk menahan isak.


"Kit...kita minta maaf." lirih Beni mewakili mereka.


Keadaan menjadi tegang karena gadis cantik itu menangis hebat.


Berbeda dengan Adam yang sedari tadi menjepit hidungnya dengan tangan. Kedua pipinya pun mengembung. Adam ingin sekali ketawa entah kenapa. Tapi ia berusaha menahannya mati-matian.


"Apa cuma dengan maaf bisa buat nyembuhin Bima?" nada bicara Marsha membentak.


"Lo tenang dulu, Sha. Jangan emosi. Percaya sama gue Bima pasti bakalan sembuh." ucap Galang mendekati Marsha dan menepuk pundak cewek itu pelan.


"Kenapa gue harus percaya sama lo, Nyokab Bima aja udah pasrah!"


"Lo tau dari mana?" Kevin mulai serius.


"Dahlah gapenting!"


---------------------------------------


Monmaap isi eps-nya dikit:(

__ADS_1


Tapi jan lupa warnain jempolnya biar bagus:v


__ADS_2