
Hari berganti begitu cepat. Sepulang sekolah siang hari itu, Alya langsung bersiap untuk latihan bersama Kang Kisna. Alya berdiri di depan lemari besarnya dengan bingung, ia tak tahu akan memakai pakaian seperti apa. Karena tak mau berlama-lama, Alya akhirnya mengambil celana jeans model pensil dan kaos lengan panjang.
Setelah berpakaian, Alya menyisir rambut sebentar dan memakai sepatu sneaker putih. Alya juga membawa air mineral, power bank, dan tentunya gadget, yang ia simpan semuanya dalam backpack imutnya.
....
"Dengan Mbak Alya Callista?" tanya tukang ojol berjaket hijau.
"Iya." jawab Alya sambil menerima helm dari tukang ojol itu.
Mereka segera berangkat ke tempat tujuan yang lokasinya sudah di share oleh Kang Kisna.
★★★
"Adek lo mana?" tanya Banar menatap Bima dengan kening berkerut.
Anggota Bima Ardja tengah berkumpul di tengah-tengah ruangan membahas misi penyelamatan Nico. Agak sedikit yang hadir karena beberapa orang masih belum sembuh karena serangan Victor kemarin.
"Gatau tadi pergi kemana." balas Bima datar.
"Kenapa gadisuruh ikut kesini? Berasa... kurang lengkap meskipun dia bukan anggota kita." ujar Galang diakhiri acungan jempol oleh Adam.
"Tadinya si mau diajak. Tapi dianya udah pergi duluan,"
"Huffft... yaudah deh dilanjutin lagi." kata Wanda.
"Oke. Sebenarnya, pemikiran gue sama kaya Alya. Kita pake aksi penculikan seperti yang Alya jelasin waktu itu. Paham kan?" Bima menatap anggota Bima Ardja bergantian. Mereka terlihat mengangguk mantap.
"Tapi kali ini kita dapet sepuluh pasukan tambahan dari Devil King. Gue udah minta izin sama Kang Kisna." sambung Bima.
"Siap," respon Adam tersenyum lebar.
"Yang masuk ke markas madam siapa?" tanya Kevin.
"Nanti ada lima orang. Gue tunjuk aja, atau kalian ada yang mau nyerahin diri?"
"Gue mau, Bim. Ini semua kan gara-gara gue," seru Erik menyerahkan diri untuk mewakili Bima Ardja menyulik Nico.
"Oke. Empat orang lagi," ucap Bima sambil mengacungkan jemarinya membentuk angka empat. Ia menatap anggota Bima Ardja seksama yang tengah saling pandang.
"Kevin, Bim!" seru Kevin mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Bima tersenyum melihatnya.
"Erik, Kevin, tiga orang lagi?"
"Gue aja." ucap Galang yang kemudian diikuti Wanda.
"Berarti siapa aja, Erik, Kevin, Galang, Wanda. Satu lagi gue aja lah." ucap Bima bagai mikir sambil menghitung jemarinya ketika nama mereka disebut.
"Kok lo, Bim? Gue aja, lo kan ngomandoi pasukan yang diluar." protes Banar.
"Oke fix, makasi ya gue harus ngomandoi pasukan di luar."
★★★
Alya sampai di sebuah bangunan mengerikan yang terlihat sudah tak terawat. Cat putih di bangunan itu mulai memudar beserta lumut menjadi hiasannya. Rumput-rumput tertanam dengan subur yang panjangnya hampir sampai lutut kaki Alya. Bangunan itu memang sangat terpencil dari keramaian.
"Ha, tempat apa ini." gumam Alya sambil memandangi bangunan tak terawat itu dengan tatapan ngeri.
__ADS_1
"Kang Kisna gasalah kasih lokasi 'kan?" tanyanya pada diri sendiri sambil menyermati peta di gadget.
Dengan langkah agak gemetaran, Alya perlahan memijak teras bangunan itu. Lantai keramik yang sangat kotor, banyak daun-daun kering berserakan. Alya tidak suka tempat seperti ini.
Tok... tok... tok...
Suara pintu yang Alya ketuk. Tak ada jawaban dari dalam. Sunyi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di bangunan kotor itu. Alya semakin merinding dibuatnya.
Tiba-tiba pintu terbuka dan munculah orang yang sangat Alya kenal dari dalam.
"Kang Kisna," seru Alya dengan senyum merekah. Akhirnya ia bertemu dengan pria itu.
"Neng Alya udah sampe. Mangga masuk," sapa Kang Kisna ramah.
Alya segera memasuki bangunan itu dan berjalan lurus beriringan dengan Kang Kisna.
"Kok tempatnya serem gini si, Kang. Gue kira... salah lokasi tadi." celoteh Alya sambil melihat-lihat isi ruangan yang kotor itu. Ada dua buah sofa yang rusak dan lusuh. Lemari kayu besar yang sudah lapuk. Dan benda-benda rusak lainnya.
Kang Kisna hanya terkekeh pelan mendengar celotehan Alya. Tak lama kemudian, mereka sampai pada sebuah ujung ruangan yang terdapat lemari besar kokoh berwarna perak. Kang Kisna membuka kedua pintu lemari itu dan Alya terkejut.
"What?!" pekik Alya kaget.
Kang Kisna kembali tersenyum dan mengajak Alya masuk ke dalamnya. Dengan rasa penasaran yang kuat, Alya pun menuruti Kang Kisna. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam lemari besar itu. Ternyata itu bukan lemari melainkan sebuah pintu masuk ke dalam ruangan. Mereka berdua berjalan lurus di lorong kegelapan yang pijakannya makin kedepan makin menurun. Lalu, sebuah pemandangan mengejutkan kembali terlihat.
Mereka berdua sampai di sebuah ruangan yang bersih dan layak huni. Benda-benda di dalamnya pun sangat bagus seperti rumah-rumah pada umumnya. Tak ada debu, daun kering, rumah laba-laba, dan kotoran lainnya yang Alya lihat sebelum masuk ruangan ini. Dan yang lebih mengesankan adalah semua benda disana serba putih. Ternyata para anggota Devil King juga ada disana. Mereka pun sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Kang Kisna menoleh ke arah Alya yang masih terlihat tak percaya. Cewek itu memandangi sekitar dengan bibir mengaga, dan kedua mata terbelalak.
"I really don't know what to say. This is very magical**!" seru Alya masih menyapu seisi ruangan besar itu tak percaya.
"Is so magic! Amazing!" pekiknya lagi.
"Ini bener-bener luar biasa! Ruang bawah tanah! Kang Kisna, kalian yang ngebuat ini?" pekik Alya kini menatap Kang Kisna berbinar-binar.
"Hmm, begitulah."
"Wah, menakjubkan! Gue harus nyeritain ini ke Wanda besok! Kak Bima juga harus tau!"
"Hahaha, mereka mah udah tau lebih dulu dari Neng Alya."
"Gitu ya," terlihat Alya mengerucutkan bibir karena merasa kudet.
"Naha ieu awéwé anjeun hartosna?" tiba-tiba seseorang datang berbicara bahasa sunda.
"Iya." balas Kang Kisna sambil tersenyum.
"Geulis pisan, anj*r." ucap orang itu menatap Alya berbinar.
"Mesti lah. Anak blasteran dia mah. Eh, ngomongnya pake bahasa Indo aja, dia gangerti." kata Kang Kisna memberitahu.
"Aduh, abdi henteu ngartos. Kenalin, Miko. Namanya mah Jatmiko tapi panggil Miko aja daripada Jat." cowok itu mengulurkan tangannya mengajak Alya bersalaman.
Alya tersenyum kecil dan membalas jabatan Miko. "Alya."
"Yaudah yuk langsung aja, keburu sore." ajak Kang Kisna menyuruh Alya mengikuti langkahnya lewat sorot mata.
Alya pun membuntuti Kang Kisna berjalan. Ternyata cowok yang mengaku bernama Jatmiko itu juga mengikuti Alya dari belakang. Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah rak buku. Alya sempat bingung karena Kang Kisna mengajaknya ke rak. Katanya mau latihan, kenapa dibawa ke rak buku?
__ADS_1
Tiba-tiba,
SREEKK...
Kang Kisna mendorong rak buku itu seperti gerakan membuka pintu. Kembali, Alya terbelalak melihat sebuah ruangan di hadapannya. Terlihat banyak senjata bermacam-macam jenis terpajang di dinding ruangan itu. Bermacam-macam alat latihan juga ada disana.
"Selamat datang di markas kita, Alya." sapa Jefry yang tiba-tiba muncul dengan senyuman merekah.
"M... m... markas?" balas Alya tergagap karena masih takjub melihat banyak senjata yang terpajang itu.
"Yeah. Markas kita. White House." timpal seseorang lagi yang entah bernama siapa.
Akhirnya Kang Kisna mengenalkan Alya pada beberapa anggotanya yang akan melatih Alya nanti. Sore ini Alya memilih berlatih cara menggunakan senjata api, tapi Kang Kisna memberi saran agar ia latihan bela diri dulu. Alya pun menurut meskipun ia tak ingin.
"Neng Alya latihan sama Miko. Dia hebat dalam seni bela diri, karate, taekwondo. Kang Kisna masih ada urusan, jadi gapapa ya ditinggal dulu." ucap Kang Kisna.
"Iya, Kang."
Akhirnya Kang Kisna pergi keluar ruangan entah kemana. Kini tersisa Alya dan beberapa anggota Devil King di ruangan itu. Miko dibantu Gio melatih Alya seni bela diri.
Miko memberikan gerakan dasar seni bela diri, dan Alya pun menirunya dengan baik. Meskipun beberapa kali Gio harus membetulkan tubuh Alya yang salah. Tak ada ketegangan diantara mereka, semuanya santai dan tertawa jika salah. Hal itu membuat Alya semakin akrab dengan anggota Devil King.
Tak terasa, latihan telah berlangsung 30 menit dan Alya pun diizinkan beristirahat. Alya langsung merebahkan tubuhnya di lantai markas yang berderit itu. Nafasnya memburu, keringat pun membasahi kaos bagian punggungnya. Ia merasa sangat lelah.
"Minum." ucap Gio menyodorkan segelas air putih untuk Alya.
"Gausah, Alya juga bawa air mineral." jawab Alya sambil mendudukkan tubuh lalu mengambil botol air mineral di backpack nya.
"Oke." Gio pun ikut duduk meluruskan kaki disebelah Miko. Mereka menghabiskan sisa istirahat 10 menit itu untuk mengobrol ringan. Beberapa anggota Devil King yang lain juga ikut bergabung untuk mengobrol. Alya sangat senang karena para anggota Devil King sangat ramah. Dalam hitungan jam, ia pun langsung akrab dengan mereka.
"Priittt... waktu istirahat selesai." seru Miko menirukan suara peluit. "Kalian, kembali ke ruang utama. Jangan ganggu." lanjutnya pada para anggota Devil King lain yang masih duduk bersila. Mereka pun segera pergi meninggalkan ruang latihan.
Alya bangkit dari duduk meski kedua tungkainya terasa pegal. Ia berdiri membungkuk sambil memukuli kedua kakinya sekaligus.
"Kenapa?" tanya Miko melihat sikap Alya yang aneh.
"Pegel, Kak." jawab Alya masih memukuli kaki.
"Hahaha, makannya jangan pake pensil. Besok pake training aja, oke?"
"Siap."
Alya kembali menyemangati dirinya sendiri dalam hati. Latihan pun dimulai. Miko mulai memberi jurus-jurus seni beladiri dan Alya mengikutinya dengan bersemangat.
------------
Hai readers tersayang, wkwk monmaap ya ini update-nya kelamaan😢 author juga sibuk ngurusin dunia nyata lho. Tapi emang salah author juga sih, kelamaan update, wkwk gaada akhlak emang😢
Buat yang mikir :
"Ini Alya kok gaada nakal-nakalnya sih."
"Katanya Bad Girl tapi kok Alya nya lemah malah lebih mirip good girl."
"Skip lah, apaan cerita gajelas katanya Bad Girl tapi kok biasa aja."
Tolong dipahami ya readers😭 setiap cerita pasti punya alur ye kan. Buat cerita ini author bikin perbedaan dari novel bad girl yang lain. Author bikin alur lambat, dimana Alya yang semula good girl berubah menjadi Bad Girl.
__ADS_1
Syudah itu saja, terus simak kisah selanjutnya ya guys. Penasaran kan gimana Alya jadi Bad Girl, wkwk. Jangan lupa tinggalin jempol dan komennya yaa❣️😘
Wassalam.